Pintu kamar terbuka sebelum Arga sempat menyentuh gagangnya.
Pak Darto berdiri di ambang pintu dengan wajah merah dan napas berat. Di belakangnya ada Pak Joko, sepupu Arga yang sejak sore sibuk mengurus dokumen pernikahan kami. Seorang lelaki lain yang tidak kukenal berdiri lebih jauh di ruang tengah.
Tatapan Pak Darto langsung jatuh pada koperku.
“Kalian mau ke mana?”
Arga bergerak setengah langkah ke depan, menutupi tubuhku.

“Sari capek. Dia mau pulang ke rumah orang tuanya.”
Pak Darto tertawa pendek.
“Pulang? Malam pertama?”
Kemudian matanya beralih kepadaku.
“Kamu tidak enak badan, Sari?”
Aku menggenggam pegangan koper begitu erat sampai telapak tanganku sakit.
“Saya hanya mau pulang sebentar.”
“Besok saja.”
“Kenapa harus besok?”
Senyumnya menghilang.
“Karena besok ada urusan keluarga.”
“Dengan notaris?”
Ruangan langsung sunyi.
Pak Joko menoleh kepada Pak Darto.
Arga mengumpat pelan.
Pak Darto akhirnya masuk tanpa diundang.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum kamu pahami.”
Ia melangkah ke arah koperku.
“Sekarang taruh barangmu. Tidur.”
Aku mundur.
“Jangan sentuh koper saya.”
Pak Darto berhenti.
Untuk pertama kalinya, sikap ramah yang ia tunjukkan sepanjang pesta pernikahan benar-benar lenyap.
“Bu Ratna memberimu sesuatu?”
Aku tidak menjawab.
Pertanyaan itu justru memastikan satu hal.
Mereka memang mencari tas itu.
Arga berkata tegas, “Pakde, keluar.”
Pak Darto menatapnya.
“Jangan bodoh seperti dulu.”
Dulu.
Satu kata itu membuat Arga menegang.
Aku langsung teringat nama yang baru saja ia sebut.
Rina.
Pak Darto kemudian menatapku lagi.
“Kamu tahu kenapa Arga memilih menikah denganmu begitu cepat?”
Dadaku seperti dipukul.
Arga maju.
“Cukup.”
“Dia bahkan belum cerita soal Rina, kan?”
“Pakde!”
Pak Darto tersenyum tipis.
“Nah. Bagus. Berarti sekarang saatnya keluarga baru saling terbuka.”
Aku menatap Arga.
“Siapa Rina?”
Arga tidak menjawab.
Pak Darto yang menjawab.
“Mantan tunangannya.”
“Aku sudah tahu itu.”
“Bukan cuma mantan tunangan.”
Pak Darto mendekat sedikit.
“Rina hilang tiga hari sebelum pernikahan mereka.”
Aku merasa udara di kamar tiba-tiba jauh lebih dingin.
“Hilang?”
Arga menatap lantai.
Pak Darto melanjutkan.
“Tidak pernah ditemukan.”
Aku memandang suamiku.
“Kamu bilang sesuatu terjadi padanya.”
Arga menelan ludah.
“Karena aku percaya dia tidak pergi sendiri.”
Pak Joko segera menyela.
“Sudah, Pakde. Tidak ada gunanya membahas perempuan itu lagi.”
Justru kalimat itu membuatku semakin yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Lalu terdengar suara benda pecah dari arah dapur.
Semua orang menoleh.
Bu Ratna muncul di ujung lorong.
Tangannya memegang pecahan piring.
“Sudah cukup.”
Pak Darto menggeram.
“Ratna, masuk kamar.”
Bu Ratna tidak bergerak.
“Biarkan mereka pergi.”
Pak Darto tertawa tanpa humor.
“Kamu benar-benar mau merusak semuanya sekarang?”
“Aku sudah merusak terlalu banyak dengan diam.”
Aku menatap Bu Ratna.
Wajah perempuan itu pucat. Tangan kirinya gemetar.
“Bu, emas ini sebenarnya milik siapa?”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Rina.”
Aku membeku.
Arga memejamkan mata.
Pak Darto menghela napas kasar.
“Sari, jangan dengarkan dia. Kakakku sedang tidak sehat.”
“Jangan bawa-bawa kesehatanku untuk menutupi kejahatanmu,” kata Bu Ratna.
Pak Darto melangkah cepat ke arahnya.
Arga langsung menghalangi.
“Jangan sentuh Ibu.”
Ketegangan meledak dalam sekejap.
Pak Joko menutup pintu depan.
Lelaki asing yang berdiri di ruang tengah ikut maju.
Saat itu aku sadar kami tidak akan bisa keluar begitu saja.
Tanganku diam-diam meraih ponsel di saku.
Aku membuka layar tanpa mengeluarkannya dan menekan tombol panggilan darurat.
Tidak tahu apakah berhasil.
Tidak tahu siapa yang akan mendengar.
Tapi aku membutuhkan seseorang di luar rumah ini mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah.
Bu Ratna mulai bicara.
“Tujuh tahun lalu, Rina datang ke rumah ini membawa tas emas itu.”
Pak Darto memotong.
“Diam!”
Namun Bu Ratna terus melanjutkan.
“Emas itu milik ibunya. Warisan keluarga. Rina ingin menjual sebagian untuk modal membuka klinik kecantikan bersama Arga.”
Aku menoleh kepada Arga.
Ia mengangguk pelan.
“Aku memang mau menikah dengannya.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Arga menjawab, suaranya serak.
“Tiga hari sebelum akad, Rina menemukan kalau beberapa sertifikat tanah atas nama almarhum ayahku sudah dipalsukan.”
Pak Darto menatapnya tajam.
Arga tidak berhenti.
“Pakde mengurus usaha keluarga setelah Ayah meninggal. Aku percaya semuanya. Ibu juga.”
Bu Ratna berbisik, “Kami bodoh.”
Pak Darto menunjuk mereka.
“Kalian hidup dari uang yang kuhasilkan!”
“Uang yang kamu ambil,” balas Arga.
Aku mulai memahami pola yang terbentuk.
Dokumen.
Notaris.
Tanda tangan.
Pernikahan.
“Lalu kenapa saya?” tanyaku.
Tidak seorang pun langsung menjawab.
Aku menatap Arga.
“Kenapa kamu menikah denganku?”
Ia terlihat seperti seseorang yang tahu satu jawaban jujur bisa menghancurkan segalanya.
Akhirnya ia berkata, “Karena rumah dan dua bidang tanah terakhir masih atas nama Ibu. Setelah Ibu sakit tahun lalu, Pakde memaksa agar aset itu dialihkan ke perusahaan keluarga.”
“Dan hubungannya dengan saya?”
Bu Ratna menjawab.
“Dalam surat wasiat suamiku, sebagian hak atas aset baru bisa dialihkan setelah Arga menikah.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Jadi saya diperlukan untuk tanda tangan?”
“Sebagai pasangan sah,” kata Arga. “Mereka ingin membuat surat persetujuan seolah-olah kamu mengetahui dan menyetujui pengalihan.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
“Dan kamu tahu?”
Arga terdiam.
Jawaban itu kembali terasa lebih kejam daripada pengakuan.
Aku tertawa kecil karena terlalu marah untuk menangis.
“Kamu tahu.”
“Aku tahu mereka mau mengurus aset. Aku tidak tahu mereka akan menyeretmu sejauh ini.”
“Jangan bohong.”
“Aku tidak bohong.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak bilang sebelum menikah?”
Arga menatapku.
“Karena aku takut kamu pergi.”
Kalimat sederhana itu justru menghancurkan sesuatu dalam diriku.
Pagi tadi aku menikahi lelaki yang kukira mencintaiku.
Ternyata ia mencintaiku cukup untuk menikahiku, tetapi tidak cukup untuk memberiku kebenaran.
Pak Darto bertepuk tangan sekali.
“Bagus. Drama keluarga selesai?”
Ia mendekati koper.
“Sekarang kasih tas itu.”
Aku berdiri lebih tegak.
“Tidak.”
“Sari.”
“Tidak.”
Pak Darto menatap Arga.
“Ambil dari istrimu.”
Arga tidak bergerak.
“Tidak.”
Wajah Pak Darto benar-benar berubah.
Pak Joko kemudian maju.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh meja.
Bu Ratna berteriak, “Jangan!”
Pak Joko meraih koperku.
Arga mendorongnya.
Dalam hitungan detik mereka saling tarik.
Koper jatuh.
Resletingnya terbuka.
Pakaian berhamburan ke lantai.
Tas kain itu ikut terlempar.
Suara logam berat beradu terdengar ketika beberapa gelang emas keluar.
Semua mata tertuju ke lantai.
Pak Darto langsung membungkuk.
Aku lebih cepat mengambil tasnya.
Ia menangkap pergelangan tanganku.
“Lepas.”
Aku menjerit.
Arga menarik Pak Darto menjauh dariku.
“Aku bilang jangan sentuh dia!”
Lelaki asing itu maju membantu Pak Darto.
Kekacauan pecah.
Bu Ratna berteriak.
Pak Joko mencoba merebut tasku.
Aku mundur ke dinding.
Saat itulah terdengar suara sirene di kejauhan.
Semua orang berhenti.
Pak Darto menatapku.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku sendiri tidak yakin.
Namun aku mengangkat ponsel.
“Panggilan darurat.”
Wajahnya kehilangan warna.
Pak Joko langsung menuju pintu belakang.
Tapi sebelum ia sempat keluar, terdengar ketukan keras dari depan.
“Polisi!”
Aku hampir menangis karena lega.
Pak Darto berbisik kepada kami.
“Tidak ada yang bicara sembarangan.”
Arga menatapnya.
“Sudah selesai, Pakde.”
Pak Darto tertawa.
“Kamu pikir polisi akan percaya cerita tentang perempuan yang hilang tujuh tahun lalu hanya karena sekantong emas?”
Bu Ratna kemudian mengatakan sesuatu yang membuat kami semua terdiam.
“Bukan emasnya yang penting.”
Pak Darto menoleh.
Bu Ratna menunjuk bagian dasar tas.
“Rina menjahit sesuatu di dalamnya.”
Arga membeku.
“Apa?”
“Aku baru menemukannya dua minggu lalu.”
Pak Darto langsung menerjang ke arahku.
Namun pada saat yang sama pintu depan didobrak.
Dua polisi masuk disusul seorang petugas keamanan kompleks.
Pak Darto berhenti.
Aku langsung menyerahkan tas itu kepada salah satu polisi.
“Tolong jangan berikan kepada siapa pun.”
Malam itu kami semua dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Tas kain tersebut dibuka di depan kami.
Lapisan bagian bawahnya memang lebih tebal.
Ketika jahitannya dibongkar, petugas menemukan sebuah kartu memori kecil yang dibungkus plastik.
Arga menatap benda itu seperti melihat hantu.
Bu Ratna menangis.
Pak Darto tidak mengatakan apa-apa lagi.
Pagi menjelang ketika polisi berhasil membuka sebagian isi kartu tersebut.
Ada foto sertifikat.
Salinan transaksi.
Rekaman percakapan.
Dan satu video.
Video itu direkam oleh Rina sendiri.
Wajahnya memenuhi layar.
Ia terlihat sangat takut.
“Kalau ada yang menemukan rekaman ini, berarti aku mungkin tidak sempat menyerahkannya ke polisi.”
Arga langsung berdiri.
Tangannya gemetar.
Dalam video itu, Rina menjelaskan bagaimana ia menemukan bukti penggelapan aset keluarga Arga. Ia menyebut Pak Darto dan Pak Joko. Ia juga mengatakan bahwa malam sebelumnya seseorang mengancamnya.
Kemudian muncul bagian yang membuat Arga menangis untuk pertama kalinya di hadapanku.
Rina berkata, “Arga tidak tahu semuanya. Jangan salahkan dia kalau aku hilang.”
Ruangan menjadi sunyi.
Namun kejutan terbesar belum selesai.
Petugas membuka rekaman terakhir.
Hanya suara.
Suara Rina dan seorang perempuan.
Aku langsung mengenali suara perempuan kedua.
Bu Ratna.
Rina terdengar menangis.
“Bu, saya harus pergi malam ini.”
Bu Ratna menjawab, “Saya akan bantu kamu.”
Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.
“Ibu?”
Bu Ratna menutup wajahnya.
Arga menatapnya dengan mata merah.
“Ibu tahu Rina pergi?”
Bu Ratna menangis tanpa suara.
“Aku yang membantunya pergi.”
Semua orang terpaku.
Arga seperti kehilangan kemampuan bicara.
Selama tujuh tahun, ia percaya Rina mungkin sudah mati.
Ternyata Bu Ratna menyimpan kebenaran itu sendirian.
“Kenapa?” tanyanya.
Bu Ratna mengusap air mata.
“Karena malam itu Darto tahu Rina punya bukti. Dia bilang kalau Rina tetap menikah denganmu, kalian berdua tidak akan selamat. Aku takut. Aku membawa Rina ke terminal, memberinya uang, lalu menyuruhnya jangan pernah kembali.”
“Dia masih hidup?”
Bu Ratna mengangguk.
“Terakhir kali aku tahu, iya.”
Arga menutup mulutnya dengan tangan.
“Di mana?”
Bu Ratna menatapku.
Kemudian mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya.
“Dua minggu lalu aku mendapat surat.”
Di sana ada sebuah alamat di Yogyakarta.
Dan satu nama baru.
Namun bagian bawah surat membuat jantungku berhenti.
Ada kalimat yang ditulis tangan.
Bu Ratna membacanya pelan.
“Saya sudah memaafkan semuanya. Tapi kalau Arga akhirnya menikah, jangan biarkan perempuan itu mengalami apa yang saya alami.”
Aku menatap Bu Ratna.
Sekarang aku mengerti kenapa ia datang ke kamar kami pukul satu dini hari.
Ia bukan sedang menyelamatkan emas.
Ia sedang mencoba menebus tujuh tahun rasa bersalah.
Pak Darto dan Pak Joko akhirnya ditahan setelah penyelidikan menemukan bukti pemalsuan dokumen, penggelapan aset, dan intimidasi terhadap Rina. Beberapa minggu kemudian, kasus lama yang selama ini dianggap sebagai orang hilang dibuka kembali.
Arga pergi ke Yogyakarta.
Aku tidak ikut.
Ia memintaku menunggu.
Aku mengatakan tidak.
Aku pulang ke rumah orang tuaku dan memulai proses pembatalan beberapa dokumen yang dibuat keluarga Arga menggunakan data pribadiku.
Tiga bulan kemudian, Arga datang menemuiku.
Ia terlihat lebih kurus.
“Rina masih hidup,” katanya.
Aku sudah menduganya.
“Dia baik-baik?”
Arga mengangguk.
“Dia sudah menikah. Punya kehidupan sendiri.”
Aku tersenyum kecil.
“Syukurlah.”
Arga menatap cincin di jariku yang belum sempat kulepas.
“Sari, aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun. Tapi aku mencintaimu.”
Aku menatap lelaki yang pernah menjadi tempat paling aman bagiku, lalu berubah menjadi sumber ketakutan hanya dalam satu malam.
“Aku juga pernah sangat mencintaimu.”
“Pernah?”
Aku mengangguk.
“Cinta tidak bisa hidup lama di tempat yang dipenuhi rahasia.”
Arga menunduk.
Aku melepaskan cincin itu dan meletakkannya di meja.
“Aku bisa memaafkanmu karena takut. Tapi aku tidak bisa membangun rumah tangga dengan seseorang yang mengambil hakku untuk mengetahui kebenaran.”
Ia tidak membantah.
Sebelum pergi, Arga berhenti di pintu.
“Ibu titip pesan.”
“Apa?”
“Katanya emas itu tetap untukmu.”
Aku menggeleng.
“Bukan milikku.”
“Rina bilang boleh kamu simpan.”
Aku terdiam.
Arga mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada surat pendek dari Rina.
Aku tidak pernah bertemu dengannya, tetapi kalimatnya membuat tanganku gemetar.
Sari, emas itu dulu hampir membuatku kehilangan hidupku. Kalau suatu hari benda itu bisa membantumu memulai hidup baru, mungkin akhirnya ia punya arti yang lebih baik.
Setahun kemudian, aku menjual sebagian emas tersebut.
Bukan untuk membeli rumah mewah.
Bukan juga untuk membalas siapa pun.
Aku menggunakannya untuk membuka layanan bantuan hukum kecil bersama seorang teman bagi perempuan yang terjebak dalam pernikahan, utang keluarga, dan penyalahgunaan dokumen atas nama mereka.
Tas kain lama itu kusimpan di lemari kantorku.
Bukan sebagai kenangan tentang malam pernikahan yang gagal.
Melainkan sebagai pengingat bahwa terkadang bahaya terbesar datang bukan dari orang asing, melainkan dari orang-orang yang merasa memiliki hak untuk menentukan hidup kita tanpa izin.
Dan setiap kali melihat tas itu, aku selalu teringat pukul satu lewat dua belas menit dini hari.
Saat aku mengira sedang kabur dari rumah suamiku.
Padahal sebenarnya, malam itu adalah pertama kalinya aku benar-benar menyelamatkan diriku sendiri.
