Suaminya Pulang Setelah Pemakaman Putra Mereka, Tapi Laras Hanya Meminta Cerai Sebelum Waktunya Habis

Aditya berdiri di ambang pintu dengan napas berat. Pandangannya berpindah dari wajah Laras ke lembaran dokumen di tangannya.

“Kamu mau pergi ke mana?”

Laras tidak langsung menjawab.

Bu Ratna berdiri perlahan, tetapi belum sempat berkata apa-apa ketika Aditya melangkah maju dan merebut dokumen itu dari tangan Laras.

Matanya menyapu halaman pertama.

Ekspresinya berubah.

“Perceraian?”

Suaranya terdengar seperti tidak percaya.

Aditya membalik beberapa halaman dengan cepat. Kemudian ia melihat tanda tangannya sendiri di bagian akhir.

“Apa-apaan ini?”

Laras menatapnya tenang.

“Kamu sudah menandatanganinya.”

“Aku menandatangani banyak dokumen setiap hari. Mana aku tahu ada surat seperti ini di antara semuanya?”

“Karena kamu tidak pernah merasa perlu membaca apa pun yang berhubungan denganku.”

Kalimat Laras tidak keras.

Justru ketenangan itu membuat dada Aditya terasa tertusuk.

Ia menatap istrinya beberapa detik sebelum meremas dokumen tersebut.

“Aku tidak setuju.”

Laras mengernyit tipis.

“Kamu sudah tanda tangan.”

“Aku bisa membatalkannya.”

Aditya melemparkan kertas itu ke atas meja.

“Kamu pikir perceraian semudah itu?”

Laras tersenyum samar.

“Aku pikir seharusnya jauh lebih mudah untukmu. Bukankah selama ini kamu memang tidak ingin menjadi suamiku?”

Wajah Aditya menegang.

Bu Ratna segera menyela.

“Aditya, cukup.”

Namun Aditya seolah tidak mendengar.

“Apa maksudmu?”

Laras menatapnya lurus untuk pertama kalinya sejak ia pulang dari Islandia.

“Aku mendengar percakapanmu dengan Ibu dua tahun lalu.”

Ruangan seketika hening.

Wajah Bu Ratna memucat.

Aditya membeku.

Laras melanjutkan dengan suara datar.

“Kamu bilang setelah aku melahirkan Arka, kamu tidak perlu lagi berpura-pura menjadi suami yang baik.”

Untuk pertama kalinya, Aditya tidak memiliki jawaban.

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Laras tersenyum kecil.

“Jadi sebenarnya aku hanya sedang mengembalikan kebebasanmu.”

“Laras…”

“Aku lelah.”

Dua kata itu membuat Aditya terdiam.

Laras menurunkan pandangan.

“Aku terlalu lama berusaha menjadi istri yang pantas untukmu. Aku mencoba memahami hubunganmu dengan Citra. Aku berusaha percaya ketika kamu bilang aku terlalu sensitif. Bahkan setiap kali kamu meninggalkan aku sendirian, aku selalu mencari alasan supaya aku tidak membencimu.”

Ia menarik napas perlahan.

“Tapi sekarang aku tidak punya alasan lagi.”

“Karena Arka?”

Pertanyaan Aditya terdengar lebih pelan.

Laras menatapnya.

“Bukan hanya karena Arka.”

Aditya mengepalkan tangan.

“Aku tahu aku salah karena pergi. Tapi kecelakaan itu bukan sesuatu yang aku inginkan.”

“Benar.”

Laras mengangguk.

“Kamu tidak menginginkannya.”

Kemudian suaranya bergetar untuk pertama kalinya.

“Tapi Arka berlari ke jalan karena mencari kamu.”

Aditya seolah kehilangan napas.

“Apa?”

Bu Ratna menutup mata.

Laras menatap lantai.

“Hari itu aku pingsan.”

Aditya langsung menoleh kepada ibunya.

“Apa maksudnya?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Laras melanjutkan.

“Arka melihatku tidak sadarkan diri. Dia takut. Dia memanggil pelayan, tapi saat itu orang-orang di rumah utama sedang sibuk menyiapkan acara keluarga. Tidak ada yang mendengarnya.”

Tangannya mulai gemetar.

“Jadi Arka keluar sendiri.”

Aditya mundur satu langkah.

“Dia mencari aku?”

Laras tersenyum pahit.

“Dia mencari ayahnya.”

Aditya menatapnya tanpa berkedip.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Laras tertawa kecil.

Suara itu begitu rapuh sehingga terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.

“Kapan?”

Aditya terdiam.

“Kapan aku harus mengatakannya?”

Laras menatapnya.

“Saat kamu berada di pesawat menuju Islandia? Saat ponselmu dimatikan? Saat aku menghubungi asistennmu dan dia mengatakan tidak boleh mengganggumu karena Citra sedang butuh ketenangan?”

Wajah Aditya berubah pucat.

“Aku tidak tahu.”

“Ya.”

Laras mengangguk.

“Kamu memang tidak tahu.”

Saat itulah pintu terbuka.

Citra masuk dengan wajah cemas.

“Kak Aditya, kenapa lama sekali?”

Begitu melihat suasana di ruangan itu, langkahnya terhenti.

Aditya menatapnya.

Untuk pertama kalinya, tatapan itu membuat Citra terlihat gugup.

“Kak?”

Aditya berjalan mendekat.

“Waktu Laras menelepon saat kita di Islandia, kamu tahu?”

Citra membeku.

“Aku… mana mungkin aku tahu?”

Aditya menatapnya tajam.

“Jawab.”

Nada suaranya berubah dingin.

Citra tertawa kecil dengan gugup.

“Mungkin asisten Kakak pernah bilang ada telepon dari rumah. Tapi saat itu aku sedang tidak stabil. Kakak sendiri bilang tidak mau diganggu.”

Aditya merasa jantungnya berdegup semakin keras.

“Berapa kali?”

Citra tidak menjawab.

“Berapa kali Laras mencoba menghubungiku?”

Bu Ratna berdiri.

“Aditya.”

Namun Aditya tetap menatap Citra.

Akhirnya perempuan itu menjawab pelan.

“Beberapa kali.”

“Berapa?”

“Entahlah.”

Aditya langsung mengeluarkan ponselnya.

Ia menelepon asistennya.

Percakapan itu tidak berlangsung lama.

Ketika sambungan berakhir, wajah Aditya sudah benar-benar kehilangan warna.

Dua puluh tiga panggilan.

Sebelas pesan suara.

Semuanya tidak pernah sampai kepadanya.

Karena Citra meminta asistennya menahan semua urusan keluarga selama mereka berada di Islandia.

Aditya menatap Citra.

“Kamu yang menyuruhnya?”

Citra mulai menangis.

“Aku cuma ingin Kakak benar-benar istirahat. Kakak sudah janji perjalanan itu untukku.”

“Putraku meninggal.”

Suara Aditya terdengar begitu rendah.

Citra tersentak.

“Aku tidak tahu akan terjadi seperti itu.”

“Tapi kamu tahu Laras berkali-kali menghubungi.”

“Aku pikir dia cuma mencari alasan supaya Kakak pulang.”

Laras memejamkan mata.

Anehnya, ia tidak merasa marah.

Semua itu sudah tidak penting.

Aditya tiba-tiba membanting ponselnya ke meja.

“Keluar.”

Citra menatapnya tidak percaya.

“Kak Aditya?”

“Aku bilang keluar.”

Air mata Citra mengalir.

“Kakak mau marah padaku karena dia?”

Aditya memandangnya dengan tatapan yang belum pernah Laras lihat sebelumnya.

“Karena anakku meninggal sementara aku sibuk memenuhi keinginanmu.”

Citra terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia berbalik dan berlari keluar.

Namun sebelum pintu tertutup, Laras berkata pelan.

“Tidak ada gunanya menyalahkan dia.”

Aditya menoleh.

“Dia memang bersalah. Tapi kamu juga memilih untuk tidak tahu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada apa pun.

Aditya berdiri kaku.

Laras kemudian mengambil kembali dokumen perceraian di meja.

“Aku akan pergi tiga hari lagi.”

“Tidak.”

Aditya menjawab cepat.

“Kamu tidak akan pergi.”

Laras tampak lelah.

“Aditya, aku bukan milikmu.”

“Kamu istriku.”

“Tidak lama lagi.”

“Aku tidak akan membiarkan perceraian ini selesai.”

Laras menatapnya lama.

Kemudian ia berkata,

“Kalau begitu, percepat saja.”

Aditya mengernyit.

“Apa?”

Laras tidak menjawab.

Bu Ratna tiba-tiba memalingkan wajah.

Saat itulah Aditya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

Ia menatap ibunya.

“Ibu?”

Bu Ratna diam.

“Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?”

Laras mencoba berdiri.

Namun begitu kakinya menapak lantai, tubuhnya oleng.

Aditya refleks menangkapnya.

Untuk sesaat, Laras berada di pelukannya.

Tubuh perempuan itu terasa begitu ringan.

Terlalu ringan.

Aditya baru menyadari betapa kurusnya Laras.

“Hati-hati.”

Laras segera menjauh.

“Aku bisa sendiri.”

Namun saat ia melangkah, darah tipis tiba-tiba mengalir dari hidungnya.

Aditya membeku.

“Laras.”

Perempuan itu mengusap darah tersebut dengan punggung tangan seperti sesuatu yang biasa.

Tatapan Aditya berubah.

“Apa ini?”

“Bukan apa-apa.”

Ia berusaha berjalan lagi.

Aditya menangkap pergelangan tangannya.

“Kamu sakit?”

Laras tidak menjawab.

“Laras, aku tanya kamu sakit apa?”

Bu Ratna akhirnya berkata,

“Tumor otak.”

Waktu seakan berhenti.

Aditya perlahan menoleh.

“Apa?”

Bu Ratna menahan air mata.

“Stadium akhir.”

Tangan Aditya terlepas dari Laras.

“Tidak mungkin.”

“Dokter memperkirakan satu bulan.”

Aditya tertawa pendek.

Tawa yang penuh ketidakpercayaan.

“Jangan bercanda.”

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Ia menatap Laras.

Perempuan itu hanya berdiri diam.

“Sejak kapan?”

“Sudah beberapa waktu.”

“Dan kamu tidak bilang padaku?”

Laras menatapnya tanpa emosi.

“Aku pernah ingin bilang.”

Aditya terdiam.

Jawaban itu membuat semua alasan yang hendak ia ucapkan mati di tenggorokan.

Ia teringat semua telepon yang diabaikannya.

Semua malam ketika Laras menunggu.

Semua pemeriksaan kehamilan yang ia lewatkan.

Semua kali ia memilih Citra karena menganggap Laras akan selalu ada.

Ternyata Laras tidak akan selalu ada.

“Aku akan cari dokter terbaik.”

Aditya langsung mengambil ponselnya.

“Kita ke Singapura. Atau Amerika. Aku akan hubungi siapa pun.”

“Tidak perlu.”

Aditya berhenti.

“Apa maksudmu tidak perlu?”

“Aku sudah memutuskan.”

“Kamu mau mati begitu saja?”

Nada suaranya meninggi.

Laras menatapnya.

“Aku sudah menjalani semua perawatan yang mungkin.”

“Kita belum mencoba semuanya.”

“Aku capek, Aditya.”

Untuk pertama kalinya, suara Laras benar-benar pecah.

“Aku capek sakit. Aku capek kehilangan. Aku capek berharap.”

Air mata jatuh dari sudut matanya.

“Aku cuma ingin menghabiskan sisa waktuku bersama Arka.”

Aditya memandangnya lama.

Lalu tanpa diduga, ia berlutut.

Bu Ratna terkejut.

Laras juga membeku.

Aditya menggenggam tangannya.

“Jangan pergi.”

Suaranya bergetar.

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

Laras menatap laki-laki yang dahulu pernah berlutut di hadapannya sambil membawa cincin.

Dulu ia mengira saat itu adalah awal kebahagiaannya.

Sekarang Aditya kembali berlutut.

Namun perasaan Laras sudah tidak sama.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa diperbaiki.”

Ia menarik tangannya perlahan.

“Arka tidak bisa kembali.”

Aditya menunduk.

“Dan aku juga tidak bisa kembali menjadi Laras yang dulu.”

Tiga hari kemudian, Laras pergi.

Ia membawa abu Arka ke sebuah rumah kecil di daerah pegunungan Jawa Barat yang dahulu pernah dikunjungi bersama putranya.

Tidak ada yang memberi tahu Aditya alamatnya.

Bu Ratna menepati janji.

Aditya mencarinya ke mana-mana.

Namun Laras memang tidak ingin ditemukan.

Dua minggu kemudian, Aditya menerima sebuah paket.

Di dalamnya hanya ada satu buku gambar milik Arka.

Pada halaman terakhir, terdapat gambar tiga orang sedang bergandengan tangan.

Mama.

Arka.

Ayah.

Di bawah gambar itu, ada tulisan anak-anak yang tidak rapi.

Kalau Ayah pulang, kita pergi lihat gunung bersama.

Aditya duduk di lantai berjam-jam sambil memegang buku itu.

Untuk pertama kalinya sejak dewasa, ia menangis seperti seorang anak kecil.

Sebulan berlalu.

Tidak ada kabar.

Hingga suatu pagi, Bu Ratna menerima telepon.

Aditya melihat wajah ibunya berubah.

“Ibu tahu Laras di mana?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aditya merampas ponselnya.

Namun suara di ujung sana bukan suara dokter.

Itu suara Laras.

Aditya membeku.

“Laras?”

Hening beberapa detik.

Kemudian terdengar suara lemah.

“Aku masih hidup.”

Aditya menutup mata.

Air matanya langsung jatuh.

“Kamu di mana?”

“Aku tidak akan bilang.”

“Laras…”

“Aku cuma menelepon karena ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aditya menahan napas.

Laras melanjutkan.

“Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan tumornya mengecil.”

Aditya membuka mata.

“Apa?”

“Dokter bilang diagnosis awal mengenai sisa waktuku terlalu pesimistis. Perawatanku memberikan respons yang tidak mereka duga.”

Tangannya gemetar.

“Kamu akan sembuh?”

“Aku belum tahu.”

Aditya tertawa sekaligus menangis.

“Aku akan datang. Di mana kamu?”

Namun jawaban Laras justru membuatnya terdiam.

“Tidak.”

“Laras.”

“Aku menelepon bukan untuk mengajakmu kembali.”

Suara perempuan itu tenang.

“Aku hanya tidak ingin suatu hari kamu mengetahui aku masih hidup dan mengira aku sengaja membuatmu merasa bersalah.”

Aditya menggenggam ponsel.

“Kalau kamu masih hidup, beri aku kesempatan.”

“Kesempatan untuk apa?”

“Menjadi suamimu lagi.”

Hening cukup lama.

Kemudian Laras berkata,

“Kamu masih belum mengerti.”

Aditya tidak menjawab.

“Aku ingin hidup bukan supaya bisa kembali kepadamu.”

Suara Laras terdengar lebih kuat.

“Aku ingin hidup karena akhirnya aku tahu hidupku adalah milikku sendiri.”

Sambungan terputus.

Aditya mencoba menelepon kembali.

Nomornya sudah tidak aktif.

Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai.

Aditya tidak pernah melihat Laras lagi.

Sampai tiga tahun setelah kematian Arka, ia menghadiri acara pembukaan sebuah yayasan untuk membantu ibu tunggal dan anak-anak korban kecelakaan.

Di atas panggung berdiri seorang perempuan berambut pendek.

Tubuhnya lebih sehat.

Wajahnya masih menyimpan bekas perjalanan panjang, tetapi matanya hidup.

Laras.

Aditya berdiri di antara kerumunan.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada cinta.

Laras hanya mengangguk kecil.

Kemudian ia kembali berbicara kepada orang-orang di hadapannya.

Di belakang panggung terdapat sebuah foto Arka.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

Kehilangan seseorang tidak selalu menjadi akhir hidup kita. Kadang, justru dari kehilangan itulah kita belajar untuk akhirnya memilih hidup.

Aditya membaca kalimat itu lama.

Lalu untuk pertama kalinya, ia mengerti.

Penyesalan memang bisa mengubah seseorang.

Namun tidak semua perubahan berhak meminta kesempatan kedua.

Kadang, satu-satunya bentuk cinta yang tersisa adalah membiarkan seseorang pergi dan menerima bahwa hidupnya akan jauh lebih baik tanpa kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang