Menikah Kilat dengan Idola Kampus yang Dingin, Aku Malah Ditolak Setiap Malam—Sampai Cinta Pertamaku Pulang dan Kubawa Surat Cerai

Aku menatap Galang yang sudah membelakangiku dengan perasaan campur aduk antara malu, kesal, dan harga diri yang terluka.

Ciuman saja tidak akan membuatku hamil, Pak Direktur.

Kalimat itu hanya berani kuucapkan dalam hati.

Malam kedua pernikahan kami berakhir sama seperti malam pertama. Bedanya, kali ini aku tidak bisa menyalahkan kelelahan setelah resepsi.

Aku berbaring membelakanginya, menarik selimut sampai dagu, lalu memejamkan mata meski sama sekali tidak mengantuk.

Beberapa menit kemudian, kurasakan Galang bergerak mendekat.

Tangannya menyentuh pinggangku.

Jantungku sempat berdebar, tetapi harapan itu mati ketika dia hanya menarik tubuhku ke pelukannya.

“Jangan tidur terlalu dekat tepi ranjang.”

Aku menggigit bibir.

“Iya.”

Begitulah kehidupan pernikahan kami dimulai.

Galang memperlakukanku dengan sangat baik. Terlalu baik, malah.

Dia selalu menyiapkan sarapan jika bangun lebih dulu. Kalau pulang terlambat, dia mengirim pesan. Saat tahu aku sering lupa makan ketika bekerja, dia meminta asistennya mengirim makan siang ke kantorku.

Kalau hujan, dia menelepon untuk memastikan aku membawa payung.

Kalau aku tertidur di sofa, aku selalu terbangun di tempat tidur dengan selimut menutupi tubuhku.

Dia bahkan hafal bahwa aku tidak suka daun bawang dan lebih memilih kopi tanpa gula.

Namun setiap malam, batas tak kasatmata itu selalu muncul.

Galang bisa memelukku.

Mencium keningku.

Kadang mencium bibirku sampai aku kehilangan napas.

Tetapi begitu aku mencoba melangkah lebih jauh, dia akan berhenti.

Awalnya aku masih bisa menertawakannya.

Setelah dua minggu, aku mulai mempertanyakan diriku sendiri.

Sebulan kemudian, aku berhenti mencoba.

Maya sampai menggebrak meja ketika kami bertemu di sebuah kafe di Dago.

“Sebulan?”

Aku menendang kakinya di bawah meja.

“Pelan-pelan.”

“Sebulan menikah dan kalian belum pernah benar-benar menjadi suami istri?”

Beberapa orang menoleh.

Aku ingin menghilang.

“Maya.”

“Oke, maaf.” Dia merendahkan suara. “Kamu sudah tanya alasannya?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku memainkan sedotan di gelasku.

Karena aku takut mendengar jawabannya.

Mungkin Galang sebenarnya tidak menginginkanku.

Mungkin dia masih kecewa karena seharusnya Citra yang menjadi istrinya.

Atau mungkin ada perempuan lain.

Pikiran terakhir itu terasa seperti duri.

Maya menatapku lama.

“Laras, kamu istrinya. Kamu berhak tahu.”

Malam itu aku berniat bertanya.

Namun ketika pulang, Galang sedang duduk di ruang kerja dengan wajah pucat. Di meja ada beberapa dokumen perusahaan dan obat sakit kepala.

Aku lupa semua pertanyaanku.

“Kamu sakit?”

“Cuma pusing.”

Aku menyentuh dahinya.

Hangat.

Akhirnya aku membuatkan bubur, memaksanya minum obat, lalu duduk di samping tempat tidur sampai dia tertidur.

Dalam kondisi setengah sadar, Galang tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Jangan pergi.”

Aku terdiam.

“Aku di sini.”

Genggamannya semakin erat.

“Jangan pergi lagi.”

Lagi?

Aku ingin bertanya, tetapi napasnya sudah teratur.

Keesokan paginya, dia tidak ingat pernah mengatakan apa pun.

Aku pun memilih diam.

Sampai tiga bulan setelah pernikahan kami, seseorang dari masa laluku kembali ke Bandung.

Namanya Raka Mahendra.

Cinta pertamaku.

Pria yang pernah membuatku percaya bahwa aku bisa memiliki kehidupan sederhana tanpa memikirkan saham keluarga, nama belakang, atau kewajiban menjadi anak yang harus selalu membuktikan diri.

Kami berpacaran sejak tahun kedua kuliah.

Hubungan kami berakhir bukan karena perselingkuhan atau pertengkaran besar.

Raka mendapat beasiswa ke Melbourne. Aku sedang menghadapi kekacauan perusahaan ayah dan kondisi ibuku yang memburuk sebelum meninggal.

Kami mencoba menjalani hubungan jarak jauh.

Enam bulan.

Setahun.

Kemudian percakapan kami semakin pendek.

Sampai suatu hari kami sepakat melepaskan satu sama lain.

Aku mengira cerita itu sudah selesai.

Ternyata belum.

Aku bertemu Raka lagi di lobi sebuah hotel di Jalan Asia Afrika saat menghadiri pertemuan bisnis.

“Laras?”

Aku menoleh dan membeku.

Raka berdiri beberapa meter dariku.

Lebih dewasa, lebih tenang, tetapi senyumnya masih sama.

“Kamu benar-benar Laras.”

Aku tersenyum canggung.

“Kapan pulang?”

“Dua minggu lalu.”

Tatapannya turun ke cincin di jariku.

Senyumnya memudar.

“Aku dengar kamu menikah.”

“Iya.”

“Dengan Galang Pradipta.”

Aku mengangguk.

Raka tertawa kecil, meski matanya tidak ikut tersenyum.

“Dunia memang suka bercanda.”

Kami minum kopi setelah pertemuanku selesai.

Tidak ada sesuatu yang seharusnya disembunyikan. Kami hanya membicarakan pekerjaan, teman-teman lama, dan kehidupan masing-masing.

Namun sebelum berpisah, Raka berkata sesuatu yang menggangguku.

“Kalau suatu hari kamu sadar bahwa hidup yang kamu pilih ternyata bukan hidup yang kamu inginkan, jangan takut mulai lagi.”

Aku menatapnya.

“Kenapa ngomong begitu?”

“Karena dulu kamu selalu terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain.”

Aku tidak menjawab.

Malam itu Galang sedang membaca dokumen di kamar ketika aku pulang.

“Kamu terlambat.”

“Ada meeting.”

“Dengan siapa?”

Aku menyebut beberapa nama.

Lalu, entah kenapa, aku menambahkan, “Aku juga ketemu Raka.”

Halaman dokumen di tangan Galang berhenti bergerak.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Raka Mahendra?”

“Kamu kenal?”

“Pernah lihat.”

Nada suaranya datar.

Aku duduk di depan meja rias.

“Dia baru pulang dari Australia.”

“Bagus.”

Hanya itu.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada kecemburuan.

Entah kenapa, sikapnya justru membuat dadaku sakit.

Mungkin memang aku saja yang terlalu berharap.

Beberapa hari berikutnya, Raka beberapa kali menghubungiku. Sebagian besar soal peluang kerja sama karena perusahaan tempatnya bekerja sedang mencari mitra lokal.

Aku selalu menjawab secara profesional.

Sampai suatu sore Citra datang ke kantorku.

Dia meletakkan ponselnya di meja.

Di layar terlihat foto aku dan Raka sedang keluar dari hotel.

Sudut pengambilannya membuat kami tampak jauh lebih dekat daripada kenyataannya.

“Cepat juga,” katanya sinis.

“Apa maksudmu?”

“Baru tiga bulan menikah sudah ketemu mantan diam-diam.”

“Itu urusan pekerjaan.”

Citra tersenyum.

“Kalau keluarga Pradipta lihat foto ini, kira-kira mereka percaya?”

Aku menatap adik tiriku itu.

“Apa maumu?”

“Aku cuma kasihan sama Kak Galang.”

Untuk pertama kalinya aku tertawa.

“Dulu kamu bahkan tidak mau menikah dengannya.”

Wajah Citra menegang.

“Aku bukan nggak mau.”

“Lalu?”

Dia mengambil ponselnya.

“Aku hanya belum siap. Kalau bukan karena foto pesta itu, yang berdiri di pelaminan bersamanya seharusnya aku.”

Setelah dia pergi, kata-katanya terus terngiang.

Malam itu aku menemukan Galang di balkon.

Aku berdiri di sampingnya.

“Kalau dulu Citra tidak membuat masalah, kamu akan menikah dengannya?”

Galang menoleh.

“Kenapa tiba-tiba bertanya?”

“Jawab saja.”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku terkejut.

“Tidak?”

“Aku tidak pernah setuju menikah dengan Citra.”

“Bukannya keluarga kita sudah sepakat?”

“Itu kesepakatan orang tua.”

“Lalu kenapa kamu setuju menikah denganku?”

Galang diam.

Itulah masalahnya.

Dia selalu diam ketika pertanyaannya menyentuh sesuatu yang benar-benar penting.

Aku akhirnya tertawa pahit.

“Sudahlah.”

Aku masuk kamar.

Galang menyusul dan menangkap pergelangan tanganku.

“Laras.”

“Aku capek.”

“Karena Raka kembali?”

Aku menatapnya.

Jadi dia peduli.

“Setidaknya Raka pernah membuatku merasa diinginkan.”

Kalimat itu keluar sebelum sempat kutahan.

Wajah Galang berubah.

Tangannya perlahan melepaskanku.

Aku langsung menyesal.

Namun luka yang kupendam selama berbulan-bulan sudah telanjur terbuka.

“Aku ini apa buat kamu, Galang?”

Dia tidak menjawab.

“Istri?”

“Ya.”

“Kalau begitu kenapa setiap kali aku mendekat, kamu selalu menolakku?”

Rahangnya mengeras.

“Bukan karena kamu.”

“Lalu karena siapa?”

Diam lagi.

Mataku mulai panas.

“Kalau kamu mencintai orang lain, bilang.”

“Tidak ada orang lain.”

“Kalau kamu sebenarnya ingin menikahi Citra, bilang.”

“Tidak pernah.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Galang menatapku lama.

Kemudian dia berkata pelan, “Aku belum bisa.”

Jawaban itu menghancurkan sisa kesabaranku.

Aku mengambil bantal dan tidur di kamar tamu.

Dua hari kemudian, sebuah amplop datang ke kantorku.

Isinya foto-foto Galang bersama seorang perempuan.

Foto pertama di sebuah rumah sakit.

Foto kedua di restoran.

Foto ketiga memperlihatkan perempuan itu memegang lengannya.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Tanyakan kepada suamimu siapa Nadine.

Tanganku dingin.

Malam itu Galang belum pulang sampai hampir tengah malam.

Begitu pintu terbuka, aku melempar foto-foto itu ke meja.

“Siapa Nadine?”

Wajah Galang langsung kehilangan warna.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Kamu kenal dia.”

“Laras, dengarkan dulu.”

“Siapa dia?”

Galang menutup mata sesaat.

“Seseorang dari masa lalu.”

Aku tertawa kecil.

Lucu.

Aku membawa cinta pertamaku hanya dalam bentuk kenangan, tetapi rupanya suamiku juga menyimpan seseorang.

“Apakah kamu mencintainya?”

“Tidak.”

“Pernah?”

Dia tidak menjawab cepat.

Aku mundur.

“Baik.”

“Laras.”

“Aku mengerti.”

Padahal sebenarnya aku tidak mengerti apa pun.

Aku hanya lelah.

Malam itu aku tidak menangis.

Aku justru tidur sangat nyenyak.

Keesokan paginya, sebelum berangkat kerja, aku menghubungi pengacara keluarga yang sudah kukenal bertahun-tahun.

Aku meminta satu hal.

Surat cerai.

Tiga hari kemudian dokumennya berada di tanganku.

Pada hari yang sama, Raka menelepon.

“Aku kembali ke Melbourne minggu depan.”

“Oh.”

“Aku cuma mau bilang… kalau kamu butuh seseorang untuk bicara, aku masih ada.”

Aku memandang surat cerai di meja.

Untuk pertama kalinya aku berpikir mungkin hidup memang sedang memberiku kesempatan kedua.

Malam itu aku menunggu Galang di ruang tamu.

Ketika dia pulang, aku langsung menyodorkan amplop.

“Apa ini?”

“Buka.”

Dia membaca halaman pertama.

Wajahnya berubah drastis.

“Cerai?”

“Iya.”

“Karena Raka?”

Aku hampir tertawa.

“Menarik. Setelah berbulan-bulan tidak menunjukkan rasa cemburu, sekarang kamu malah menyalahkan Raka?”

Galang meremas dokumen itu.

“Aku tidak akan tanda tangan.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau.”

“Bukankah pernikahan kita cuma kesepakatan?”

“Buat kamu mungkin.”

Aku membeku.

Galang menatapku dengan mata merah.

“Aku menunggu sebelas tahun untuk menikahimu.”

Dunia seakan berhenti.

“Apa?”

Dia berjalan menuju lemari ruang kerja, membuka laci terkunci, lalu mengeluarkan sebuah kotak tua.

Di dalamnya ada kartu mahasiswa.

Milikku.

Kartu yang hilang saat tahun pertama kuliah.

Ada juga puluhan potongan kertas.

Catatan kelas.

Tiket seminar.

Bahkan bungkus permen rasa jeruk yang dulu sering kumakan saat belajar.

Aku menatapnya tak percaya.

“Galang…”

“Aku mengenalmu sebelum kamu mengenalku.”

Dia duduk dengan napas berat.

“Waktu semester pertama, aku pernah pingsan di perpustakaan karena demam. Semua orang cuma melihat. Kamu yang memanggil petugas dan menemaniku sampai klinik kampus.”

Aku samar-samar mengingatnya.

Seorang mahasiswa laki-laki pucat yang bahkan wajahnya tidak kuperhatikan.

“Itu kamu?”

Galang mengangguk.

“Sejak hari itu aku memperhatikanmu.”

“Lalu kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena beberapa bulan kemudian kamu pacaran dengan Raka.”

Aku tidak bisa bicara.

“Nadine siapa?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Galang mengusap wajah.

“Adikku.”

Aku terpaku.

“Keluargaku tidak pernah membicarakannya. Nadine lahir dari hubungan ayah sebelum menikah dengan ibu. Kakek tidak pernah menerimanya secara terbuka.”

“Kenapa kalian ke rumah sakit?”

“Dia menjalani operasi.”

“Kenapa kamu merahasiakannya?”

“Karena dia meminta begitu.”

Semua kepingan mulai tersusun.

Kecuali satu.

“Lalu kenapa kamu selalu menolakku?”

Galang berdiri.

Untuk pertama kalinya pria yang selalu terlihat tenang itu tampak benar-benar gugup.

“Karena aku tahu alasan keluargamu menikahkanmu denganku.”

Aku terdiam.

“Ayahmu ingin posisi bisnis. Kakekku ingin cicit. Semua orang bicara tentang saham dan anak bahkan sebelum kita punya kesempatan mengenal satu sama lain.”

Dia menatapku.

“Aku tidak mau malam pertama kita terjadi karena kamu merasa punya kewajiban memberiku keturunan.”

Dadaku sesak.

“Setiap kali kamu mendekat, kamu selalu bicara soal anak.”

Aku mengingat semuanya.

Benar.

Aku tidak pernah berkata bahwa aku menginginkannya.

Aku selalu menggunakan alasan anak, keluarga, masa subur, atau kakeknya.

Galang tersenyum getir.

“Aku ingin kamu memilihku, Laras. Bukan karena ayahmu. Bukan karena aset dua puluh miliar. Bukan karena keluarga.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Bodoh.”

Galang terdiam.

Aku memukul dadanya.

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

“Aku takut.”

“Kamu?”

“Ya.”

Aku tertawa sambil menangis.

Idola kampus yang dingin itu ternyata sama pengecutnya denganku.

Galang mengambil surat cerai dari meja.

“Aku tetap tidak akan tanda tangan.”

Aku merebutnya.

Kemudian, tepat di depannya, aku merobek surat itu menjadi dua.

Galang membeku.

Aku merobeknya lagi.

“Laras?”

“Jangan salah paham.”

Aku membuang potongannya ke meja.

“Aku masih marah.”

Dia mengangguk.

“Baik.”

“Dan mulai sekarang tidak boleh ada rahasia.”

“Baik.”

“Termasuk Nadine.”

“Baik.”

Aku menarik napas.

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

Aku menatap matanya.

“Kali ini aku tidak sedang bicara soal anak.”

Galang tidak bergerak.

Aku mendekat dan memeluk pinggangnya, persis seperti malam pertama kami.

“Aku memilih kamu.”

Untuk beberapa detik, dia hanya menatapku.

Lalu ekspresi tenangnya benar-benar runtuh.

Dia memelukku erat, seolah takut aku akan menghilang kalau lengannya sedikit saja mengendur.

“Aku sudah menunggu kalimat itu sebelas tahun.”

Aku tertawa kecil di dadanya.

Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.

Galang masih tidur di sebelahku, tangannya melingkari pinggangku.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Raka.

Semoga kamu menemukan hidup yang benar-benar kamu pilih.

Aku menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

Sudah.

Lalu kuhapus percakapan kami.

Beberapa minggu kemudian, kebohongan Citra terbongkar. Dialah yang menyuruh seseorang mengambil foto Galang dan Nadine, lalu mengirimkannya kepadaku. Dia berharap pernikahan kami berakhir sehingga keluarga Pradipta mempertimbangkannya kembali.

Namun yang paling mengejutkan justru terjadi ketika ayah memanggilku untuk membicarakan pembagian perusahaan.

Dia mengira setelah menikah aku akan berhenti memperjuangkan hakku.

Aku menolak.

“Aku menikah dengan Galang bukan untuk mendapatkan perlindungan keluarga Pradipta,” kataku. “Dan aku juga tidak akan menyerahkan sesuatu yang kubangun bertahun-tahun hanya karena Dion laki-laki.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan siapa pun berdiri di depanku.

Galang hanya berdiri di sampingku.

Itulah perbedaannya.

Setahun kemudian, Kakek Surya kembali menyinggung hadiah dua puluh miliar saat makan malam keluarga.

“Kapan Kakek dapat cicit?”

Aku dan Galang saling berpandangan.

Dulu pertanyaan itu mungkin membuatku menghitung kalender.

Sekarang aku hanya tersenyum.

“Nanti kalau kami siap, Kek.”

Anehnya, Galang yang biasanya diam malah menambahkan, “Kalau Kakek terlalu tidak sabar, asetnya dipakai liburan saja.”

Semua orang terdiam.

Aku tertawa paling keras.

Di bawah meja, tanganku menggenggam tangannya.

Dulu aku mengira pernikahan kami dimulai karena dua keluarga membutuhkan kesepakatan.

Aku salah.

Pernikahan memang bisa diatur oleh keluarga.

Pertemuan bisa diatur oleh keadaan.

Bahkan sebuah nama bisa ditempatkan di samping nama lain di atas surat nikah.

Tetapi cinta tidak pernah benar-benar lahir dari tanda tangan.

Cinta lahir ketika dua orang berhenti menjalankan peran yang ditentukan orang lain dan mulai berani mengatakan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Dan ternyata, selama sebelas tahun, pria paling dingin yang pernah kukenal hanya menunggu satu hal sederhana.

Bukan seorang istri yang diberikan kepadanya.

Melainkan aku yang memilih pulang kepadanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang