Setelah mendengar pengakuan itu, Dokter Adrian merasa tenggorokannya mendadak tercekat. Hujan masih turun deras, membasahi jalanan Surabaya yang dipenuhi suara klakson dan sirene kendaraan. Namun bagi Adrian, semua suara itu perlahan menghilang. Yang tersisa hanya wajah Pak Bambang yang dipenuhi keputusasaan dan foto kecil seorang gadis mungil yang digenggam dengan tangan gemetar.
“Pak… kalau boleh saya tahu, siapa nama lengkap Anda?” tanya Adrian sekali lagi, kali ini dengan suara yang jauh lebih pelan.
Pria tua itu mengusap matanya.
“Bambang Setiawan.”

Jantung Adrian berdegup semakin cepat.
“Dan… nama ibu Tiara?”
Pak Bambang terdiam beberapa saat.
“Almarhumah Sinta Wulandari.”
Nama itu menghantam Adrian seperti petir yang menyambar tepat di hadapannya.
Ia memejamkan mata.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran tingkat pertama, Adrian pernah mencintai seorang perempuan bernama Sinta Wulandari. Mereka saling berjanji akan membangun masa depan bersama. Namun keadaan memisahkan mereka. Adrian mendapat beasiswa ke luar negeri, sementara Sinta memilih tetap tinggal demi merawat ibunya yang sakit.
Sejak saat itu mereka kehilangan kabar.
Adrian tidak pernah tahu apa yang terjadi pada perempuan itu setelah bertahun-tahun berlalu.
“Pak… istri Bapak dulu bekerja sebagai guru TK?” tanya Adrian.
Pak Bambang mengangguk pelan.
“Iya.”
“Dia suka melukis bunga matahari?”
Pak Bambang menatap Adrian dengan heran.
“Iya. Dari mana Pak Dokter tahu?”
Air mata Adrian mulai memenuhi pelupuk matanya.
“Saya… pernah mengenalnya.”
Pak Bambang menarik napas panjang.
“Sinta sering bercerita tentang seseorang yang dulu sangat ia cintai. Seorang calon dokter bernama Adrian.”
Kini giliran Adrian yang membeku.
Pak Bambang tersenyum tipis.
“Dia bilang, kalau takdir berbeda sedikit saja, mungkin hidupnya akan berubah.”
Adrian menundukkan kepala.
“Maafkan saya…”
Pak Bambang menggeleng.
“Tidak ada yang perlu disesali. Saya menikah dengannya setelah beberapa tahun. Kami hidup sederhana tapi bahagia. Sampai akhirnya Sinta meninggal tiga tahun lalu karena kanker.”
Kalimat itu membuat dada Adrian terasa sesak.
Selama bertahun-tahun ia berhasil menyelamatkan ribuan pasien di ruang operasi. Namun perempuan yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya justru pergi tanpa pernah ia ketahui.
Hujan mulai mereda.
Pak Bambang berdiri perlahan.
“Saya harus kembali bekerja. Tiara pasti sedang menunggu saya menari.”
Meski matanya masih sembab, pria itu kembali melangkah ke tengah persimpangan.
Begitu peluit berbunyi, tubuhnya kembali bergerak mengikuti irama yang hanya ia dengar sendiri.
Mobil-mobil mulai berjalan tertib.
Beberapa pengendara tersenyum melihat tarian khasnya.
Tak seorang pun menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya pria itu hampir kehilangan harapan.
Dari balik jendela lantai empat, seorang gadis kecil tersenyum lemah sambil mengangkat tangan.
Pak Bambang membalas dengan putaran tubuh yang lebih lebar.
Air mata Adrian akhirnya jatuh.
Ia langsung berlari memasuki rumah sakit.
Begitu tiba di ruang rapat dokter, ia memanggil seluruh tim bedah jantung.
“Kita punya pasien anak bernama Tiara Bambang Setiawan.”
Seorang dokter senior mengangguk.
“Kondisinya kritis. Operasi harus dilakukan secepatnya.”
“Masalahnya biaya,” jawab dokter lain pelan.
Adrian menarik napas panjang.
“Mulai sekarang, biaya bukan lagi masalah.”
Semua orang memandangnya.
“Saya akan menanggung seluruh kekurangannya.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Itu jumlah yang sangat besar, Dok.”
“Saya tahu.”
“Tabungan pribadi Anda bisa habis.”
“Saya juga tahu.”
“Tapi anak itu harus hidup.”
Keputusan Adrian membuat seluruh rumah sakit terkejut.
Namun masalah belum selesai.
Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa Tiara memiliki golongan darah langka dan memerlukan donor dalam jumlah cukup banyak saat operasi nanti.
Rumah sakit segera menghubungi berbagai bank darah.
Hasilnya nihil.
Persediaan kosong.
Berita itu kembali menghancurkan harapan Pak Bambang.
Ia hanya bisa terduduk di lorong rumah sakit.
Melihat keadaan itu, Adrian tiba-tiba teringat sesuatu.
Ia segera meminta dilakukan pemeriksaan darahnya sendiri.
Beberapa menit kemudian hasil laboratorium keluar.
Golongan darah Adrian sama persis dengan Tiara.
Bahkan tingkat kecocokannya sangat tinggi.
Tanpa berpikir panjang ia langsung mendonorkan darah.
Pak Bambang hanya bisa memandangi semua itu dengan mata berkaca-kaca.
“Pak Dokter… kenapa Bapak melakukan semua ini?”
Adrian tersenyum.
“Mungkin ini cara Tuhan memberi saya kesempatan memperbaiki sesuatu yang dulu tidak sempat saya jaga.”
Hari operasi akhirnya tiba.
Seluruh keluarga pasien di ruang tunggu ikut mendoakan.
Para perawat yang setiap hari melihat Pak Bambang menari di persimpangan ikut meneteskan air mata.
Berjam-jam berlalu.
Lampu ruang operasi masih menyala.
Pak Bambang menggenggam peluitnya erat-erat.
“Itu hadiah ulang tahun Tiara waktu usianya lima tahun,” katanya lirih.
“Dia bilang suara peluit Ayah adalah suara paling membuatnya tenang.”
Adrian dan tim bedah bekerja tanpa henti.
Operasi berlangsung jauh lebih rumit daripada perkiraan.
Beberapa kali tekanan darah Tiara turun drastis.
Seluruh ruangan dipenuhi ketegangan.
Hingga akhirnya, setelah hampir delapan jam, monitor jantung memperlihatkan irama yang stabil.
Suara panjang yang sempat memenuhi ruangan berganti menjadi denyut yang teratur.
Semua dokter mengembuskan napas lega.
Operasi berhasil.
Ketika Adrian keluar dari ruang operasi dengan wajah penuh kelelahan, Pak Bambang langsung berdiri.
Belum sempat Adrian berbicara, pria tua itu sudah memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya.
“Terima kasih… terima kasih…”
Adrian ikut menangis.
“Tiara berhasil melewatinya.”
Seluruh lorong rumah sakit dipenuhi tepuk tangan.
Beberapa hari kemudian kondisi Tiara mulai membaik.
Ia sudah bisa duduk di atas tempat tidur sambil menggambar.
Suatu pagi, Adrian datang menjenguk.
Tiara menyerahkan sebuah gambar menggunakan krayon.
Di gambar itu terlihat seorang pria tua sedang menari di tengah jalan.
Di sampingnya berdiri seorang dokter dengan jas putih.
Di atas mereka ada matahari yang sangat besar.
“Aku menggambar Ayah dan Om Dokter,” kata Tiara sambil tersenyum.
Adrian mengusap kepala gadis kecil itu.
“Itu gambar yang sangat indah.”
Seminggu kemudian Tiara akhirnya diizinkan pulang.
Seluruh tenaga medis berkumpul di depan rumah sakit untuk melepasnya.
Pak Bambang mendorong kursi roda putrinya menuju halaman.
Saat mereka melewati persimpangan yang selama ini menjadi tempatnya bekerja, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi.
Ratusan pengendara berhenti.
Tidak ada yang membunyikan klakson.
Semua turun dari kendaraan.
Beberapa membawa bunga.
Sebagian lagi membawa amplop.
Ternyata selama ini salah satu video Pak Bambang telah ditonton puluhan juta kali.
Seorang pengendara yang pernah merekam tarian itu tanpa sengaja juga merekam percakapannya dengan Adrian di halte pada hari hujan tersebut. Video itu menyebar luas dan menggerakkan hati masyarakat.
Dalam hitungan hari, ribuan orang mengirimkan bantuan.
Jumlah donasi yang terkumpul bukan hanya cukup untuk biaya operasi Tiara.
Dana itu bahkan melebihi kebutuhan mereka.
Pak Bambang menatap layar ponsel yang diperlihatkan seorang relawan.
Baru saat itulah ia melihat dirinya sendiri menari di tengah hujan.
Ia tertawa kecil.
“Saya ternyata viral.”
Semua orang ikut tertawa.
Namun yang paling mengejutkan terjadi beberapa bulan kemudian.
Pak Bambang mengumumkan bahwa seluruh sisa dana donasi tidak akan dipakai untuk dirinya.
Ia menyerahkannya kepada rumah sakit untuk membentuk program bantuan operasi jantung bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program itu diberi nama Senyum Tiara.
Ketika wartawan bertanya mengapa ia rela memberikan uang sebanyak itu, Pak Bambang hanya menjawab sederhana.
“Dulu saya menari supaya satu anak tidak kehilangan semangat hidup. Sekarang kalau tarian saya bisa membuat banyak anak tetap hidup, bukankah itu jauh lebih indah?”
Di persimpangan Raya Darmo, Pak Bambang masih menari seperti biasa.
Bedanya, kini setiap kali ia mengangkat tangan ke arah lantai empat rumah sakit, tidak ada lagi seorang anak yang hanya bisa memandang dari balik jendela dengan tubuh lemah.
Tiara sudah berdiri di trotoar bersama Dokter Adrian, melambaikan tangan sambil tertawa.
Dan setiap kali musik dari radio kendaraan terdengar samar di tengah kemacetan, Pak Bambang selalu menari lebih lebar daripada sebelumnya.
Bukan karena ingin menjadi terkenal.
Melainkan karena ia telah membuktikan bahwa senyum yang paling tulus kadang lahir dari luka yang paling dalam, dan satu kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas mampu mengubah nasib jauh lebih banyak orang daripada yang pernah kita bayangkan.
