Mantan pacar yang menendang belanjaan di mal, sama sekali tidak tahu bahwa mantan “gadis miskin” yang dulu ia hina kini telah menjadi istri pemilik mal!

Suara kaleng susu yang menghantam lantai marmer Greenbelt terdengar begitu keras hingga beberapa orang menoleh. Namun, yang benar-benar membuat dadaku sesak bukanlah suara benda jatuh itu, melainkan suara tawa Derek yang memenuhi lorong pusat perbelanjaan siang itu.

Aku berjongkok di lantai, berusaha mengumpulkan apel, roti, dan beberapa bahan makanan yang berhamburan dari keranjang belanja. Jemariku gemetar, bukan karena malu, melainkan karena aku tidak menyangka bahwa setelah lima tahun, pertemuan pertamaku dengan mantan pria yang pernah kucintai justru terjadi seperti ini.

Derek berdiri di depanku dengan setelan mahal dan sepatu kulit mengilap. Di sampingnya, seorang perempuan cantik bernama Vanessa menggandeng lengannya sambil tersenyum meremehkan.

“Sarah?” katanya sambil tertawa kecil. “Aku hampir tidak mengenalimu.”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Waktu memang mengubah banyak hal. Rambut Derek kini tertata rapi, jam tangannya tampak mahal, dan cara bicaranya dipenuhi rasa percaya diri yang berlebihan.

“Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini,” jawabku pelan.

Vanessa memandangku dari atas ke bawah. “Siapa dia?”

“Mantan pacarku waktu kuliah,” jawab Derek sambil terkekeh. “Dulu aku kasihan padanya. Aku bahkan membayar uang kuliahnya beberapa kali.”

Aku mengepalkan tangan.

Itu bohong.

Selama kuliah, akulah yang bekerja paruh waktu siang dan malam demi membayar biaya hidup kami berdua. Derek berasal dari keluarga sederhana dan bermimpi menjadi eksekutif sukses. Aku pernah percaya bahwa cinta cukup untuk melewati masa sulit.

Sampai suatu hari, tepat setelah ia diterima bekerja di perusahaan besar milik Grup Chun, ia meninggalkanku begitu saja.

“Aku butuh pasangan yang bisa membantuku naik kelas,” katanya saat itu. “Bukan seseorang yang hanya menjadi beban.”

Kalimat itu menghancurkanku.

Hari ini, lima tahun kemudian, rupanya ia masih memandangku dengan mata yang sama.

“Lihat pakaianmu.” Derek tertawa. “Ternyata hidupmu tidak berubah sama sekali.”

Aku menatap celana jeans lusuh dan kaus sederhana yang kupakai. Memang sengaja kupilih pakaian seperti itu. Aku baru saja pulang dari mengunjungi sebuah panti asuhan yang selama ini kubiayai diam-diam.

“Tidak semua orang harus memamerkan kekayaannya,” kataku tenang.

Derek tersenyum sinis.

“Tentu saja. Itu alasan klasik orang miskin.”

Sebelum aku sempat menjawab, salah satu kantong belanja menyentuh ujung sepatunya. Derek langsung mundur seolah terkena sesuatu yang menjijikkan.

“Hei! Kau tahu berapa harga sepatu ini?”

Tanpa pikir panjang, ia menendang seluruh belanjaanku hingga isinya kembali berserakan.

Beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka. Ada yang berbisik, ada yang sekadar menonton.

Yang paling menyakitkan adalah ketika petugas keamanan mendekat dan justru memintaku pergi.

“Maaf, Bu. Jangan membuat keributan.”

Aku memandang wajah pria itu selama beberapa detik. Lalu, tanpa berkata apa pun, aku mengeluarkan ponsel titanium hitam dari dalam tas.

Aku menekan satu nomor.

“Honey,” bisikku singkat. “Dia ada di sini.”

Derek mendengar ucapanku dan tertawa.

“Wow. Sekarang kau punya suami? Apa dia sopir online?”

Vanessa ikut tertawa.

Aku memasukkan kembali ponselku dan membiarkan mereka berbicara sesuka hati.

Sepuluh menit kemudian, aku dibawa ke ruang keamanan. Derek dan Vanessa ikut masuk untuk memberikan laporan.

“Kami hanya ingin pusat perbelanjaan ini tetap nyaman,” kata Vanessa manis.

Petugas meminta identitasku.

Aku menyerahkan SIM tanpa banyak bicara.

Beberapa detik setelah memindainya, wajah petugas itu berubah pucat.

“Ada apa?” tanya Derek.

Belum sempat petugas menjawab, pintu ruangan terbuka.

Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun masuk dengan langkah cepat. Semua petugas langsung berdiri.

Itu adalah Marina, manajer utama Greenbelt.

Namun, yang membuat Derek terdiam adalah apa yang dilakukan Marina setelahnya.

Wanita itu menghampiriku dan sedikit membungkukkan badan.

“Nyonya Chun, kami mohon maaf atas kejadian ini.”

Ruangan mendadak sunyi.

Derek tertawa canggung.

“Maaf, mungkin ada kesalahan. Sarah bukan—”

“Ny. Sarah Chun,” potong Marina sambil menatap layar komputer. “Pemegang akses Platinum Executive.”

Vanessa melepaskan genggaman tangannya dari lengan Derek.

“Derek… apa ini?”

“Aku tidak tahu.”

Aku duduk diam.

Sebenarnya, aku tidak pernah berniat menyembunyikan identitasku dari dunia. Hanya saja, setelah menikah dengan Dante dua tahun lalu, kami sepakat menjalani hidup sederhana sejauh mungkin.

Dante selalu berkata bahwa kekayaan adalah alat, bukan identitas.

Pintu kembali terbuka.

Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat.

Aku menoleh dan melihat suamiku memasuki ruangan.

Dante Chun tidak mengenakan jas mahal atau pengawal berlebihan. Ia hanya mengenakan kemeja abu-abu sederhana. Namun, semua orang di ruangan itu langsung menundukkan kepala.

Derek memucat.

Ia mengenali pria itu.

Selama tiga tahun terakhir, Dante adalah pemilik perusahaan tempat Derek bekerja.

Dante berjalan ke arahku lebih dulu.

“Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Tatapan Dante kemudian beralih kepada Derek.

“Jadi, kau orangnya?”

Derek buru-buru mengulurkan tangan.

“Pak Dante, saya bisa menjelaskan. Ini hanya kesalahpahaman.”

Dante tidak menyambut tangannya.

Marina menyerahkan tablet yang berisi rekaman CCTV.

Semua orang terdiam saat video itu diputar.

Suara tendangan Derek terdengar jelas.

Tawanya.

Ucapan “orang miskin”.

Tatapanku yang tertunduk.

Dante menonton semuanya tanpa mengubah ekspresi.

Setelah video selesai, ia bertanya kepada Marina, “Siapa petugas keamanan yang mengusir istriku?”

Dua orang petugas langsung pucat.

“Kami… kami tidak tahu bahwa beliau—”

“Masalahnya bukan karena kalian tidak tahu siapa dia,” kata Dante dingin. “Masalahnya adalah kalian memilih membela orang yang tampak kaya dan merendahkan seseorang yang kalian anggap miskin.”

Tidak ada yang berani menjawab.

Derek mulai panik.

“Pak, saya mohon. Karier saya sedang bagus. Saya baru dipromosikan.”

Dante memandangnya beberapa saat.

“Kau tahu kenapa perusahaan kami berkembang?”

Derek menggeleng.

“Karena kami menilai kemampuan seseorang, bukan latar belakangnya.”

Aku dapat melihat keringat membasahi pelipis Derek.

“Sarah,” kata Dante sambil menoleh kepadaku, “apa yang ingin kau lakukan?”

Semua mata tertuju padaku.

Aku bisa saja meminta Dante memecat Derek saat itu juga. Aku bisa membalas semua penghinaan yang pernah ia lakukan bertahun-tahun lalu.

Tetapi anehnya, yang kurasakan hanyalah lelah.

Aku teringat diriku yang dulu.

Gadis yang bekerja di kafe hingga tengah malam demi membayar uang kuliah.

Gadis yang rela menjual laptop demi membantu pria yang dicintainya.

Gadis yang ditinggalkan begitu saja ketika pria itu merasa sudah tidak membutuhkannya.

Aku berdiri dan menatap Derek.

“Apakah kau ingat malam ketika aku menjual cincin peninggalan ibuku?”

Wajah Derek langsung berubah.

“Aku…”

“Uang itu kupakai untuk membayar biaya pelatihan kerjamu.”

Vanessa menoleh cepat ke arah Derek.

“Apa?”

Derek menundukkan kepala.

“Itu masa lalu.”

Aku tersenyum tipis.

“Benar. Itu masa lalu.”

Dante tampak terkejut mendengar cerita itu. Bahkan ia sendiri belum pernah mendengarnya.

Aku mengambil tas belanjaku yang sudah dibereskan staf.

“Tidak perlu memecat siapa pun karena aku.”

Derek mengangkat wajahnya penuh harapan.

Namun aku melanjutkan kalimatku.

“Tapi setiap tindakan memiliki konsekuensi.”

Aku meminta Marina mengunggah rekaman CCTV itu kepada divisi etik perusahaan Grup Chun. Bukan untuk mempermalukan Derek, melainkan agar mereka melakukan penyelidikan resmi.

Dante menyetujui keputusanku.

Kami pun pergi meninggalkan ruangan.

Di parkiran VIP, Dante membuka pintu mobil untukku.

“Kau terlalu baik,” katanya pelan.

Aku memandang lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala.

“Bukan karena aku baik.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak ingin menjadi seperti dia.”

Dante menggenggam tanganku.

Malam itu, kupikir semuanya telah selesai.

Aku salah.

Keesokan paginya, berita tentang insiden di Greenbelt menyebar ke media sosial. Seseorang ternyata merekam kejadian itu dan mengunggahnya.

Dalam hitungan jam, video tersebut ditonton jutaan orang.

Netizen tidak hanya mengecam Derek, tetapi juga menemukan fakta-fakta yang selama ini ia sembunyikan.

Beberapa mantan rekan kerjanya mengaku bahwa Derek sering menghina karyawan magang dan memperlakukan staf rendahan dengan buruk. Departemen sumber daya manusia Grup Chun segera membuka investigasi internal.

Tiga hari kemudian, Derek diberhentikan dari jabatannya.

Namun, kejutan terbesar datang seminggu setelahnya.

Sore itu, saat aku mengunjungi panti asuhan, seorang pria berdiri di depan gerbang.

Derek.

Penampilannya jauh berbeda. Tidak ada lagi jas mahal atau sepatu mengilap.

“Aku hanya ingin meminta maaf,” katanya lirih.

Aku menatapnya tanpa emosi.

“Untuk yang terjadi di mal?”

Ia menggeleng.

“Bukan hanya itu.”

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, aku melihat penyesalan yang tulus di matanya.

“Aku minta maaf karena meninggalkanmu ketika kau paling membutuhkanku. Aku minta maaf karena membuatmu merasa tidak berharga.”

Aku terdiam.

Di belakangku, anak-anak panti berlarian sambil tertawa.

Derek memperhatikan mereka.

“Tempat ini milikmu?”

Aku mengangguk.

“Sebagian besar biaya operasionalnya memang kutanggung.”

Ia tertawa kecil, tetapi kali ini penuh kepahitan.

“Lucu sekali. Selama ini aku mengira kesuksesan berarti mobil mewah, jabatan, dan uang.”

“Lalu sekarang?”

Derek memandang anak-anak yang memelukku satu per satu.

“Aku baru sadar bahwa orang termiskin bukanlah mereka yang tidak punya uang.”

Aku tidak menjawab.

Karena jauh di dalam hati, aku tahu bahwa beberapa pelajaran memang harus dibayar mahal.

Sebelum pergi, Derek berhenti di depan gerbang.

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

“Apa?”

“Kenapa kau tidak menghancurkanku saat punya kesempatan?”

Aku tersenyum tipis.

“Karena orang yang benar-benar bahagia tidak membutuhkan balas dendam.”

Derek mengangguk perlahan sebelum berbalik dan berjalan pergi.

Aku memandang punggungnya hingga menghilang di ujung jalan.

Dante yang sejak tadi menunggu di dalam mobil mendekat dan merangkul pundakku.

“Menyesal pernah mengenalnya?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Aku menatap langit senja Jakarta.

“Karena tanpa semua luka itu, aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.”

Dante tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku benar-benar memahami sesuatu.

Bukan penghinaan Derek yang mengubah hidupku.

Bukan pula kekayaan Dante.

Yang mengubah hidupku adalah keberanian untuk tetap menjadi orang baik, bahkan setelah dunia berkali-kali memperlakukan kita dengan buruk.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang