Suamiku Sendiri Tak Mengenaliku di Kantor, Lalu Menelepon “Istri Kontraknya” di Depan Semua Orang

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar berharap Rangga melupakan alamat rumahku.

Sayangnya, harapanku sia-sia.

Begitu gala perusahaan berakhir, Rangga sudah berdiri di samping pintu keluar hotel dengan satu tangan masuk ke saku celana. Jas abu gelapnya masih rapi, tetapi ekspresinya sama sekali tidak terlihat seperti direktur utama yang baru selesai menghadiri acara resmi.

Dia terlihat seperti penagih utang.

Dan utangnya adalah enam bulan pernikahan yang bahkan tidak pernah kami jalani.

“Masuk,” katanya ketika aku mendekat.

“Aku bisa pesan mobil sendiri.”

“Indah.”

Hanya satu kata.

Namun cara dia mengucapkan namaku membuat Melati yang berdiri di belakangku langsung mundur dua langkah.

“Aku pulang dulu, ya,” katanya cepat.

Aku menoleh tajam. “Melati.”

Dia pura-pura tidak mendengar.

“Besok aku ada kelas pagi!”

“Kamu sudah lulus dua tahun lalu!”

Namun pengkhianat itu sudah berlari menuju mobilnya.

Aku akhirnya masuk ke mobil Rangga.

Sepanjang perjalanan menuju apartemenku, tidak ada yang bicara. Rangga menyetir sendiri. Kedua tangannya berada di kemudi, sementara wajahnya diterangi lampu jalan Jakarta yang bergantian masuk melalui kaca.

Aku beberapa kali meliriknya.

Dia tidak terlihat marah.

Justru itu yang membuatku semakin gugup.

Ketika mobil berhenti di basement apartemen, aku buru-buru membuka sabuk pengaman.

“Terima kasih sudah mengantar.”

Rangga mematikan mesin.

“Aku ikut naik.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Bicara dengan istriku.”

“Aku bisa bicara di sini.”

“Aku tidak mau membahas pernikahan kita di basement.”

Aku tidak punya alasan lain untuk menolak.

Beberapa menit kemudian kami berdiri di ruang tamu apartemen kecilku.

Rangga memandang sekeliling dengan ekspresi sulit dibaca.

Apartemen itu hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tamu kecil yang menyatu dengan dapur, dan balkon sempit menghadap gedung-gedung Jakarta.

“Aku transfer uang setiap bulan,” katanya tiba-tiba.

“Iya.”

“Kenapa kamu tinggal di tempat sekecil ini?”

Aku langsung tersinggung.

“Memangnya kenapa? Ini rumahku.”

“Aku bukan menghina.”

“Wajahmu menghina.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya bergerak.

Lalu pandangannya berhenti pada sebuah benda di atas kulkas.

Foto pernikahan.

Lebih tepatnya, foto administrasi setelah kami menandatangani dokumen.

Dalam foto itu aku berdiri di samping Rangga. Dia masih memakai kacamata hitam dan sedang melihat layar ponselnya.

Benar-benar romantis.

Rangga mengambil foto tersebut.

“Ini satu-satunya foto kita?”

“Iya.”

Dia menatapnya lama.

“Aku benar-benar keterlaluan.”

Aku terdiam.

Kupikir dia akan mencari alasan. Mengatakan pekerjaannya terlalu banyak atau perjalanan bisnisnya terlalu penting.

Namun dia hanya meletakkan foto itu kembali.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?”

Aku tertawa kecil.

“Hubungi lewat apa?”

“Nomorku.”

“Kamu tidak pernah memberikan nomormu.”

Rangga membeku.

“Melati punya.”

“Kenapa aku harus meminta nomor suamiku dari orang lain?”

Dia kehilangan jawaban.

Aku berjalan ke dapur dan menuangkan air.

“Lagi pula pernikahan ini kontrak. Bukankah itu yang kita sepakati?”

“Aku tidak pernah bilang kontrak.”

Aku menoleh.

“Memangnya apa bedanya?”

Rangga membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan nama kontaknya.

Istri Kontrak.

“Ini bukti yang cukup kuat.”

Dia mengusap wajah.

“Itu Melati yang menyimpan.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Waktu hari pernikahan, aku minta dia memasukkan nomor istriku ke ponsel karena aku harus segera berangkat. Dia yang menulis nama itu.”

Aku langsung mengambil ponsel dan menelepon Melati.

Tidak diangkat.

Kutelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Rangga menyandarkan tubuh ke meja dapur.

“Besok kita interogasi dia.”

Aku menahan senyum.

“Pak Direktur mau membuat tim investigasi?”

“Jangan panggil aku Pak Direktur di rumah.”

“Lalu?”

Dia menatapku.

“Rangga.”

Aku mengangguk pelan.

“Baik, Pak Rangga.”

Dia menarik napas panjang.

Malam itu pembicaraan kami berakhir tanpa pertengkaran besar. Rangga pulang hampir tengah malam.

Namun keesokan harinya, sesuatu berubah.

Pukul tujuh pagi, bel apartemenku berbunyi.

Ketika kubuka pintu, seorang kurir berdiri membawa dua kantong sarapan.

“Pesanan atas nama Rangga Pratama.”

Aku menatap makanan itu.

Ada bubur ayam tanpa daun bawang.

Persis kesukaanku.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari nomor baru.

Sarapan.

Aku mengetik balasan.

Dari mana kamu tahu aku tidak suka daun bawang?

Jawabannya datang satu menit kemudian.

Melati membuat buku catatan tentangmu juga.

Aku langsung menelepon Melati lagi.

Kali ini dia menjawab.

“Jadi kamu memberikan buku tentang aku kepada Rangga?”

Melati tertawa gugup.

“Supaya adil.”

“Kamu bilang dia bahkan tidak peduli!”

“Waktu itu memang nggak peduli.”

“Melati!”

Telepon ditutup.

Sejak hari itu, situasinya semakin aneh.

Di kantor, Rangga tetap profesional.

Dia masih mengoreksi laporanku. Masih memintaku mengulang presentasi kalau datanya kurang jelas. Tidak pernah sekali pun dia menunjukkan hubungan kami di depan pegawai lain.

Namun setelah jam kantor, dia berubah menjadi laki-laki yang entah sedang menebus kesalahan atau kehilangan akal sehat.

Dia mulai mengirim pesan.

Sudah makan?

Pulang jam berapa?

Hujan. Bawa payung.

Awalnya aku hanya menjawab seperlunya.

Namun perlahan, tanpa kusadari, percakapan kami semakin panjang.

Aku mengetahui bahwa selama di Jerman dia hampir selalu bekerja sampai tengah malam. Bahwa dia tidak suka ruangan terlalu dingin. Bahwa dia sebenarnya takut naik wahana ekstrem meskipun selalu menyangkalnya.

Dia juga mulai mengetahui hal-hal kecil tentangku.

Aku suka makan nasi goreng terlalu pedas.

Aku sering lupa mengisi daya ponsel.

Aku tidak bisa tidur kalau ada suara jam berdetak.

Semua terasa begitu normal sampai aku hampir lupa bahwa pernikahan kami memiliki batas waktu.

Satu tahun.

Artinya tinggal lima bulan lagi.

Suatu malam, setelah kami menyelesaikan presentasi besar, Rangga mengajakku makan di sebuah restoran kecil di Menteng.

“Ada sesuatu yang mau kubicarakan.”

Nada suaranya serius.

Aku langsung merasa tidak enak.

Dia meletakkan sebuah map di meja.

Aku mengenal map itu.

Dokumen pernikahan kami.

“Kontrak kita tinggal lima bulan.”

Aku tersenyum tipis.

“Jadi kamu sudah menyiapkan perceraian?”

Rangga mengernyit.

“Aku justru mau membatalkan kesepakatan itu.”

Tanganku berhenti.

“Maksudmu?”

“Aku tidak mau bercerai.”

Suara restoran mendadak terasa jauh.

Aku menatapnya lama.

“Karena Nenek?”

“Bukan.”

“Karena perusahaan?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Rangga menarik napas.

“Karena aku mulai menyukai istriku sendiri.”

Jantungku seperti lupa berdetak.

Aku menunduk.

“Rangga, kita baru benar-benar mengenal satu sama lain beberapa minggu.”

“Makanya aku bilang mulai.”

Aku tertawa gugup.

“Kamu selalu bicara seperti sedang presentasi investasi.”

“Kalau begitu aku buat lebih sederhana.”

Dia menatap mataku.

“Aku suka kamu, Indah.”

Aku tidak bisa menjawab.

Bukan karena aku tidak merasakan apa-apa.

Justru karena aku mulai merasakan terlalu banyak.

Namun sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, ponsel Rangga berdering.

Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah.

Nenek.

Dia mengangkat telepon.

Beberapa detik kemudian wajahnya menjadi pucat.

Kami langsung pergi ke rumah sakit.

Nenek Rangga terkena serangan jantung ringan.

Untungnya kondisinya cepat stabil.

Ketika kami masuk ke ruang perawatan, perempuan tua itu sedang berbaring dengan oksigen tipis di hidung.

Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.

“Indah.”

Aku mendekat dan menggenggam tangannya.

Namun kalimat berikutnya membuatku terdiam.

“Akhirnya kalian tahu juga.”

Rangga mengernyit.

“Tahu apa?”

Nenek memandang kami bergantian.

“Bahwa kalian menikah.”

Aku dan Rangga saling menatap.

“Nek,” katanya perlahan, “tentu kami tahu.”

Nenek tertawa kecil.

“Bukan itu maksud Nenek.”

Pintu kamar terbuka.

Melati masuk.

Begitu melihat wajah neneknya, dia langsung berhenti.

“Nenek jangan bilang sekarang.”

“Sudah waktunya.”

Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Nenek meminta Melati mengambil sebuah amplop dari tasnya.

Di dalamnya ada beberapa foto lama.

Salah satunya memperlihatkan dua anak kecil di sebuah taman.

Seorang anak laki-laki sekitar sembilan tahun berdiri dengan wajah kesal. Di sampingnya, seorang anak perempuan kecil memegang es krim sambil tersenyum lebar.

Aku mengenali anak perempuan itu.

Diriku sendiri.

Aku mengangkat kepala.

“Apa ini?”

Rangga mengambil foto tersebut.

Wajahnya berubah.

“Itu aku.”

Nenek mengangguk.

Ternyata keluargaku dan keluarga Rangga pernah bertetangga ketika kami masih kecil.

Ayahku bekerja bersama ayah Rangga dalam sebuah proyek selama beberapa tahun. Kami sering bermain bersama sampai keluargaku pindah ke Surabaya.

Aku terlalu kecil untuk mengingatnya dengan jelas.

Rangga juga hanya memiliki potongan ingatan samar.

Namun Nenek tidak pernah lupa.

“Jadi Nenek sengaja memilih Indah?” tanya Rangga.

Nenek tersenyum.

“Nenek cuma memberi sedikit dorongan kepada Melati.”

Kami berdua menoleh ke arah Melati.

Dia mundur.

“Sedikit?”

Aku berdiri.

“Kamu datang ke rumahku sambil menangis!”

“Aku latihan dulu di mobil supaya meyakinkan.”

“Melati!”

Dia bersembunyi di belakang kursi.

Rangga memijat pelipis.

“Jadi sakit Nenek enam bulan lalu?”

Nenek berdeham.

“Tekanan darah memang naik.”

“Masuk rumah sakit?”

“Sekalian medical check-up.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku tidak tahu apakah harus marah atau tertawa.

Rangga menatap neneknya dengan ekspresi putus asa.

“Semua ini jebakan?”

“Tidak.”

Nenek menggenggam tanganku.

“Nenek hanya membuka pintu. Kalian sendiri yang memutuskan mau masuk atau tidak.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Namun kejutan sebenarnya baru datang dua hari kemudian.

HR memanggilku.

Aku masuk ke ruang kepala HR dengan perasaan aneh.

Di meja sudah ada dokumen mutasi.

Aku membaca halaman pertama.

Promosi.

Aku dipindahkan ke tim strategi regional sebagai manajer proyek.

Gajiku naik hampir dua kali lipat.

Aku langsung berdiri.

“Ini keputusan Pak Rangga?”

Kepala HR menggeleng.

“Justru beliau menolak ikut proses penilaian karena konflik kepentingan.”

Aku terdiam.

“Rekomendasi datang dari tiga direktur lain berdasarkan proyek ekspansi terakhir. Pak Rangga bahkan meminta namanya dikeluarkan dari komite.”

Saat keluar dari ruangan, aku menemukan Rangga berdiri di ujung koridor.

Aku menghampirinya.

“Kamu tahu soal promosi?”

“Sudah.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena itu pencapaianmu.”

Dia tersenyum tipis.

“Bukan hadiah dari suamimu.”

Entah kenapa kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan terakhirku.

Selama ini aku takut kalau hubungan kami berubah, aku akan selalu dianggap perempuan yang mendapatkan sesuatu karena menikahi direktur utama.

Namun Rangga justru memastikan aku berdiri dengan namaku sendiri.

Malam itu aku mendatanginya di ruang kerja.

Dia sedang sendirian.

Aku meletakkan sebuah map di mejanya.

Rangga membukanya.

Dokumen kesepakatan pernikahan kami.

Wajahnya langsung berubah.

“Indah.”

“Aku sudah memutuskan.”

Dia terdiam cukup lama.

“Kalau kamu memang ingin bercerai setelah masa kesepakatan selesai, aku akan menghormatinya.”

Aku mengambil dokumen itu kembali.

Lalu merobeknya menjadi dua.

Rangga membeku.

Aku merobeknya sekali lagi.

“Masalahnya, aku tidak mau memperpanjang kontrak.”

Wajahnya kehilangan warna.

Aku hampir tertawa.

“Aku mau menggantinya.”

“Dengan apa?”

Aku mengeluarkan selembar kertas lain.

Rangga mengambilnya dengan hati-hati.

Itu bukan dokumen hukum.

Hanya daftar tulisan tanganku.

Seratus Hal yang Harus Diketahui Kalau Mau Bertahan Hidup Bersama Indah.

Nomor satu.

Jangan pergi ke luar negeri enam bulan setelah menikah tanpa memberikan nomor telepon.

Nomor dua.

Jangan menghina ukuran apartemen istrimu.

Nomor tiga.

Kalau pulang terlambat, wajib memberi kabar.

Nomor empat.

Dilarang menyimpan nama istri sebagai Istri Kontrak.

Rangga mulai tertawa.

Aku menunjuk bagian paling bawah.

Nomor seratus.

Kontrak baru berlaku seumur hidup dan tidak menerima pengembalian dana.

Rangga mengangkat wajah.

“Ini lamaran?”

“Anggap saja evaluasi kinerja.”

Dia berdiri dan berjalan mengitariku.

“Aku harus tanda tangan di mana?”

“Belum tentu diterima.”

“Indah.”

“Apa?”

Dia menarikku perlahan ke dalam pelukannya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak mundur.

“Aku tanda tangan tanpa baca syarat.”

Aku menyandarkan kepala di dadanya.

“Direktur macam apa menandatangani dokumen tanpa membaca?”

“Direktur yang pernah tidak mengenali istrinya sendiri.”

Aku tertawa.

Beberapa bulan kemudian, kami mengadakan pesta pernikahan sederhana yang benar-benar kami inginkan.

Bukan karena Nenek.

Bukan karena kontrak.

Bukan karena uang.

Kali ini Rangga berdiri di sampingku tanpa tablet, tanpa kacamata hitam, dan tanpa penerbangan ke Frankfurt setelah acara.

Ketika fotografer meminta kami mendekat, Melati tiba-tiba berteriak dari belakang.

“Kak Rangga, sekarang sudah hafal wajah istrinya belum?”

Semua orang tertawa.

Rangga menatapku sejenak.

Lalu menjawab dengan tenang.

“Wajahnya mungkin bisa kulupakan.”

Aku langsung menyikut lengannya.

Namun dia menggenggam tanganku.

“Tapi orangnya tidak mungkin.”

Malam itu, setelah semua tamu pulang, ponselku berbunyi.

Rangga menelepon dari ujung ballroom hanya untuk menggodaku.

Dan tentu saja aku belum mengganti nada deringnya.

Suara itu kembali menggema.

“Ting ting! ATM bermarga Pratama menelepon! ATM bermarga Pratama menelepon! Cepat angkat supaya dapat uang!”

Rangga menutup wajah.

Melati tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.

Aku mengangkat telepon sambil tersenyum.

“Halo, ATM bermarga Pratama.”

Dari seberang ruangan, Rangga menatapku.

“Mulai besok ganti nama kontak itu.”

“Jadi apa?”

Dia tersenyum.

“Suami seumur hidup.”

Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa.

Enam bulan sebelumnya, laki-laki itu bahkan tidak mengenaliku ketika kami bertemu di lift.

Sekarang, di tengah ballroom yang perlahan kosong, aku akhirnya memahami sesuatu.

Kadang-kadang seseorang tidak datang ke hidup kita dengan cara yang sempurna.

Ada yang datang terlambat satu jam ke hari pernikahan.

Ada yang pergi selama enam bulan.

Ada yang bahkan lupa wajah istrinya sendiri.

Namun cinta bukan tentang bagaimana sebuah hubungan dimulai.

Cinta adalah tentang apa yang dilakukan dua orang setelah akhirnya benar-benar melihat satu sama lain.

Dan Rangga mungkin terlambat mengenaliku.

Tetapi setelah mengenaliku, dia memilih untuk tidak pergi lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang