Aku menatap Dimas cukup lama sampai suara-suara di koridor rumah sakit seperti menghilang.
“Bunda sebenarnya lihat.”
Empat kata itu terus terngiang di kepalaku.
Aku duduk di tepi ranjangnya. “Dimas, Om mau tanya sesuatu. Kamu enggak perlu takut. Kakimu patah karena jatuh?”
Dimas tidak menjawab.
Tangannya justru menarik selimut sampai ke dada.

Aku tidak memaksanya.
“Kalau belum mau cerita, enggak apa-apa.”
Entah kenapa, kalimat itu membuat matanya berkaca-kaca.
“Om enggak marah?”
“Enggak.”
“Kalau aku bikin salah?”
“Om tetap enggak akan mengunci kamu.”
Bibirnya bergetar.
Lalu tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
“Bunda dorong aku.”
Dadaku terasa sesak.
Dimas bercerita terbata-bata.
Tiga malam sebelumnya, Naya menangis karena lapar. Sejak siang mereka hanya mendapat roti tawar. Dimas keluar dari kamar dan mengambil sebungkus mi dari dapur.
Reena memergokinya.
Ia menarik tangan Dimas dan memarahinya karena mencuri makanan.
“Aku bilang buat Naya,” bisik Dimas.
“Lalu?”
“Bunda bilang Naya harus belajar enggak manja.”
Dimas mencoba mempertahankan mi itu.
Reena merebutnya.
Dalam tarik-menarik itulah Reena mendorong Dimas.
Tubuh kecilnya jatuh dari tiga anak tangga menuju area belakang rumah.
Kakinya tertekuk.
Dimas langsung tahu ada yang salah karena ia tidak bisa berdiri.
“Tapi Bunda bilang aku pura-pura.”
Aku menahan napas agar tidak menunjukkan kemarahan di depan anak itu.
“Setelah itu kamu dibawa ke dokter?”
Dimas menggeleng.
“Bunda bawa aku ke gudang.”
Bersama Naya.
Reena memberi satu botol air dan beberapa keping biskuit.
Katanya mereka baru boleh keluar jika Dimas bisa berdiri sendiri.
Selama tiga hari, Dimas mencoba.
Bukan untuk dirinya.
Untuk Naya.
Setiap kali adiknya menangis meminta makan, ia mencengkeram dinding dan berusaha berdiri.
Setiap kali mencoba, rasa sakit membuatnya jatuh lagi.
Sampai pagi itu Dimas melihat jendela kecil gudang tidak tertutup sempurna.
Ia menumpuk ember dan kotak plastik, lalu mendorong Naya keluar lebih dulu.
Setelah itu ia memanjat dengan satu kaki.
Mereka tidak tahu harus pergi ke mana.
Namun Dimas masih mengingat rumahku.
“Ayah dulu bilang kalau ada apa-apa cari Om Arif.”
Aku menundukkan kepala.
Aku tidak ingin dia melihat air mataku.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun aku percaya Raka meninggalkan dunia dengan hubungan kami yang baik-baik saja.
Ternyata setelah kematiannya, seseorang perlahan menghapusku dari kehidupan anak-anaknya.
Dan lebih buruk lagi, orang yang sama membuat anak-anak itu percaya aku ikut menyebabkan kematian ayah mereka.
Siang itu polisi menemukan Reena.
Ia berada di sebuah hotel di kawasan Puncak bersama seorang laki-laki bernama Yoga.
Ketika dibawa ke kantor polisi, Reena menyangkal semuanya.
Ia mengatakan Dimas anak yang sulit diatur dan sering melukai dirinya sendiri.
Tentang gudang, ia menyebutnya tempat anak-anak bermain.
Tentang kelaparan, katanya Dimas memang susah makan.
Namun satu demi satu kebohongannya mulai runtuh.
Dokter menemukan tanda kekurangan gizi pada Naya.
Pada tubuh Dimas terdapat beberapa memar dengan usia berbeda.
Tetangga di belakang rumah juga mengaku beberapa kali mendengar tangisan anak dari arah gudang.
Yang paling mengejutkan justru datang dari seorang perempuan tua bernama Bu Ratih yang tinggal dua rumah dari Reena.
“Saya pernah lihat Dimas di jendela kecil belakang,” katanya kepada polisi.
“Kapan?”
“Sekitar dua bulan lalu.”
“Kenapa Ibu tidak melapor?”
Wajah Bu Ratih langsung berubah penuh rasa bersalah.
“Saya tanya ibunya. Katanya Dimas suka masuk ke sana kalau sedang bermain.”
Berarti gudang itu sudah digunakan jauh sebelum kaki Dimas patah.
Polisi kemudian memeriksa puluhan garis pensil di dinding.
Dimas mengaku membuatnya setiap kali mereka dikunci.
Satu garis untuk satu malam.
Jumlahnya empat puluh tiga.
Aku hampir tidak sanggup mendengarnya.
Tetapi penyelidikan belum berhenti.
Map yang ditemukan polisi ternyata jauh lebih penting daripada yang kami kira.
Di dalamnya terdapat beberapa salinan surat tulisan tangan Raka.
Aku mengenali tulisan adikku.
Salah satunya ditujukan kepadaku.
Arif,
Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku, tolong jaga Dimas dan Naya. Aku tahu selama ini kita sering berbeda pendapat, tapi aku tidak pernah meragukanmu sebagai kakakku.
Tanganku gemetar ketika membaca kalimat itu.
Surat tersebut tidak pernah sampai kepadaku.
Di bawahnya ada surat lain.
Kali ini surat yang konon ditulis Raka untuk Reena.
Isinya sangat berbeda.
Di sana tertulis bahwa Raka tidak ingin aku mendekati anak-anak karena aku dianggap membenci keluarganya.
Sekilas tulisan tangannya mirip.
Terlalu mirip.
Namun ketika polisi menyerahkannya kepada pemeriksa dokumen, hasilnya mengejutkan.
Surat kedua palsu.
Seseorang meniru tulisan tangan Raka.
Aku mulai memahami apa yang terjadi.
Reena bukan hanya menjauhkan anak-anak dariku setelah Raka meninggal.
Ia telah mempersiapkan kebohongan itu sejak lama.
Pertanyaannya hanya satu.
Kenapa?
Jawabannya muncul dari dokumen asuransi.
Raka memiliki polis asuransi jiwa dengan nilai cukup besar. Selain Reena sebagai penerima manfaat utama, ada dana pendidikan yang dikhususkan untuk Dimas dan Naya.
Dana itu tidak bisa digunakan sembarangan.
Dalam dokumen awal, aku tercatat sebagai wali pengawas kedua apabila Raka meninggal.
Namun beberapa bulan sebelum kematiannya, namaku dihapus.
Sebagai gantinya tercantum nama Reena seorang diri.
Aku yakin tidak pernah menandatangani persetujuan apa pun.
Pemeriksaan berikutnya menemukan tanda tanganku dipalsukan.
Ketika polisi menelusuri transaksi, sebagian dana pendidikan anak-anak ternyata sudah ditarik menggunakan dokumen yang diduga dimanipulasi.
Uangnya mengalir ke beberapa rekening.
Salah satunya milik Yoga.
Laki-laki yang ditemukan bersama Reena di hotel.
Namun ada satu pertanyaan yang membuatku tidak bisa tidur.
Mengapa Raka percaya aku membenci anak-anaknya?
Jawabannya datang dari tempat yang tidak pernah kuduga.
Sebuah ponsel lama ditemukan di antara barang-barang Raka.
Telepon itu sudah rusak, tetapi teknisi berhasil memulihkan sebagian percakapan.
Ada pesan-pesan yang dikirim dari nomor yang terlihat seperti milikku.
Isinya membuat perutku mual.
Jangan pernah bawa anak-anakmu ke rumahku.
Sejak menikah dengan Reena, kamu bukan adikku lagi.
Kalau terjadi sesuatu padamu, jangan harap aku mengurus mereka.
Raka membalas berkali-kali.
Mas, kenapa kamu bicara seperti ini?
Aku tidak pernah menerima jawabannya.
Karena pesan itu tidak pernah berasal dariku.
Nomor tersebut adalah kartu prabayar yang disimpan menggunakan namaku dalam kontak Raka.
Seseorang sengaja berpura-pura menjadi aku.
Dan selama berbulan-bulan, Raka percaya kakaknya sendiri membencinya.
Aku duduk di mobil setelah keluar dari kantor polisi dan menangis seperti anak kecil.
Bukan hanya karena apa yang terjadi kepada Dimas dan Naya.
Aku menangisi adikku.
Aku membayangkan hari-hari terakhirnya.
Mungkin ia ingin meneleponku tetapi mengurungkan niat.
Mungkin ia memandang foto kami dan bertanya-tanya bagaimana kakak yang dulu melindunginya bisa berubah begitu kejam.
Padahal aku tidak pernah meninggalkannya.
Seseorang hanya membuat kami percaya bahwa kami telah meninggalkan satu sama lain.
Seminggu kemudian kondisi Dimas mulai membaik.
Kakinya sudah ditangani dan dokter mengatakan peluangnya pulih sangat baik.
Naya juga mulai makan dengan lebih teratur.
Untuk sementara, keduanya ditempatkan di bawah perlindungan dan aku mengajukan diri sebagai wali keluarga.
Malam pertama mereka diperbolehkan menginap bersamaku, aku menyiapkan kamar bekas ruang kerjaku.
Ada dua tempat tidur kecil.
Lampu tidur berbentuk bulan.
Beberapa buku gambar.
Dimas berdiri menggunakan kruk di depan pintu.
“Ini kamar siapa?”
“Kamar kalian.”
Ia terdiam.
“Kalau kami nakal?”
Aku tahu pertanyaan itu akan datang.
Aku berjongkok di depannya.
“Kalau kamu melakukan kesalahan, kita bicara.”
“Enggak dikunci?”
“Enggak.”
“Enggak boleh makan?”
“Kamu tetap makan.”
Dimas memandang Naya.
Seolah sedang memastikan adiknya juga mendengar jawabanku.
Malam itu aku menemukan sesuatu yang menghancurkan hatiku.
Aku membuka lemari untuk mengambil selimut dan melihat beberapa biskuit disembunyikan di belakang bantal.
Aku tahu siapa yang melakukannya.
Aku tidak membuangnya.
Besok paginya aku justru membeli sebuah kotak kecil dan meletakkannya di meja kamar.
Aku mengisinya dengan roti, biskuit, dan beberapa makanan ringan.
“Kalian boleh ambil kapan saja kalau lapar.”
Dimas menatap kotak itu cukup lama.
“Enggak perlu izin?”
“Enggak.”
Hari-hari berikutnya, perlahan-lahan mereka mulai berubah.
Naya mulai tertawa.
Dimas mulai bertanya banyak hal.
Ia suka memperhatikan aku memperbaiki barang dan selalu ingin memegang obeng.
Namun setiap kali mendengar pintu dibanting, tubuhnya masih tersentak.
Setiap kali lampu mati mendadak, Naya langsung mencari kakaknya.
Luka di tubuh mereka bisa sembuh lebih cepat daripada luka yang tidak terlihat.
Kasus Reena terus berjalan.
Dengan bukti medis, kesaksian, dokumen keuangan, pemalsuan, dan kondisi gudang, penyangkalannya semakin sulit dipertahankan.
Yoga akhirnya memilih bekerja sama dengan penyidik.
Dari keterangannya muncul fakta terakhir.
Dan fakta itulah yang paling mengejutkanku.
Ternyata beberapa minggu sebelum meninggal, Raka mulai curiga.
Ia menemukan transaksi mencurigakan dan menyadari hubungan Reena dengan Yoga.
Raka berniat mengubah seluruh pengaturan perwalian anak.
Ia ingin menempatkan aku sebagai wali utama jika sesuatu terjadi kepadanya.
Pada malam sebelum kematiannya, Raka bahkan sempat merekam pesan suara.
Rekaman itu tersimpan otomatis di penyimpanan ponselnya.
Aku mendengarnya di kantor polisi.
Suara adikku terdengar lelah.
“Mas Arif, kalau kamu suatu hari dengar ini, mungkin aku sudah terlambat memperbaiki semuanya. Aku enggak tahu kenapa kamu begitu marah sama aku. Tapi kalau semua pesan itu benar, aku tetap mau bilang satu hal. Dimas sama Naya enggak salah apa-apa. Kalau aku enggak ada, tolong jangan benci mereka karena kesalahanku.”
Aku menutup mulut.
Namun rekaman belum selesai.
Ada suara pintu terbuka.
Raka berhenti bicara.
Kemudian terdengar suara Reena.
“Kamu masih mau menyerahkan anak-anak ke kakakmu?”
Raka menjawab pelan.
“Aku mulai curiga pesan-pesan itu bukan dari Mas Arif.”
Setelah itu rekaman berhenti.
Polisi tidak menyimpulkan kematian Raka disebabkan tindak pidana hanya berdasarkan rekaman tersebut. Catatan medis lama tetap menunjukkan serangan jantung sebagai penyebab kematiannya, dan tidak ada bukti yang cukup untuk mengatakan sebaliknya.
Namun bagiku, satu hal sudah berubah selamanya.
Raka meninggal bukan dengan membenciku.
Pada akhirnya ia mulai menyadari kebenaran.
Beberapa bulan kemudian, aku membawa Dimas dan Naya ke makam ayah mereka.
Kaki Dimas sudah pulih cukup baik. Ia masih berjalan sedikit hati-hati, tetapi tidak membutuhkan kruk lagi.
Ia meletakkan bunga di atas makam.
“Ayah,” katanya, “sekarang aku tinggal sama Om Arif.”
Naya ikut berjongkok dan meletakkan bunga kecilnya.
Aku berdiri di belakang mereka.
Lalu Dimas menoleh.
“Om.”
“Ya?”
“Ayah dulu bohong enggak waktu bilang Om bakal nolong kami?”
Aku menggeleng.
“Enggak.”
“Berarti Ayah benar.”
Aku tidak sanggup menjawab.
Dimas menggenggam tangan Naya, lalu tangan kiriku.
Di perjalanan pulang, ia tertidur di kursi belakang sambil memeluk adiknya.
Aku melihat mereka melalui kaca spion.
Anak yang beberapa bulan lalu menyeret kaki patahnya hampir satu kilometer itu akhirnya bisa tidur tanpa takut pintu akan dikunci dari luar.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Selama ini aku terus memikirkan hampir satu kilometer yang ditempuh Dimas menuju rumahku.
Aku menganggapnya perjalanan terberat dalam hidupnya.
Ternyata aku salah.
Perjalanan terpanjang Dimas bukan dari gudang menuju rumahku.
Melainkan dari keyakinan bahwa dirinya pantas dihukum menuju keberanian untuk percaya bahwa dirinya pantas dicintai.
Dan mungkin tugasku sekarang bukan membuatnya melupakan empat puluh tiga garis di dinding itu.
Melainkan memastikan bahwa mulai hari ini, ia tidak perlu lagi menghitung berapa lama sampai seseorang datang menyelamatkannya.
Karena kali ini, dia sudah pulang.
