MALAM ITU AKU MEMBERI MAKAN SEORANG NENEK YANG DIKIRA PENGEMIS, LALU MENGETAHUI BAHWA HIDUPKU SEDANG DIUJI OLEH WANITA TERKAYA DI JAKARTA

Malam itu, saya mengira telah memberikan makanan terakhir yang mampu saya beli kepada seorang nenek kelaparan. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa sebelum matahari terbit, perempuan itu akan menyeret saya ke dalam sebuah permainan yang melibatkan miliaran rupiah, pengkhianatan keluarga, dan sebuah rahasia tentang hidup saya sendiri.

Pria berjas di hadapan kami masih memegang ponselnya.

“Dan malam ini,” katanya pelan, “ada orang yang sedang berusaha mengambil semua hartanya.”

Saya menatap Bu Rahayu. Sulit menghubungkan perempuan dengan baju kusam dan sandal hampir putus itu dengan sosok elegan dalam foto di layar ponsel.

“Jadi Nenek sebenarnya siapa?”

Bu Rahayu meraih tongkatnya.

“Kalau kamu ingin tahu, ikut saya.”

“Bu, kita harus segera pergi,” desak pria berjas itu.

Bu Rahayu menatapnya tajam.

“Bima, mobilmu masih di belakang?”

“Masih.”

“Bawa kami lewat pintu servis.”

Saya spontan menggeleng.

“Sebentar. Kenapa saya harus ikut?”

Bu Rahayu mendekat.

“Karena orang yang ingin mengambil harta saya sudah mengetahui wajahmu.”

Dada saya terasa sesak.

“Saya bahkan tidak kenal mereka.”

“Justru itu yang membuatmu berbahaya bagi mereka.”

Kami keluar melalui pintu belakang restoran. Sebuah mobil hitam sudah menunggu di gang sempit. Begitu masuk, Bima langsung melaju menuju kawasan Menteng.

Di sepanjang perjalanan, Bu Rahayu diam.

Saya berkali-kali memandang ponsel. Ada tujuh panggilan tak terjawab dari Dina.

Kemudian sebuah pesan masuk.

Aris, kamu di mana? Kita harus ketemu sekarang.

Saya baru hendak membalas ketika Bu Rahayu berkata, “Jangan.”

Saya menoleh.

“Nenek membaca pesan saya?”

“Tidak. Tapi malam ini, jangan memberi tahu siapa pun kamu berada di mana.”

Saya mulai kesal.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Bu Rahayu akhirnya bicara.

Namanya Rahayu Pramesti. Ia pendiri Pramesti Group, perusahaan properti dan investasi yang memiliki sejumlah gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan rumah sakit swasta di Jakarta.

Tiga bulan sebelumnya, ia mengetahui ada transaksi mencurigakan dari beberapa anak perusahaan. Nilainya hampir dua triliun rupiah.

Semua transaksi mengarah kepada satu orang.

Putra tunggalnya, Adrian.

“Anak Ibu sendiri?” tanya saya.

Bu Rahayu mengangguk.

“Dia terlilit utang investasi. Dia ingin menjual sebagian aset perusahaan tanpa persetujuan saya.”

“Kenapa tidak lapor polisi?”

“Karena saya belum tahu siapa saja yang terlibat.”

Bima menyela dari kursi depan.

“Termasuk orang-orang di dalam perusahaan yang selama ini dipercaya Ibu.”

Bu Rahayu kemudian menjelaskan mengapa ia berpakaian seperti pengemis.

Beberapa minggu terakhir ia sengaja keluar tanpa pengawal, menggunakan pakaian sederhana, mendatangi gedung dan bisnis miliknya. Ia ingin melihat bagaimana pegawainya memperlakukan orang yang dianggap tidak berguna.

“Tapi malam ini berbeda,” katanya.

“Apa bedanya?”

“Saya sedang menunggu seseorang.”

“Siapa?”

Bu Rahayu menatap saya.

“Kamu.”

Saya tertawa karena mengira ia bercanda.

Namun wajahnya tetap serius.

“Saya bahkan tidak mengenal Nenek.”

“Tapi saya mengenal ibumu.”

Darah saya seperti berhenti mengalir.

“Ibu saya?”

Bu Rahayu membuka tas kainnya. Dari dalam, ia mengambil foto lama.

Saya langsung mengenali perempuan muda di foto itu.

Ibu.

Ia berdiri di samping Bu Rahayu yang jauh lebih muda.

“Dari mana Nenek mendapatkan ini?”

“Dua puluh enam tahun lalu, ibumu bekerja untuk saya.”

Saya menggenggam foto itu.

“Sebagai apa?”

“Perawat pribadi.”

Bu Rahayu memandang keluar jendela.

“Dan dia menyelamatkan hidup saya.”

Mobil berhenti di sebuah rumah besar di Menteng.

Begitu kami masuk, Bima mengunci pintu.

Bu Rahayu membawa saya menuju ruang kerja. Dari sebuah brankas, ia mengeluarkan map cokelat.

Di dalamnya ada surat lama, beberapa foto, dan dokumen rumah sakit.

“Saya mengalami kecelakaan dua puluh lima tahun lalu,” katanya. “Mobil saya masuk jurang di Puncak. Ibumu berada bersama saya.”

Saya membaca nama ibu pada laporan tersebut.

Siti Mariani.

“Tapi Ibu tidak pernah cerita.”

“Karena saya memintanya merahasiakannya.”

Bu Rahayu kemudian mengatakan sesuatu yang membuat saya semakin bingung.

Setelah kecelakaan, perusahaan memberikan kompensasi kepada ibu saya. Bukan uang kecil.

Sebuah rumah dan dana sebesar lima ratus juta rupiah.

Untuk ukuran dua puluh lima tahun lalu, jumlah itu sangat besar.

Saya langsung berdiri.

“Tidak mungkin.”

Bu Rahayu tetap tenang.

“Kami tinggal di kontrakan. Ibu bahkan sering berutang untuk beli obat.”

“Itulah yang ingin saya tanyakan kepadamu. Ke mana uang itu pergi?”

Saya tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba ponsel saya berbunyi.

Dina.

Saya mengangkatnya.

“Aris, kamu di mana?”

“Saya sedang ada urusan.”

“Kamu sama nenek dari restoran itu?”

Saya membeku.

“Dari mana kamu tahu?”

Telepon langsung terputus.

Saya menatap Bu Rahayu.

Beberapa detik kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Bima melihat kamera keamanan.

Wajahnya berubah.

“Bu, Adrian datang.”

Bu Rahayu tidak tampak terkejut.

Bima justru semakin panik.

“Bagaimana dia tahu kita di sini?”

Saya perlahan melihat ponsel di tangan saya.

Dina.

Pintu depan diketuk keras.

“Ma!”

Suara seorang pria terdengar.

“Buka pintunya. Kita bicara baik-baik.”

Bu Rahayu berdiri.

“Biarkan dia masuk.”

Adrian masuk bersama dua pria dan seorang perempuan.

Ketika melihat perempuan itu, kaki saya terasa lemas.

Dina.

“Dina?”

Ia tidak berani menatap saya.

Adrian tersenyum.

“Jadi ini Aris.”

Saya memandang Dina.

“Kamu kenal mereka?”

Dina akhirnya berkata, “Aris, dengarkan aku dulu.”

“Tiga tahun kita pacaran.”

“Saya bisa jelaskan.”

Adrian tertawa kecil.

“Dia memang mendekatimu karena kami yang menyuruh.”

Saya merasa seperti ditampar.

“Tutup mulutmu,” bentak Dina.

Namun Adrian melanjutkan.

“Kami mencari ibumu sejak lama. Kami pikir dia masih menyimpan dokumen kecelakaan itu.”

Saya menoleh kepada Bu Rahayu.

“Apa sebenarnya yang terjadi?”

Bu Rahayu belum sempat menjawab ketika Adrian melempar sebuah dokumen ke meja.

“Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.”

Ruangan mendadak sunyi.

Menurut Adrian, ayahnya sendiri yang memerintahkan sabotase mobil Bu Rahayu karena ingin mengambil alih perusahaan.

Namun rencana gagal.

Ibu saya menemukan bukti.

Sebagai imbalan agar diam, ia diberi uang dan rumah.

Saya mengepalkan tangan.

“Jadi ibu saya menerima suap?”

“Tidak.”

Suara Bu Rahayu tegas.

“Siti tidak mengambil satu rupiah pun.”

Ia mengeluarkan dokumen lain.

Dana tersebut ternyata dimasukkan ke sebuah rekening atas nama saya.

Rumah yang diberikan juga tercatat atas nama saya.

“Lalu kenapa kami hidup miskin?”

Bu Rahayu menatap Adrian.

“Karena seseorang memalsukan tanda tangan dan mengambil semuanya.”

Semua mata beralih kepada Adrian.

Wajahnya berubah.

“Omong kosong.”

Bima meletakkan beberapa lembar hasil audit di meja.

“Rekening tujuan akhirnya milik perusahaan cangkang yang dikendalikan ayah Anda.”

Adrian langsung berdiri.

Namun sebelum ia bergerak, suara sirene terdengar dari luar.

Dua mobil polisi berhenti di depan rumah.

Adrian menatap ibunya.

“Ma menjebak saya?”

Bu Rahayu menggeleng.

“Saya memberimu kesempatan selama tiga bulan.”

Dina menangis.

“Aris, aku tidak tahu semuanya. Aku cuma diminta mencari tahu apakah ibumu menyimpan dokumen.”

Saya memandang perempuan yang selama tiga tahun saya cintai.

“Jadi waktu kamu bilang butuh uang?”

Dina menunduk.

“Sebagian untuk mereka.”

Saya tersenyum pahit.

Ternyata selama ini bukan hanya uang saya yang diambil.

Kepercayaan saya juga.

Polisi masuk beberapa menit kemudian. Adrian dan dua pria yang datang bersamanya dibawa untuk pemeriksaan. Dina ikut dimintai keterangan.

Sebelum pergi, Dina menatap saya.

“Maaf.”

Saya hanya menjawab, “Saya berharap suatu hari kamu mengerti bahwa orang miskin bukan berarti boleh dipermainkan.”

Setelah rumah kembali tenang, saya bertanya kepada Bu Rahayu satu hal.

“Kenapa malam ini Nenek harus menguji saya?”

Bu Rahayu tersenyum.

“Saya tidak sedang menguji apakah kamu mau memberi makan orang miskin.”

“Lalu?”

“Saya ingin memastikan kamu masih menjadi anak Siti.”

Ia bercerita bahwa dua minggu sebelumnya, ibu saya menghubunginya.

Kondisi ibu semakin memburuk.

Ibu akhirnya mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia sengaja menjauh dari keluarga Pramesti karena takut saya terseret ke dalam konflik mereka.

Namun sebelum terlambat, ibu meminta Bu Rahayu menemui saya.

“Kenapa harus berpura-pura jadi pengemis?”

“Siti mengatakan satu hal tentangmu.”

“Apa?”

Bu Rahayu tersenyum.

“Katanya, kalau saya datang memakai mobil mewah, kamu akan sopan karena tahu saya orang kaya. Tapi kalau saya datang sebagai orang yang tidak punya apa-apa, saya akan tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Air mata saya jatuh tanpa terasa.

Pagi itu kami pergi menemui ibu di rumah sakit.

Ketika melihat Bu Rahayu, ibu menangis.

“Bu… akhirnya.”

Bu Rahayu menggenggam tangannya.

“Anakmu tumbuh menjadi laki-laki baik.”

Ibu memandang saya.

“Dia kasih Nenek makan?”

Saya tertawa sambil menangis.

“Ibu sudah tahu?”

Ibu tersenyum lemah.

“Bu Rahayu memang keras kepala.”

Saya duduk di samping ranjang.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita soal uang dan rumah?”

Ibu mengusap tangan saya.

“Karena itu bukan uang kita.”

“Tapi diberikan kepada Ibu.”

“Sebagai harga supaya Ibu diam.”

Ibu menggeleng.

“Kalau Ibu memakai uang itu, setiap nasi yang kamu makan akan mengingatkan Ibu bahwa Ibu pernah menjual kebenaran.”

Ternyata setelah mengetahui uang tersebut dicuri, ibu memilih tidak mengejarnya karena takut keselamatan saya terancam.

Saya menangis.

Selama bertahun-tahun saya pernah kesal karena merasa ibu tidak mampu memberi kehidupan lebih baik.

Padahal kemiskinan yang kami jalani adalah harga yang ia pilih agar saya tumbuh tanpa menikmati uang dari sebuah kejahatan.

Kasus Pramesti Group kemudian berkembang besar.

Penyelidikan menemukan penggelapan, pemalsuan dokumen, dan pencucian uang yang berlangsung bertahun-tahun. Adrian akhirnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya bersama beberapa orang lain.

Namun kejutan terbesar datang tiga bulan kemudian.

Bu Rahayu memanggil saya ke kantornya.

Ia meletakkan sebuah dokumen di meja.

“Saya ingin kamu bekerja di yayasan milik perusahaan.”

Saya tertawa gugup.

“Saya cuma lulusan biasa, Bu.”

“Saya tidak mencari gelar.”

“Lalu?”

“Saya mencari orang yang masih bisa melihat manusia ketika semua orang hanya melihat pakaian.”

Saya menerima pekerjaan itu, tetapi menolak ketika Bu Rahayu ingin mengembalikan seluruh nilai aset yang dulu seharusnya menjadi milik saya.

Saya hanya meminta satu hal.

Rumah kecil yang dahulu diberikan kepada ibu.

Bukan untuk saya tinggali.

Setahun kemudian, rumah itu berubah menjadi dapur sosial.

Setiap malam, puluhan paket makanan dibagikan kepada lansia, pekerja jalanan, pengemudi ojek, dan siapa saja yang membutuhkan.

Di dinding dapur, saya memasang sebuah foto ibu.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat sederhana.

Jangan menunggu seseorang terlihat berharga untuk memperlakukannya sebagai manusia.

Suatu malam, setelah membagikan paket terakhir, saya melihat sebuah mobil berhenti.

Bu Rahayu turun.

Kini ia memakai pakaian rapi.

Saya tertawa.

“Tidak menyamar lagi, Bu?”

Ia tersenyum.

“Tidak perlu.”

Ia memandang antrean orang yang sedang menerima makanan.

“Aris, kamu tahu apa yang paling lucu dari malam kita bertemu?”

“Apa?”

“Saya datang untuk menguji kamu.”

Ia menunjuk dapur yang ramai.

“Tapi ternyata kamu yang menguji saya.”

Saya terdiam.

Bu Rahayu melanjutkan.

“Seumur hidup saya pikir kekayaan terbesar adalah memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil orang lain.”

“Sekarang?”

Ia menatap seorang nenek yang sedang membawa sebungkus nasi pulang.

“Sekarang saya tahu kekayaan terbesar adalah bisa memberi sesuatu tanpa perlu tahu apakah orang itu mampu membalasnya.”

Saya teringat malam di restoran itu.

Malam ketika dompet saya hampir kosong.

Malam ketika pacar saya meninggalkan saya.

Malam ketika saya memberikan uang terakhir kepada seseorang yang saya kira pengemis.

Saya kehilangan hampir semua yang saya pikir penting malam itu.

Namun justru dari sebungkus nasi yang saya berikan tanpa mengharapkan apa pun, saya menemukan kebenaran tentang ibu saya, tentang orang yang saya cintai, tentang harga sebuah kejujuran, dan tentang diri saya sendiri.

Sejak saat itu saya mengerti, hidup terkadang menyamar sebagai seseorang yang duduk sendirian di dekat tempat sampah.

Dan kita tidak pernah tahu, ketika memilih untuk menolongnya, sebenarnya siapa yang sedang diselamatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang