KAMU CUMA PENJUAL SATE!” TERIAK CALON IBU MERTUAKU. NAMUN BEBERAPA DETIK KEMUDIAN, LIMA MOBIL MEWAH BERHENTI DI DEPAN GEROBakku DAN MEMBONGKAR RAHASIA HIDUP YANG SELAMA INI KUSEMBUNYIKAN

Aku tidak pernah membayangkan rahasia yang kujaga selama dua tahun akan terbongkar di depan gerobak sate, di antara asap arang, suara klakson, dan puluhan orang yang memegang ponsel untuk merekam.

Kakek berdiri tepat di hadapanku.

Surya Wijaya.

Nama yang selama puluhan tahun menghiasi halaman bisnis surat kabar, layar televisi, dan gedung-gedung tinggi di Jakarta.

Dan malam itu, ia memanggilku pulang.

Naya masih menatapku tanpa berkedip.

“Kakek?”

Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.

Bu Ratna memandangku, lalu memandang Rolls-Royce di belakang Kakek. Wajahnya berubah pucat.

Dimas justru terlihat paling gelisah.

Aku meletakkan kipas bambu di meja.

“Kakek kenapa datang ke sini?”

“Karena kalau Kakek tidak datang, kamu mungkin akan terus bersembunyi sampai tua.”

Aku menghela napas.

“Masih ada pelanggan.”

Kakek melihat orang-orang yang berdiri mengelilingi gerobakku.

“Bayar semuanya.”

Salah satu stafnya segera maju, tetapi aku mengangkat tangan.

“Tidak perlu.”

Aku menoleh pada pelanggan yang belum menerima pesanan.

“Maaf, sebentar lagi saya lanjutkan.”

Kakek mendecakkan lidah.

“Keras kepala.”

“Itu turunan dari Kakek.”

Beberapa orang tertawa kecil, tetapi Naya tetap diam.

Aku tahu tatapannya.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Lebih buruk.

Ia merasa sedang berhadapan dengan orang asing.

“Raka,” katanya akhirnya, “sebenarnya kamu siapa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Dimas tiba-tiba tertawa pendek.

“Mungkin cuma kebetulan nama keluarganya sama.”

Kakek menoleh kepadanya.

“Kamu siapa?”

Pertanyaan sederhana itu membuat ekspresi Dimas kaku.

“Saya Dimas Pradana, Pak. Manajer pengembangan bisnis di Wijaya Properti.”

Kini giliran aku menatapnya.

Wijaya Properti.

Salah satu anak perusahaan milik keluargaku.

Kakek mengangkat alis.

“Manajer?”

“Betul, Pak.”

Dimas buru-buru merapikan kemejanya.

“Saya bekerja di divisi ekspansi wilayah Jakarta.”

Kakek menunjukku.

“Kalau begitu, seharusnya kamu tahu siapa dia.”

Dimas menelan ludah.

Kakek berkata tanpa meninggikan suara.

“Raka Wijaya. Cucu saya. Pemegang saham terbesar kedua Wijaya Group setelah saya.”

Kerumunan langsung riuh.

Naya menutup mulutnya.

Bu Ratna seperti kehilangan tenaga di kedua kakinya.

Dimas tidak bergerak.

Aku hanya menatap panggangan yang apinya mulai mengecil.

Inilah alasan aku membenci dunia itu.

Begitu orang mengetahui nama belakangku, cara mereka memandangku berubah dalam hitungan detik.

Tadi aku hanyalah penjual sate.

Sekarang aku mendadak menjadi seseorang yang layak dihormati.

Bu Ratna adalah orang pertama yang berubah.

“Raka…”

Nada suaranya kini jauh lebih lembut.

“Aduh, kenapa dari awal tidak bilang?”

Aku menatapnya.

“Apa yang akan berubah kalau saya bilang?”

Bu Ratna tersenyum canggung.

“Ya tentu banyak. Ibu selama ini salah paham. Ibu kira kamu benar-benar…”

“Penjual sate?”

Ia terdiam.

Aku menunjuk gerobakku.

“Saya memang penjual sate.”

Kakek tidak berkata apa-apa.

Ia tahu persis mengapa kalimat itu penting bagiku.

Dua tahun sebelumnya, hidupku sangat berbeda.

Aku tinggal di rumah seluas hampir dua ribu meter di Menteng. Aku punya sopir, asisten pribadi, kartu kredit tanpa batas yang jelas, dan posisi direktur di salah satu perusahaan keluarga bahkan sebelum usiaku tiga puluh.

Orang-orang tersenyum kepadaku di mana-mana.

Aku pikir mereka menyukaiku.

Sampai ayahku meninggal.

Setelah pemakaman, aku menemukan sebuah dokumen di ruang kerjanya.

Bukan surat wasiat.

Bukan laporan perusahaan.

Sebuah surat tulisan tangan.

Ayah menulis bahwa seluruh hidupnya dihabiskan dengan dikelilingi orang-orang yang takut pada namanya, menginginkan uangnya, atau membutuhkan kekuasaannya.

Ia bahkan tidak tahu siapa yang benar-benar mencintainya.

Di bagian terakhir, ada satu kalimat yang terus menghantuiku.

Jika suatu hari kamu ingin tahu harga dirimu, keluarlah dari rumah ini tanpa membawa nama Wijaya.

Dua minggu kemudian, aku mengundurkan diri dari jabatan.

Aku pindah ke kamar kontrakan kecil di Tebet.

Tidak membawa mobil.

Tidak membawa pengawal.

Tidak menggunakan rekening keluarga.

Dengan uang tabunganku sendiri, aku membeli gerobak bekas dan mulai berjualan sate dari resep almarhum ibuku.

Kakek marah besar.

Selama berbulan-bulan kami tidak bicara.

Kemudian ia akhirnya membiarkanku.

Di masa itulah aku bertemu Naya.

Ia datang karena hujan.

Saat itu, gerobakku baru buka selama tiga bulan.

Naya tidak membawa payung dan berteduh di bawah terpal kecil.

Aku memberinya teh hangat.

Ia memesan sepuluh tusuk sate.

Setelah makan, ia baru sadar dompetnya tertinggal.

“Aku transfer besok,” katanya malu.

Aku tertawa.

“Kalau tidak kembali juga tidak apa-apa.”

Besoknya ia benar-benar datang.

Bukan hanya membayar.

Ia membawa dua gelas kopi.

Sejak itu, hampir setiap minggu ia datang.

Kami jatuh cinta perlahan, tanpa restoran mewah, tanpa liburan ke luar negeri, tanpa bunga seharga jutaan rupiah.

Itulah cinta paling sederhana yang pernah kurasakan.

Dan karena itu, aku tidak pernah memberitahunya siapa keluargaku.

Sekarang semuanya terbongkar.

Naya menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Jadi selama ini semuanya bohong?”

“Tidak.”

“Kamu bilang tinggal di kontrakan.”

“Aku memang tinggal di kontrakan.”

“Kamu bilang jualan sate untuk hidup.”

“Memang.”

“Tapi kamu tidak pernah bilang kamu cucu pemilik Wijaya Group.”

Aku kehilangan jawaban.

Naya menggeleng.

“Dua tahun, Raka.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut setelah kamu tahu, semuanya berubah.”

Naya tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Dan sekarang kamu pikir tidak berubah?”

Ia mundur.

Aku ingin memegang tangannya, tetapi ia menghindar.

“Yang membuatku sakit bukan karena kamu kaya.”

Tatapannya tajam.

“Yang membuatku sakit karena kamu mengujiku tanpa pernah bilang aku sedang diuji.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada seluruh hinaan Bu Ratna.

Aku diam.

Karena ia benar.

Selama ini aku menganggap penyamaranku sebagai cara mencari ketulusan.

Namun dari sisi Naya, aku telah membangun hubungan di atas sebuah rahasia besar.

Bu Ratna mencoba mendekatinya.

“Naya, sudah, jangan emosional. Ini malah kabar baik.”

Naya menoleh tajam.

“Kabar baik buat Ibu?”

Bu Ratna terdiam.

“Lima menit lalu Ibu menyuruh Raka pergi karena dia miskin. Sekarang setelah tahu dia orang kaya, Ibu bilang kabar baik?”

“Naya…”

“Kalau ternyata mobil-mobil itu tidak datang, apakah Ibu akan meminta maaf?”

Bu Ratna tidak bisa menjawab.

Dimas perlahan mencoba mundur dari kerumunan.

Kakek melihatnya.

“Kamu mau ke mana?”

Dimas berhenti.

“Pulang, Pak. Sepertinya ini masalah keluarga.”

Kakek tersenyum tipis.

“Belum.”

Dimas terlihat semakin pucat.

Kakek memandang salah satu stafnya.

“Bawa berkasnya.”

Seorang pria mengambil map hitam dari SUV.

Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Kakek, berkas apa?”

Ia menyerahkannya kepadaku.

Aku membukanya.

Di halaman pertama tertulis laporan audit internal Wijaya Properti.

Nama Dimas muncul berkali-kali.

Aku mengangkat kepala.

“Apa ini?”

Kakek berkata pelan.

“Alasan sebenarnya Kakek datang bukan hanya untuk membawamu pulang.”

Dimas langsung menyela.

“Pak, saya bisa jelaskan.”

Kakek mengabaikannya.

“Enam bulan terakhir ada kebocoran dana dari beberapa proyek. Nilainya hampir delapan belas miliar rupiah.”

Naya menatap Dimas.

Bu Ratna membeku.

Kakek melanjutkan.

“Tim audit menemukan transfer melalui tiga vendor fiktif. Salah satu nama yang terus muncul adalah Dimas Pradana.”

“Itu fitnah!”

Dimas langsung meninggikan suara.

“Saya hanya mengikuti instruksi atasan!”

Kakek membuka halaman lain.

“Atasanmu sudah diperiksa. Dia mengatakan sebaliknya.”

Keringat muncul di pelipis Dimas.

Ia menatap orang-orang di sekelilingnya, lalu tiba-tiba menunjukku.

“Ini gara-gara dia, kan? Karena tadi saya menghina dia?”

Aku menutup map.

“Laporan ini dibuat sebelum malam ini.”

Dimas kehilangan kata-kata.

Kakek memberi isyarat pada stafnya.

“Kami sudah menyerahkan dokumen ke pihak berwenang sore tadi. Mulai besok kamu diberhentikan sementara sampai investigasi selesai.”

Dimas menatap Bu Ratna.

“Bu…”

Perempuan itu mundur satu langkah.

Baru beberapa menit sebelumnya, Dimas adalah calon menantu ideal baginya.

Kini ia bahkan tidak berani berdiri di dekat pria itu.

Aku melihat semuanya dan tiba-tiba merasa lelah.

Persis seperti yang kutakutkan.

Manusia berubah terlalu cepat ketika status berubah.

Aku menutup gerobak lebih awal malam itu.

Namun Naya pergi tanpa menungguku.

Ia hanya berkata, “Aku butuh waktu.”

Selama tiga hari, ia tidak membalas pesan.

Aku tetap berjualan.

Tidak kembali ke rumah keluarga.

Tidak naik Rolls-Royce.

Hari keempat, hujan turun deras.

Aku sedang memasang terpal ketika seseorang berdiri di depan gerobak.

Naya.

Ia membawa payung dan mengenakan kemeja kantor sederhana.

Aku menatapnya.

“Hai.”

“Hai.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Ia duduk di bangku plastik yang biasa ia pakai.

“Sepuluh tusuk.”

Aku hampir tersenyum.

“Seperti biasa?”

“Seperti biasa.”

Aku mulai membakar sate.

Beberapa menit kami hanya mendengar suara hujan.

Kemudian Naya berkata, “Ibu minta maaf.”

Aku tidak menoleh.

“Bukan ke kamu. Ke aku.”

Tanganku berhenti.

“Dia bilang selama ini terlalu takut aku hidup susah sampai lupa mengajarkan aku memilih orang yang baik.”

Aku meletakkan sate di piring.

“Dimas?”

“Sedang diperiksa.”

Naya menatapku.

“Aku juga sudah bicara dengan Kakekmu.”

Aku terkejut.

“Kapan?”

“Kemarin.”

Aku hampir menjatuhkan piring.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin tahu sesuatu.”

Naya mengeluarkan amplop kecil dari tas.

“Aku bertanya apakah kamu akan kembali menjadi direktur.”

Aku menatap amplop itu.

“Apa jawabannya?”

“Kakekmu bilang keputusan ada di tanganmu.”

Aku menarik kursi dan duduk di depannya.

“Naya…”

“Sekarang giliranku bertanya.”

Ia menatapku lurus.

“Kalau tidak ada Wijaya Group, tidak ada Rolls-Royce, dan kamu benar-benar cuma punya gerobak ini, apa kamu tetap mau menikah denganku?”

Aku tertawa kecil.

“Itu justru pertanyaan yang selama dua tahun ingin kutanyakan kepadamu.”

“Jawab.”

“Aku mau.”

Naya mengangguk.

“Bagus.”

Ia menyerahkan amplop.

Aku membukanya.

Di dalamnya bukan surat cinta.

Bukan pula undangan pernikahan.

Itu formulir pendaftaran usaha.

Aku membaca nama di bagian atas.

Sate Surya.

Aku mengernyit.

Naya akhirnya tersenyum.

“Aku mendaftarkan mereknya.”

“Kenapa namanya Surya?”

“Karena Kakekmu investasi.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Dari seberang jalan terdengar klakson.

Sebuah Toyota Avanza tua berhenti.

Pintunya terbuka.

Kakek turun mengenakan kaus polo dan sandal.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada Rolls-Royce.

Ia berjalan mendekat sambil membawa sekantong arang.

“Kakek capek naik mobil mewah. Susah parkir di sini.”

Aku menatap Naya.

Lalu menatap Kakek.

“Apa yang kalian lakukan?”

Kakek meletakkan arang di samping gerobak.

“Dua tahun lalu kamu pergi karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa nama Wijaya.”

Ia menarik bangku plastik dan duduk.

“Sekarang Kakek ingin membuktikan nama Wijaya juga bisa belajar dari penjual sate.”

Aku terdiam.

Kakek kemudian menjelaskan rencananya.

Bukan menjadikanku direktur lagi.

Bukan membawaku kembali ke gedung kantor.

Ia ingin mengembangkan usaha kecilku menjadi jaringan kuliner dengan sistem kemitraan untuk pedagang kaki lima.

Modal diberikan tanpa mengambil kendali penuh.

Pedagang tetap menjadi pemilik usaha mereka sendiri.

Pelatihan, bahan baku, kebersihan, dan akses pembiayaan akan dibantu perusahaan.

“Kenapa?” tanyaku.

Kakek menatap api panggangan.

“Karena ayahmu ternyata benar.”

Dadaku mengencang.

“Apa?”

Kakek tersenyum kecil.

“Surat yang kamu temukan itu bukan ditulis untukmu.”

Aku membeku.

“Surat itu ditulis ayahmu untuk Kakek.”

Suara hujan tiba-tiba terasa sangat jauh.

Kakek melanjutkan.

“Dia ingin Kakek berhenti melihat manusia dari jabatan dan angka di rekening. Kamu menemukan surat itu sebelum Kakek sempat membacanya.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Dua tahun aku menjalani hidup ini karena mengira ayah sedang berbicara kepadaku.

Ternyata nasihat itu ditujukan kepada orang lain.

“Tapi,” kata Kakek, “mungkin memang kamu yang harus menemukannya.”

Ia menatapku.

“Karena kalau tidak, Kakek tidak akan pernah duduk di kursi plastik ini.”

Naya tertawa.

Aku juga.

Malam itu kami bertiga makan sate di bawah terpal kecil.

Tidak ada meja mahal.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada orang yang memanggilku Tuan Raka Wijaya.

Beberapa bulan kemudian, aku menikahi Naya.

Bu Ratna hadir di barisan depan.

Yang paling membuatku terkejut, ia tidak lagi membawa tas bermerek yang biasa ia pamerkan.

Ia justru membantu membungkus sate untuk para tamu setelah resepsi.

Setahun kemudian, Sate Surya memiliki tiga puluh tujuh mitra di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Namun gerobak pertamaku tidak pernah kujual.

Gerobak itu masih berdiri di tempat yang sama setiap Jumat malam.

Kadang aku sendiri yang membakar sate.

Orang-orang yang mengenalku sering bertanya mengapa seseorang yang memiliki saham miliaran masih mau berdiri di pinggir jalan dengan tangan bau arang.

Jawabanku selalu sama.

Karena di tempat itulah aku mengetahui harga sebenarnya dari manusia.

Bukan saat lima mobil mewah berhenti di depanku.

Bukan ketika orang-orang tahu nama keluargaku.

Melainkan beberapa detik sebelumnya.

Saat aku masih dianggap hanya seorang penjual sate, dan seorang perempuan bernama Naya tetap memilih berdiri di sisiku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang