Polisi itu menatap Ardi beberapa detik lebih lama, seolah sedang menimbang seberapa banyak kenyataan yang sanggup diterima seorang pria yang baru saja kehilangan istrinya.
“Pak Ardi, dokter menemukan sesuatu di tubuh Bu Laras yang tidak sesuai dengan pola cedera akibat kecelakaan lalu lintas biasa.”
Ardi menelan ludah.
“Apa maksud Bapak?”
“Untuk sekarang kami belum bisa menyimpulkan. Kami perlu pemeriksaan forensik lengkap.”
“Tapi Laras meninggal karena kecelakaan. Polisi sendiri yang menghubungi saya malam itu.”
Petugas bernama Komisaris Raka tersebut tidak membantah.
“Benar. Namun laporan awal dibuat berdasarkan kondisi kendaraan dan keterangan saksi di lokasi. Ada beberapa hal yang baru diketahui setelah pemeriksaan di rumah sakit.”
Ardi menatap pintu ruang operasi.
Di balik pintu itu, anaknya sedang mendapatkan perawatan intensif. Bayi laki-laki yang bahkan belum sempat mereka beri nama.
Di ruangan lain, tubuh Laras menunggu pemeriksaan yang mungkin akan mengubah semua yang selama ini ia percaya.
“Apa yang ditemukan dokter?”
Raka menghela napas.
“Ada bekas suntikan di bagian belakang lengan istri Anda.”
Ardi membeku.
“Suntikan?”
“Ya.”
“Mungkin dari rumah sakit.”
“Kami sudah memeriksa catatan medis. Tim yang pertama kali menangani Bu Laras di lokasi kecelakaan tidak memberikan suntikan pada bagian tersebut.”
Jantung Ardi mulai berdetak lebih keras.
“Itu belum membuktikan apa-apa.”
“Benar. Karena itu kami tidak ingin membuat kesimpulan terlalu cepat.”
Raka lalu menurunkan suaranya.
“Tetapi dokter juga menemukan tanda bahwa Bu Laras kemungkinan sudah tidak sepenuhnya sadar sebelum mobil mengalami benturan.”
Ardi merasa udara di sekitarnya tiba-tiba menipis.
Ia teringat percakapan terakhir dengan Laras.
Malam sebelum kecelakaan, Laras meneleponnya sekitar pukul sembilan.
“Aku pulang agak terlambat,” katanya waktu itu.
“Kamu di mana?”
“Masih di kantor. Ada berkas yang harus aku selesaikan.”
“Jangan menyetir kalau capek.”
Laras tertawa kecil.
“Pak Ardi cerewet sekali.”
Itulah terakhir kalinya ia mendengar suara istrinya.
Sekitar dua jam kemudian, polisi menelepon.
Mobil Laras ditemukan menabrak pembatas jalan di kawasan Jakarta Selatan.
“Pak Ardi?”
Suara Raka menariknya kembali.
Ardi memijat dahinya.
“Siapa yang mungkin menyuntik istri saya?”
“Itulah yang sedang kami cari.”
Malam itu, Ardi tidak pulang.
Ia duduk di ruang tunggu neonatal intensive care unit sambil memandangi bayi mungil yang terbaring di balik kaca inkubator.
Tubuh anak itu begitu kecil, dipenuhi kabel dan alat pemantau.
Seorang dokter anak menjelaskan bahwa kondisinya cukup stabil, tetapi ia masih harus diawasi ketat karena lahir prematur dan sempat mengalami kekurangan oksigen.
“Bapak boleh menyentuh tangannya.”
Ardi memasukkan tangan melalui lubang kecil di sisi inkubator.
Jari bayi itu bergerak perlahan.
Kemudian menggenggam ujung telunjuknya.
Ardi tidak mampu menahan air mata.
“Kamu kuat sekali,” bisiknya.
Ia menatap wajah kecil itu lama.
“Ibumu juga kuat.”
Saat itulah ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Jangan percaya siapa pun dari kantor Laras.
Ardi menatap layar.
Darahnya seakan berhenti mengalir.
Ia segera menelepon nomor tersebut.
Tidak aktif.
Ia menunjukkan pesan itu kepada Komisaris Raka ketika polisi datang kembali ke rumah sakit pada pagi hari.
“Apakah istri Bapak punya masalah di tempat kerja?” tanya Raka.
Laras bekerja sebagai kepala keuangan di sebuah perusahaan konstruksi besar bernama Pradana Infrastruktur.
Setahu Ardi, pekerjaannya memang berat, tetapi Laras jarang membawa masalah kantor ke rumah.
Namun beberapa minggu sebelum kecelakaan, sikapnya berubah.
Ia lebih sering diam.
Kadang-kadang terbangun tengah malam hanya untuk memeriksa ponsel.
Pernah suatu malam Ardi bertanya, “Ada masalah?”
Laras hanya menjawab, “Aku sedang memastikan aku tidak salah mempercayai seseorang.”
Saat itu Ardi mengira Laras hanya menghadapi konflik biasa di kantor.
Sekarang kalimat tersebut terdengar jauh lebih menakutkan.
Polisi segera memeriksa komputer dan ponsel Laras.
Dari sana mereka menemukan bahwa dua hari sebelum kecelakaan, Laras sempat mengirim beberapa dokumen ke alamat email pribadinya.
Dokumen tersebut berisi laporan keuangan perusahaan.
Ada puluhan transaksi mencurigakan.
Dana proyek pemerintah dialihkan melalui beberapa perusahaan pemasok fiktif.
Nilainya hampir delapan puluh miliar rupiah.
Sebagian besar transaksi disetujui oleh direktur operasional perusahaan.
Namanya Dimas Pradana.
Dimas bukan orang asing bagi Ardi.
Ia sahabat mereka.
Bahkan salah satu orang pertama yang datang ke rumah sakit setelah kecelakaan Laras.
Pria itu juga yang membantu Ardi mengurus berbagai kebutuhan pemakaman.
Ketika Ardi mendengar namanya dari polisi, ia langsung menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Raka tidak bereaksi.
“Bapak mengenalnya dekat?”
“Dimas teman saya sejak kuliah. Saya yang mengenalkan dia kepada Laras.”
Polisi kemudian menunjukkan rekaman kamera keamanan dari gedung kantor Laras.
Pukul delapan lewat empat puluh malam, Laras terlihat keluar dari ruangannya.
Di lorong, Dimas menghampirinya.
Mereka berbicara cukup lama.
Tidak ada suara dalam rekaman tersebut, tetapi gestur keduanya menunjukkan percakapan serius.
Laras tampak marah.
Dimas beberapa kali mencoba menahannya.
Kemudian Laras berjalan pergi.
Dimas mengikutinya sampai area parkir.
Tiga belas menit kemudian, mobil Laras keluar.
Tak lama setelah itu, mobil Dimas juga meninggalkan gedung.
Ardi menatap layar tanpa berkedip.
“Tapi itu belum berarti dia melakukan sesuatu.”
“Benar,” kata Raka.
“Kami juga berpikir begitu. Sampai kami menemukan rekaman berikutnya.”
Sebuah kamera lalu lintas sekitar tiga kilometer dari lokasi kecelakaan merekam mobil Laras berhenti di sebuah minimarket.
Dimas berhenti tepat di belakangnya.
Ia turun.
Masuk ke mobil Laras.
Enam menit kemudian ia keluar lagi.
Laras tidak pernah turun.
Mobil mereka kemudian melanjutkan perjalanan.
Sekitar dua puluh menit setelah itu, mobil Laras mengalami kecelakaan.
Ardi merasa perutnya mual.

“Dia bilang kepada saya malam itu bahwa dia langsung pulang setelah rapat.”
“Dia berbohong.”
Polisi memanggil Dimas untuk diperiksa.
Awalnya ia tetap tenang.
Ia mengaku hanya berbicara dengan Laras tentang masalah pekerjaan.
Ketika ditanya mengapa masuk ke mobilnya, ia mengatakan Laras sedang mengalami serangan panik.
“Saya hanya menenangkannya.”
“Apakah Anda memberikan obat kepadanya?” tanya penyidik.
Dimas menggeleng.
Namun hasil toksikologi keluar dua hari kemudian.
Dalam darah Laras ditemukan obat penenang dosis tinggi.
Jumlahnya cukup untuk membuat seseorang kehilangan koordinasi, mengalami kantuk berat, bahkan pingsan.
Obat itu bukan obat yang pernah diresepkan kepada Laras.
Polisi kemudian menggeledah rumah Dimas.
Di dalam laci meja kerjanya ditemukan beberapa ampul obat penenang dengan kandungan yang sama.
Dimas langsung ditetapkan sebagai tersangka.
Tetapi ketika Ardi mendengar berita tersebut, bukannya merasa lega, justru muncul pertanyaan lain.
Mengapa Dimas melakukan semua itu?
Jawabannya mulai terungkap dari sebuah rekaman suara yang tersimpan di jam tangan pintar Laras.
Laras ternyata sengaja mengaktifkan perekam ketika berbicara dengan Dimas malam itu.
Suara Laras terdengar tegas.
“Aku sudah menemukan semuanya, Mas.”
“Kamu salah paham.”
“Delapan puluh miliar bukan salah paham.”
Kemudian suara Dimas terdengar lebih rendah.
“Laras, dengarkan aku. Kita bisa selesaikan ini.”
“Besok pagi aku akan menyerahkan semuanya ke audit internal.”
“Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kamu melakukan itu?”
“Aku tahu.”
“Perusahaan bisa runtuh.”
“Bukan perusahaan. Orang-orang yang mencuri uangnya yang akan runtuh.”
Beberapa detik terdengar hening.
Kemudian suara Dimas berubah.
“Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu.”
Rekaman berakhir.
Ardi duduk terpaku ketika polisi memperdengarkan file tersebut.
Ia merasa seperti mendengar suara Laras dari dunia lain.
Tapi penyelidikan belum selesai.
Karena ternyata Dimas bukan satu-satunya orang yang tahu tentang temuan Laras.
Ada seseorang yang memberinya akses ke laporan keuangan internal.
Seseorang yang selama berbulan-bulan membantu Laras mengumpulkan bukti.
Namanya Maya.
Ia adalah asisten keuangan Laras.
Maya pula yang akhirnya mengaku mengirim pesan anonim kepada Ardi.
“Aku takut,” katanya saat diperiksa.
“Bu Laras pernah bilang kalau sesuatu terjadi padanya, aku harus memastikan Pak Ardi tahu bahwa itu bukan kecelakaan.”
Namun dari Maya pula terungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan.
Beberapa hari sebelum kematiannya, Laras sudah curiga bahwa seseorang memantau ponselnya.
Karena itu ia menyimpan bukti terakhir di tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Termasuk polisi.
Ketika Ardi bertanya di mana, Maya hanya berkata,
“Bu Laras bilang, tempat paling aman adalah tempat yang hanya akan dibuka kalau dirinya sudah tidak ada.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Ardi.
Malamnya, ketika ia pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia masuk ke kamar mereka.
Semua benda milik Laras masih berada di tempat yang sama.
Baju hamil tergantung di balik pintu.
Buku tentang persiapan kelahiran berada di atas meja.
Di samping tempat tidur ada sebuah kotak kayu yang mereka gunakan untuk menyimpan surat-surat penting.
Tempat yang hanya akan dibuka kalau dirinya sudah tidak ada.
Ardi segera membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat polis asuransi, sertifikat, beberapa foto lama, dan sebuah amplop cokelat bertuliskan namanya.
Untuk Ardi.
Tangannya gemetar saat membuka amplop tersebut.
Di dalamnya ada sebuah flashdisk dan selembar surat.
Kalau kamu membaca ini, mungkin sesuatu sudah terjadi padaku.
Ardi langsung berhenti membaca.
Matanya basah.
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
Aku tahu kamu akan marah karena aku merahasiakan semua ini. Aku hanya tidak ingin kamu ikut berada dalam bahaya.
Yang aku temukan jauh lebih besar daripada sekadar penggelapan uang.
Jangan percaya Dimas.
Tapi jangan berhenti pada Dimas.
Dia bukan orang yang paling berbahaya.
Ardi mengernyit.
Ia memasukkan flashdisk ke laptop.
Di dalamnya ada banyak dokumen.
Daftar transaksi.
Rekening perusahaan.
Foto.
Rekaman.
Dan satu folder bernama TERAKHIR.
Ketika dibuka, ada sebuah video.
Laras muncul di layar.
Video itu direkam di rumah mereka.
Perutnya sudah besar.
“Aku tidak tahu apakah aku akan benar-benar perlu membuat video ini,” katanya.
“Tapi kalau aku tidak sempat menjelaskan, Ardi harus tahu.”
Ia menarik napas.
“Dimas memang terlibat dalam penggelapan. Tapi dia tidak melakukannya sendirian.”
Laras lalu menyebut satu nama.
Ardi langsung berdiri dari kursinya.
Wajahnya pucat.
Nama itu adalah Bima Santoso.
Kakak kandung Ardi.
Bima selama ini dikenal sebagai pengusaha sukses. Ia juga salah satu vendor terbesar Pradana Infrastruktur.
Ardi langsung menelepon polisi.
Pemeriksaan berikutnya menemukan bahwa beberapa perusahaan fiktif yang menerima dana ternyata terhubung dengan orang kepercayaan Bima.
Ketika polisi mendatangi rumahnya, Bima sudah tidak ada.
Ia mencoba melarikan diri menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Namun ia ditangkap sebelum berhasil melewati pemeriksaan keberangkatan.
Dalam pemeriksaan, Bima akhirnya mengaku.
Ia dan Dimas sudah menjalankan skema tersebut hampir tiga tahun.
Ketika Laras mengetahui semuanya, Bima meminta Dimas “menghentikan” Laras.
Namun menurut pengakuan keduanya, rencana awal bukan membunuh.
Dimas hanya ingin membuat Laras tidak sadar, lalu mencuri laptop dan dokumen yang dibawanya.
Setelah menyuntikkan obat penenang di dalam mobil, Dimas membiarkan Laras tetap mengemudi karena ia panik melihat ada kendaraan lain mendekat.
Beberapa menit kemudian, efek obat mulai bekerja.
Laras kehilangan kendali.
Mobilnya menabrak pembatas jalan.
Dimas yang mengikuti dari belakang melihat kecelakaan tersebut.
Namun ia tidak menolong.
Ia justru pergi.
Bagian itulah yang membuat Ardi paling sulit memaafkan.
Bukan hanya karena Dimas dan Bima menyebabkan kematian Laras.
Tetapi karena mereka membiarkannya terbaring sendirian di dalam mobil.
Dengan bayi mereka masih hidup di dalam kandungannya.
Beberapa minggu kemudian, Ardi kembali ke rumah sakit.
Bayi kecil itu sudah jauh lebih kuat.
Dokter mengatakan ia bisa segera dibawa pulang.
Ardi menggendongnya untuk pertama kali tanpa bantuan alat.
Ia menatap wajah anaknya lama sekali.
“Kita belum kasih kamu nama.”
Bayi itu membuka matanya.
Ardi tersenyum sambil menahan air mata.
“Ibumu pernah bilang kalau kamu laki-laki, dia suka nama Arka.”
Ia mengusap pipi kecil itu.
“Arka Laras Santoso.”
Sebelum pemakaman Laras dilakukan, Ardi meminta satu hal.
Tidak ada kremasi.
Ia ingin Laras dimakamkan.
Di pemakaman, Ardi berdiri sambil menggendong Arka.
Maya, beberapa rekan kerja Laras, dan keluarga berada di belakangnya.
Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, Ardi merasa mampu menatap peti istrinya tanpa berharap Laras akan membuka mata.
Karena sekarang ia tahu.
Laras memang telah pergi.
Tetapi sebelum pergi, ia meninggalkan dua kehidupan.
Seorang anak.
Dan sebuah kebenaran yang akhirnya berhasil menghancurkan kebohongan orang-orang yang selama ini bersembunyi di balik kepercayaan mereka.
Ardi menunduk.
“Terima kasih karena sudah menyelamatkan dia,” bisiknya.
Angin bertiup pelan.
Arka bergerak di dalam pelukannya.
Gerakan kecil yang membuat Ardi teringat pada saat ia melihat perut Laras bergerak di dalam peti kremasi.
Dulu, gerakan itu membuatnya percaya bahwa istrinya mungkin masih hidup.
Sekarang ia mengerti bahwa sebenarnya Laras sedang memberikan satu pesan terakhir.
Belum semuanya berakhir.
Beberapa bulan kemudian, ketika Arka mulai bisa tertawa, Ardi sering duduk di balkon rumah sambil menunjukkan foto Laras kepadanya.
“Itu Mama.”
Arka tentu belum mengerti.
Namun ia selalu tersenyum setiap kali melihat foto tersebut.
Ardi tidak tahu apakah itu kebetulan.
Ia juga tidak mencoba mencari jawabannya.
Karena setelah semua yang terjadi, ia belajar satu hal.
Kadang-kadang kehidupan tidak memberi kita kesempatan untuk menyelamatkan semua orang yang kita cintai.
Tetapi selama masih ada sesuatu yang bisa diselamatkan, sekecil apa pun harapan itu, kita tidak boleh terlalu cepat menyerah.
Jika hari itu Ardi tidak meminta peti dibuka sekali lagi, Arka mungkin tidak pernah melihat dunia.
Jika Laras tidak menyimpan bukti, kebenaran mungkin ikut terkubur bersamanya.
Dan jika satu gerakan kecil dari dalam rahim itu terlambat hanya beberapa menit saja, dua nyawa dan satu kejahatan besar akan menghilang di balik api kremasi tanpa pernah diketahui siapa pun.
Karena terkadang, perbedaan antara akhir dan awal yang baru hanya berjarak beberapa detik.
