Aku masih menatap celah di bawah lantai ketika Pak Joko menarik lenganku lebih keras.
“Bu Sari, kita pergi sekarang.”
“Tunggu.”
“Jangan nekat.”
Aku menunjuk sudut kotak kayu yang terlihat di antara papan. Tulisan merah itu terlalu jelas untuk dianggap kebetulan.
MILIK PT GRAHA.

Perusahaan yang namanya tercetak di kartu Andika.
Jantungku berdetak begitu keras sampai telingaku berdenging.
Belasan ular masih bergerak di bawah rumah. Beberapa masuk kembali ke celah fondasi, sementara lainnya menghilang ke semak. Anehnya, mereka tidak mengejar kami. Mereka seperti hanya ingin menjauh dari sesuatu yang mengusik sarang mereka.
“Aku harus tahu isi kotak itu.”
Pak Joko menatapku seolah aku kehilangan akal.
“Ibu mau mati digigit ular demi kotak?”
“Bukan sekarang. Kita cari bantuan.”
Aku memotret kotak itu dari kejauhan dengan ponsel. Setelah itu kami meninggalkan tanah tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tidak berhenti bekerja.
Namaku Sari Wulandari. Umurku empat puluh dua tahun. Suamiku meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan kerja. Sejak itu aku hidup sendiri dan mencari nafkah dengan menjadi petugas kebersihan jalan.
Tanah itu seharusnya menjadi kesempatan keduaku.
Pak Darma, pemilik sebelumnya, menawarkannya dengan harga yang tidak masuk akal. Sepuluh ribu rupiah.
Katanya dia sudah tua dan tidak ingin lagi membayar pajak tanah yang tidak pernah digunakan.
Aku mengira keberuntungan akhirnya datang.
Ternyata mungkin aku baru saja membeli masalah yang jauh lebih besar daripada hidupku sendiri.
Malam itu aku menelepon Pak Darma.
Butuh tiga kali panggilan sebelum dia mengangkat.
“Pak, saya mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kenapa tanah itu sebenarnya dijual?”
Sunyi.
“Kan sudah saya bilang. Saya tidak memerlukannya.”
“Ada ratusan ular di bawah rumah.”
Napas Pak Darma terdengar berat.
“Pak?”
“Jangan ganggu ular-ular itu.”
Aku terdiam.
“Bapak tahu?”
“Aku tahu.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kalau kubilang, kamu tidak akan membeli.”
“Kenapa harus saya yang membeli?”
Lagi-lagi dia diam.
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Seolah-olah transaksi sepuluh ribu rupiah itu bukan karena dia membutuhkan uang.
Seolah-olah dia memang membutuhkan seseorang menjadi pemilik baru tanah tersebut.
“Ada kotak milik PT Graha di bawah rumah,” kataku.
Telepon langsung terputus.
Aku mencoba menelepon kembali.
Tidak diangkat.
Keesokan paginya aku pergi ke rumah Pak Darma bersama Pak Joko.
Rumahnya kosong.
Tetangganya mengatakan Pak Darma pergi sebelum subuh membawa satu tas pakaian.
“Katanya mau ke rumah saudaranya di Semarang,” ujar tetangganya.
Aku dan Pak Joko saling pandang.
Saat itulah rasa takutku berubah menjadi kemarahan.
Aku tidak suka dijadikan pion.
Kami pergi ke kantor desa.
Di sana aku bertemu Bu Ratna, sekretaris desa yang sudah bekerja hampir dua puluh tahun. Ketika kusebut lokasi tanah itu, dia langsung mengenalinya.
“Tanah keluarga Darma?”
“Iya.”
Dia membuka arsip lama.
“Ada apa?”
Aku menceritakan semuanya, kecuali soal kotak perusahaan. Aku ingin melihat reaksinya terlebih dahulu.
Bu Ratna mencari beberapa dokumen.
“Ini aneh.”
“Apa?”
“Lima tahun lalu pernah ada permohonan pembelian tanah ini dari sebuah perusahaan.”
“PT Graha Mandiri Nusantara?”
Tangannya berhenti.
“Kok Ibu tahu?”
Aku mengeluarkan kartu nama Andika.
Wajah Bu Ratna berubah serius.
“Mereka pernah mengajukan rencana pembangunan gudang logistik. Tapi proyeknya batal karena Pak Darma menolak menjual.”
“Berapa penawarannya?”
“Kalau tidak salah hampir dua miliar.”
Aku merasa kursiku bergerak.
“Dua miliar?”
Bu Ratna mengangguk.
“Tanah itu kelihatannya jelek karena rumahnya rusak. Tapi luasnya hampir satu hektare. Jalan besar baru akan dibangun tidak jauh dari sana.”
Sekarang semuanya semakin tidak masuk akal.
Kalau tanah itu pernah ditawar dua miliar, kenapa Pak Darma memberikannya kepadaku seharga sepuluh ribu?
Dan kenapa Andika hanya menawarkan tiga ratus lima puluh juta?
Siang itu kami menghubungi petugas pemadam kebakaran dan komunitas penyelamat satwa di kabupaten. Setelah melihat lokasi, mereka melarang siapa pun masuk sebelum proses evakuasi selesai.
Jumlah ular yang ditemukan membuat semua orang terkejut.
Bukan sepuluh.
Bukan dua puluh.
Dalam beberapa jam saja, lebih dari enam puluh ekor berhasil diamankan.
Sebagian besar berada di rongga bawah rumah.
Namun seorang petugas bernama Rendi menemukan sesuatu yang janggal.
“Bu Sari.”
Dia menunjuk bagian belakang fondasi.
“Lihat tanahnya.”
Aku tidak mengerti.
“Kenapa?”
“Bekas digali.”
Tanah di sana memang berbeda warna.
Rendi menggeser beberapa papan menggunakan alat panjang.
Di bawahnya terdapat lubang yang sengaja dibuat.
“Sepertinya seseorang pernah membuka jalur ke bawah rumah.”
Pak Joko mendekat.
“Buat ular?”
Rendi menggeleng.
“Belum tentu. Tapi ular suka tempat gelap dan jarang terganggu. Kalau ada rongga seperti ini, mereka akan masuk sendiri.”
Setelah area dinyatakan cukup aman, kotak kayu itu akhirnya dikeluarkan.
Aku berdiri beberapa meter jauhnya.
Tulisan di sisinya kini terlihat lengkap.
MILIK PT GRAHA MANDIRI NUSANTARA.
Kotak itu dikunci.
Aku menelepon polisi.
Aku tidak mau membukanya sendiri.
Dua petugas datang sore itu.
Ketika kunci dipotong, aku membayangkan banyak kemungkinan.
Uang.
Barang ilegal.
Dokumen rahasia.
Ternyata isinya jauh lebih sederhana.
Puluhan botol plastik besar.
Sarung tangan.
Beberapa kantong kain.
Dan buku catatan.
Seorang polisi membuka halaman pertama.
Isinya tanggal, jumlah, dan jenis ular.
Aku merasakan tengkukku dingin.
“Ini catatan pelepasan,” katanya.
Pak Joko langsung menatapku.
“Jadi ular-ular itu…”
“Sengaja dibawa ke sini,” jawab polisi.
Aku duduk di kursi plastik.
Kakiku tidak kuat lagi menyangga tubuh.
Selama bertahun-tahun, orang kampung percaya tanah itu penuh ular karena terbengkalai.
Ternyata seseorang sengaja membuatnya menjadi sarang.
Malam itu Andika menelepon.
“Saya dengar Ibu memanggil polisi.”
Aku menggenggam ponsel erat.
“Cepat sekali Anda tahu.”
“Desa kecil. Berita cepat menyebar.”
“Kotak perusahaan Anda ditemukan.”
Hening beberapa detik.
“Itu bukan urusan saya.”
“Namanya tertulis jelas.”
“Logo perusahaan bisa dicetak siapa saja.”
Aku hampir percaya pada ketenangannya jika aku tidak mendengar perubahan kecil pada suaranya.
“Anda masih mau membeli tanah saya?”
“Tentu.”
“Sekarang harganya dua miliar.”
Dia tertawa pendek.
“Jangan berlebihan.”
“Lima tahun lalu perusahaan Anda menawar hampir dua miliar.”
Kali ini dia benar-benar diam.
“Siapa yang memberi tahu?”
Aku tersenyum meskipun dia tidak bisa melihatnya.
“Berarti benar.”
Telepon ditutup.
Dua hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa polisi ingin memeriksa Andika.
Namun sebelum pemeriksaan dilakukan, seseorang datang ke rumah kontrakanku.
Pak Darma.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
“Aku harus bicara.”
Aku membiarkannya masuk.
Dia duduk dengan kepala tertunduk.
“Kenapa Bapak menjual tanah itu kepada saya?”
Pak Darma mengeluarkan amplop tua.
Di dalamnya ada foto seorang laki-laki muda berdiri di depan rumah kayu tersebut.
“Anakku.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Namanya Bima. Dua belas tahun lalu dia bekerja sebagai sopir di perusahaan Graha.”
Pak Darma menarik napas panjang.
“Dia tahu perusahaan itu membeli tanah di sekitar rencana jalan baru sebelum informasinya diumumkan. Banyak warga menjual murah karena tidak tahu harga akan naik.”
“Lalu?”
“Bima menemukan bukti ada pegawai perusahaan yang sengaja menakut-nakuti pemilik tanah yang menolak menjual.”
Aku langsung teringat ular.
Pak Darma mengangguk seolah membaca pikiranku.
“Awalnya cuma beberapa ekor. Setelah warga mulai takut, jumlahnya bertambah.”
“Kenapa tidak dilaporkan?”
“Sudah.”
“Apa yang terjadi?”
“Bima hilang.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
“Polisi tidak pernah menemukan dia?”
Pak Darma menggeleng.
“Sejak itu aku tidak berani menjual tanah. Aku pikir selama tanah masih atas namaku, mereka akan terus mengawasiku.”
“Lalu kenapa diberikan kepada saya?”
Matanya berkaca-kaca.
“Karena aku pengecut.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
“Aku melihatmu bekerja setiap pagi di jalan dekat pasar. Aku tahu kamu janda. Aku tahu kamu tidak punya banyak uang. Kupikir kalau tanah berpindah ke orang yang dianggap tidak penting, perusahaan itu mungkin lengah.”
Aku berdiri.
“Jadi Bapak menggunakan saya sebagai umpan?”
“Iya.”
Aku menatapnya dengan marah.
“Anda bisa membuat saya mati.”
“Aku tahu.”
“Kenapa sepuluh ribu?”
“Supaya transaksi itu sah. Aku tidak bisa memberikannya begitu saja tanpa menimbulkan pertanyaan.”
Aku ingin mengusirnya.
Namun Pak Darma mengeluarkan satu kunci kecil.
“Bima meninggalkan sesuatu sebelum hilang.”
“Kunci apa?”
“Sumur.”
Aku teringat sumur tua di halaman.
Pak Darma menjelaskan bahwa dinding sumur memiliki rongga kecil yang hanya bisa dibuka menggunakan kunci tersebut. Bima pernah berkata kepadanya bahwa jika sesuatu terjadi, bukti sebenarnya ada di sana.
Keesokan paginya polisi kembali ke tanah itu.
Setelah memastikan area aman dari ular, kami membuka penutup sumur.
Sekitar dua meter dari bibir sumur terdapat pelat besi kecil yang tertutup lumut.
Kunci Pak Darma cocok.
Di dalam rongga itu ada tabung logam kedap air.
Tanganku gemetar saat polisi membukanya.
Isinya sebuah flashdisk, beberapa dokumen, dan kartu identitas perusahaan atas nama Bima Darmawan.
Data di dalam flashdisk mengubah semuanya.
Ada rekaman percakapan.
Daftar tanah.
Nama pegawai.
Pembayaran kepada orang-orang yang bertugas melepaskan ular.
Foto kotak-kotak yang sama dengan yang kami temukan.
Dan satu video terakhir.
Bima muncul di layar.
Wajahnya pucat.
“Kalau rekaman ini ditemukan, berarti saya mungkin tidak bisa pulang.”
Pak Darma menangis.
Bima kemudian menyebut satu nama.
Andika Prasetyo.
Tapi kejutan terbesar muncul beberapa detik kemudian.
“Pak Andika bukan pemimpin operasi ini. Dia hanya menjalankan perintah.”
Bima menunjukkan sebuah dokumen ke kamera.
Nama yang tertulis di bagian bawah membuat Pak Joko sampai berdiri dari kursinya.
Darma Santoso.
Pak Darma.
Aku perlahan menoleh kepadanya.
Wajah lelaki tua itu pucat.
Polisi langsung berdiri.
Pak Darma tidak melawan ketika tangannya diborgol.
Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, dialah perantara pertama yang membantu perusahaan membujuk warga menjual tanah dengan harga murah.
Bima mengetahui perbuatan ayahnya dan mencoba membongkar semuanya.
Ketika situasi menjadi berbahaya, Pak Darma mundur. Namun semuanya sudah terlambat.
“Bima hilang karena kesalahanku,” katanya sambil menangis. “Aku tidak tahu mereka akan sejauh itu.”
Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.
Andika ditangkap. Beberapa mantan pegawai perusahaan ikut diperiksa. Kasus hilangnya Bima dibuka kembali.
Sementara itu, proyek jalan baru diumumkan secara resmi.
Harga tanah di kawasan tersebut melonjak.
Beberapa pengembang datang menawar tanahku.
Aku akhirnya menjual sebagian kecil lahan dengan harga yang cukup untuk membeli rumah sederhana, membuka warung, dan berhenti bekerja membersihkan jalan.
Namun rumah kayu tua itu tidak kuruntuhkan.
Aku memperbaikinya.
Halaman dibersihkan, lubang-lubang di bawah fondasi ditutup, dan sumur lama diamankan.
Setahun kemudian, aku berdiri di teras yang dulu membuat tubuhku membeku ketakutan.
Pak Joko datang membawa dua gelas kopi.
“Kalau dipikir-pikir,” katanya sambil tertawa, “sepuluh ribu rupiah memang murah sekali.”
Aku tersenyum.
“Yang mahal bukan tanahnya, Pak.”
“Terus?”
Aku memandang halaman yang kini hijau dan tenang.
“Keberanian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terkubur di dalamnya.”
Pak Joko mengangguk.
Aku sempat mengira ratusan ular adalah kutukan tanah itu.
Ternyata mereka bukan monster.
Mereka hanya makhluk yang dimanfaatkan manusia untuk menutupi keserakahan.
Dan tanah yang dianggap semua orang membawa sial justru memberiku sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak kumiliki.
Kesempatan untuk memulai hidup lagi.
Beberapa minggu kemudian, polisi menelepon.
Mereka menemukan kerangka manusia di sebuah lahan bekas gudang milik perusahaan.
Hasil pemeriksaan memastikan identitasnya.
Bima Darmawan.
Aku datang ketika jenazahnya diserahkan kepada keluarga.
Pak Darma menghadiri pemakaman dengan pengawalan petugas.
Sebelum dibawa kembali, dia menatapku.
“Terima kasih sudah menemukan anak saya.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku hanya berkata pelan.
“Bukan saya yang menemukannya, Pak.”
Dia menatapku bingung.
Aku teringat ular pertama yang keluar dari bawah teras pada hari aku datang.
Jika ular itu tidak muncul, mungkin aku akan langsung membersihkan rumah.
Jika tidak ada puluhan ular, petugas tidak akan membongkar bagian bawah lantai.
Jika lantai tidak dibongkar, kotak perusahaan tidak akan ditemukan.
Jika kotak itu tidak ditemukan, aku mungkin sudah menerima tawaran tiga ratus lima puluh juta dan pergi tanpa pernah mengetahui kebenaran.
Aku memandang makam Bima yang baru ditutup tanah.
“Rahasia itu sendiri yang akhirnya menemukan jalan keluar.”
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Kadang-kadang sesuatu yang paling kita takuti bukanlah pertanda agar kita lari.
Kadang-kadang ia muncul untuk memperingatkan bahwa ada kebenaran yang terlalu lama dikubur.
Dan pada akhirnya, tidak ada kebohongan yang benar-benar bisa disembunyikan selamanya.
Bahkan jika seseorang menutupinya dengan rumah tua, tanah terlantar, dan ratusan ular.
