KETIKA AKU DILARIKAN KE RUANG OPERASI DARURAT, KETIGA ANAKKU DIAM-DIAM MENYIAPKAN SURAT PENGAMPUAN UNTUK MEREBUT RUMAHKU.

Lampu ruang operasi terasa menyilaukan ketika Ratna dipindahkan dari ranjang dorong ke meja operasi. Udara di ruangan itu dingin, tetapi telapak tangannya basah oleh keringat.

Baju bayi kuning yang sejak pagi digenggamnya akhirnya diambil seorang perawat.

“Boleh saya simpan ini untuk Ibu?” tanyanya lembut.

Ratna menatap pakaian kecil itu cukup lama sebelum mengangguk.

“Tolong jangan dibuang.”

“Tidak akan, Bu.”

Saat dokter anestesi memasang masker oksigen, pikiran Ratna bukan lagi tertuju pada tumor di dalam tubuhnya. Bisikan Maya dan Hendra terus berputar di kepalanya.

Pengampuan.

Pembeli.

Rumah.

Tiga kata itu jauh lebih menyakitkan daripada jarum infus yang menusuk tangannya.

Beberapa menit sebelum kesadarannya menghilang, Ratna teringat pertemuan enam bulan sebelumnya.

Hari itu seorang pria bernama Arif Pranoto datang ke rumahnya. Arif adalah notaris yang selama bertahun-tahun membantu Surya mengurus berbagai dokumen keluarga.

Ia membawa sebuah amplop lama yang ditemukan ketika kantor mereka memindahkan arsip.

“Pak Surya menitipkan sesuatu kepada saya,” kata Arif waktu itu.

Ratna terkejut. “Enam tahun setelah dia meninggal?”

Arif mengangguk.

“Beliau memberi instruksi agar dokumen ini diserahkan jika suatu hari ada anggota keluarga yang mencoba memaksa Ibu menjual rumah.”

Ratna sempat tertawa getir.

Saat itu ia menganggap Surya terlalu mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Kini, di bawah cahaya putih ruang operasi, Ratna akhirnya memahami alasan suaminya melakukan itu.

Lalu semuanya menjadi gelap.

Operasi berlangsung hampir empat jam.

Dokter Fajar bersama tim bedah berhasil mengangkat massa ovarium besar yang memenuhi rongga panggul Ratna. Tumor itu telah menekan kandung kemih dan usus serta mengalami puntiran sebagian. Sedikit saja terlambat, suplai darah ke jaringan di sekitarnya dapat terganggu lebih parah.

Ketika Ratna sadar di ruang pemulihan, hal pertama yang dilihatnya adalah Dewi.

Petugas sosial rumah sakit itu berdiri di dekat pintu.

“Operasinya berhasil, Bu,” katanya.

Ratna mencoba berbicara, tetapi tenggorokannya terasa kering.

“Anak-anak saya?”

“Masih di luar.”

Ratna memejamkan mata sebentar.

“Map kelabu?”

Dewi mengangguk.

“Aman.”

Beberapa jam kemudian, Maya masuk terlebih dahulu.

Wajahnya tampak lelah. Ia duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Ratna.

“Ibu bikin kami takut.”

Kalimat itu terdengar seperti ungkapan kasih sayang, tetapi Ratna tidak lagi mampu mendengarnya dengan cara yang sama.

Hendra berdiri di belakang Maya. Dimas berada dekat jendela.

“Kata dokter operasinya berhasil,” lanjut Maya. “Sekarang Ibu istirahat saja. Semua urusan lain biar kami yang tangani.”

Ratna menatapnya.

“Urusan apa?”

Maya terdiam sepersekian detik.

“Ya urusan rumah, tagihan, administrasi. Ibu jangan memikirkan apa-apa.”

Hendra segera menyela.

“Benar, Bu. Kesehatan Ibu yang penting.”

Ratna hampir ingin tertawa.

Enam jam sebelumnya, lelaki itu meminta dokter menunda operasi agar tidak mengganggu perjalanan dinasnya.

Namun Ratna memilih diam.

Keesokan paginya, seorang pria berkemeja putih datang membawa map hitam.

Maya memperkenalkannya sebagai Bagus, seorang pengacara.

“Kami hanya ingin memastikan semua urusan Ibu tertata selama masa pemulihan,” katanya.

Bagus meletakkan beberapa lembar dokumen di meja.

Ratna membaca judul pada halaman pertama.

Permohonan penetapan pengampuan.

Tangannya bergetar.

Maya buru-buru berkata, “Ini bukan berarti Ibu kehilangan hak apa pun. Kami cuma membantu.”

Ratna mengangkat wajah.

“Membantu siapa?”

Ruangan langsung hening.

“Maksud Ibu?”

“Membantu Ibu atau membantu pembeli rumah?”

Wajah Maya berubah.

Hendra langsung menatap kakaknya.

Dimas yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepala.

“Ibu dengar?”

Ratna menatap ketiga anaknya satu per satu.

“Saya memang sakit. Tapi telinga saya belum mati.”

Maya menarik napas panjang.

“Ibu salah paham.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Maya tidak menjawab.

Ratna melanjutkan, “Siapa pembelinya?”

Hendra mendekat.

“Bu, rumah itu terlalu besar untuk Ibu sendirian. Pajaknya juga tinggi. Kami sudah mendapat penawaran bagus.”

“Berapa?”

Hendra ragu.

“Sekitar sebelas miliar.”

Ratna tersenyum tipis.

Ia mengetahui harga tanah di daerah itu. Nilai rumahnya jauh lebih tinggi.

“Dan pembelinya?”

Tidak ada jawaban.

Saat itulah Dewi masuk bersama Dokter Fajar.

Di tangannya ada map kelabu.

“Maaf,” kata Dewi, “pertemuan ini harus dihentikan.”

Bagus berdiri. “Ini urusan keluarga.”

“Ini juga menyangkut hak pasien,” jawab Dewi.

Dokter Fajar meletakkan rekam medis di meja.

“Saya perlu memperjelas sesuatu. Ibu Ratna tidak menunjukkan gangguan kesadaran atau kehilangan kapasitas untuk mengambil keputusan. Keyakinannya bahwa dirinya mungkin hamil berkaitan dengan gejala fisik nyata akibat tumor yang sangat besar dan perubahan hormonal yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Itu tidak otomatis membuat beliau tidak cakap secara hukum.”

Maya menelan ludah.

“Tapi beliau membeli boks bayi. Menjahit selimut. Mengatakan ada bayi bergerak di perutnya.”

Ratna menatap anak sulungnya.

“Karena saya kesepian.”

Maya terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi seperti menghantam seluruh ruangan.

Ratna melanjutkan dengan suara serak.

“Setelah ayah kalian meninggal, saya makan sendirian. Tidur sendirian. Kalau jatuh di kamar mandi, saya tidak tahu siapa yang akan menemukan saya. Ketika perut ini mulai bergerak, saya tahu mungkin ada sesuatu yang salah. Tetapi ada bagian dalam diri saya yang ingin percaya saya tidak sendirian lagi.”

Dimas menundukkan kepala.

Mata Ratna mulai berkaca-kaca.

“Kalian menganggap saya gila karena saya membeli tiga baju bayi. Tapi tidak seorang pun bertanya mengapa seorang ibu berusia enam puluh tujuh tahun bisa begitu kesepian sampai membutuhkan khayalan untuk merasa ditemani.”

Hendra mengalihkan pandangan.

Hanya Maya yang masih mencoba bertahan.

“Bagaimanapun rumah itu nantinya juga untuk kami.”

Ratna menatapnya tajam.

“Siapa bilang?”

Dewi kemudian meletakkan map kelabu di atas meja.

Maya menatapnya.

“Apa itu?”

“Dokumen yang dititipkan Ibu Ratna sebelum operasi.”

Dewi membukanya.

Di dalamnya terdapat salinan akta notaris, surat pernyataan Surya, dan sejumlah dokumen kepemilikan.

Wajah Hendra berubah ketika membaca halaman pertama.

Ternyata enam tahun sebelum meninggal, Surya telah mendirikan sebuah yayasan sosial kecil bersama Ratna.

Selama bertahun-tahun yayasan itu nyaris tidak aktif.

Namun ada satu klausul yang tidak diketahui ketiga anak mereka.

Rumah di Gubeng bukan diwariskan otomatis kepada anak-anak.

Surya dan Ratna telah membuat perjanjian bahwa selama Ratna hidup, rumah tersebut sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Jika Ratna meninggal tanpa mencabut ketentuan itu, sebagian besar bangunan akan dialihkan menjadi aset yayasan untuk rumah singgah perempuan lanjut usia yang hidup sendirian.

Maya pucat.

“Tidak mungkin.”

Ratna menggeleng.

“Itu tanda tangan ayahmu.”

Hendra mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar.

“Kenapa Ayah melakukan ini?”

Ratna menatap foto kecil Surya yang tersimpan di dompetnya.

“Karena ayah kalian mengenal kalian lebih baik daripada yang saya kira.”

Namun kejutan terbesar belum selesai.

Dewi mengeluarkan satu dokumen lagi.

Itulah dokumen yang Ratna sendiri tanda tangani setelah bertemu Arif enam bulan sebelumnya.

Dokumen tersebut memberikan kuasa terbatas kepada notaris untuk melakukan verifikasi dan perlindungan aset apabila Ratna mengalami kondisi medis yang membuat keluarganya mencoba mengambil alih rumah tanpa persetujuannya.

Maya berdiri mendadak.

“Ibu merencanakan ini?”

“Tidak,” jawab Ratna. “Ayah kalian yang mengantisipasinya. Saya hanya mengaktifkan perlindungannya.”

Hendra membanting dokumen ke meja.

“Jadi Ibu lebih percaya orang lain daripada anak sendiri?”

Ratna memandangnya lama.

“Saya percaya tindakan.”

Hendra terdiam.

“Enam bulan terakhir, berapa kali kamu menelepon saya tanpa meminta uang atau membicarakan rumah?”

Hendra tidak menjawab.

Ratna menoleh kepada Maya.

“Berapa kali kamu datang hanya untuk makan bersama saya?”

Maya menggigit bibir.

Kemudian kepada Dimas.

“Kamu?”

Dimas menunduk.

“Maaf, Bu.”

Itulah pertama kalinya sejak operasi seseorang mengucapkan kata itu.

Maya justru mulai menangis.

“Kami juga punya kebutuhan. Hendra punya cicilan. Dimas punya utang. Aku harus membayar sekolah anakku. Rumah itu bisa menyelesaikan banyak masalah.”

Ratna menggeleng perlahan.

“Masalah kalian tidak memberi kalian hak untuk menghapus saya sebelum saya mati.”

Tak seorang pun mampu menjawab.

Dua hari kemudian, fakta lain muncul.

Arif datang membawa hasil penelusuran transaksi.

Ternyata pembeli rumah yang disebut Hendra bukan pembeli biasa. Perusahaan properti yang hendak membeli rumah tersebut memiliki hubungan bisnis dengan seorang teman lama Maya.

Harga pasar rumah Ratna diperkirakan mendekati enam belas miliar rupiah.

Namun penawaran yang disiapkan hanya sebelas miliar.

Selisih beberapa miliar rupiah akan dibagi dalam bentuk komisi dan pembayaran tersembunyi.

Dimas terlihat benar-benar terkejut.

“Kak Maya bilang rumahnya cuma laku segitu.”

Maya menatap adiknya dengan marah.

“Diam!”

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Dimas akhirnya mengaku bahwa ia memang mengetahui rencana pengampuan, tetapi tidak mengetahui adanya permainan harga.

Ia hanya dijanjikan bagian dari hasil penjualan untuk melunasi utangnya.

Hendra juga mengaku mengetahui nilai penjualan sebenarnya, meskipun ia bersikeras tidak tahu detail pembagian komisi.

Ratna mendengarkan tanpa berteriak.

Justru ketenangannya membuat ketiga anaknya semakin gelisah.

“Saya tidak akan melaporkan kalian hari ini,” katanya akhirnya.

Maya mengangkat kepala.

“Tapi mulai sekarang, semua akses kalian terhadap dokumen dan rekening saya dicabut. Kalian juga tidak boleh melakukan transaksi apa pun atas nama saya.”

Hendra terlihat ingin membantah.

Ratna mengangkat tangan.

“Saya belum selesai.”

Ia menarik napas.

“Rumah itu tidak akan dijual.”

Maya menutup wajahnya.

“Setelah saya pulih, lantai bawah akan saya tempati. Lantai atas akan direnovasi.”

“Untuk apa?” tanya Dimas.

Ratna menatap baju bayi kuning yang kini terlipat di meja samping ranjang.

“Untuk rumah singgah.”

Enam bulan kemudian, rumah di Gubeng berubah.

Boks bayi bekas yang pernah diletakkan Ratna di dekat balkon sudah tidak ada. Sebagai gantinya, terdapat beberapa kursi nyaman, rak buku, tanaman hijau, dan meja panjang tempat para penghuni makan bersama.

Di pintu depan terpasang papan sederhana.

Rumah Surya.

Tempat itu menerima perempuan lanjut usia yang hidup sendirian untuk tinggal sementara, berkonsultasi, atau sekadar datang berbicara.

Ratna tidak pernah menyangka rumah yang dahulu membuatnya merasa begitu sepi kini dipenuhi suara.

Ada suara Bu Ningsih yang selalu tertawa keras.

Ada Bu Lestari yang gemar memasak terlalu banyak.

Ada Bu Aminah yang setiap sore menyiram tanaman sambil bernyanyi.

Ratna sendiri masih menjalani pemeriksaan berkala setelah operasi. Hasil patologi menunjukkan tumornya tidak menyebar seperti yang semula paling ia takutkan, meskipun ia tetap harus dipantau.

Maya tidak datang selama hampir empat bulan.

Hendra hanya mengirim pesan singkat pada hari ulang tahunnya.

Namun Dimas mulai muncul setiap Minggu.

Awalnya ia hanya berdiri canggung di teras.

Kemudian ia mulai membantu memperbaiki keran, membawa galon air, dan mengantar beberapa penghuni ke rumah sakit.

Suatu sore, Ratna menemukan Dimas duduk sendirian di balkon.

Di tangannya ada sesuatu.

Baju bayi kuning.

Ratna berhenti.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Bu Dewi memberikannya waktu Ibu keluar rumah sakit. Katanya barang ini tertinggal di ruang perawatan.”

Ratna duduk di samping anak bungsunya.

Dimas memandangi pakaian kecil itu.

“Dulu aku pikir Ibu benar-benar kehilangan akal.”

Ratna tersenyum.

“Mungkin sedikit.”

Dimas tertawa pelan, tetapi matanya berkaca-kaca.

“Kenapa Ibu beli tiga?”

Ratna terdiam.

Pertanyaan itu belum pernah ditanyakan siapa pun.

Ia mengambil baju tersebut dari tangan Dimas.

“Karena Ibu punya tiga anak.”

Dimas membeku.

Ratna mengusap kain kuning itu.

“Satu untuk Maya. Satu untuk Hendra. Satu untuk kamu.”

“Untuk kami?”

“Ibu membelinya bukan karena yakin akan punya bayi baru.”

Ratna menatap halaman rumah yang diterangi cahaya sore.

“Ibu membelinya karena waktu melihat baju-baju kecil itu, Ibu teringat saat kalian masih bayi. Saat kalian belum mengenal uang, rumah, sertifikat, atau warisan. Saat kalian menangis hanya karena lapar dan berhenti menangis ketika Ibu peluk.”

Air mata Dimas jatuh.

Ratna melanjutkan pelan.

“Ibu merindukan anak-anak Ibu yang dulu.”

Dimas menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memeluk ibunya tanpa meminta apa pun.

Ratna tidak tahu apakah Maya dan Hendra suatu hari akan kembali.

Ia juga tidak tahu apakah luka yang dibuat anak-anaknya akan benar-benar sembuh.

Tetapi malam itu, ketika Ratna duduk di ruang makan bersama para penghuni Rumah Surya, ia menyadari sesuatu.

Selama delapan bulan, ia mengira ada kehidupan yang tumbuh di dalam perutnya.

Ternyata yang tumbuh adalah tumor yang hampir membunuhnya.

Namun dari penyakit itu lahir sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.

Keberanian untuk berhenti takut kehilangan anak-anak yang sebenarnya sudah lama menjauh.

Keberanian untuk melindungi dirinya sendiri.

Dan sebuah rumah yang kini menjadi tempat bagi orang-orang yang memahami rasa sepi tanpa perlu menjelaskannya.

Ratna menyimpan tiga baju bayi kuning itu di sebuah kotak kayu di kamarnya.

Bukan sebagai simbol kegilaan.

Bukan pula sebagai kenangan tentang bayi yang tidak pernah ada.

Melainkan sebagai pengingat bahwa seorang ibu boleh mencintai anak-anaknya sepanjang hidupnya, tetapi cinta tidak pernah berarti menyerahkan hak untuk dihormati.

Karena terkadang, keluarga bukan hanya orang yang memiliki darah yang sama.

Keluarga adalah mereka yang tetap melihat kita sebagai manusia ketika kita sudah tidak memiliki apa pun yang mereka inginkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang