SUAMIKU MEMBELI PIYAMA SUTRA HITAM SAAT PROMO 12.12 ATAS NAMA GURU LES ANAK KAMI! TENGAH MALAM WANITA ITU MEMAKAINYA DAN TERKEJUT MELIHATKU MASIH DI RUMAH! 😱🔥

Telepon itu masih menempel di telingaku ketika tubuhku membeku.

“Sayang… kamu sudah duduk di dalam pesawat menuju Surabaya, kan?”

Suara Aris terdengar santai, bahkan terlalu santai. Seolah-olah ia sudah yakin aku berada ratusan kilometer dari rumah.

Aku tidak langsung menjawab.

Beberapa detik keheningan itu membuat napasnya terdengar semakin berat.

“Nanda?”

Aku menatap pintu kamar yang baru saja ditutup Tisya. Lalu aku menarik napas panjang.

“Belum.”

Hanya satu kata.

Di seberang sana, Aris langsung terdiam.

Keheningan itu jauh lebih jujur daripada ribuan alasan yang mungkin akan ia ucapkan.

“Belum?” ulangnya dengan suara yang mulai gugup.

“Penerbangannya ditunda.”

Aku sengaja berbohong.

Padahal sejak awal aku memang tidak pernah berniat berangkat. Sejak menemukan riwayat pembelian piyama sutra hitam atas nama Tisya, aku membatalkan seluruh perjalanan dinasku tanpa memberi tahu siapa pun.

“Oh… syukurlah…” katanya cepat.

Aneh.

Seharusnya suami yang mencintai istrinya akan berkata, “Syukurlah kamu aman.”

Tetapi nada suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja lolos dari bahaya.

“Kamu masih di kantor?” tanyaku.

“Iya. Banyak laporan yang harus diselesaikan.”

“Jam setengah dua belas malam?”

“Klien dari Singapura baru selesai meeting.”

Aku hanya mengangguk pelan walaupun ia tidak bisa melihatku.

“Kalau begitu hati-hati.”

“Baik. Aku mungkin pulang agak pagi.”

Panggilan berakhir.

Aku meletakkan ponsel di meja.

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu utama terbuka.

Aku mematikan lampu kamar.

Melalui celah pintu, aku melihat Aris masuk dengan langkah pelan.

Yang membuatku tercekat bukan karena ia pulang larut.

Melainkan karena begitu masuk rumah, bukannya menuju kamar kami, ia justru berhenti di depan kamar Tisya.

Ia mengetuk pelan tiga kali.

Pintu langsung terbuka.

Tisya muncul masih mengenakan piyama sutra hitam itu, tetapi kini sudah ditutupi cardigan tipis.

Mereka hanya berbicara sekitar lima belas detik.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada pelukan.

Namun ekspresi panik di wajah keduanya sudah cukup menjelaskan banyak hal.

Aku mengambil ponsel kedua yang selama ini kusembunyikan.

Semua percakapan mereka terekam jelas melalui kamera kecil yang kupasang di lorong rumah beberapa jam sebelumnya.

Esok paginya aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku membuat sarapan.

Mengantar anak kami, Raka, ke sekolah.

Bahkan sempat tersenyum ketika Aris mencium keningku sebelum berangkat bekerja.

“Aku beruntung punya istri sepertimu,” katanya.

Kalimat itu terasa begitu menjijikkan.

Setelah mereka pergi, aku langsung menghubungi sahabatku, Maya.

Maya adalah seorang pengacara keluarga.

Aku mengirimkan semua rekaman video dan tangkapan layar transaksi belanja.

Satu jam kemudian ia datang ke rumah.

“Ini belum cukup untuk membuktikan perselingkuhan,” katanya jujur.

“Aku tahu.”

“Tapi ini cukup untuk menunjukkan bahwa mereka menyembunyikan sesuatu.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak ingin bercerai karena emosi.”

“Lalu?”

“Aku ingin mengetahui seluruh kebenarannya.”

Maya menatapku beberapa saat.

“Kalau begitu jangan konfrontasi dulu.”

Aku setuju.

Selama seminggu berikutnya aku mulai memperhatikan setiap gerakan mereka.

Aris semakin sering pulang larut.

Tisya semakin sering berdandan rapi meskipun tidak keluar rumah.

Yang paling aneh, mereka hampir tidak pernah berbicara ketika aku berada di dekat mereka.

Seolah-olah mereka sengaja menjaga jarak.

Namun ketika kupelajari riwayat lokasi mobil Aris melalui aplikasi keluarga, ada satu tempat yang terus muncul setiap Selasa dan Jumat malam.

Sebuah rumah kecil di pinggiran Jakarta Selatan.

Aku memutuskan mengikutinya.

Malam itu, mobil Aris berhenti di depan rumah sederhana tersebut.

Beberapa menit kemudian Tisya muncul dari dalam.

Dadaku langsung sesak.

Jadi selama ini mereka memang bertemu di luar rumah.

Aku hampir keluar dari mobil.

Namun langkahku terhenti ketika seorang perempuan tua berkursi roda didorong keluar oleh Tisya.

Di belakangnya ada seorang pria tua yang berjalan menggunakan tongkat.

Aris membantu menaikkan tabung oksigen ke dalam rumah.

Mereka bertiga terlihat tertawa bersama.

Aku kebingungan.

Bukankah Aris pernah mengatakan ayah Tisya lumpuh dan ibunya menjalani cuci darah?

Jadi semua itu benar?

Lalu hubungan apa sebenarnya yang mereka sembunyikan?

Aku terus mengawasi.

Selama dua jam, tidak ada satu pun tindakan mesra.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada yang mengarah pada perselingkuhan.

Saat Aris keluar, wajahnya justru terlihat sangat lelah.

Aku pulang dengan pikiran semakin kacau.

Jika bukan selingkuh…

Lalu mengapa piyama itu?

Mengapa mereka begitu panik ketika tahu aku tidak jadi ke Surabaya?

Jawabannya datang dua hari kemudian.

Aku sedang mencari dokumen pajak di ruang kerja Aris ketika menemukan sebuah map cokelat.

Di dalamnya terdapat proposal bisnis.

Judulnya membuatku terdiam.

Rumah Harapan Nanda.

Aku membuka halaman demi halaman.

Ternyata selama dua tahun terakhir Aris diam-diam menyisihkan sebagian besar bonus kantornya.

Ia juga mengajak beberapa rekannya menjadi investor.

Tujuannya adalah membangun rumah singgah gratis bagi anak-anak penderita kanker.

Mengapa memakai namaku?

Karena enam tahun lalu putri pertama kami meninggal akibat leukemia.

Sejak saat itu aku mengalami depresi berat.

Aku berhenti menulis novel selama hampir dua tahun.

Sebelum meninggal, putri kami pernah berkata ingin suatu hari nanti membantu anak-anak yang sakit agar tidak merasa sendirian.

Aku langsung terduduk.

Proposal itu penuh dengan catatan tangan Aris.

“Jangan beri tahu Nanda sampai semuanya selesai.”

Di halaman terakhir terdapat daftar donatur.

Nama Tisya muncul sebagai koordinator relawan.

Aku mulai merasa bersalah.

Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa menit.

Karena di dalam map yang sama terdapat kuitansi pembelian piyama sutra hitam.

Jumlahnya dua.

Bukan satu.

Salah satunya memang atas nama Tisya.

Yang satunya lagi…

Atas nama seorang perempuan bernama Vania.

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Malamnya aku kembali mengikuti Aris.

Kali ini ia tidak menuju rumah keluarga Tisya.

Ia berhenti di sebuah apartemen mewah.

Seorang wanita cantik turun menyambutnya.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Wanita itu memeluk Aris.

Bukan pelukan basa-basi.

Melainkan pelukan yang terlalu lama.

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Semua keyakinanku runtuh dalam hitungan detik.

Aku mengambil foto.

Video.

Semuanya.

Air mataku akhirnya jatuh.

Jadi selama ini aku salah menuduh Tisya.

Tetapi instingku ternyata tetap benar.

Aris memang menyembunyikan seorang wanita.

Keesokan harinya aku memanggil Tisya ke ruang kerja.

Begitu masuk, gadis itu langsung menunduk.

