Pada malam pertama Rafi berada di rumah Arga, aku tidak tidur sama sekali.
Aku menyewa kamar kecil di sebuah penginapan sekitar lima belas menit dari Pondok Indah, tetapi sebagian besar waktuku kuhabiskan di kedai kopi seberang rumah itu. Setiap kali lampu lantai dua menyala, jantungku ikut berdebar.
Aku sudah berjanji memberi Arga enam hari.

Yang tidak kukatakan kepadanya adalah aku sendiri mungkin tidak memiliki hari ketujuh.
Pukul sebelas malam, ponselku bergetar.
Nomor Arga.
Aku menatap layar cukup lama sebelum mengangkatnya.
“Ya?”
“Kamu di mana?”
“Kenapa?”
“Rafi tidak mau tidur.”
Aku menahan senyum. “Lalu?”
“Dia bilang biasanya kamu membacakan cerita.”
“Bacakan.”
“Aku tidak tahu ceritanya.”
“Karang.”
“Nadira.”
Nada kesalnya begitu familier sampai rasanya enam tahun menghilang begitu saja.
Aku memejamkan mata.
“Dia suka cerita tentang astronot. Jangan cerita hantu. Setelah itu matikan lampu utama, sisakan lampu meja. Dia takut gelap tapi malu mengakuinya.”
Arga diam.
Kemudian suaranya berubah lebih rendah.
“Apa lagi yang tidak kuketahui tentang anakku?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada yang kuduga.
“Enam tahun terlalu panjang untuk dijelaskan lewat telepon.”
“Karena kamu yang membuatnya sepanjang itu.”
Tanganku mengepal.
“Selamat malam, Arga.”
Aku memutus sambungan.
Hari kedua, tes DNA dilakukan.
Arga mendatangkan petugas laboratorium ke rumah. Aku hadir karena diperlukan sampel dariku.
Selma juga ada di sana.
Perempuan itu berdiri dengan tangan terlipat sambil mengawasiku seperti aku penipu yang sedang menunggu kedoknya terbongkar.
“Kalau hasilnya negatif, saya akan memastikan kamu dituntut,” katanya.
Aku mengangguk. “Silakan.”
“Kamu tidak takut?”
“Aku lebih takut pada orang yang terlalu percaya diri sebelum melihat hasil.”
Wajahnya menegang.
Arga muncul dari ruang kerja.
“Selma, cukup.”
Selma menatapnya tak percaya.
“Kamu membelanya?”
“Aku menyuruhmu berhenti.”
Rafi yang duduk sambil menggambar tiba-tiba mengangkat kepala.
“Om Arga.”
Arga membeku.
Aku hampir tertawa melihat ekspresinya.
“Apa?”
“Kalau hasilnya benar, aku harus panggil Om atau Ayah?”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga menatap anak itu lama.
“Yang membuatmu nyaman.”
Rafi berpikir serius.
“Kalau begitu Om dulu. Ayah harus lulus masa percobaan.”
Aku menunduk menyembunyikan senyum.
Hari ketiga, hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan biologis 99,99 persen.
Tidak ada yang terkejut kecuali Selma.
Arga membaca lembar hasil itu tiga kali.
Lalu ia masuk ke ruang kerjanya dan tidak keluar hampir satu jam.
Ketika akhirnya muncul, ia menghampiriku di teras belakang.
“Kenapa?”
Hanya satu kata.
Tetapi aku tahu maksudnya.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Aku menatap taman.
“Karena ketika aku paling membutuhkan kepercayaanmu, kamu tidak memberikannya.”
“Aku menyuruhmu pergi sementara.”
“Kamu bertanya apakah aku mencuri uang itu.”
“Karena semua bukti mengarah kepadamu.”
“Dan aku bilang bukan aku.”
Arga mengusap wajahnya kasar.
“Aku mencarimu.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Setelah tiga hari. Aku datang ke kosmu. Kamu sudah pergi. Aku ke Semarang mencari ayahmu. Rumahnya kosong.”
Dadaku terasa dingin.
“Ayah meninggal dua minggu setelah aku meninggalkan Jakarta.”
Wajah Arga kehilangan warna.
Aku melanjutkan sebelum keberanianku habis.
“Setelah itu aku pindah ke Yogyakarta. Aku mengganti nomor. Aku tidak mau ditemukan.”
“Kenapa?”
“Karena aku hamil, sendirian, ayahku meninggal, dan pria yang kucintai mengira aku pencuri. Menurutmu apa yang seharusnya kulakukan? Kembali dan memohon supaya kamu percaya?”
Arga tidak menjawab.
Dari dalam rumah terdengar tawa Rafi bersama salah satu pekerja rumah tangga.
Arga menatap ke arah suara itu.
“Aku kehilangan enam tahun.”
“Ya.”
“Dan kamu mengambilnya dariku.”
Aku menatapnya lurus.
“Benar.”
Aku tidak akan berpura-pura menjadi korban sempurna.
Aku memang memilih pergi.
Aku memang menyembunyikan Rafi.
Dan keputusan itu memiliki harga.
Hari keempat, sesuatu mulai berubah.
Aku datang pagi-pagi dan menemukan Arga tidur di sofa dengan kepala miring tidak nyaman. Rafi tidur di dadanya, sementara sebuah buku tentang tata surya tergeletak di lantai.
Pekerja rumah tangga berbisik bahwa Rafi demam ringan semalam.
Arga menjaganya sampai subuh.
Aku berdiri cukup lama di ambang pintu.
Mungkin terlalu lama.
Karena Arga membuka mata.
Kami saling memandang.
“Demamnya sudah turun,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Itulah ucapan terima kasih pertama yang kuberikan kepadanya setelah enam tahun.
Siangnya, ketika Rafi sudah membaik, aku pergi ke toilet dan muntah.
Darah.
Sedikit, tetapi cukup membuat tanganku gemetar.
Aku membersihkannya cepat.
Ketika keluar, Selma berdiri di lorong.
Tatapannya jatuh pada wajahku.
“Kamu sakit?”
“Bukan urusanmu.”
Aku berjalan melewatinya.
Ia mencengkeram lenganku.
“Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?”
Aku menarik tanganku.
“Enam hari. Setelah itu selesai.”
“Maksudmu?”
Aku tidak menjawab.
Hari kelima, masa lalu akhirnya datang mengetuk pintu.
Seorang pria bernama Denny Pratama muncul di kantor pusat NusaLink dan meminta bertemu Arga.
Denny adalah mantan kepala administrasi keuangan perusahaan pada masa awal berdiri.
Namanya hampir kulupakan.
Sampai Arga meneleponku sore itu.
“Nadira, datang ke kantor.”
“Aku sedang bersama Rafi.”
“Bawa dia.”
“Ada apa?”
Suara Arga terdengar aneh.
“Kami menemukan siapa yang mengambil Rp780 juta itu.”
Dunia seperti berhenti.
Empat puluh menit kemudian aku berdiri di ruang rapat lantai tiga puluh dua gedung NusaLink.
Denny duduk di sana dengan wajah pucat.
Selma berdiri di dekat jendela.
Arga meletakkan sebuah dokumen di meja.
“Denny mengaku menggunakan akunmu untuk memindahkan uang.”
Aku tidak langsung bereaksi.
Aku sudah menunggu kalimat itu selama enam tahun.
Anehnya, ketika akhirnya mendengarnya, aku tidak merasakan kemenangan.
Hanya lelah.
Denny menunduk.
“Saya terlilit utang waktu itu. Saya tahu password Mbak Nadira karena pernah diminta memperbaiki komputer. Saya membuat aksesnya terlihat berasal dari laptop Mbak.”
“Kenapa mengaku sekarang?” tanyaku.
Denny mengangkat kepala.
“Karena ada orang yang membayar saya untuk melakukannya.”
Aku membeku.
Arga berkata, “Siapa?”
Denny menatap Selma.
Selma langsung pucat.
“Jangan gila.”
Denny mengeluarkan ponsel lama dan meletakkannya di meja.
“Semua pesan masih saya simpan.”
Arga menatap Selma seolah baru melihat orang asing.
Selma menggeleng cepat.
“Arga, dengarkan aku. Waktu itu perusahaan hampir hancur. Nadira menghalangimu menerima investasi dari keluarga Adinegara. Dia membuatmu sentimental.”
Aku tertawa kecil.
“Jadi kamu mencuri uang perusahaan untuk menyingkirkanku?”
“Aku mengembalikannya melalui rekening lain!”
“Setelah aku pergi,” kataku.
Selma menatapku dengan kebencian yang sudah tidak lagi ia sembunyikan.
“Kamu tidak pantas berada di sampingnya.”
Arga berdiri.
“Keluar.”
Selma terdiam.
“Arga…”
“Mulai hari ini kamu dinonaktifkan dari seluruh jabatan sampai investigasi selesai. Tim hukum akan menghubungimu.”
“Setelah semua yang kulakukan untuk perusahaan ini?”
Arga menjawab dingin, “Kamu menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah untuk mendapatkan tempat di sampingku. Jangan menyebut itu pengorbanan.”
Selma pergi sambil menangis.
Aku tidak merasa puas.
Yang kurasakan justru ketakutan.
Karena waktu semakin habis.
Malam itu adalah malam kelima.
Saat keluar dari gedung, pandanganku mendadak kabur.
Aku mendengar Rafi memanggil.
“Ibu?”
Lalu lantai seakan bergerak mendekat.
Aku terbangun di rumah sakit.
Arga duduk di samping ranjang.
Wajahnya jauh lebih pucat daripada wajahku.
Rafi tidak terlihat.
“Di mana Rafi?”
“Bersama asistenku.”
Aku mencoba bangun.
Arga menahanku.
“Jangan.”
“Aku harus pulang.”
“Nadira.”
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuatku berhenti.
Di tangannya terdapat map medis berwarna biru.
Map milikku.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Aku menutup mata.
Selesai sudah.
Arga membuka map itu dengan tangan gemetar.
“Gagal ginjal kronis stadium akhir.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu sudah menjalani dialisis hampir setahun.”
Diam.
“Dokter bilang kondisi jantungmu juga memburuk.”
“Arga…”
“Enam hari itu apa?”
Aku menatapnya.
Matanya merah.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Arga Mahendra terlihat benar-benar takut.
“Operasiku hari ketujuh.”
“Operasi apa?”
“Transplantasi ginjal.”
Arga terdiam.
Aku tersenyum kecil.
“Donornya sudah ada. Tapi kondisiku tidak bagus. Dokter bilang ada risiko komplikasi.”
“Berapa besar?”
“Cukup besar.”
Arga berdiri dan membelakangiku.
Bahu pria itu naik turun.
“Jadi kamu datang bukan karena IPO.”
“Sebagian karena IPO.”
Ia berbalik marah.
“Jangan bercanda!”
“Aku serius. Ketika melihat perusahaanmu IPO, aku tahu kamu akhirnya stabil. Kamu punya rumah, uang, kehidupan yang aman. Kalau sesuatu terjadi padaku, Rafi tidak akan sendirian.”
Arga menatapku seolah ingin marah tetapi tidak menemukan kata.
“Kamu datang untuk menyerahkan anak kita karena kamu pikir kamu akan mati?”
Aku menelan ludah.
“Ya.”
“Dan kamu tidak merasa perlu memberitahuku?”
“Aku perlu memastikan satu hal dulu.”
“Apa?”
“Bahwa kamu bisa mencintainya tanpa aku.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Arga.
Aku belum pernah melihatnya menangis.
Bahkan ketika perusahaan hampir bangkrut.
Bahkan ketika kami berpisah.
Ia duduk kembali.
“Kamu benar-benar manusia paling kejam yang pernah kukenal.”
Aku tertawa pelan sambil ikut menangis.
“Kamu juga.”
Hari keenam, Arga membawa Rafi ke rumah sakit.
Rafi naik ke ranjangku dan langsung memelukku.
“Kata Om Arga, Ibu harus diperbaiki dokter.”
“Kurang lebih begitu.”
“Kayak laptop?”
“Jangan samakan ibumu dengan laptop.”
Rafi mengangguk.
Kemudian menunjuk Arga.
“Dia lulus masa percobaan.”
Aku menatap Arga.
“Oh ya?”
“Dia bisa bikin nasi goreng.”
“Prestasi besar.”
“Dan dia tidak marah waktu aku menumpahkan jus di mobil.”
Arga menyela, “Aku marah dalam hati.”
Rafi berpikir sebentar.
“Berarti Ayah lulus.”
Kata itu membuat kami bertiga diam.
Ayah.
Arga menunduk cepat, tetapi aku melihat air matanya.
Malam sebelum operasi, ia tinggal di rumah sakit.
Sekitar pukul dua pagi aku terbangun dan melihatnya masih duduk di kursi.
“Arga.”
“Hm?”
“Kalau besok aku tidak bangun…”
“Jangan.”
“Dengarkan.”
“Tidak.”
“Arga.”
Ia berdiri dan mendekat.
Aku menggenggam tangannya.
“Jangan jadikan Rafi pewaris kerajaanmu. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri.”
“Nadira.”
“Dia suka menggambar. Dia ingin jadi pembuat robot. Dia alergi udang. Kalau demam dia selalu minta dipeluk meskipun bilang tidak. Kalau sedih, dia akan diam dan bilang baik-baik saja. Jangan percaya.”
Arga menunduk.
“Berhenti.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan pernah membuatnya menunggu sepuluh detik ketika dia bertanya apakah kamu percaya padanya.”
Arga menutup matanya.
Tangannya menggenggam tanganku erat.
“Kali ini aku tidak akan terlambat.”
Pagi hari ketujuh datang terlalu cepat.
Aku dibawa menuju ruang operasi.
Rafi berdiri di lorong memakai masker, menggenggam tangan Arga.
Aku tersenyum kepadanya.
“Ibu pergi sebentar.”
Rafi mengangkat enam jarinya, lalu menambahkan satu.
“Hari ketujuh.”
Aku mengangguk.
“Ya.”
“Besok hari kedelapan.”
Dadaku sesak.
“Benar.”
“Jadi Ibu harus balik.”
Aku tidak mampu menjawab.
Pintu ruang operasi menutup.
Hal terakhir yang kulihat adalah Arga memeluk anak kami.
Operasi berlangsung hampir tujuh jam.
Aku mengalami perdarahan.
Tekanan darahku jatuh.
Jantungku sempat berhenti selama empat puluh tujuh detik.
Tetapi hari ketujuh ternyata bukan hari kematianku.
Aku membuka mata pada hari kedelapan.
Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit putih.
Hal kedua adalah Arga tertidur dengan kepala di tepi ranjang.
Dan hal ketiga adalah Rafi menggambar sesuatu di kursi dekat jendela.
“Ibu!”
Arga langsung terbangun.
Aku mencoba tersenyum.
“Katanya hari kedelapan.”
Rafi berlari mendekat.
“Tuh, kan. Aku benar.”
Aku menatap Arga.
Wajahnya kusut, matanya bengkak, rambutnya berantakan.
Jauh sekali dari CEO miliarder yang wajahnya terpampang di berita.
“Bagaimana perusahaanmu?” tanyaku.
Arga menatapku tidak percaya.
“Kamu baru bangun setelah hampir mati dan bertanya tentang perusahaan?”
“IPO-mu.”
“Persetan dengan IPO.”
Aku tertawa sampai bekas operasiku sakit.
Tiga bulan kemudian, penyelidikan internal NusaLink selesai.
Selma dan Denny diproses secara hukum. Namaku dibersihkan secara resmi.
Arga bahkan ingin mengadakan konferensi pers.
Aku menolak.
“Aku tidak butuh seluruh Indonesia tahu aku tidak bersalah.”
“Tapi mereka menghancurkan namamu.”
“Aku cuma butuh satu orang yang tahu.”
Arga diam.
Ia mengerti.
Aku tidak langsung kembali bersamanya.
Pengampunan bukan mesin waktu.
Cinta juga tidak otomatis memperbaiki enam tahun yang hilang.
Aku kembali ke Yogyakarta untuk pemulihan, dan Arga datang setiap akhir pekan.
Kadang naik pesawat.
Kadang kereta.
Suatu Jumat malam ia muncul di depan rumah kontrakanku membawa dua tiket kereta ekonomi.
Aku menatap tiket itu.
“Untuk apa?”
“Rafi mau ke Jakarta.”
“Kenapa ekonomi?”
Arga mengangkat bahu.
“Kalau eksekutif, nanti kamu bilang aku pamer.”
Aku terdiam.
Sembilan tahun lalu, kalimat yang hampir sama membuatku jatuh cinta.
Kali ini aku tidak langsung tersenyum.
Aku mengambil satu tiket dari tangannya.
“Jangan geer. Aku cuma kasihan tiketnya hangus.”
Arga tertawa.
Dari dalam rumah, Rafi berteriak, “Ayah, masuk! Ibu dari tadi nungguin!”
Aku menoleh tajam.
“Rafi!”
Arga tertawa semakin keras.
Dan untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Selama enam tahun, aku mengira hari ketujuh adalah hari yang paling kutakuti karena mungkin menjadi akhir hidupku.
Ternyata aku salah.
Hari yang paling menakutkan adalah hari ketika aku harus mempercayai seseorang lagi setelah pernah dihancurkan oleh ketidakpercayaannya.
Aku berdiri di ambang pintu sambil memandang Arga.
“Aku belum memaafkanmu sepenuhnya.”
“Aku tahu.”
“Mungkin lama.”
“Aku tunggu.”
“Jangan sepuluh detik.”
Arga tersenyum kecil.
“Kali ini, kalau perlu, seumur hidup.”
Aku membiarkannya masuk.
Bukan karena ia miliarder.
Bukan karena NusaLink bernilai triliunan.
Bukan pula karena masa lalu kami tiba-tiba menjadi indah.
Aku membiarkannya masuk karena di ruang tengah ada seorang anak enam tahun yang sedang menyiapkan tiga mangkuk mi instan sambil bersenandung, yakin bahwa besok akan selalu datang.
Dan setelah nyaris kehilangan semuanya, akhirnya aku ingin mempercayai hal yang sama.
