Arya merasa seolah-olah udara di dapur mendadak habis.
Ia menatap kartu memori kecil di telapak tangannya, lalu menatap Siska.
“Putar sekarang.”
Siska tidak bergerak.
“Pak Arya, sebaiknya Arka tidak melihat.”
Arya menoleh. Arka masih duduk di lantai, memeluk salah satu kakinya sendiri sambil memandang mereka dengan wajah bingung.
Arya mengangkat tubuh putranya perlahan dan mendudukkannya kembali di kursi roda.
“Arka, Papa mau bicara sebentar dengan Mbak Siska. Kamu ke kamar dulu, ya.”
Arka langsung menggeleng.
“Papa marah lagi?”
Pertanyaan itu menghantam Arya lebih keras daripada yang ia duga.
Ia berjongkok hingga wajah mereka sejajar.
“Tidak. Papa tidak marah.”
Arka memandangnya beberapa detik, seolah sedang memastikan.
“Jangan pecat Mbak Siska.”
Arya terdiam.
“Nanti kita bicara lagi.”
Siska mengantar Arka ke kamar, lalu kembali membawa laptopnya. Arya memasukkan kartu memori ke adaptor.
Folder di dalamnya hanya berisi sebelas video.
Delapan di antaranya berasal dari tujuh bulan lalu.
Tanggal di sudut layar membuat tengkuk Arya meremang.
17 Januari.
Hari kecelakaan Nita.
Video pertama direkam pukul 07.12.
Dapur terlihat sepi.
Beberapa menit kemudian Nita masuk mengenakan blus krem dan celana hitam. Wajahnya tampak tegang. Ia menaruh tas di atas meja lalu membuka laci tempat keluarga biasa menyimpan dokumen kendaraan.
Tak lama setelah itu, seorang perempuan masuk.
Maya.
Kakak kandung Arya.
Arya spontan memajukan tubuhnya.
Maya berusia empat puluh tahun dan sejak kematian orang tua mereka selalu menjadi orang yang paling dekat dengannya. Setelah kecelakaan, Maya bahkan pindah ke rumah Arya selama beberapa bulan untuk membantu mengurus Arka.
Dalam rekaman, suara mereka terdengar cukup jelas.
“Aku sudah bilang jangan ikut campur,” kata Maya.
Nita membalas dengan suara rendah namun tegas.
“Aku tidak bisa diam setelah tahu semuanya.”
“Apa yang kamu tahu?”
“Transfer ke rekening vendor palsu. Tiga perusahaan itu tidak pernah mengirim barang apa pun.”
Arya menahan napas.
Perusahaannya bergerak di bidang konstruksi dan pengadaan interior. Tujuh bulan lalu, memang pernah ada audit internal terkait beberapa pembayaran janggal, tetapi Maya, yang saat itu menjabat direktur keuangan, mengatakan kesalahan berasal dari staf junior.
Arya mempercayainya.
Di layar, Maya mendekat.
“Jangan bicara seolah kamu paham perusahaan kami.”
“Perusahaan kalian?” Nita tertawa hambar. “Arya yang membangun semuanya dari nol. Kamu cuma mengelola uangnya.”
Wajah Maya berubah.
Nita mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas.
“Aku sudah salin bukti transfernya. Kalau malam ini kamu tidak mengaku pada Arya, aku sendiri yang akan bilang.”
Maya menatap map itu lama.
Lalu video berakhir.
Arya menoleh kepada Siska.
“Kenapa rekamannya berhenti?”
“File setelah itu pernah dihapus. Saya cuma berhasil memulihkan sebagian.”
Arya membuka video kedua.
Pukul 07.41.
Kamera memperlihatkan dapur dari sudut yang sama.
Maya berdiri sendirian.
Ia membuka tas Nita.
Mengambil map cokelat.
Kemudian memasukkannya ke tasnya sendiri.
Arya mengepalkan tangan.
Video ketiga dimulai pukul 08.03.
Kali ini terdengar langkah kaki tergesa.
Nita kembali ke dapur.
“Maya!”
Maya muncul beberapa detik kemudian.
“Mana mapku?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong.”
Pertengkaran mereka makin keras.
Lalu sebuah suara kecil terdengar dari luar kamera.
“Mama?”
Arka.
Arya langsung menutup mulut dengan tangannya.
Arka kecil masuk ke dapur dengan seragam sekolah.
Nita buru-buru mengubah ekspresi.
“Sayang, tunggu di ruang depan. Mama sebentar lagi antar.”
Namun Arka tetap berdiri di sana.
Maya memandangnya.
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Maya tersenyum pada Arka.
“Arka, kamu mau jalan sama Tante hari ini?”
Nita langsung menatap Maya.
“Jangan bawa dia ke dalam urusan ini.”
“Siapa bilang?”
Maya lalu berjalan mendekati meja dan mengambil kunci cadangan mobil Nita.
“Aku cuma mau bantu.”
Video berhenti.
Arya menatap layar kosong.
“Pada hari itu Maya bilang dia tidak berada di rumah pagi-pagi,” bisiknya.
Siska mengangguk.
“Rekaman ini membuktikan sebaliknya.”
Arya membuka video keempat.
Pukul 08.17.
Maya masuk lagi ke dapur sendirian.
Kali ini ia berbicara melalui telepon.
“Sudah.”
Suara di ujung sana tidak terdengar.
Maya melanjutkan.
“Selangnya sudah longgar. Tidak akan langsung putus. Cukup membuat rem kehilangan tekanan kalau dipakai beberapa kali.”
Arya langsung berdiri begitu keras hingga kursinya terjatuh.
“Tidak.”
Siska membeku.
Arya memundurkan video.
Memutarnya lagi.
Kalimat itu tetap sama.
Selangnya sudah longgar.
Rem kehilangan tekanan.
Arya merasakan lututnya lemas.
Kepolisian pernah menyimpulkan mobil Nita kehilangan kendali di turunan karena kerusakan sistem rem. Mereka menganggapnya kegagalan mekanis akibat komponen yang sudah aus.
Tidak ada tanda tabrakan dari kendaraan lain.
Tidak ada indikasi sabotase.
Setidaknya, begitulah laporan yang diterima Arya.
Tangannya mulai gemetar.
“Kenapa polisi tidak menemukan ini?”
Siska tidak menjawab.
Arya membuka video kelima.
Pukul 08.25.
Maya kembali muncul.
Kali ini bersama seorang pria yang Arya kenal.
Bimo Santoso.

Mantan sopir keluarga mereka.
Pria yang mengundurkan diri dua minggu setelah kecelakaan dengan alasan harus pulang kampung menjaga ibunya.
Bimo menyerahkan sesuatu kepada Maya.
Sebuah kunci pas kecil.
Maya memasukkannya ke kantong plastik.
“Tidak ada yang lihat?”
“Tidak.”
“Kalau ada masalah, kamu jangan pernah bilang namaku.”
Bimo terlihat ragu.
“Bu, kalau sampai ada yang meninggal bagaimana?”
Maya menatapnya dingin.
“Aku cuma ingin mobil itu rusak sebelum sampai kantor polisi.”
Arya seketika menoleh ke Siska.
“Kantor polisi?”
Siska mengangguk perlahan.
“Mungkin Bu Nita bermaksud membawa bukti ke sana.”
Rekaman berikutnya membuat semuanya semakin jelas.
Nita terlihat masuk ke dapur sambil menelepon seseorang.
“Aku akan ke kantor Arya dulu. Kalau dia masih tidak percaya, aku langsung ke polisi.”
Ia lalu memanggil Arka.
Beberapa menit kemudian keduanya keluar rumah.
Arya menutup laptop.
Ia tidak sanggup melanjutkan.
Dadanya naik turun.
Selama tujuh bulan ia menyalahkan dirinya sendiri karena malam sebelum kecelakaan ia bertengkar dengan Nita.
Nita ingin membicarakan sesuatu tentang Maya.
Namun Arya sedang sibuk mempersiapkan tender besar.
Ia berkata kepada istrinya, “Kalau cuma masalah kantor, besok saja.”
Itulah percakapan terakhir mereka.
Besok tidak pernah datang.
“Ada satu file lagi yang harus Bapak lihat,” kata Siska pelan.
Arya menggeleng.
Namun Siska tidak menyentuh laptop.
“File ini direkam setelah kecelakaan.”
Arya akhirnya duduk kembali.
Video terakhir bertanggal tiga hari setelah Nita meninggal.
Maya berada di dapur bersama Bimo.
Wajah Bimo pucat.
“Bu, anaknya lumpuh.”
Maya membanting gelas ke meja.
“Aku tidak tahu Nita akan membawa anaknya.”
“Kalau polisi tahu kita utak-atik mobil itu…”
“Mereka tidak akan tahu.”
“Bagaimana bisa?”
Maya memandang jam dinding.
Tepat ke arah kamera.
Arya merasa darahnya membeku.
Lalu Maya berkata,
“Karena orang yang punya akses sistem keamanan rumah ini cuma aku dan Arya.”
Bimo tampak semakin panik.
“Kalau Pak Arya buka rekaman lama?”
Maya tersenyum.
“Dia tidak akan melakukannya.”
“Kenapa yakin?”
Maya menatap lurus ke depan.
“Karena orang berduka mencari kenangan, bukan bukti.”
Video berakhir.
Tak ada suara di ruangan.
Arya menatap layar hitam cukup lama.
Kemudian ia bangkit.
“Di mana Maya?”
Siska menjawab cepat.
“Sejak siang tadi dia di kamar tamu lantai dua.”
Arya hendak melangkah, tetapi Siska menahan lengannya.
“Jangan hadapi dia sendirian.”
Arya menepis tangannya.
“Itu kakak saya.”
“Justru itu.”
Arya menatapnya tajam.
Siska melanjutkan.
“Orang yang sudah berani merusak rem mobil tidak bisa dianggap aman hanya karena masih keluarga.”
Kalimat itu membuat Arya berhenti.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon kepala keamanan kompleks yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Setelah itu ia menghubungi pengacaranya dan seorang penyidik kepolisian yang dulu menangani kecelakaan Nita.
Namun sebelum semua orang datang, Maya justru turun lebih dulu.
Ia muncul di ujung lorong sambil membawa koper kecil.
Arya berdiri di ruang tengah.
Maya langsung berhenti.
Tatapannya jatuh pada laptop di meja.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Arya menatap kakaknya seperti sedang melihat orang asing.
“Jadi kamu tahu apa isinya.”
Maya meletakkan koper.
“Arya, dengarkan Kakak.”
“Kenapa?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Kenapa kamu merusak mobil Nita?”
Maya tidak menjawab.
Arya berteriak.
“KENAPA?”
Arka yang berada di kamar langsung menangis ketakutan.
Siska bergegas ke atas.
Maya menatap tangga, lalu kembali menatap Arya.
“Aku tidak berniat membunuh siapa pun.”
“Rem mobilnya kamu rusak.”
“Aku cuma ingin menghentikan Nita.”
Arya tertawa pendek, tetapi matanya penuh air.
“Menghentikan?”
Maya tiba-tiba ikut meninggikan suara.
“Dia mau menghancurkan semuanya!”
“Yang mencuri uang perusahaan itu kamu!”
Maya terdiam.
Arya mengangkat laptop.
“Tiga vendor palsu. Berapa?”
Maya menggigit bibir.
“Dua puluh delapan miliar.”
Arya merasa dadanya ditusuk.
Dua puluh delapan miliar.
Selama ini ia bekerja siang malam membangun perusahaan, sementara kakaknya sendiri mengambil uang dari belakang.
“Aku butuh uang itu,” kata Maya.
“Untuk apa?”
Maya menunduk.
“Utang.”
“Utang apa?”
Maya akhirnya menangis.
Suaminya, Doni, diam-diam terjerat utang investasi ilegal. Awalnya dua miliar. Kemudian bertambah karena bunga dan pinjaman lain.
Maya mencoba menutupinya dengan mengambil uang perusahaan sedikit demi sedikit.
Ketika Nita mengetahui transfer mencurigakan itu, semuanya terancam terbongkar.
“Aku cuma ingin mengambil bukti dari Nita,” kata Maya terisak. “Aku pikir kalau mobilnya mogok, aku punya waktu mengambil map itu sebelum dia sampai kantor.”
Arya menatapnya dengan jijik.
“Dan kalau dia mati?”
Maya terdiam lama.
“Aku tidak tahu mobil itu akan jatuh ke pembatas jalan.”
“Arka ada di dalamnya.”
“Aku tidak tahu!”
Suara Maya pecah.
“Aku tidak tahu dia membawa Arka!”
Saat itu terdengar suara dari tangga.
“Tante bohong.”
Semua orang menoleh.
Arka berada di atas kursi rodanya.
Siska berdiri di belakangnya.
Wajah anak itu pucat.
Maya membeku.
“Arka?”
Arka menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku dengar Tante bilang ke Mama aku ikut aja.”
Arya menoleh tajam.
Maya menggeleng cepat.
“Tidak, Arka salah ingat.”
“Aku ingat.”
Suara Arka gemetar.
“Tante bilang supir sekolah nggak datang. Tante bilang Mama antar aku dulu.”
Arya merasa seperti tersambar petir.
Artinya Maya tahu Arka akan berada di dalam mobil.
“Kak.”
Suara Arya menjadi sangat pelan.
“Kamu tahu.”
Maya mundur.
“Tidak.”
“Kamu tahu Arka ikut.”
“Arya, dengar…”
“KAMU TAHU!”
Maya menangis semakin keras.
“Aku tidak berpikir mobilnya akan separah itu!”
Arya menutup wajahnya.
Tujuh bulan rasa bersalah.
Tujuh bulan mempertanyakan mengapa ia tidak mendengarkan Nita.
Tujuh bulan menyaksikan putranya kehilangan kemampuan berjalan.
Dan pelakunya selama ini datang setiap minggu, membawakan makanan untuk Arka, memeluknya, bahkan berkata kepada Arya bahwa semua ini sudah menjadi takdir.
Tak lama kemudian petugas keamanan dan polisi tiba.
Maya tidak melawan ketika dibawa pergi.
Namun sebelum keluar rumah, ia menoleh kepada Arya.
“Aku kakakmu.”
Arya menatapnya.
“Dan Nita istriku.”
Ia kemudian melihat Arka.
“Dia anakku.”
Maya tidak berkata apa-apa lagi.
Penyelidikan dibuka kembali.
Bimo ditemukan dua hari kemudian di Bekasi dan akhirnya mengaku mendapat bayaran lima puluh juta rupiah untuk melonggarkan saluran rem.
Audit forensik perusahaan juga menemukan transaksi ilegal yang berlangsung hampir dua tahun.
Namun satu hal masih mengganggu Arya.
Siska.
Suatu sore, setelah polisi kembali mengambil salinan rekaman, Arya menemukannya sedang memasukkan pakaian ke dalam tas.
“Kamu mau pergi?”
Siska tersenyum kecil.
“Bapak sudah memecat saya.”
Arya terdiam.
“Itu sebelum semua ini.”
“Keputusan tetap keputusan.”
Arya bersandar di pintu.
“Kenapa kamu benar-benar bekerja di sini?”
Siska berhenti melipat pakaian.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Di foto itu ada seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Arya mengenalinya.
Pak Hadi.
Teknisi yang memasang sistem kamera di rumah mereka tiga tahun lalu.
“Dia ayah saya,” kata Siska.
Arya terkejut.
Siska melanjutkan.
“Setelah kecelakaan Bu Nita, Ayah saya meninggal karena serangan jantung. Tapi sebelum meninggal, dia sempat bilang ada seseorang yang memintanya memberikan akses administrator cadangan untuk sistem kamera rumah ini.”
“Maya?”
Siska mengangguk.
“Ayah menyesal. Dia curiga akses itu digunakan untuk menghapus sesuatu. Karena itu saya melamar ke sini.”
“Kamu datang untuk mencari bukti?”
“Awalnya iya.”
Siska menatap ke arah kamar Arka.
“Tapi kemudian saya kenal Arka.”
Arya menghela napas panjang.
“Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?”
“Kalau saya langsung menuduh keluarga Bapak tanpa bukti, apakah Bapak akan percaya?”
Arya tidak bisa menjawab.
Siska tersenyum tipis.
“Bapak bahkan memecat saya hanya karena saya membiarkan Arka main drum pakai panci.”
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Arya tertawa kecil.
Pahit, tetapi nyata.
Beberapa bulan kemudian, rumah itu berubah.
Jadwal terapi Arka tetap ada.
Obat tetap diberikan tepat waktu.
Namun sekarang ada juga jadwal bermain.
Jadwal berenang.
Jadwal menonton film.
Dan setiap Jumat sore, Arka boleh melakukan apa pun yang ia suka selama aman.
Kadang ia melukis.
Kadang membuat kue bersama Siska.
Kadang memukul panci di dapur sampai Arya merasa kepalanya mau pecah.
Arya tidak lagi memprotes.
Suatu sore, ia sedang bekerja di ruang keluarga ketika mendengar Arka berteriak.
“Papa!”
Arya langsung berlari.
Arka sedang berada di ruang latihan bersama fisioterapis.
Tangannya mencengkeram palang.
Tubuhnya gemetar hebat.
Kemudian, untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun, kaki kanannya bergerak beberapa sentimeter.
Arya berhenti bernapas.
“Arka…”
Anak itu menoleh kepadanya dengan wajah merah karena berusaha keras.
“Papa lihat?”
Arya berlutut di depannya.
“Iya.”
Air matanya jatuh.
“Papa lihat.”
Arka tersenyum lebar.
Fisioterapis mengingatkan bahwa kemajuan itu belum berarti Arka pasti akan berjalan normal. Pemulihan saraf membutuhkan waktu dan hasilnya tidak bisa dijanjikan.
Namun bagi Arya, gerakan kecil itu sudah terasa seperti dunia kembali membuka pintu.
Malamnya, setelah Arka tidur, Arya masuk ke dapur.
Jam dinding yang dulu menyembunyikan kamera masih tergantung di tempat yang sama.
Ia menatapnya lama.
Siska datang membawa dua cangkir teh.
“Mau dilepas kameranya?”
Arya menggeleng.
“Tidak.”
“Masih mau mengawasi Arka?”
Arya tersenyum.
“Bukan.”
Ia memandang jam itu.
“Saya mau mengingat sesuatu.”
“Apa?”
Arya terdiam sejenak.
“Bahwa rumah tidak seharusnya menjadi tempat kita mengontrol orang yang kita sayangi.”
Ia menoleh ke arah lorong menuju kamar Arka.
“Rumah seharusnya jadi tempat mereka merasa cukup aman untuk hidup.”
Dari lantai atas terdengar suara Arka mengigau.
“Jangan ambil stik drumku…”
Siska tertawa.
Arya ikut tersenyum.
Kamera tersembunyi itu memang telah membongkar kejahatan yang menghancurkan keluarganya.
Namun pada akhirnya, rekaman yang paling mengubah Arya bukanlah rekaman tentang pengkhianatan Maya.
Melainkan rekaman sederhana seorang anak yang duduk di lantai dapur, memukul panci dengan dua sendok kayu, lalu tertawa seolah dunia belum pernah menyakitinya.
Dari sana Arya akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh uang, pekerjaan, ataupun rasa takut kehilangan.
Melindungi seseorang bukan berarti mengurungnya dari semua kemungkinan terluka.
Kadang, bentuk perlindungan terbesar justru memberi mereka keberanian untuk hidup lagi.