“Maafkan saya, Bu.”

“Apa yang harus saya maafkan?”

Ia menggigit bibir.

“Saya tahu Ibu curiga.”

“Aku ingin mendengar semuanya.”

Air matanya langsung mengalir.

“Pak Aris melarang saya bercerita.”

“Sekarang ceritakan.”

Tisya mengangguk pelan.

“Piyama itu memang hadiah dari Pak Aris.”

Dadaku kembali sesak.

“Tapi bukan karena hubungan seperti yang Ibu pikirkan.”

Ia menarik napas.

“Piyama itu dipakai untuk pemotretan kampanye penggalangan dana Rumah Harapan.”

Aku terdiam.

“Semua relawan perempuan memakai piyama yang sama karena konsep fotonya adalah anak-anak yang tetap bisa bermimpi meski sedang sakit.”

Ia lalu mengeluarkan ponselnya.

Foto-foto kegiatan itu memenuhi layar.

Puluhan relawan mengenakan piyama sutra hitam yang sama.

Anak-anak penderita kanker tersenyum bersama mereka.

Aku mulai mengingat malam itu.

Mengapa Tisya mengenakan piyama tersebut di rumah?

“Saya baru selesai sesi latihan. Pak Aris menyuruh saya menyimpan kostum itu dulu di rumah karena besok ada pemotretan lagi.”

“Lalu kenapa kamu panik ketika melihatku?”

Karena wajahnya langsung pucat.

“Karena saya pikir seluruh proyek kejutan untuk Ibu akan gagal.”

Air matanya semakin deras.

“Pak Aris bilang Ibu tidak boleh tahu apa pun sebelum peresmian rumah singgah bulan depan.”

Aku memejamkan mata.

Selama ini aku memang salah memahami Tisya.

Tetapi satu pertanyaan masih tersisa.

“Kalau begitu siapa Vania?”

Tisya langsung mengangkat kepala.

“Vania?”

“Iya.”

“Dia arsitek utama proyek Rumah Harapan.”

“Tapi semalam dia memeluk Aris.”

Wajah Tisya berubah bingung.

“Bu… Vania itu kakak kandung Pak Aris.”

Aku merasa seluruh dunia berhenti berputar.

“Mustahil.”

“Nama keluarga mereka memang berbeda karena Vania memakai nama mendiang ayah angkatnya.”

Aku tidak percaya begitu saja.

Aku meminta Maya menyelidikinya.

Sore harinya ia menelepon.

“Nanda… aku sudah cek data kependudukan.”

Aku menggenggam ponsel erat.

“Bagaimana?”

“Vania memang kakak kandung Aris.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Semua kecurigaan yang selama berminggu-minggu memenuhi kepalaku ternyata lahir dari potongan-potongan fakta yang kususun sendiri tanpa mengetahui keseluruhan cerita.

Malam itu Aris pulang membawa sebuah kotak kayu kecil.

Ia berlutut di depanku.

“Aku sebenarnya ingin memberikan ini bulan depan.”

Ia membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat miniatur bangunan bertuliskan Rumah Harapan Nanda.

“Aku ingin ulang tahun putri kita tahun ini menjadi hari pertama rumah singgah itu menerima pasien.”

Aku menangis tanpa suara.

Bukan karena merasa menang.

Melainkan karena menyadari betapa mudahnya kepercayaan hancur ketika komunikasi menghilang.

Aris menggenggam tanganku erat.

“Aku minta maaf karena terlalu banyak menyimpan rahasia.”

Aku menatapnya lama.

“Dan aku minta maaf karena hampir menghukummu berdasarkan prasangkaku.”

Di sudut ruangan, Tisya ikut menangis sambil memeluk Raka yang sama sekali belum mengerti mengapa orang-orang dewasa di rumah itu saling menangis dan tersenyum dalam waktu yang bersamaan.

Saat itu aku akhirnya memahami satu hal.

Perselingkuhan memang bisa menghancurkan sebuah keluarga.

Namun kecurigaan yang dibiarkan tumbuh tanpa keberanian untuk mencari kebenaran, sering kali mampu menghancurkan keluarga yang sebenarnya masih saling mencintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang