Saat pacarku yang tampak sempurna masuk ke kamar mandi

Darahku seolah membeku. “Mira, jangan bercanda. Dia pria yang nyata. Dia berdiri di hadapanku kemarin, makan mangga yang kupotong, dan memegang tanganku.”

“Aku tidak bercanda, Lira. Aku menarik data dari sistem kependudukan. Nama dan nomor itu terdaftar atas nama seorang pria yang tewas dalam kecelakaan di Batangas tiga tahun lalu. Orang yang kamu pacari… dia menggunakan identitas hantu.”

Ponsel itu hampir terlepas dari tanganku. Bayangan Enzo—cara dia menatapku, cara dia melindungiku saat menyeberang jalan—semuanya terasa seperti sebuah sandiwara yang disusun dengan sangat rapi.

Malam itu, aku pulang dengan perasaan yang sangat berbeda. Ayah sedang duduk di beranda, merokok kreteknya. Dia tidak bertanya apa-apa, seolah dia sudah tahu bahwa badai akan segera datang.

“Lira,” suaranya parau. “Jangan pernah lagi mengundang pria itu masuk ke rumah ini.”

“Ayah tahu?” tanyaku dengan suara bergetar.

Ayah mematikan rokoknya. “Aku sempat menelepon temanku di kepolisian. Foto yang kamu kirimkan kemarin? Mereka bilang tidak ada catatan Enzo Mercado dengan wajah itu di Iloilo. Tapi mereka punya catatan lain tentang orang yang sangat mirip dengannya di Manila.”

Ayah menatapku tajam. “Dia bukan seorang pacar, Lira. Dia seorang cleaner. Orang yang dikirim untuk membersihkan jejak orang lain… atau untuk menanam sesuatu yang berbahaya.”

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Enzo.

“Sayang, Ayahmu sepertinya tidak terlalu menyukaiku. Bagaimana kalau besok kita pergi ke vila milik pamanku di Tagaytay? Hanya berdua. Aku ingin kita bicara serius tentang masa depan kita.”

Jantungku berdegup kencang. Aku melirik ke arah Ayah, lalu ke layar ponsel. Sebuah rencana muncul di kepalaku. Jika dia adalah monster, maka aku harus menjadi umpan yang jauh lebih mematikan.

“Ya,” balasku. “Aku akan pergi.”

Keesokan harinya, di bawah kabut tipis Tagaytay, Enzo mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dia tampak sangat santai, seolah tidak ada rahasia besar yang sedang kami pikul.

“Kenapa kamu diam saja, Lira?” tanyanya sambil mengelus punggung tanganku. Sentuhannya yang dulu terasa hangat, kini terasa seperti lilitan ular.

“Aku hanya memikirkan apa yang dikatakan Ayah,” jawabku pelan.

Enzo tertawa kecil, suara tawa yang benar-benar tanpa jiwa. “Ayahmu adalah pria tua yang paranoid. Dia pikir dunia masih seperti penjara yang dia jaga dulu.”

Saat kami sampai di sebuah vila terpencil, Enzo tidak segera keluar. Dia mengunci pintu mobil. “Lira, sebenarnya ada sesuatu yang harus aku katakan sebelum kita menikah.”

Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah dokumen. Namun, bukan surat lamaran, melainkan sebuah kontrak berisi nama perusahaan ayahku—sebuah perusahaan logistik kecil yang sedang berjuang.

“Ayahmu dulu pernah mengklasifikasikan seorang tahanan yang sangat berbahaya, Lira. Seseorang yang memiliki akses ke semua data keuangan negara,” bisik Enzo. “Dia membuat kesalahan fatal dalam penilaiannya. Tahanan itu bebas, dan dia ingin Ayahmu menderita.”

Enzo menatapku dengan dingin. “Aku tidak di sini untuk menikahimu. Aku di sini untuk memastikan Ayahmu kehilangan segalanya sebelum dia mati.”

Duniaku runtuh. Namun, di saat yang sama, aku merasakan sebuah kepuasan aneh.

“Enzo,” kataku dengan tenang. Aku mengeluarkan sebuah alat perekam dari balik bajuku.

“Apa itu?” Enzo mematung.

“Ayah bukan hanya seorang pensiunan petugas penjara, Enzo. Dia adalah orang yang merancang sistem keamanan yang membuat para tahanan itu tidak pernah bisa keluar dengan utuh. Dia tahu kamu akan datang sejak hari pertama kamu muncul dengan ‘topeng’ itu.”

Tiba-tiba, dari balik semak-semak, mobil polisi berpakaian preman mengepung vila. Enzo tersentak, mencoba meraih pistol di balik kursi, namun pintu mobil sudah terkunci dari sistem pusat yang dikendalikan oleh tim Ayah.

Enzo menoleh padaku, matanya bukan lagi mata pria yang jatuh cinta, melainkan mata binatang yang terjepit. “Kamu… kamu sengaja membawaku ke sini?”

“Aku belajar dari yang terbaik,” jawabku.

Namun, di saat polisi mendekat, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Enzo tidak melawan. Dia justru tersenyum—senyum tulus yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Kamu pikir kamu menang, Lira?” Enzo berbisik.

“Apa maksudmu?”

“Ayahmu tidak memanggil polisi untuk menangkapku. Lihat siapa yang keluar dari mobil itu.”

Aku menoleh. Pria yang keluar dari mobil polisi bukan seorang perwira, melainkan seorang pria tua yang pernah Ayah penjarakan dua puluh tahun lalu. Dan dia tidak memborgol Enzo. Dia memborgol… Ayah yang baru saja tiba di lokasi.

Aku terbelalak. Enzo terkekeh, suaranya memenuhi kabin mobil. “Ayahmu tidak sedang melindungimu dari monster, Lira. Dia sedang berusaha menutupi kejahatannya sendiri. Aku bukan pembunuhnya. Aku adalah bukti nyata dari dosa masa lalunya yang kembali untuk menuntut balas.”

Ternyata, Enzo bukan hanya sekadar orang suruhan. Dia adalah putra dari tahanan yang dulu Ayah fitnah. Dan hari ini, di bawah kabut Tagaytay, bukan Enzo yang masuk ke dalam jebakan, melainkan kami semua.

Rahasia yang hampir meruntuhkan duniaku bukanlah tentang siapa Enzo, tetapi tentang siapa sebenarnya pria yang selama ini kupanggil Ayah.

Dan saat Enzo keluar dari mobil, dia menoleh padaku untuk terakhir kalinya. “Sekarang, Lira. Mari kita lihat siapa yang akan kamu percayai: Ayah yang membangun hidupnya di atas kebohongan, atau monster yang hanya ingin kebenaran terungkap?”

Aku terpaku di kursi pengemudi, menyadari bahwa di dunia ini, terkadang kejahatan datang dengan wajah yang sangat kita kenal, dan kebenaran selalu bersembunyi di balik senyum yang paling kita benci.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang