Kakak perempuan saya baru saja pulang dari acara kencan buta, dan begitu mendorong pintu rumah, dia langsung meledak marah.
“Pria macam apa itu! Benar-benar sampah tidak berguna!”
“Gajinya bahkan tidak sampai setengah dari gajiku di Jakarta, tapi berani sekali menasihatiku untuk tinggal di daerah, menikah tahun ini, dan punya anak tahun depan!”
“Pergi kencan dengan barang rongsokan seperti itu benar-benar membuatku mual!”
Bapak dan Ibu segera berlari menghampirinya untuk menenangkan emosinya.
“Sudahlah, besok-besok tidak usah ditemui lagi. Mak comblang itu benar-benar tidak punya selera.”

Saya hanya berdiri diam sambil memandangi kotak hadiah kecil yang ditinggalkan Bagas di dekat pintu.
Sejak malam itu, saya menggantikan Nabila menemui Bagas lagi dan lagi. Mulanya hanya untuk menjaga sopan santun keluarga kami, tetapi setiap pertemuan justru membuat saya melihat sisi dirinya yang sama sekali berbeda dari cerita Kakak.
Dia rendah hati, tenang, dan tidak pernah berusaha mengesankan siapa pun.
Saat kami berjalan menyusuri bukit sore itu, angin bertiup lembut membawa aroma pinus.
Bagas menatap saya dengan serius.
“Nanda, kamu adalah wanita yang sangat spesial dan penuh perhatian. Bagaimana kalau kita mencoba mengenal satu sama lain, bukan sebagai pengganti siapa pun, tapi sebagai dirimu sendiri?”
Saya terdiam cukup lama.
“Bagas… aku harus jujur. Sejak awal aku hanya datang menggantikan Kakakku.”
“Aku tahu.”
Jawaban singkat itu membuat saya membeku.
“Kamu… tahu?”
Dia tersenyum tipis.
“Aku tahu sejak hari kedua.”
“Lalu kenapa kamu tetap mengajakku?”
“Karena orang yang benar-benar hadir di hadapanku bukan Nabila.”
Saya menunduk.
“Saya tidak ingin menjadi pilihan kedua.”
Bagas menggeleng.
“Kamu tidak pernah menjadi pilihan kedua. Yang kutemui pertama kali memang Nabila, tetapi orang yang membuatku ingin terus bertemu adalah kamu.”
Kalimat itu menghangatkan hati saya yang selama bertahun-tahun terbiasa menjadi bayangan kakak sendiri.
Sejak hari itu kami mulai berkomunikasi lebih sering.
Bagas tidak pernah mengirim pesan romantis berlebihan.
Sebaliknya, dia selalu bertanya apakah saya sudah makan, apakah pekerjaan saya melelahkan, atau mengirim foto langit sore karena menurutnya warnanya indah.
Hubungan kami berkembang dengan perlahan.
Suatu sore dia mengajak saya melihat sebuah rumah tua di pinggir kota.
“Rumah siapa ini?” tanya saya.
“Rumah penyewa.”
“Penyewa?”
“Iya.”
Saya mengangguk tanpa banyak bertanya.
Saya mengira keluarganya hanya memiliki beberapa rumah kontrakan kecil seperti yang pernah saya dengar.
Beberapa hari kemudian kami pergi lagi.
Kali ini ke sebuah ruko tiga lantai.
Pemilik toko langsung menyapa Bagas dengan hormat.
“Selamat sore, Pak Bagas.”
Begitu pula di tempat berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Dalam satu hari kami berhenti di delapan lokasi berbeda.
Semuanya disambut dengan sapaan yang sama.
Saat perjalanan pulang saya akhirnya bertanya.
“Bagas… sebenarnya semua tempat itu apa?”
“Milik keluarga.”
“Semuanya?”
“Iya.”
Saya mengira dia bercanda.
Namun seminggu kemudian, saat membantu neneknya mengantarkan dokumen ke kantor notaris, saya tanpa sengaja melihat daftar aset keluarga mereka.
Puluhan sertifikat rumah.
Belasan ruko.
Beberapa bidang tanah.
Saya menghitung sekilas.
Jumlahnya lebih dari tiga puluh.
Saya langsung teringat ejekan Kakak.
“Pria kampung.”
“Miskin.”
“Pelit.”
Saya hanya tersenyum sendiri.
Ternyata orang yang selama ini diremehkan justru jauh lebih mapan daripada siapa pun yang pernah dibanggakan Kakak.
Bagas tampaknya tidak pernah berniat memperlihatkan kekayaannya.
Dia tetap memakai mobil dinas kantor ketika bekerja, mengenakan jam tangan sederhana, dan lebih senang makan di warung dibanding restoran mahal.
“Kakek selalu bilang,” katanya suatu hari, “kalau orang ingin dihargai karena uangnya, dia akan kehilangan kesempatan bertemu orang yang benar-benar tulus.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.
Sebulan kemudian hubungan kami resmi.
Saya belum berani memberi tahu keluarga.
Namun entah bagaimana, Nabila mengetahui semuanya.
Dia pulang dari Jakarta dengan wajah penuh kemarahan.
“Nanda!”
Saya keluar dari kamar.
“Kamu benar-benar pacaran dengan pria itu?”
“Iya.”
Dia tertawa sinis.
“Bagus. Memang cocok.”
“Tapi jangan pernah menangis kalau nanti hidupmu susah.”
Saya hanya menjawab pelan.
“Aku bahagia.”
Jawaban sederhana itu justru membuatnya semakin kesal.
Beberapa hari kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kami.
Seorang pria berjas turun sambil membawa map.
Nabila langsung berdandan dan berlari keluar.
“Pak, mencari siapa?”
“Saya mencari Pak Bagas.”
Seluruh keluarga saling berpandangan.
“Bagas?”
“Iya.”
Pria itu memperkenalkan diri sebagai konsultan investasi keluarga Bagas.
Dia datang membawa beberapa dokumen yang harus segera ditandatangani.
Tanpa sengaja, map yang dibawanya terbuka.
Di dalamnya terlihat laporan aset bernilai puluhan miliar rupiah.
Mata Nabila membelalak.
Begitu pria itu pergi, dia langsung menghampiri saya.
“Nanda… sebenarnya Bagas kerja apa?”
“Sekarang di instansi provinsi.”
“Maksudku keluarganya.”
“Mereka menyewakan rumah dan ruko.”
“Berapa?”
Saya menjawab jujur.
“Lebih dari tiga puluh.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bapak menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.
Ibu menutup mulutnya.
Sedangkan Nabila tampak kehilangan warna wajah.
“Itu… tidak mungkin.”
Saya hanya tersenyum tipis.
Malam itu suasana rumah berubah total.
Untuk pertama kalinya Ibu mengetuk pintu kamar saya.
“Nanda… besok kalau Bagas datang, ajak makan malam di rumah ya.”
Saya tahu alasannya.
Bukan karena mereka mulai menyayangi saya.
Mereka baru mengetahui siapa Bagas sebenarnya.
Keesokan harinya Bagas datang membawa buah tangan seperti biasa.
Dia menyapa semua orang dengan sopan.
Nabila tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.
“Bagas, kemarin sebenarnya aku memang sibuk. Maaf ya kalau selama ini banyak salah paham.”
Bagas hanya tersenyum sopan.
“Tidak apa-apa.”
Sepanjang makan malam, Nabila terus berusaha mengajak Bagas berbicara.
Dia bahkan berkali-kali memotong pembicaraan saya.
Saat saya pergi mengambil minuman ke dapur, tanpa sengaja saya mendengar suara Kakak.
“Bagas, sebenarnya dulu aku memang ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Sungguh?”
“Iya. Tapi waktu itu aku terlalu sibuk.”
Bagas menjawab dengan tenang.
“Saya rasa tidak begitu.”
Nabila terdiam.
“Waktu itu Mbak mengatakan saya pria miskin yang tidak pantas mendekati Mbak.”
Wajah Nabila memucat.
“Saya mendengarnya sendiri.”
Suasana menjadi canggung.
Saya kembali ke ruang makan sambil membawa minuman seolah tidak mengetahui apa pun.
Setelah makan selesai, Bagas berpamitan.
Di depan pagar dia menggenggam tangan saya.
“Kalau keluargamu belum bisa menerima hubungan ini karena alasan yang benar, kita tidak perlu memaksakan diri.”
Saya mengangguk.
Namun masalah ternyata belum selesai.
Seminggu kemudian, Bapak mendadak berkata di meja makan.
“Nanda, Bapak pikir sebaiknya kamu mengalah.”
Saya mengangkat kepala.
“Mengalah?”
“Iya.”
“Nabila lebih cocok mendampingi Bagas.”
Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar.
“Maksud Bapak?”
“Nabila cantik, kariernya bagus, lebih sepadan.”
“Sedangkan kamu masih bisa mencari pria lain.”
Saya menatap kedua orang tua saya bergantian.
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya tidak menangis.
Saya hanya tersenyum.
“Lagi?”
Mereka terdiam.
“Sejak kecil aku selalu diminta mengalah.”
“Mengalah soal mainan.”
“Mengalah soal sekolah.”
“Mengalah soal kesempatan.”
“Sekarang bahkan soal orang yang mencintaiku pun aku harus mengalah?”
Tidak ada yang menjawab.
Saya menarik napas panjang.
“Aku tidak akan mengalah lagi.”
Hari itu saya keluar dari rumah.
Saya membawa koper yang sudah lama saya simpan.
Koper yang dulu tidak pernah berhasil saya bawa ketika tiket bus saya disobek Ayah.
Kali ini tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan saya.
Saya pindah ke rumah kecil milik keluarga Bagas yang memang sedang kosong.
Dua bulan kemudian kami bertunangan.
Hanya sahabat-sahabat dekat yang hadir.
Bapak, Ibu, dan Nabila tidak datang.
Saya sempat sedih, tetapi Bagas menggenggam tangan saya sepanjang acara.
“Keluarga bukan selalu tentang siapa yang melahirkan kita.”
“Tapi siapa yang memilih tetap berada di samping kita.”
Enam bulan kemudian kabar mengejutkan datang.
Perusahaan tempat Nabila bekerja melakukan efisiensi besar-besaran.
Dia kehilangan pekerjaannya.
Pacarnya di Jakarta juga memutuskan hubungan setelah mengetahui kondisinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki siapa-siapa.
Suatu sore dia datang ke rumah saya.
Matanya sembab.
“Nanda…”
Saya mempersilahkannya masuk.
Dia menangis cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih.
“Aku iri padamu.”
“Bukan karena Bagas kaya.”
“Tapi karena dia benar-benar mencintaimu.”
Saya tidak mengatakan apa-apa.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
Di dalamnya terdapat liontin emas yang dulu diberikan Bagas untuknya, masih terbungkus rapi.
“Aku tidak pantas menerimanya.”
Saya menggeleng pelan.
“Itu memang bukan untukmu.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku baru sadar sekarang.”
Malam itu kami berbicara panjang.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, kami berbicara sebagai dua saudara perempuan, bukan sebagai anak kesayangan dan anak cadangan.
Beberapa minggu kemudian Ayah dan Ibu datang menyusul.
Rambut mereka tampak jauh lebih memutih.
Ayah menundukkan kepala.
“Maafkan kami.”
Kalimat yang saya tunggu bertahun-tahun akhirnya terdengar.
Saya tidak langsung menjawab.
Saya hanya memandang mereka cukup lama.
Luka yang bertahun-tahun ada tentu tidak bisa sembuh hanya dengan satu permintaan maaf.
Namun saya memilih melepaskan kebencian.
Bukan karena mereka pantas dimaafkan.
Melainkan karena saya pantas hidup tenang.
Setahun setelah pernikahan kami, saya dan Bagas berdiri di balkon rumah sambil memandangi matahari terbenam.
Saya bertanya pelan.
“Kalau dulu Kakakku tidak menolakmu, apakah kamu akan menikah dengannya?”
Bagas tersenyum.
“Mungkin aku akan mengenalnya.”
“Lalu?”
“Lalu aku tetap akan jatuh cinta pada wanita yang rela berjalan lebih lambat di jalur pendakian hanya agar orang lain tidak tertinggal.”
Air mata saya jatuh tanpa suara.
Selama hidup saya selalu diajarkan bahwa mengalah adalah kewajiban.
Namun baru setelah bertemu Bagas saya mengerti, cinta sejati tidak pernah memilih orang yang paling cantik, paling kaya, atau paling sempurna.
Cinta memilih orang yang tetap memperlakukan kita dengan tulus, bahkan ketika dunia menganggap kita hanya pelengkap dalam kehidupan orang lain.
