LIMA TAHUN AKU MENYEMBUNYIKAN PERSELINGKUHAN, TAPI SAAT ANAK DARI WANITA ITU LAHIR, ISTRIKU MENYERAHKAN SURAT CERAI DAN RAHASIA YANG MENGHANCURKAN HIDUPKU

“Mas, kamu di mana?”

Pesan dari Maya muncul ketika aku sedang berdiri di samping jendela kamar rumah sakit. Di belakangku, Rani terbaring lemah setelah melahirkan. Bayi laki-laki yang selama berbulan-bulan membuat hidupku dipenuhi kecemasan kini tertidur di dalam boks transparan.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengetik.

“Aku masih ada urusan kantor. Mungkin pulang dua atau tiga hari lagi.”

Kebohongan itu terasa begitu mudah. Mungkin karena aku sudah melakukannya selama lima tahun.

Balasan Maya datang tak lama kemudian.

“Ya. Pergilah.”

Hanya itu.

Aku seharusnya curiga.

Namun selama lima tahun, ketenangan Maya selalu kuanggap sebagai kebodohan.

Aku mengenal Rani dalam acara perusahaan di kawasan Sudirman. Saat itu pernikahanku dengan Maya sudah memasuki tahun ketujuh. Kami tidak sering bertengkar. Justru itulah yang dulu membuatku merasa bosan.

Maya terlalu tenang.

Dia tidak pernah memeriksa ponselku, tidak pernah mempertanyakan mengapa aku pulang tengah malam, bahkan tidak pernah mengendus kemejaku seperti istri-istri pencemburu dalam sinetron.

Ketika aku mengatakan ada rapat mendadak, dia percaya.

Ketika aku pergi bersama Rani ke Bandung selama dua malam dan mengatakan sedang menemui klien, Maya hanya berpesan agar aku berhati-hati di jalan.

Aku mengira dia tidak tahu.

Aku salah.

Malam setelah kelahiran bayi Rani, aku pulang ke rumah untuk mengambil pakaian.

Lampu ruang makan masih menyala. Makanan tersedia di meja seperti biasanya, tetapi di samping piringku ada sebuah amplop kuning.

Namaku tertulis dengan huruf kapital.

ARIF. TANDA TANGANI.

Di dalamnya terdapat gugatan cerai, laporan rekening, foto hotel, bukti transfer kepada Rani, salinan percakapan kami, bahkan hasil pemeriksaan kehamilannya.

Di lembar terakhir, Maya menulis satu kalimat.

“Jika kamu membaca ini, berarti anak itu sudah lahir. Besok pagi kita bertemu di kantor pengacara. Jangan membawa Rani.”

Aku hampir tidak sempat mencerna semuanya ketika Maya muncul dari tangga.

Aku mencoba meminta maaf.

Namun dia justru mengeluarkan sebuah map hitam.

Di dalamnya terdapat dokumen pinjaman bank dengan jaminan rumah kami.

Namaku tercantum sebagai peminjam.

Tanda tanganku ada di sana.

Padahal aku tidak pernah menandatanganinya.

“Siapa yang membuat ini?” tanyaku.

Maya hanya menatapku.

“Besok kamu akan tahu siapa yang selama ini berdiri di belakangmu.”

Aku tidak tidur malam itu.

Pagi-pagi sekali aku kembali ke rumah sakit.

Rani sedang menyusui bayinya ketika aku masuk.

“Kamu kelihatan seperti habis melihat hantu,” katanya.

Aku meletakkan map hitam di meja.

“Kamu pernah melihat dokumen ini?”

Rani membukanya.

Wajahnya berubah sesaat.

Hanya sesaat.

Tetapi aku melihatnya.

“Kamu tahu sesuatu?”

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

Rani menutup map itu.

“Kenapa aku harus tahu urusan rumahmu?”

“Karena seseorang menggunakan namaku untuk menjaminkan rumah.”

Dia mengangkat bahu.

“Mungkin istrimu.”

Aku menatapnya.

“Maya tidak membutuhkan uang.”

Rani terdiam.

Aku kemudian teringat sesuatu.

Enam bulan sebelumnya, Rani pernah meminta fotokopi KTP dan contoh tanda tanganku. Katanya diperlukan untuk mengurus asuransi yang akan kupakai membantu biaya persalinan.

Saat itu aku memberikannya tanpa berpikir panjang.

“Dokumen yang kuberikan enam bulan lalu,” kataku perlahan. “Kamu gunakan untuk apa?”

Wajah Rani mengeras.

“Jangan mulai menuduhku.”

“Jawab.”

“Aku sedang habis melahirkan, Arif.”

“Aku bertanya dokumen itu kamu gunakan untuk apa?”

Bayi di dekatnya mulai menangis.

Rani langsung meninggikan suara.

“Keluar.”

Aku tidak bergerak.

“Rani.”

“Keluar!”

Untuk pertama kalinya, aku melihat perempuan yang selama lima tahun selalu menyambutku dengan senyum berubah menjadi seseorang yang terasa asing.

Pukul sepuluh pagi aku tiba di kantor pengacara di kawasan Kuningan.

Maya sudah menunggu.

Dia mengenakan blus krem sederhana dan celana hitam. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada mata sembap. Tidak ada wajah perempuan yang baru mengetahui suaminya memiliki anak dari perempuan lain.

Di sampingnya duduk seorang pengacara bernama Pak Adrian.

Aku duduk berhadapan dengan mereka.

“Maya, sebelum kita bicara soal perceraian, aku ingin tahu soal dokumen rumah.”

Pak Adrian mendorong sebuah map ke arahku.

“Pak Arif, sebelum itu ada sesuatu yang perlu Anda lihat.”

Di dalamnya terdapat laporan pemeriksaan tanda tangan.

Kesimpulannya jelas.

Tanda tanganku dipalsukan.

Kemudian ada rekaman CCTV dari sebuah kantor notaris.

Aku melihat Rani masuk bersama seorang laki-laki.

Laki-laki itu kukenal.

Dimas.

Adik sepupuku sendiri.

Aku berdiri spontan.

“Ini apa?”

Maya akhirnya bicara.

“Duduk.”

“Kenapa Dimas bersama Rani?”

“Karena hubungan mereka dimulai lebih lama daripada hubunganmu dengan Rani.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Aku tertawa kecil karena kalimat itu terdengar terlalu tidak masuk akal.

“Jangan bercanda.”

Maya mengeluarkan ponselnya.

Dia memutar sebuah rekaman suara.

Suara Rani terdengar jelas.

“Kalau rumahnya cair, kita dapat hampir tiga miliar. Setelah anak lahir, aku tinggal tekan Arif supaya menceraikan Maya.”

Kemudian suara Dimas.

“Kalau dia menolak?”

“Dia pasti takut aku bongkar semuanya.”

“Dan anak itu?”

Rani tertawa.

“Selama dia percaya itu anaknya, justru lebih mudah.”

Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.

“Tutup.”

Maya tidak menghentikannya.

Rekaman berlanjut.

Dimas berkata, “Kalau suatu hari dia minta tes DNA?”

“Lima tahun aku bisa bikin dia bohong kepada istrinya sendiri. Masa membuat dia percaya satu kebohongan saja aku tidak bisa?”

Tanganku gemetar.

Aku merebut ponsel dari meja dan mematikan rekaman.

“Itu palsu.”

Maya memandangku tanpa ekspresi.

“Seperti semua bukti perselingkuhanmu juga palsu?”

Aku tidak menjawab.

Pak Adrian kemudian menjelaskan bahwa tiga bulan sebelumnya, pihak bank menghubungi Maya karena rumah itu terdaftar atas nama kami berdua. Ada kejanggalan dalam proses pengajuan pinjaman karena persetujuan Maya juga dipalsukan.

Dari situlah semuanya terbongkar.

Maya menyewa penyelidik.

Mereka menemukan hubungan Rani dengan Dimas.

Bukan hanya itu.

Dimas terlilit utang akibat investasi ilegal. Rani membantu menyusun rencana untuk mendapatkan uang dariku.

Kehamilan itu menjadi alat tekanan paling sempurna.

Aku merasa mual.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak tiga bulan lalu?”

Pertanyaanku membuat Maya tertawa kecil.

Itulah pertama kalinya aku melihatnya tertawa pagi itu.

“Memberitahumu?”

Dia menatapku.

“Ketika aku menemukan pemalsuan dokumen, aku bahkan belum tahu tentang Rani. Aku berniat memperingatkanmu.”

“Lalu?”

“Lalu penyelidik menunjukkan foto kalian.”

Aku menunduk.

“Hotel. Apartemen. Restoran. Bandung. Bali.”

Setiap tempat yang disebutnya seperti palu menghantam kepalaku.

“Aku tahu semuanya dalam satu minggu, Arif.”

“Tapi kenapa kamu diam?”

Maya menghela napas panjang.

“Karena aku ingin tahu seberapa jauh kamu akan pergi kalau tidak ada seorang pun yang menghentikanmu.”

Matanya mulai berkaca-kaca untuk pertama kalinya.

“Setiap kali kamu pulang larut malam, aku menyiapkan makanan. Bukan karena aku bodoh. Aku sedang memberi kesempatan terakhir.”

Dadaku terasa sesak.

“Setiap kali kamu berbohong tentang perjalanan kerja, aku sudah tahu kamu bersama Rani.”

“May…”

“Jangan.”

Suaranya bergetar.

“Aku pernah berharap kamu pulang suatu malam dan mengatakan semuanya sendiri.”

Aku menatapnya.

“Tapi malam berganti malam. Bulan berganti bulan. Kamu terus berbohong.”

Air mata akhirnya jatuh dari matanya.

“Akhirnya aku sadar, yang kutunggu bukan pengakuanmu. Aku sedang menunggu keberanian diriku sendiri untuk meninggalkanmu.”

Aku tidak mampu mengatakan apa pun.

Setelah pertemuan itu, aku langsung menuju rumah sakit.

Rani sudah bersiap pulang.

Dimas ada di sana.

Begitu melihatku, wajahnya pucat.

Aku menghampirinya dan melempar map hitam ke dadanya.

“Berapa lama?”

Dimas tidak menjawab.

Rani berdiri.

“Arif, jangan bikin keributan di sini.”

Aku menatap bayi di dalam boks.

“Anak siapa?”

Rani terdiam.

“Jawab.”

“Jangan melibatkan bayi.”

“Anak siapa, Rani?”

Dimas akhirnya berkata, “Kami tidak tahu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Apa?”

Rani menutup wajahnya.

Dimas mengulang dengan suara pelan.

“Kami tidak tahu.”

Dunia seolah berhenti.

Aku tertawa. Entah kenapa aku tertawa.

Lima tahun aku mengkhianati istriku demi seorang perempuan yang ternyata juga mengkhianatiku.

Aku menghancurkan rumah tanggaku untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki.

Tes DNA dilakukan beberapa minggu kemudian.

Hasilnya datang dalam sebuah amplop putih.

Kemungkinan hubungan biologis sebagai ayah dinyatakan tidak sesuai.

Aku bukan ayah bayi itu.

Dimas pun melakukan tes.

Dia juga bukan ayahnya.

Rani akhirnya mengaku bahwa selama beberapa tahun terakhir ada pria lain selain kami berdua.

Aku tidak ingin tahu siapa.

Saat itu semuanya sudah tidak penting.

Penyelidikan pemalsuan dokumen berlanjut. Rani dan Dimas akhirnya harus berurusan dengan polisi terkait penggunaan dokumen palsu dan percobaan mendapatkan pinjaman dengan jaminan rumah.

Sedangkan aku kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan pengadilan mana pun.

Maya.

Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.

Aku menyerahkan hampir semua yang dimintanya.

Bukan karena dia memaksaku.

Aku sudah terlalu lelah untuk mempertahankan apa pun.

Hari terakhir setelah sidang, aku mengejarnya di lorong pengadilan.

“Maya.”

Dia berhenti.

“Aku tahu semuanya sudah terlambat,” kataku. “Tapi aku benar-benar minta maaf.”

Dia menatapku lama.

“Aku percaya.”

Aku terkejut.

“Kamu percaya?”

“Ya.”

“Kalau begitu, apakah suatu hari…”

Maya menggeleng.

“Memaafkan seseorang tidak berarti kita harus kembali kepadanya.”

Aku diam.

Dia melanjutkan dengan suara lembut.

“Aku tidak membencimu, Arif. Aku hanya tidak ingin menghabiskan sisa hidupku menjadi polisi bagi orang yang seharusnya menjadi pasanganku.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Sebelum pergi, Maya mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya.

“Ada satu hal yang belum pernah kuberitahukan kepadamu.”

Aku menerimanya.

Di dalamnya terdapat surat dari sebuah klinik fertilitas bertanggal hampir enam tahun sebelumnya.

Aku membaca isinya beberapa kali.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa peluangku memiliki anak secara alami sangat rendah.

Tanganku membeku.

“Kamu sudah tahu?”

“Sejak sebelum kamu mengenal Rani.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena dokter mengatakan kemungkinannya rendah, bukan tidak mungkin. Dan waktu itu aku takut kamu merasa kurang sebagai laki-laki.”

Aku menatap surat itu.

Tiba-tiba aku memahami sesuatu yang membuat seluruh tubuhku lemas.

Ketika Rani mengatakan hamil anakku, Maya sebenarnya sudah memiliki alasan kuat untuk curiga.

Namun dia tetap tidak menggunakannya untuk mempermalukanku.

“Jadi ketika kamu tahu Rani hamil…”

“Aku sudah menduga anak itu mungkin bukan anakmu.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Maya menatapku lurus.

“Karena masalah terbesar kita tidak pernah tentang bayi itu.”

Dia menunjuk dadaku.

“Masalahnya adalah lima tahun sebelumnya.”

Aku tidak mampu membalas.

Maya kemudian berjalan pergi.

Aku berdiri di lorong sambil memegang hasil pemeriksaan lama yang selama bertahun-tahun dia sembunyikan demi menjaga harga diriku.

Saat itulah aku akhirnya memahami ironi paling kejam dalam hidupku.

Aku menghabiskan lima tahun menganggap ketenangan istriku sebagai kelemahan.

Padahal selama itu, perempuan yang kukhianati justru berkali-kali melindungi harga diriku tanpa pernah meminta penghargaan.

Aku mengira aku pandai menyimpan rahasia.

Ternyata Maya juga menyimpan satu rahasia.

Bedanya, rahasiaku menghancurkan pernikahan kami.

Rahasianya disimpan untuk melindungiku.

Dan ketika aku akhirnya mengetahui semuanya, satu-satunya orang yang benar-benar kehilangan seluruh hidup yang pernah ia miliki bukan Maya.

Melainkan aku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang