Pukul enam lewat dua belas menit pagi, Maya sudah duduk di ruang makan dengan secangkir kopi yang tidak disentuhnya.
Di luar jendela, Jakarta baru saja bangun. Suara kendaraan mulai memenuhi jalan, sementara langit berwarna abu-abu pucat seperti belum memutuskan apakah hari itu akan cerah atau hujan.
Seharusnya pagi itu menjadi pagi paling membahagiakan dalam hidup Maya.
Dalam waktu kurang dari empat jam, ia dijadwalkan menikah dengan Rendy.
Namun gaun pengantin masih tergantung di kamar.
Makeup artist yang seharusnya datang pukul tujuh sudah ia batalkan.
Dan di atas meja di depannya tergeletak tiga benda.
Laptop.
Ponsel.
Serta salinan surat kuasa yang mencantumkan tanda tangan palsu atas namanya.
Maya menatap dokumen itu cukup lama sampai ponselnya bergetar.
Pesan dari Pak Arif, notaris yang selama bertahun-tahun mengurus pembelian dan dokumen properti keluarganya.
“Saya sudah memeriksa file yang Ibu kirim. Jangan menandatangani dokumen apa pun hari ini. Saya sedang menuju kantor. Saya juga menyarankan Ibu membawa file asli dan rekaman percakapan.”
Beberapa detik kemudian masuk pesan kedua.
“Dan satu hal lagi. Nomor dokumen pada surat kuasa itu tampaknya menggunakan format kantor notaris tertentu. Saya akan cek.”
Maya membaca pesan tersebut dua kali.
Ia merasa telapak tangannya dingin.
Belum sempat membalas, ponselnya kembali berdering.
Rendy.
Maya membiarkannya berdering sampai berhenti.
Tak sampai semenit kemudian, Rendy menelepon lagi.
Kemudian lagi.
Pada panggilan keempat, Maya mengangkatnya.
“Kamu di mana?” Suara Rendy terdengar panik.
“Di rumah.”
“Kenapa makeup artist bilang kamu batalkan jadwal?”
Maya memandang kosong ke arah jendela.
“Karena aku tidak perlu dirias.”
Hening.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak jadi menikah hari ini.”
Beberapa detik tidak ada suara.
Lalu terdengar napas Rendy berubah berat.
“Maya, jangan bercanda. Semua orang sudah menuju hotel. Penghulu sudah dikonfirmasi. Keluargaku sudah di sana.”
“Aku serius.”
“Maya.”
Nada suara Rendy berubah.
Bukan lagi panik.
Kini terdengar tegas.
Sedikit menekan.
“Kita bisa bicara setelah akad. Jangan bikin keputusan emosional pagi-pagi begini.”
Kalimat itu membuat Maya tersenyum dingin.
“Setelah akad?”
“Iya. Apa pun masalahnya, kita selesaikan setelah menikah.”
“Termasuk surat kuasa palsu?”
Sunyi.
Kali ini jauh lebih panjang.
Maya bahkan bisa mendengar suara kendaraan dari sisi Rendy.
“Apa?”
“Surat kuasa yang kamu kirim dengan nama file Asuransi Perjalanan Internasional.”
“Maya, dengar dulu.”
“Yang tanda tangannya dibuat menyerupai tanda tanganku.”
Rendy tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya empat tahun lalu, Maya tidak mendengar satu pun pembelaan spontan dari lelaki itu.
Tidak ada “aku tidak tahu”.
Tidak ada “pasti salah kirim”.
Tidak ada “itu bukan aku”.
Hanya diam.
Maya menelan ludah.
“Jadi kamu memang tahu.”
“Maya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Kalimat klasik itu justru terasa seperti pengakuan.
“Kalau begitu jelaskan.”
Rendy menarik napas panjang.
“Perusahaan Papa sedang dalam masalah.”
“Dan itu alasan kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Aku tidak memalsukannya.”
“Siapa?”
Rendy kembali diam.
“Siapa, Rendy?”
“Aku cuma mencoba menyelamatkan keluargaku.”
Maya mengepalkan tangan.
“Keluargamu?”
“Iya.”
Rendy mulai berbicara lebih cepat.
“Kamu tahu perusahaan itu sudah dibangun Papa hampir tiga puluh tahun. Ada ratusan karyawan. Kalau perusahaan jatuh, bukan cuma keluarga kami yang kehilangan semuanya.”
“Jadi solusinya mengambil apartemenku?”
“Bukan mengambil.”
Rendy terdengar kesal.
“Cuma dijadikan jaminan sementara.”
Maya hampir tertawa.
“Sementara?”
“Setelah proyek pemerintah cair, pinjaman itu akan lunas.”
“Kamu yakin?”
“Ya.”
“Kalau yakin, kenapa harus memalsukan tanda tanganku?”
Pertanyaan itu kembali membuat Rendy terdiam.
Maya memejamkan mata.
Tiba-tiba seluruh kejadian selama beberapa bulan terakhir terasa menyambung seperti potongan teka-teki yang akhirnya membentuk gambar.
Pertanyaan Rendy tentang nilai apartemennya.
Keinginannya mengetahui sertifikat disimpan di mana.
Sarannya agar setelah menikah semua aset “lebih praktis kalau dikelola bersama”.
Bahkan permintaannya dua minggu lalu agar Maya mengirim contoh tanda tangan digital untuk keperluan pemesanan hotel.

Saat itu Maya sama sekali tidak curiga.
Kini semuanya terasa mengerikan.
“Aku dengar percakapan ibumu tadi malam,” kata Maya.
Rendy langsung menjawab, “Kamu datang ke apartemen Mama?”
“Untuk mengambil kain batik ibuku.”
Maya berhenti sebentar.
“Untung aku datang.”
“Maya, please.”
“Tidak usah.”
“Dengar aku dulu.”
“Aku sudah terlalu banyak mendengar.”
Maya memutus sambungan.
Tidak sampai tiga puluh detik kemudian Rendy mengirim pesan.
“Aku ke rumahmu sekarang.”
Maya membaca pesan itu tanpa membalas.
Lalu ia berdiri, mengambil kunci mobil dan seluruh dokumen.
Ia tidak berniat berada di rumah ketika Rendy datang.
Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, Maya sudah berada di kantor Pak Arif di kawasan Kuningan.
Notaris berusia hampir enam puluh tahun itu menyambutnya dengan wajah serius.
Di ruangan sudah ada seorang staf hukum dan seorang pengacara bernama Ratna yang pernah membantu perusahaan Maya menangani sengketa kontrak.
Begitu Maya menyerahkan dokumen, Ratna langsung membaca setiap halaman.
“Kamu masih punya file asli dari Rendy?”
“Masih.”
“Email atau WhatsApp?”
“Email.”
“Jangan dihapus.”
Ratna kemudian membuka metadata file melalui laptop.
Beberapa menit kemudian, dahinya mengernyit.
“Menarik.”
“Apa?”
“File ini dibuat pertama kali tiga minggu lalu.”
Maya terdiam.
Tiga minggu.
Artinya rencana itu bukan keputusan mendadak karena krisis perusahaan.
Semuanya sudah disiapkan jauh sebelum hari pernikahan.
Pak Arif kemudian meletakkan sebuah kertas di meja.
“Saya juga sudah cek nomor dokumen ini.”
Maya menatapnya.
“Nomor tersebut bukan nomor surat kuasa yang pernah diterbitkan kantor notaris yang dicantumkan di sini.”
“Artinya?”
“Paling tidak,” jawab Pak Arif hati-hati, “dokumen ini patut diduga direkayasa.”
Ratna mengangkat kepala.
“Kita simpan semuanya. Email, file, metadata, rekaman suara. Jangan melakukan konfrontasi sendirian.”
Saat itulah ponsel Maya terus bergetar.
Puluhan panggilan masuk.
Rendy.
Ibu Herlina.
Nadia.
Bahkan ayah Rendy.
Kemudian pesan keluarga mulai bermunculan.
“Maya, semua tamu sudah datang.”
“Kamu di mana?”
“Jangan mempermalukan keluarga.”
“Masalah rumah tangga jangan dibesar-besarkan.”
Maya membaca semuanya dengan ekspresi datar.
Anehnya, hampir tidak ada yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja.
Semua orang hanya khawatir pada acara.
Pada tamu.
Pada nama baik.
Sekitar pukul delapan tiga puluh, muncul sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
“Mbak Maya, saya bekerja di bagian keuangan PT Wiratama Konstruksi. Saya tahu ini bukan urusan saya, tapi saya rasa Mbak perlu mengetahui bahwa perusahaan keluarga Pak Rendy tidak cuma punya masalah utang proyek.”
Maya menunjukkan pesan itu kepada Ratna.
“Balas seperlunya,” kata Ratna.
Maya mengetik.
“Apa maksud Anda?”
Jawaban datang beberapa menit kemudian.
“Sejak enam bulan lalu ada beberapa pinjaman pribadi keluarga yang dibebankan ke perusahaan. Termasuk pembelian mobil dan pembayaran utang kartu kredit.”
Jantung Maya berdebar.
Pesan berikutnya lebih mengejutkan.
“Saya mendengar nama apartemen Mbak dibicarakan minggu lalu. Saya kira Mbak sudah setuju. Setelah melihat undangan pernikahan hari ini, saya merasa tidak tenang.”
Ratna segera meminta Maya menyimpan seluruh percakapan.
“Nanti kalau orang ini bersedia memberikan keterangan resmi, itu bisa penting.”
Maya masih menatap layar ketika satu kalimat terlintas di kepalanya.
Utang Nadia.
Tadi malam Nadia bercanda bahwa rekening bersama nanti bisa digunakan untuk menutup utangnya.
Ternyata mungkin itu bukan sekadar candaan.
Pukul sembilan lewat sepuluh menit, Rendy akhirnya muncul di kantor Pak Arif.
Maya mengetahuinya dari staf resepsionis.
“Bu, ada Pak Rendy di depan. Beliau meminta bertemu.”
Ratna menatap Maya.
“Kamu mau?”
Maya berpikir beberapa detik.
“Biarkan masuk.”
Rendy memasuki ruangan dengan pakaian yang seharusnya ia kenakan sebelum berganti busana akad.
Wajahnya pucat.
Rambutnya berantakan.
Begitu melihat Ratna dan Pak Arif, langkahnya langsung melambat.
“Maya, kita bicara berdua.”
“Tidak.”
“Maya.”
“Kalau mau bicara, bicara di sini.”
Rendy memandang orang-orang di ruangan itu lalu mengusap wajah.
“Aku minta maaf.”
Itulah kalimat pertama yang membuat dada Maya terasa sesak.
Bukan karena ia tersentuh.
Justru karena kalimat itu menegaskan semuanya.
“Jadi benar?”
Rendy duduk.
“Aku salah.”
“Siapa yang membuat tanda tanganku?”
Rendy diam.
“Jawab.”
“Aku menyuruh seseorang menyalinnya.”
Maya merasa ada sesuatu yang runtuh dalam dirinya.
Bukan cinta.
Cinta itu sudah runtuh tadi malam.
Yang hancur kali ini adalah ingatan tentang Rendy yang selama bertahun-tahun ia percaya sebagai orang baik.
“Kenapa?”
“Mama mendesak.”
“Jangan lempar ke ibumu.”
Maya menatapnya lurus.
“Aku dengar sendiri bahwa ide menjaminkan apartemen itu pertama kali datang darimu.”
Rendy menunduk.
Ratna tidak menyela.
Ruangan menjadi sunyi.
“Aku terdesak,” akhirnya Rendy berkata.
“Papa hampir kehilangan perusahaan. Bank tidak mau memberi tambahan kredit tanpa jaminan baru. Apartemenmu aset paling mudah.”
Maya tertawa kecil karena tidak percaya.
“Aset paling mudah?”
“Aku pikir setelah kita menikah, semuanya akan jadi milik bersama.”
Ratna langsung menatap Rendy.
“Itu pemahaman hukum yang sangat keliru.”
Rendy tidak mempedulikannya.
Ia menatap Maya.
“Kita akan menikah. Aku pikir kamu pasti mau membantu.”
“Kalau kamu yakin aku mau, kenapa kamu tidak bertanya?”
Rendy membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Maya melanjutkan.
“Karena kamu tahu aku mungkin menolak.”
Rendy mengepalkan tangannya di lutut.
“Aku takut.”
“Kamu takut aku menolak, jadi kamu memilih menipuku?”
“Aku mencintaimu.”
Maya menatapnya lama.
Kemudian berkata perlahan, “Orang yang mencintai seseorang tidak mempersiapkan jerat hukum tiga minggu sebelum menikahinya.”
Wajah Rendy berubah.
“Kita bisa memperbaiki ini.”
“Tidak.”
“Aku akan hapus dokumennya.”
“Sudah terlambat.”
“Aku akan bicara dengan Mama.”
“Bukan cuma tentang ibumu.”
Maya berdiri.
“Masalahnya adalah aku hampir menikah dengan seseorang yang menganggap kepercayaanku sebagai celah.”
Rendy ikut berdiri.
“Maya, semua tamu menunggu.”
Maya tersenyum pahit.
“Masih memikirkan tamu?”
“Aku cuma tidak ingin semuanya berakhir seperti ini.”
“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum meniru tanda tanganku.”
Ponsel Rendy tiba-tiba berbunyi.
Nama “Mama” terlihat jelas di layar.
Rendy tidak mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian pesan masuk.
Maya tidak bisa membaca seluruh isi pesan, tetapi satu baris terlihat dari layar notifikasi.
“Pastikan dia jangan sampai lapor polisi.”
Maya melihatnya.
Rendy langsung membalik ponsel.
Terlambat.
Ratna juga sempat melihat.
Wajah Rendy memucat.
“Maya…”
Maya menggeleng.
Untuk pertama kalinya pagi itu, air matanya jatuh.
Bukan banyak.
Hanya satu garis tipis melewati pipinya.
“Aku pernah berpikir kehilanganmu akan menjadi hal paling menyakitkan dalam hidupku.”
Ia mengusap air mata itu.
“Ternyata yang lebih menyakitkan adalah mengetahui bahwa orang yang selama ini kupikir mencintaiku sebenarnya sedang menghitung berapa harga yang bisa ia dapat dari kepercayaanku.”
Rendy tidak mengatakan apa-apa lagi.
Pukul sepuluh tepat, waktu ketika prosesi akad seharusnya dimulai, Maya mengirim satu pesan ke grup keluarga besar kedua pihak.
“Pernikahan hari ini dibatalkan. Saya menemukan dokumen hukum yang menggunakan tanda tangan saya tanpa persetujuan saya dan terkait dengan aset pribadi saya. Masalah ini sedang ditangani secara resmi. Saya mohon semua pihak menghormati keputusan saya dan tidak menyebarkan spekulasi.”
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada drama.
Tidak ada tuduhan emosional.
Namun pesan itu cukup.
Telepon Maya kembali penuh.
Ia mematikan ponselnya.
Sore harinya, ditemani Ratna, Maya kembali ke apartemen Ibu Herlina.
Bukan untuk bertengkar.
Bukan untuk meminta penjelasan.
Hanya untuk mengambil satu benda.
Kain batik peninggalan ibunya.
Ibu Herlina membuka pintu dengan wajah sembap.
“Jadi kamu benar-benar tega mempermalukan keluarga kami?”
Maya tidak menjawab.
Ia berjalan menuju kursi ruang tamu.
Batik cokelat keemasan itu masih terlipat di sana.
Maya mengambilnya dengan hati-hati.
Ibu Herlina berdiri di belakangnya.
“Kalau kamu menikah dengan Rendy, cepat atau lambat kamu juga bagian dari keluarga ini. Salahkah kalau keluarga meminta bantuan?”
Maya berhenti.
Ia menoleh.
“Meminta bantuan tidak salah.”
Tatapannya tenang.
“Memalsukan tanda tangan seseorang bukan meminta bantuan.”
Ibu Herlina terdiam.
Maya melipat batik itu dan memeluknya ke dada.
Kemudian ia pergi.
Enam bulan setelah hari pernikahan yang dibatalkan itu, penyelidikan terhadap beberapa dokumen dan transaksi perusahaan keluarga Rendy masih berjalan.
Maya tidak pernah bertemu Rendy lagi.
Ia hanya mendengar bahwa perusahaan keluarganya akhirnya menjual dua proyek dan beberapa aset untuk membayar sebagian utang.
Nadia pindah dari apartemen mewahnya.
Ibu Herlina menutup hampir seluruh akun media sosial.
Namun ada satu hal yang tidak pernah diketahui Rendy.
Pada hari ketika mereka seharusnya menikah, Maya sebenarnya telah menyiapkan sebuah kejutan.
Sebelum semua itu terjadi, ia berniat memberikan sebagian kepemilikan apartemen di Menteng kepada Rendy setelah lima tahun pernikahan.
Bukan karena diminta.
Bukan karena dibujuk.
Melainkan karena ia ingin membangun masa depan bersama lelaki yang ia percayai.
Dokumen rencana tersebut sudah disiapkan oleh Pak Arif beberapa minggu sebelumnya.
Ketika suatu hari Pak Arif bertanya apakah dokumen itu ingin dimusnahkan, Maya hanya tersenyum.
“Ya, Pak.”
“Yakin?”
Maya mengangguk.
“Dulu saya pikir cinta berarti memberikan semuanya.”
Ia menatap kain batik ibunya yang kini dibingkai dan tergantung di ruang kerja.
“Sekarang saya tahu, cinta yang sehat tidak pernah meminta kita menyerahkan kemampuan untuk melindungi diri sendiri.”
Pak Arif tersenyum tipis.
Sebelum pulang, Maya berdiri cukup lama di depan kain batik tersebut.
Ia mengingat lagi pesan ibunya.
Kalau suatu hari kamu mulai lupa siapa dirimu, pakailah kain ini.
Maya menyentuh permukaan kaca bingkai itu perlahan.
Malam sebelum pernikahan, ia memang gagal membawa pulang kain tersebut.
Namun justru karena kembali untuk mencarinya, ia berhasil membawa pulang sesuatu yang jauh lebih penting.
Dirinya sendiri.
