SAAT AKU MENGINTIP DARI JENDELA KAMAR ANAKKU… AKU MELIHAT SESUATU YANG SEHARUSNYA TIDAK DILIHAT OLEH SEORANG IBU

Dunia seakan membeku. Jantungku berdetak begitu kencang hingga suaranya memenuhi seluruh rongga telingaku, menutupi suara tawa geli yang kini terdengar seperti belati yang mengiris sarafku. Di balik celah jendela itu, aku melihat mereka. Bukan sekadar kedekatan fisik, melainkan sebuah konspirasi kemesraan yang membuat isi perutku mual.

Namun, di tengah badai kehancuran itu, sebuah detail kecil menangkap perhatianku. Di atas meja nakas Lia, sebuah benda kecil berwarna perak berkilau terkena cahaya lampu tidur—sebuah kunci pas cadangan milik Boby. Mengapa kunci itu ada di sana? Boby tidak pernah memperbaiki apa pun di kamar Lia.

Aku tidak berteriak. Aku tidak mendobrak pintu. Aku mundur perlahan, menyeret kakiku yang lemas kembali ke arah pintu depan. Aku harus tenang. Jika aku bertindak gegabah, aku hanya akan menjadi pihak yang kalah dalam permainan yang bahkan tidak aku ketahui aturannya.

Malam itu, saat Boby keluar dari kamar Lia dengan santai, dia tersenyum padaku seolah tak ada apa pun yang terjadi. “Marga? Kau sudah pulang? Tidak jadi belanja?”

Aku memaksakan sebuah senyuman—senyuman yang paling palsu yang pernah kupakai seumur hidupku. “Pasar tutup lebih awal. Aku lelah, Boby. Mari kita tidur.”

Sepanjang malam, di samping pria yang telah mengkhianatiku, aku tidak memejamkan mata. Aku menunggu dia tertidur pulas. Saat dengkuran halusnya mulai terdengar, aku bangkit. Aku mengambil kunci cadangan yang tadi kulihat di meja Lia, yang entah bagaimana kini sudah berada di kantong celana Boby. Dengan tangan gemetar, aku mengambil kunci itu dari saku celananya saat dia terlelap.

Aku tahu kunci itu bukan untuk pintu rumah. Aku pernah melihat kunci serupa terselip di balik papan lantai gudang tua di belakang rumah kami yang jarang kami sentuh.

Dengan bermodalkan senter ponsel, aku berjalan ke gudang. Debu beterbangan, menyesakkan napas. Aku menemukan sebuah kotak besi yang terkunci rapat di bawah tumpukan kain tua. Kunci perak itu pas. Klik.

Isi kotak itu bukan foto-foto terlarang atau surat cinta. Bukan pula uang atau perhiasan. Isinya adalah tumpukan dokumen medis, catatan bank, dan sebuah buku harian tua—milik mendiang suamiku, ayah kandung Lia yang katanya sedang dipenjara.

Aku membuka buku harian itu. Tanganku gemetar hebat saat membaca lembar demi lembar. Ternyata, suami pertamaku tidak pernah dipenjara. Dia meninggal karena sebuah penyakit genetik langka yang diturunkan melalui garis darah. Dan Lia… Lia bukanlah anak kandungku.

Dunia seakan berputar. Kakiku lunglai. Aku terduduk di lantai gudang yang dingin. Lia adalah anak dari adik kandung suamiku—adik yang dirawat oleh Boby sejak kecil. Boby bukan orang asing. Boby adalah dokter yang selama ini menangani kasus “penyakit” Lia yang disembunyikan dariku.

Aku membalik halaman terakhir buku harian itu. Ada sebuah foto yang terselip. Foto aku, saat masih bayi, digendong oleh seorang wanita yang sangat kukenal—ibuku. Di bawah foto itu tertulis sebuah pengakuan yang membuat darahku membeku: “Marga bukan anakku. Dia adalah bayi yang kubawa lari dari rumah sakit setelah anak kandungku meninggal. Lia adalah satu-satunya garis keturunan asli keluarga ini.”

Kepalaku pening. Jika aku bukan anak kandung ibuku, dan Lia adalah anak dari adik iparku… siapakah aku sebenarnya?

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangku. Aku menoleh. Boby berdiri di ambang pintu gudang, memegang sebuah pisau kecil yang biasa dia gunakan untuk menguliti hewan buruan. Wajahnya tidak lagi penuh kasih; wajahnya dingin, tak berwajah, seperti robot.

“Kau seharusnya tidak membaca itu, Marga,” suaranya datar, tanpa emosi. “Aku sudah berusaha keras menjagamu tetap hidup hanya untuk memastikan Lia tidak tahu asal-usulnya. Dia butuh donor sumsum tulang belakang yang kompatibel. Dan kau… kau adalah satu-satunya orang yang memiliki kecocokan genetik, meskipun kau tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kami.”

“Apa maksudmu?” teriakku, suaraku parau.

Boby melangkah maju. “Lia sakit, Marga. Penyakit itu menggerogotinya. Satu-satunya cara agar dia bisa bertahan hidup adalah dengan proses transplantasi yang mengharuskanmu kehilangan segalanya. Aku mendekatimu bukan karena cinta. Aku mendekatimu untuk memastikan ‘sumber daya’ ini tetap berada dalam jangkauan tanganku sampai hari di mana Lia membutuhkanmu.”

Ternyata, tawa dan kedekatan mereka di kamar Lia bukanlah bentuk perselingkuhan asmara. Itu adalah sesi pengobatan, sesi terapi, dan perpisahan yang menyedihkan karena Lia tahu bahwa dia akan segera mati jika aku tidak segera ‘dikorbankan’.

Tiba-tiba, Lia muncul di belakang Boby. Dia tidak terlihat seperti gadis kecil yang polos. Wajahnya pucat, matanya kosong. Dia memegang sebuah suntikan di tangannya.

“Ibu,” panggil Lia pelan. “Maafkan kami. Boby bukan ayahku, dia adalah penjagaku. Dan kau… kau hanyalah wadah yang dipelihara selama 15 tahun terakhir ini.”

Aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan daripada pengkhianatan. Aku bukan seorang ibu. Aku bukan seorang istri. Aku hanyalah seorang tawanan yang diberi kasih sayang palsu agar aku tetap sehat untuk menjadi suku cadang bagi gadis yang selama ini kupanggil anak.

Boby melompat ke arahku. Aku tidak menghindar. Aku justru tersenyum, sebuah senyuman kemenangan yang membuat mereka berhenti sejenak. Aku telah menelan pil tidur yang kucuri dari kotak obat Boby saat dia sedang sibuk dengan Lia tadi sore.

“Kalian tidak akan pernah mendapatkan apa pun dariku,” bisisku saat pandanganku mulai kabur.

Aku mendengar jeritan frustrasi Boby saat aku jatuh ke lantai. Di detik terakhir kesadaranku, aku melihat Lia menangis—bukan karena sedih, tapi karena dia tahu, dia akan mati bersamaku.

Aku memejamkan mata. Kebenaran memang sekeras apa pun disembunyikan akan terungkap. Dan kebenaran yang kutemukan malam ini adalah: aku tidak pernah menjadi ibu, tetapi di detik ini, aku adalah orang yang paling berkuasa di ruangan ini, karena aku telah memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan caraku sendiri.

Dunia menjadi gelap. Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa bebas. Tidak ada lagi beban, tidak ada lagi kebohongan. Hanya sunyi yang damai, di desa Bulacan yang kini selamanya menyimpan rahasia kami.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang