Istri Saya Pindah Tinggal di Rumah Selingkuhannya…

Carlos membuka pintu. Wajahnya yang semula tampak santai, seketika pias seperti melihat hantu di siang bolong. Di belakangnya, seorang wanita muda dengan riasan tebal—selingkuhannya, yang selama ini menjadi alasan Carlos mengabaikan kewajibannya—muncul dengan tatapan bingung yang perlahan berubah menjadi kekhawatiran saat melihat Doña Carmen duduk di kursi roda, dikelilingi oleh tumpukan tas perlengkapan medis.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suara Carlos bergetar, setengah berbisik, takut terdengar oleh tetangga.

“Seperti yang kukatakan di telepon,” jawabku dengan nada datar yang mematikan. “Dia merindukanmu. Dan aku? Aku sudah menyelesaikan kontrak tujuh tahunku sebagai perawat pribadinya. Sekarang giliranmu, Carlos.”

Aku mendorong kursi roda itu masuk ke dalam apartemen yang mewah dan rapi itu, kontras sekali dengan rumah kami yang selama ini penuh bau disinfektan dan perjuangan. Aku meletakkan semua tas perlengkapan di ruang tamu. Doña Carmen tampak bingung, dia menatap selingkuhan Carlos dengan tatapan tajam yang khas, lalu menatap putranya dengan senyum yang menyakitkan.

“Carlos, Nak? Akhirnya,” bisik Doña Carmen lemah.

Carlos panik. Dia menoleh ke arah selingkuhannya yang kini berdiri dengan tangan terlipat, menatapnya penuh tuntutan. “Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” bisik Carlos pada wanita itu, lalu beralih padaku dengan kemarahan yang meluap. “Kau gila! Kau tidak bisa meninggalkan ibu di sini begitu saja! Aku punya kehidupan, aku punya—”

“Kau punya tanggung jawab, Carlos,” potongku, suaraku tenang namun dingin seperti es. “Selama tujuh tahun, kau berkata bahwa kau mempercayakan ibumu padaku karena aku ‘lebih ahli’. Sekarang, aku memberimu kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti. Lagipula, wanita ini,” aku menunjuk selingkuhannya dengan dagu, “pasti ingin menunjukkan betapa baiknya dia menjadi menantu, bukan?”

Wanita itu memekik. “Aku tidak pernah setuju untuk merawat wanita tua lumpuh! Aku ingin hidup bersenang-senang denganmu, Carlos!”

Suasana di apartemen itu berubah menjadi medan perang. Carlos mencoba menarik tanganku untuk keluar, tapi aku bergeming. Aku menatap Carlos, lalu menatap Doña Carmen yang perlahan mulai menyadari kekacauan ini.

Sebelum aku memutar badan untuk benar-benar pergi dari hidup mereka, aku menunduk sedikit, menatap mata Carlos yang penuh ketakutan akan kehancuran hidup “bebasnya”.

Lalu, dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh wanita selingkuhannya, aku mengucapkan kalimat pamungkas itu:

“Nikmatilah, Carlos. Dan asal kau tahu, dia tidak lagi butuh obat penenang malam ini… karena aku sudah memberikan dosis terakhirnya pagi tadi, dan resep sisanya ada di dalam tas itu, tapi dokter bilang, setelah ini, dia akan lebih sering tertidur untuk selamanya. Selamat menjalankan tugas anak yang berbakti.”

Keduanya terdiam membisu. Wajah Carlos berubah pucat pasi, matanya membelalak menatap tas besar berisi obat-obatan itu dengan ngeri. Apakah itu benar? Apakah aku benar-benar melakukan sesuatu yang mengerikan? Mereka tidak tahu. Mereka tidak akan pernah berani memeriksa, karena mereka terlalu pengecut untuk menghadapi realitas yang sebenarnya.

Aku menutup pintu apartemen itu dengan pelan.

Aku berjalan menuju mobilku. Angin sore terasa sangat sejuk di kulitku. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, bahuku terasa ringan. Aku tidak memedulikan teriakan Carlos yang memanggil namaku dari dalam, atau jeritan selingkuhannya yang mulai menyalahkan Carlos.

Mereka menginginkan kebebasan, bukan? Mereka menginginkan hidup tanpa beban istri dan tanggung jawab?

Sekarang mereka memilikinya. Mereka memiliki seorang wanita tua yang sakit, seorang pria yang tidak bertanggung jawab, dan kebohongan yang akan menghantui setiap detik mereka bersama.

Aku menyalakan mesin mobil. Aku tidak akan pulang ke rumah itu lagi. Aku sudah memesan tiket kereta ke kota lain, tempat di mana tidak ada yang mengenalku, tempat di mana tidak ada Doña Carmen, dan tidak ada Carlos.

Saat aku melajukan mobil menjauh dari apartemen itu, aku melihat dari kaca spion, Carlos berlari keluar pintu, panik, mungkin menyadari bahwa ibunya baru saja mulai terbatuk-batuk kecil—sesuatu yang biasanya memicu kepanikan dan kebutuhan akan bantuan medis segera.

Mereka pikir mereka bisa mengabaikanku dan menganggap hidupku adalah milik mereka. Mereka salah. Aku bukan sekadar menantu yang patuh; aku adalah arsitek dari bab terakhir hidup mereka.

Dan di tengah perjalanan, ponselku berbunyi. Pesan dari Carlos: “Kembalilah! Kumohon! Ibu tidak berhenti memanggil namamu! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Tolong!”

Aku tersenyum tipis, lalu menekan tombol block.

Biarkan mereka belajar arti “tanggung jawab” yang sebenarnya. Biarkan mereka terjebak dalam sangkar yang mereka buat sendiri. Hidupku baru saja dimulai, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa harus meminta izin atau maaf kepada siapa pun.

Ternyata, cara terbaik untuk menghancurkan kebohongan adalah dengan membiarkannya runtuh karena beban tanggung jawabnya sendiri. Dan aku? Aku sedang dalam perjalanan menuju kebebasan yang tidak akan pernah bisa mereka bayangkan.

Apakah menurut Anda, dengan meninggalkan beban tersebut di tangan orang yang salah, sang istri akhirnya menemukan kedamaian, atau justru dia telah memicu bencana baru yang akan menghantuinya di masa depan?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang