IBU TIRIKU SELALU BILANG BAHWA AKU ADALAH ANAK YANG DIBUANG OLEH ORANG TUAKU SENDIRI……

“Kalau amplop itu terbuka, Dimas…” Bu Ratna menarik napas gemetar. “…bukan cuma kamu yang akan tahu siapa ibu kandungmu sebenarnya.”

Aku menatapnya beberapa detik, mencoba memahami maksud kalimat itu.

Lalu suara dari kamar belakang terdengar lagi.

Kali ini bukan benda jatuh.

Melainkan suara langkah.

Pelan.

Berat.

Mendekat ke lorong.

Aku berdiri di depan meja, sementara Bu Ratna mendadak mundur dua langkah. Wajahnya semakin pucat.

“Siapa di sana?” tanyaku.

Tak ada jawaban.

Aku melangkah menuju lorong.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian pintu kamar belakang terbuka.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun. Rambutnya dipotong sebahu, sebagian sudah memutih di pelipis. Ia mengenakan blus sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam. Wajahnya pucat, tetapi tatapannya tertuju kepadaku seolah dunia di sekeliling kami tak lagi ada.

Tangannya menutup mulut.

Air mata mengalir tanpa suara.

Aku berhenti.

Entah mengapa, dadaku terasa sesak.

Ada sesuatu pada wajah perempuan itu yang terasa aneh.

Bukan karena aku mengenalnya.

Justru karena aku merasa pernah melihat wajah itu berkali-kali.

Di cermin.

Perempuan itu memiliki bentuk mata yang sama denganku.

Garis rahangnya hampir serupa.

Bahkan cara alisnya sedikit terangkat ketika menahan tangis terasa seperti sedang melihat diriku sendiri dua puluh tahun lebih tua.

“Dimas…” bisiknya.

Aku menoleh cepat kepada Bu Ratna.

“Siapa dia?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Perempuan itu melangkah satu kali ke arahku.

Aku refleks mundur.

“Jangan mendekat.”

Dia langsung berhenti.

Wajahnya tampak hancur.

“Maaf.”

Suaranya serak.

“Hanya itu yang bisa saya katakan sekarang. Maaf.”

Aku merasakan darah berdesir di telingaku.

“Kamu siapa?”

Dia memandang Bu Ratna.

Bu Ratna menutup mata.

Kemudian perempuan itu kembali menatapku.

“Namaku Laras.”

Aku menunggu.

Dia menarik napas gemetar.

“Dan aku…”

Kalimatnya terputus.

Air matanya jatuh lebih deras.

“…ibumu.”

Dunia seperti berhenti.

Aku tidak langsung marah.

Tidak langsung menangis.

Aku bahkan tidak bisa bergerak.

Aku hanya berdiri, memandangi seorang perempuan asing yang baru saja mengucapkan kata yang selama dua puluh tahun menjadi luka terbesar dalam hidupku.

Ibu.

Aku tertawa kecil.

Lagi-lagi bukan karena lucu.

“Tidak.”

Laras membeku.

“Tidak mungkin.”

“Dimas…”

“Jangan panggil namaku seperti kita saling kenal.”

Kalimat itu membuat wajahnya semakin pucat.

Aku menunjuk Bu Ratna.

“Dia bilang ibu kandungku pergi setelah melahirkanku.”

Tak satu pun dari mereka menjawab.

“Dia bilang ibuku malu punya anak sepertiku.”

Laras menggeleng cepat.

“Tidak pernah.”

“Dia bilang aku dibuang.”

“Tidak.”

Suara Laras pecah.

“Aku tidak pernah membuangmu.”

Aku menoleh tajam kepada Bu Ratna.

“Jadi siapa yang bohong?”

Bu Ratna jatuh terduduk di sofa.

Aku kembali mengambil amplop cokelat dari meja.

“Cukup.”

“Dimas…” katanya.

“Sudah cukup.”

Aku merobek bagian atas amplop.

Bu Ratna memejamkan mata.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas, sebuah foto lama, sebuah surat tulisan tangan, dan satu salinan dokumen rumah sakit.

Tanganku langsung tertuju pada foto.

Di sana ada seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.

Perempuan itu Laras.

Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang langsung kukenali.

Ayah.

Jantungku berdegup begitu keras.

Ayah sedang tersenyum.

Senyum yang tidak pernah kulihat dalam foto-foto keluarga yang disimpan Bu Ratna.

Di balik foto tertulis sebuah tanggal.

Dua hari setelah aku lahir.

Tanganku mulai gemetar.

Aku mengambil dokumen rumah sakit.

Nama ibu: Laras Widyanti.

Nama ayah: Bima Prasetyo.

Namaku tercantum di bawahnya.

Aku menatap Bu Ratna.

“Jelaskan.”

Tak ada jawaban.

“JELASKAN!”

Bu Ratna tersentak.

Laras memegang sandaran kursi agar tidak jatuh.

Akhirnya Bu Ratna berkata,

“Ayahmu mengenal Laras jauh sebelum mengenalku.”

Aku tidak menyela.

“Mereka menikah muda. Kemudian kamu lahir.”

“Lalu?”

Bu Ratna menggenggam kedua tangannya.

“Beberapa bulan setelah kamu lahir, terjadi kebakaran di tempat usaha keluarga Laras.”

Laras menunduk.

“Ayahku meninggal dalam kebakaran itu,” katanya pelan.

Bu Ratna melanjutkan, “Keluarga Laras terlilit utang. Ada masalah hukum. Orang-orang menagih ke mana-mana.”

Aku mengerutkan dahi.

“Apa hubungannya dengan aku?”

Laras menatapku.

“Karena saat itu ayahmu bekerja di perusahaan milik keluarga Ratna.”

Aku menoleh.

Bu Ratna mengangguk perlahan.

Ayah ternyata mengenal keluarga Bu Ratna karena pekerjaan.

Laras berkata, “Ayahmu berusaha membantu keluargaku, tapi kemudian ia dituduh ikut menggelapkan uang perusahaan.”

“Ayah?”

“Itu tuduhan palsu.”

Aku memandang Bu Ratna.

Dia langsung menangis.

“Bukan aku yang membuat tuduhan itu.”

“Tapi keluarga Ibu?”

Bu Ratna mengangguk.

“Kakakku.”

Aku pernah mendengar tentang kakak Bu Ratna, Pak Surya. Seorang pengusaha yang meninggal beberapa tahun lalu. Dulu Bu Ratna selalu mengatakan bahwa dialah orang yang menolong ayah ketika hidupnya sedang kacau.

Ternyata ceritanya berbeda.

“Surya menyukai Laras,” kata Bu Ratna.

Laras menggenggam tangannya erat-erat.

“Dia memaksaku meninggalkan Bima.”

Aku merasa tenggorokanku kering.

“Kenapa?”

“Karena kalau tidak, ayahmu akan masuk penjara.”

Ruangan terasa semakin sempit.

Laras melanjutkan, “Saat itu aku bodoh. Aku takut. Aku baru menjadi ibu. Kamu masih bayi. Ayahmu bahkan hampir kehilangan pekerjaan.”

Dia menangis.

“Surya bilang semua tuduhan akan dicabut kalau aku pergi dari Jakarta dan tidak pernah menghubungi Bima lagi.”

“Ayah tahu?”

“Tidak.”

Jawaban itu datang begitu cepat.

“Aku dipaksa menandatangani surat yang seolah-olah mengatakan bahwa aku pergi atas keinginanku sendiri.”

Aku menatap foto dalam genggamanku.

“Dan aku?”

Laras menutup wajah.

“Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Aku merasa dadaku terbakar.

“Kamu meninggalkanku.”

“Aku pikir hanya sementara.”

“Tapi dua puluh tahun bukan sementara!”

“Aku tahu.”

Laras hampir terisak.

“Aku tahu.”

Ternyata setelah Laras pergi, ayah mencarinya selama bertahun-tahun. Tetapi semua surat, nomor telepon, dan alamat yang dikirim Laras kepadanya tidak pernah sampai.

Karena satu orang selalu mencegat semuanya.

Bu Ratna.

Aku menatap perempuan yang membesarkanku itu.

“Jadi Ibu tahu dia masih mencari kami?”

Bu Ratna diam.

“Jawab!”

“Ya.”

Satu kata itu terasa seperti pisau.

“Sejak kapan?”

“Sejak awal.”

Aku kehilangan kata-kata.

Bu Ratna berdiri, tetapi tidak berani mendekat.

“Aku mencintai ayahmu, Dimas.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi karena itu?”

“Dengarkan dulu.”

“Aku sudah mendengar kebohongan Ibu selama dua puluh tahun.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Ibu tidak tahu.”

Aku menunjuk dadaku.

“Ibu tidak tahu rasanya tumbuh sambil percaya bahwa ibu sendiri jijik kepadaku. Ibu tidak tahu rasanya melihat teman-temanku dijemput ibu mereka lalu bertanya dalam hati, apa yang salah denganku.”

Bu Ratna terisak.

“Setiap ulang tahun aku bertanya-tanya apakah ibuku ingat tanggal lahirku.”

Laras menutup mulut sambil menangis.

“Setiap tahun aku ingat.”

Aku menoleh kepadanya.

“Jangan.”

Dia terdiam.

Aku kembali menatap Bu Ratna.

“Dan Ayah?”

Bu Ratna jatuh terduduk lagi.

“Ayahmu akhirnya menikah denganku ketika kamu berusia empat tahun.”

Aku memang ingat samar-samar bahwa Bu Ratna baru tinggal bersama kami setelah aku cukup besar. Namun selama ini dia mengatakan bahwa ayah menikahinya karena ibu kandungku sudah lama pergi.

“Ayah mengira Laras sengaja meninggalkannya,” katanya.

“Dan Ibu membiarkannya percaya?”

Bu Ratna mengangguk.

Aku mengepalkan tangan.

“Kenapa?”

“Karena aku takut kehilangan dia.”

Kalimat itu membuatku jijik.

Namun Bu Ratna belum selesai.

“Aku juga takut kehilanganmu.”

Aku mengernyit.

“Aku?”

“Ketika pertama kali datang ke rumah itu, kamu bahkan tidak mau dekat denganku.”

Dia tersenyum tipis di antara air mata.

“Tapi suatu malam kamu demam tinggi. Ayahmu sedang dinas luar kota. Aku yang membawamu ke rumah sakit.”

Samar-samar aku mengingat potongan kecil masa itu.

Tangan yang dingin di dahiku.

Seseorang yang terus menggendongku.

“Aku mulai menyayangimu,” katanya.

“Jangan pakai kata sayang setelah semua yang Ibu lakukan.”

Bu Ratna menutup mata.

“Aku tahu aku tidak berhak.”

Aku mengambil surat tulisan tangan dari dalam amplop.

Tulisan di bagian atas membuatku terdiam.

Untuk anakku, Dimas.

Aku ingin membacanya.

Namun Laras berkata pelan, “Itu bukan dariku.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Itu surat ayahmu.”

Napas ku tercekat.

Aku membuka lipatannya.

Tulisan tangan ayah langsung kukenali.

Dimas,

Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak ada.

Ada sesuatu yang sejak lama ingin Ayah katakan. Tentang ibumu.

Ayah pernah marah kepadanya. Pernah membencinya. Pernah percaya bahwa ia meninggalkan kita.

Tapi beberapa minggu sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa Ayah, seseorang menghubungi Ayah.

Ia menunjukkan bukti bahwa Laras tidak pernah berhenti mencari kita.

Tanganku mulai bergetar.

Aku membaca lebih cepat.

Ayah sudah berniat menemuinya.

Tapi ada satu hal yang belum Ayah selesaikan.

Ratna.

Aku menatap Bu Ratna.

Dia menangis semakin keras.

Surat itu berlanjut.

Ratna memang menyembunyikan banyak hal. Tapi Ayah juga bersalah karena terlalu mudah percaya pada cerita yang diberikan orang lain.

Kalau suatu hari kamu harus memilih antara membenci atau mengetahui seluruh kebenaran, pilihlah kebenaran.

Karena kebencian akan membuatmu hidup di masa lalu.

Kebenaran, betapa pun menyakitkan, akan memberimu pilihan untuk menentukan masa depan.

Di bagian akhir ada satu kalimat.

Dan satu hal lagi.

Ratna bukan orang yang menyebabkan Laras pergi.

Orang yang menghancurkan keluarga kita adalah seseorang yang selama ini masih sangat dekat denganmu.

Aku berhenti membaca.

“Siapa?”

Bu Ratna menatap Laras.

Laras justru memandang ke arah pintu depan.

Saat itu terdengar suara pagar rumah terbuka.

Beberapa detik kemudian, seorang pria masuk tanpa mengetuk.

Aku mengenalnya.

Om Arman.

Adik kandung ayah.

Orang yang selama ini paling dekat denganku setelah ayah meninggal.

Dia yang membayar uang kuliahku ketika usaha ayah bermasalah.

Dia yang datang setiap Lebaran.

Dia yang berkali-kali mengatakan agar aku tidak usah mencari ibu kandungku karena “hanya akan membuka luka lama”.

Om Arman berhenti di ambang pintu.

Wajahnya langsung berubah ketika melihat Laras.

“Kenapa dia di sini?”

Aku memandangnya.

“Om tahu dia?”

Om Arman tidak menjawab.

Laras berdiri tegak.

“Dia bukan cuma tahu.”

Aku melihat ketakutan muncul di mata Om Arman.

Laras menunjuknya.

“Dialah yang memberi Surya semua informasi tentang kami.”

Aku merasa seperti ditampar.

“Apa?”

Om Arman mengangkat tangan.

“Dimas, jangan dengarkan dia.”

“Kenapa?”

“Perempuan itu sudah meninggalkan kalian!”

“Dia dipaksa!”

“Siapa bilang?”

“Ayah.”

Wajah Om Arman membeku.

Aku mengangkat surat.

“Ayah tahu semuanya sebelum meninggal.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap Om Arman.

“Kenapa Om melakukannya?”

Dia menggeleng.

“Tidak sesederhana itu.”

“Jawab.”

Akhirnya ia tertawa pendek.

Ekspresinya berubah.

Selama ini aku selalu melihatnya sebagai paman yang sabar dan murah hati.

Sekarang wajah itu terasa asing.

“Ayahmu selalu mendapatkan semuanya.”

Aku tidak mengerti.

“Sejak kecil, Bima selalu jadi anak kesayangan. Kuliah dibiayai penuh. Usaha keluarga diberikan kepadanya. Bahkan ketika bisnis hampir jatuh, kakekmu tetap membantunya.”

Dia menunjuk Laras.

“Lalu dia menikahi perempuan yang juga aku sukai.”

Laras menatapnya jijik.

Aku mulai memahami.

“Om bekerja sama dengan Pak Surya?”

“Surya ingin Laras. Aku ingin Bima kehilangan apa yang selalu dia miliki.”

Om Arman tersenyum pahit.

“Kesepakatan yang sederhana.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi Om menghancurkan keluarga kami karena iri?”

“Jangan sok suci. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya hidup selalu menjadi nomor dua.”

“Dan setelah Ayah meninggal, kenapa Om masih terus bohong?”

Kali ini ia diam.

Bu Ratna berkata pelan, “Karena warisan.”

Aku menoleh.

Om Arman langsung membentak, “Diam!”

Namun semuanya sudah jelas.

Bu Ratna bangkit.

“Ayahmu mewariskan sebagian besar aset keluarga kepadamu.”

Aku mengernyit.

“Tapi selama ini aku hanya menerima rumah ini.”

“Karena Arman memalsukan beberapa dokumen.”

Om Arman maju satu langkah.

“Ratna!”

“Cukup!”

Bu Ratna menjerit.

Untuk pertama kalinya suaranya tidak terdengar takut.

Dia membuka sebuah laci kecil di lemari ruang tamu dan mengeluarkan map biru.

“Aku menyimpan salinannya.”

Om Arman berhenti.

Bu Ratna menyerahkan map itu kepadaku.

Di dalamnya ada dokumen kepemilikan tanah, saham sebuah perusahaan logistik, dan beberapa surat kuasa lama.

Namaku ada di sana.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Kenapa baru sekarang?”

Aku menatap Bu Ratna.

Dia menunduk.

“Karena aku pengecut.”

Air matanya jatuh.

“Setelah ayahmu meninggal, Arman mengancam akan membongkar bahwa aku menyembunyikan surat-surat Laras. Aku takut kamu akan membenciku.”

Aku tertawa getir.

“Jadi Ibu memilih terus berbohong.”

“Ya.”

Jawabannya kali ini tanpa pembelaan.

“Aku salah.”

Om Arman tiba-tiba bergerak cepat menuju meja, hendak merebut dokumen.

Namun aku lebih cepat menarik map itu.

“Jangan sentuh.”

“Dimas, dengarkan Om.”

“Keluar.”

“Ini keluarga kita.”

Aku menatapnya.

“Justru karena ini keluarga, Om seharusnya tidak menghancurkannya.”

Dia hendak bicara lagi, tetapi suara sirene terdengar dari luar.

Om Arman menoleh panik.

Aku juga terkejut.

Lelaki tua yang tadi pagi menyerahkan amplop muncul di depan pintu bersama dua polisi.

Dia menatapku.

“Maaf saya terlambat memperkenalkan diri.”

Dia mengeluarkan kartu identitas.

“Nama saya Haris. Dulu saya notaris ayahmu.”

Ternyata sebelum datang ke rumah, Pak Haris sudah menyerahkan bukti pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan aset kepada polisi.

Amplop itu bukan hanya berisi kebenaran tentang ibuku.

Ia adalah umpan.

Pak Haris tahu Om Arman diam-diam mengawasi rumah sejak beberapa hari terakhir karena mendengar Laras kembali ke Indonesia.

Suara benda jatuh dari kamar belakang tadi rupanya terjadi karena Laras memang sudah berada di rumah sejak sebelum aku datang ke ruang tamu.

Pak Haris yang membawanya masuk lewat pintu samping.

Mereka sengaja menunggu Bu Ratna mengakui semuanya sebelum menyerahkan bukti terakhir.

Polisi membawa Om Arman pergi.

Sebelum masuk ke mobil, dia masih menatapku.

Tidak ada penyesalan di wajahnya.

Hanya kemarahan karena akhirnya kalah.

Aku berdiri di teras sampai mobil itu menghilang dari ujung jalan.

Ketika masuk kembali ke rumah, Laras masih berdiri di tempat yang sama.

Bu Ratna duduk di sofa sambil menangis dalam diam.

Tiga orang.

Tiga kehidupan yang hancur oleh kebohongan yang sama.

Laras mendekat satu langkah.

“Kamu tidak harus memaafkanku.”

Aku menatapnya.

“Aku juga tidak akan memaksa kamu memanggilku Ibu.”

Dia tersenyum getir.

“Aku hanya ingin sekali saja melihatmu dengan mata kepalaku sendiri.”

Aku tidak menjawab.

“Kalau setelah hari ini kamu tidak ingin bertemu lagi, aku akan pergi.”

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya dan menaruhnya di meja.

“Apa itu?”

“Surat.”

Aku hampir tertawa.

“Hari ini memang penuh surat.”

Laras tersenyum sambil menangis.

“Dua puluh surat.”

Aku membukanya.

Masing-masing diberi tahun.

Saat aku berusia satu tahun.

Dua tahun.

Tiga tahun.

Sampai ulang tahunku yang kedua puluh.

“Aku menulis satu setiap ulang tahunmu.”

Tanganku membeku.

“Aku tidak tahu apakah suatu hari kamu akan membacanya.”

Aku membuka surat pertama.

Tulisan tangannya sudah mulai pudar.

Dimas sayang, hari ini usiamu satu tahun. Ibu tidak tahu apakah kamu sudah bisa berjalan. Ibu berharap ayahmu memotret setiap langkah pertamamu karena Ibu takut tidak pernah melihatnya.

Aku menutup surat itu.

Tidak sanggup membaca lebih jauh.

Selama dua puluh tahun aku mengira tak ada seorang pun yang mengingat ulang tahunku.

Ternyata di suatu tempat, seorang perempuan menulis surat setiap tahun untuk anak yang tidak bisa ditemuinya.

Aku mengangkat kepala.

Laras berdiri sambil menunggu.

Tidak memohon.

Tidak memaksa.

Hanya menunggu.

Aku juga menatap Bu Ratna.

Perempuan yang telah berbohong kepadaku selama bertahun-tahun.

Anehnya, di tengah semua kemarahan itu, aku masih teringat malam-malam ketika dia menungguku pulang.

Makanan yang selalu disisihkan untukku.

Seragam sekolah yang dijahitnya ketika robek.

Tangannya yang menggenggam tanganku saat ayah dimakamkan.

Tidak semua tentangnya palsu.

Dan mungkin itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.

“Aku tidak bisa memaafkan kalian hari ini,” kataku.

Laras mengangguk.

Bu Ratna menunduk.

“Mungkin juga bukan besok.”

Tak ada yang menyela.

“Tapi aku capek hidup berdasarkan cerita orang lain.”

Aku mengambil kotak berisi dua puluh surat itu.

“Mulai sekarang, aku mau mengenal kebenaranku sendiri.”

Laras menangis.

Aku menatap Bu Ratna.

“Dan Ibu harus mengatakan semuanya. Tidak boleh ada satu kebohongan lagi.”

Dia mengangguk berkali-kali.

“Apa pun yang kamu tanyakan.”

Aku memandang foto lama ayah dan Laras.

Kemudian untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.

Selama ini aku selalu bertanya mengapa orang tuaku membuangku.

Pertanyaan itu salah sejak awal.

Aku tidak pernah dibuang.

Aku dipisahkan.

Aku dibohongi.

Aku dijadikan korban dari dendam orang dewasa yang bahkan tidak pernah kupahami.

Namun ada satu hal yang tidak berhasil mereka ambil dariku.

Kesempatan untuk menentukan siapa diriku setelah mengetahui semuanya.

Malam itu, aku membuka surat kedua.

Lalu surat ketiga.

Laras duduk di seberangku.

Bu Ratna berada di dapur, membuat teh seperti yang selalu dilakukannya ketika aku pulang dengan wajah lelah.

Tak ada pelukan dramatis.

Tak ada pengampunan instan.

Tak ada keluarga yang tiba-tiba kembali sempurna.

Hanya tiga orang yang duduk dalam rumah yang sama, membawa luka masing-masing, mencoba membangun sesuatu dari reruntuhan dua puluh tahun kebohongan.

Saat aku membuka surat terakhir, sebuah foto kecil jatuh ke lantai.

Aku mengambilnya.

Foto itu diambil beberapa bulan sebelum ayah meninggal.

Ayah berdiri di depan sebuah rumah sakit.

Di sebelahnya ada Pak Haris.

Dan di belakang foto tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan ayah.

Aku akhirnya menemukan Laras.

Besok aku akan menemuinya dan membawa Dimas.

Tanggalnya membuat dadaku sesak.

Itu sehari sebelum kecelakaan ayah.

Aku menatap Laras.

“Jadi Ayah benar-benar mau membawa aku menemuimu?”

Laras menangis sambil mengangguk.

Namun Bu Ratna yang menjawab.

“Ya.”

Aku menoleh kepadanya.

Matanya merah.

“Ayahmu sudah memaafkannya.”

Aku menelan ludah.

“Lalu kenapa Ayah kecelakaan?”

Bu Ratna terdiam.

Pak Haris yang masih berada di teras masuk perlahan.

Wajahnya berubah serius.

“Ada satu hal lagi yang belum saya katakan, Dimas.”

Tubuhku menegang.

Pak Haris menaruh sebuah salinan laporan polisi lama di meja.

“Kecelakaan ayahmu selama ini dianggap akibat rem blong.”

Aku menatapnya.

“Tapi setelah kami membuka kembali berkasnya…”

Dia berhenti sebentar.

“…ternyata selang rem mobil ayahmu dipotong.”

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

Laras menutup mulut.

Bu Ratna memejamkan mata.

Aku menatap ke arah jalan, tempat mobil polisi yang membawa Om Arman tadi sudah lama menghilang.

Pak Haris berkata pelan,

“Dan sidik jari yang ditemukan pada kap mobil dua puluh tahun lalu…”

Aku menoleh.

“…milik Arman.”

Saat itulah aku benar-benar memahami mengapa Bu Ratna berlutut memohon agar amplop itu tidak dibuka.

Bukan karena dia takut aku mengetahui siapa ibuku.

Dia takut karena amplop itu akan membuka kembali kematian ayahku.

Dan mungkin, tanpa pernah dia sadari, kebohongan yang selama ini dia gunakan untuk mempertahankan sebuah keluarga justru menjadi tembok terakhir yang melindungi pembunuh di dalam keluarga itu sendiri.

Aku menggenggam surat ayah.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, aku tidak merasa seperti anak yang dibuang.

Aku merasa seperti seorang anak yang akhirnya ditemukan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang