MALAM YANG KIRA SAYA ADALAH AWAL DARI NERAKA… TAPI TERNYATA ADA RAHASIA YANG MENANTI

Don Severino menepuk sisi tempat tidur yang kosong, mengundang saya duduk bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai tamu terhormat. Tangannya yang gemetar karena usia terulur, namun tatapannya tajam, penuh kecerdasan yang tak tampak dari luar.

“Duduklah, Amihan,” bisiknya. “Aku tahu apa yang sedang berkecamuk di pikiranmu. Kau mengira aku adalah predator tua yang membeli gadis muda untuk memuaskan kesepiannya. Tapi, benarkah kau pikir Marlena, ibumu, akan menyerahkan putrinya begitu saja jika tidak ada sesuatu yang lebih besar yang mengancam?”

Darah saya seakan membeku. “Apa maksud Anda? Ibu menjual saya karena utang. Karena kemiskinan.”

Don Severino terkekeh, suara yang terdengar parau namun hangat. Ia mengambil sebuah amplop cokelat dari balik bantal dan melemparkannya ke pangkuan saya. “Ibumu tidak berutang pada rentenir pasar. Dia berutang pada sindikat perdagangan manusia internasional yang menyusup ke desa kalian melalui Aling Cordelia. Mereka tidak menginginkan uang, Amihan. Mereka menginginkan darah.”

Saya membuka amplop itu. Isinya bukan uang, melainkan foto-foto lama. Foto ayah saya yang berdiri di samping pria yang sangat mirip dengan Don Severino, namun pria itu memegang senjata.

“Ayahmu bukan sekadar petani miskin,” lanjut Don Severino. “Dia adalah penjaga brankas terakhir dari organisasi rahasia yang mencoba meruntuhkan sistem ekonomi korup di wilayah ini. Saat dia meninggal, kunci akses brankas itu tidak tertinggal di bank, melainkan ditanamkan melalui prosedur medis rahasia ke dalam DNA keturunan langsungnya.”

“DNA?” suara saya bergetar. “Apa hubungannya dengan saya?”

“Itulah rahasianya, Amihan. Kau bukan gadis malang yang dijual. Kau adalah kunci berjalan. Sindikat itu mengejarmu untuk mengekstraksi data tersebut. Ibumu menjualmu padaku—bukan untuk uang—tetapi karena dia tahu, satu-satunya cara untuk melindungimu dari mereka adalah dengan memalsukan pernikahan dan menyembunyikanmu di dalam kediaman Alcantara yang memiliki keamanan tingkat militer.”

Dunia saya seakan jungkir balik. Air mata yang tadinya karena ketakutan, kini berubah menjadi kebingungan yang menyesakkan. “Jadi… pernikahan ini?”

“Hanya kedok,” potongnya. “Di hadapan dunia, kau adalah istriku. Di balik pintu-pintu ini, kau adalah putri yang selama ini kupersiapkan untuk melanjutkan perjuangan ayahmu.”

Namun, di saat saya mulai memproses kenyataan gila ini, sebuah suara dentuman keras memecah keheningan malam. Lampu kristal di atas kami bergetar. Terdengar suara langkah kaki berat sepatu bot militer menaiki tangga marmer mansion.

Don Severino berdiri, wajahnya berubah menjadi sangat serius. Ia menekan sebuah tombol tersembunyi di balik bingkai cermin. Dinding di belakang tempat tidur bergeser, memperlihatkan lorong gelap yang menuju ke ruang bawah tanah bawah tanah yang dipenuhi teknologi canggih.

“Mereka sudah di sini lebih cepat dari dugaanku,” katanya sambil menyerahkan sebuah tablet kecil kepada saya. “Amihan, dengarkan aku. Ibumu tidak menjualmu untuk uang, dia menjualmu agar kau tidak mati di tangan mereka malam ini. Namun, ada satu hal yang tidak kuberitahukan padamu. Aku bukan sekadar pengusaha.”

Dia membuka jubah tidurnya, memperlihatkan rompi antipeluru yang tertanam dengan simbol organisasi yang sama dengan foto ayah saya.

“Aku adalah musuh bebuyutan ayahmu yang akhirnya tersadar. Aku telah menghabiskan dua puluh tahun terakhir untuk memperbaiki kesalahan masa laluku dengan melindungimu.”

Tiba-tiba, pintu kamar kami didobrak. Aling Cordelia masuk bersama sekelompok pria bersenjata. Wajahnya tidak lagi terlihat ramah seperti di desa. Dia menatap saya dengan senyum sinis.

“Selesai sudah sandiwara ini, Severino,” ujar Aling Cordelia. “Serahkan ‘kunci’ itu, dan kami akan membiarkanmu hidup sebagai pengkhianat tua.”

Saya menatap Don Severino, lalu menatap tangan saya sendiri. Saya menyadari sesuatu yang aneh—luka goresan di lengan saya saat saya terbentur pintu tadi mulai mengeluarkan cahaya kebiruan yang redup. Itu bukan sekadar luka. Itu adalah sensor biometrik yang diaktifkan oleh stres tingkat tinggi.

“Amihan,” teriak Don Severino sambil mengeluarkan senjata dari balik meja. “Larilah ke ruang bawah tanah! Aktifkan sistem pertahanan dengan memindai tanganmu di pintu baja itu! Hanya kau yang bisa!”

Saya berlari. Bukan karena takut, tetapi karena naluri yang tiba-tiba bangkit—sebuah memori yang terkunci di dalam sel-sel tubuh saya mulai terbuka. Saya tidak lagi merasa sebagai gadis desa yang lemah. Setiap langkah yang saya ambil di lorong gelap itu terasa familiar, seolah-olah saya telah berlatih untuk ini dalam mimpi-mimpi saya.

Saya sampai di pintu baja itu. Tangan saya menempel pada panel pemindai. Suara robotik bergema di seluruh mansion: “Identitas terverifikasi: Ahli Waris Salcedo. Sistem pertahanan diaktifkan. Mode eliminasi dimulai.”

Ledakan terjadi di lantai atas. Saya menoleh ke belakang, melihat Don Severino tersungkur, namun ia tersenyum ke arah saya. Dia bukan lagi musuh, dia bukan lagi orang asing. Dia adalah pelindung terakhir yang mengorbankan segalanya untuk memastikan saya selamat.

Di balik layar monitor di ruang bawah tanah, saya melihat seluruh jaringan sindikat itu terekspos ke publik secara real-time melalui satelit yang baru saja saya aktifkan. Nama-nama pejabat, polisi, dan pengusaha yang terlibat dalam perdagangan manusia itu tersebar ke internet.

Malam itu, di Sorsogon, saya mengira nasib terburuk saya dimulai dengan lima juta peso. Tapi nyatanya, lima juta peso itu adalah harga untuk sebuah kebangkitan. Saya bukan lagi Amihan yang miskin. Saya adalah arsitek kehancuran bagi orang-orang yang telah menghancurkan hidup saya.

Di saat sirene polisi mulai meraung di kejauhan mansion, saya berdiri di depan layar, menekan tombol ‘Enter’.

“Selamat datang di neraka yang kalian buat sendiri,” bisik saya pada layar yang menampilkan wajah ketakutan Aling Cordelia saat polisi mendobrak pintu.

Pernikahan ini palsu. Suami saya mungkin sekarat. Tapi malam ini, saya baru saja dilahirkan kembali menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari apa yang pernah mereka bayangkan.

Apakah menurutmu keputusan saya untuk mengambil alih kendali organisasi ini—daripada menghancurkannya—adalah tindakan yang benar, atau justru saya sedang berubah menjadi monster yang sama dengan mereka?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang