Kakak perempuanku adalah Campus Queen

Suara langkah kaki Thiago bergetar pelan di atas lantai kayu ruang tamu, memecah ketegangan yang mendadak membeku. Ibu langsung mengubah raut wajah galaknya menjadi senyuman hangat penuh sambutan, sementara Kak Lianne berdiri dari kursinya dengan mata berbinar-binar. Perawakan Thiago yang tinggi, dibalut setelan kemeja kerja yang sedikit tergulung di bagian lengan, memberikan aura dominan namun tenang. Ia memegang sekotak suplemen kesehatan mahal di tangan kirinya, lalu menatap orang-orang di ruangan itu satu per satu sebelum pandangannya berhenti padaku.

“Thiago! Kamu datang juga akhirnya,” panggil Ibu dengan suara ceria yang dipaksakan, mengabaikan fakta bahwa beberapa detik lalu beliau baru saja membentakku. “Ayo duduk, Lianne baru saja masak makanan kesukaanmu waktu SMA dulu.”

Kak Lianne melangkah mendekat, mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang penuh keanggunan. “Lama tidak ketemu, Thiago. Kamu makin dewasa ya.”

Namun, Thiago tidak membalas senyuman itu dengan kehangatan yang mereka harapkan. Ia hanya mengangguk sopan, lalu berjalan lurus melintas di antara Ibu dan Kak Lianne, berhenti tepat di sampingku. Tanpa ragu, ia meraih jemari tanganku yang dingin dan menggenggamnya erat di depan mata mereka semua.

“Maaf saya terlambat, Tante, Om,” kata Thiago dengan nada suara yang tenang namun tegas. “Tadi pekerjaan di kantor agak menumpuk, jadi saya menyuruh Thanh berangkat lebih dulu. Tapi saya pikir kurang etis kalau tidak menyapa langsung.”

Ibu tertegun melihat tangan kami yang bertaut. Kak Lianne membeku di tempatnya, matanya membelalak tak percaya.

“Thiago… ini maksudnya apa?” tanya Ibu dengan suara gemetar, menyipitkan mata menatap genggaman tangan kami. “Kenapa kamu pegang tangan Thanh seperti itu?”

Thiago merogoh saku jasnya dengan tangan yang satu lagi, mengeluarkan sebuah dompet kulit kecil, lalu menarik sebuah kartu identitas dan meletakkannya di atas meja makan, tepat di samping piring-piring makanan mewah yang telah disiapkan. Itu adalah salinan buku nikah kami yang selalu ia simpan di dalam dompetnya.

“Saya dan Thanh sudah menikah. Enam tahun yang lalu,” ucap Thiago datar, tanpa ada nada pamer ataupun keraguan.

Suasana ruangan seketika menjadi begitu sunyi hingga deru pendingin udara terdengar amat jelas. Ibu mundur satu langkah, dadanya kempas-kempis menahan napas. Kak Lianne menatapku dengan tatapan campuran antara tidak percaya, amarah, dan rasa terkhianati yang mendalam. Wajah yang selama ini dianggap sebagai Bidadari Sekolah itu kini tampak pucat pasi.

“Nggak… nggak mungkin,” bisik Kak Lianne, suaranya bergetar. “Thiago, kamu bercanda kan? Kamu nikahin Thanh? Versi murah dari aku? Kamu nikahin adikku cuma buat balas dendam karena aku pergi ke Eropa?”

Aku merasakan remasan tangan Thiago mengencang pelan di jemariku, memberikanku kekuatan yang selama ini selalu kucari.

“Aku tidak pernah menjadikan pernikahan sebagai alat balas dendam, Lianne,” jawab Thiago dingin, menatap langsung ke mata mantan kekasihnya itu. “Aku menikahi Thanh karena aku mencintainya. Dia adalah wanita yang menemaniku di masa-masa tersulit hidupku, saat semua orang—termasuk kamu—memilih untuk pergi mengejar impian masing-masing.”

Kata-kata itu menghantam ruangan seperti petir di siang bolong. Ibu terduduk di kursi dengan wajah syok, sementara Kak Lianne mengepalkan tangannya rapat-rapat, air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama bertahun-tahun, keluarga ini menganggapku hanya sebagai bayangan, anak yang tidak bernilai, dan penampung sisa-sisa kebaikan yang tidak diinginkan Lianne. Namun malam ini, di hadapan mereka semua, pria paling bersinar yang pernah dipuja Kakakku dengan tegas memilihku.

“Thanh, ayo kita pulang,” bisik Thiago lembut padaku, berpaling dari keluargaku seolah kehadiran mereka tak lagi relevan. “Sup jamur buatanmu di rumah pasti sudah dingin.”

Aku hanya mengangguk pelan. Kami berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu, meninggalkan jeritan ketidakpercayaan Ibu dan tangisan histeris Kak Lianne yang menggema di balik pintu kayu yang tertutup rapat.

Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, suasana terasa hangat meski tak banyak kata yang terucap. Thiago mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya tak pernah melepaskan genggamannya pada tanganku. Ia tidak bertanya mengapa aku menyiapkan tiket pesawat, dan aku pun tidak bertanya mengapa ia begitu berani membongkar rahasia enam tahun kami malam ini.

Sesampainya di apartemen kami di kawasan Jakarta Selatan, aku berjalan ke arah meja makan dan memandangi koper kecilku yang sudah terkemas rapi di sudut ruangan. Tiket pesawat menuju Kyoto yang kubeli tadi siang terletak di atas meja.

Thiago melepas jasnya, menggantungnya di rak, lalu berjalan mendekatiku dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di pinggangku, menyandarkan dagunya di bahuku dengan kehangatan yang amat familiar.

“Kamu mau pergi ke mana membawa koper itu, Thanh?” tanyanya pelan di dekat telingaku.

Aku menghela napas panjang, meraba lengannya yang melingkari tubuhku. “Aku puji keberanianmu malam ini, Thiago. Tapi aku hanya bingung… selama enam tahun ini, kita menyembunyikan pernikahan ini dari semua orang. Kenapa baru sekarang? Apakah karena Kak Lianne kembali, jadi kamu merasa permainan ini harus berakhir?”

Thiago menghentikan pergerakannya. Ia memutar tubuhku agar menghadapnya. Matanya yang tajam menatap jauh ke dalam mataku, memancarkan kejujuran yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Kamu benar-benar berpikir aku menyembunyikan pernikahan kita karena Lianne?” tanya Thiago, suaranya terdengar agak terluka.

Aku menunduk, tidak berani menatapnya. “Lalu kenapa? Kamu tidak pernah memperkenalkanku pada teman-temanmu, kamu tidak pernah memposting foto kita, dan kamu membiarkan orang-orang menganggapmu masih single. Aku selalu berpikir… aku cuma tempat persinggahanmu sampai Bidadarimu kembali.”

Thiago terkekeh pelan, sebuah tawa pahit yang jarang sekali keluar dari mulutnya. Ia merengkuh wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa mata kami saling bertatapan.

“Thanh, dengarkan aku baik-baik,” katanya tegas. “Enam tahun lalu, saat Lianne pergi meninggalkanku demi beasiswanya tanpa pamit, aku hancur. Tapi di hari yang sama, kamu datang membawakanku payung di tengah hujan deras di depan perpustakaan kampus. Kamu yang menyuapiku makan saat aku sakit, kamu yang mendengarkan semua keluh kesahku tanpa pernah meminta imbalan apa pun.”

Airmata yang sejak tadi kubendung akhirnya menetes membasahi pipiku.

“Aku menyembunyikan pernikahan kita bukan untuk melindungiku dari Lianne,” lanjut Thiago, ibu jarinya mengusap lembut air mataku. “Aku menyembunyikannya untuk melindungimu dari keluargamu. Aku tahu betapa toksiknya Ibu dan Ayahmu. Aku tahu kalau mereka tahu kita menikah, mereka akan memanfaatkanmu, memerasmu, atau bahkan memaksa kita berpisah demi Lianne. Aku menunggu sampai posisiku di perusahaan cukup kuat dan aku bisa sepenuhnya memotong kendali mereka atas hidupmu.”

Aku terpaku mendengarnya. Jantungku berdegup kencang, tidak menyangka bahwa alasan di balik kerahasiaan selama enam tahun ini bukanlah rasa malu, melainkan perlindungan yang begitu dalam.

“Dan tiket pesawat ini…” Thiago mengambil kertas tiket di atas meja, lalu tersenyum tipis. “Kenapa kamu membelinya sendirian?”

Dari dalam saku kemejanya, Thiago mengeluarkan sebuah amplop tebal dan meletakkannya di samping tiketku. Aku membuka amplop itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat dua lembar tiket pesawat menuju destinasi yang sama, Kyoto, dengan tanggal penerbangan yang persis sama—besok malam.

“Aku sudah menyiapkan liburan ini sejak bulan lalu,” ujar Thiago lembut. “Aku tahu kamu sudah lelah hidup di Jakarta, lelah dengan semua bayang-bayang masa lalu. Aku ingin kita memulai lembaran baru di tempat yang jauh dari mereka semua.”

Rasa haru meluap di dadaku, menghancurkan seluruh keraguan dan rasa minder yang telah menggerogoti jiwaku selama bertahun-tahun. Aku mendekap tubuhnya erat-erat, menyandarkan wajahku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berirama tenang. Pria ini, sosok yang selalu dianggap milik Kakakku oleh seluruh dunia, ternyata telah menjadi milikku sepenuhnya sejak awal.

Malam itu, kami menghabiskan waktu bersama dalam kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tidak ada lagi bayang-bayang Bidadari Kampus, tidak ada lagi perbandingan ‘versi diskon’, dan tidak ada lagi ketakutan akan masa depan.

Keesokan malamnya, di Bandara Soekarno-Hatta, suasana sangat ramai. Saat kami berjalan menuntun koper menuju gerbang keberangkatan internasional, ponselku terus berdering tanpa henti. Puluhan notifikasi pesan masuk dari grup alumni SMA, serta belasan panggilan tak terjawab dari Ibu dan Kak Lianne.

Grup WhatsApp alumni memanas. Seseorang sempat memposting foto Thiago yang menggandeng tanganku di sebuah restoran semalam sebelum ke rumah Ibu, dan spekulasi liar mulai bermunculan.

‘Bukannya Thiago sama Kak Lianne?’ ‘Lho, kok Thiago malah sama Thanh?’ ‘Gila, ternyata mereka udah nikah dari dulu!’

Aku menatap layar ponselku sejenak. Tanpa ragu, aku menekan tombol keluarkan akun dari grup WhatsApp alumni tersebut, lalu mematikan ponselku sepenuhnya. Aku tidak lagi membutuhkan validasi dari mereka yang hanya melihatku sebagai figuran dalam cerita orang lain.

Thiago merangkul bahuku hangat saat kami melangkah masuk ke dalam garbarata menuju pesawat.

“Sudah siap?” tanyanya sambil tersenyum manis.

Aku menatap wajahnya, pria yang telah memilihku di antara jutaan kemungkinan, lalu mengangguk pelan dengan senyuman paling tulus dalam hidupku.

“Sangat siap, Mas.”

Di atas awan, menembus kegelapan malam menuju negeri yang baru, aku akhirnya menyadari satu hal. Aku bukanlah versi diskon dari siapa pun. Aku adalah tokoh utama dalam ceritaku sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar merasa bebas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang