SUAMIKU MENINGGALKANKU DI MINGGU TERAKHIR KEHAMILAN DEMI LIBURAN. DIA TIDAK TAHU, SEBELUM ANAK KAMI LAHIR…

Aku sudah memasuki usia kehamilan 38 minggu ketika suamiku memilih pergi berlibur ke Bali bersama keluarganya.

Tas persalinanku sudah tergeletak di samping pintu. Perutku terasa semakin berat, kakiku membengkak, dan dokter sudah berkali-kali mengingatkan bahwa persalinan bisa terjadi kapan saja.

Namun pagi itu, Arga justru menyeret koper melewatiku.

“Kalau tiba-tiba mulas, pesan taksi online saja,” katanya santai.

Aku menatap wajahnya, berharap ada sedikit keraguan di sana.

Tidak ada.

“Arga, aku bisa melahirkan kapan saja.”

Dia mengembuskan napas panjang, lalu melirik jam tangannya.

“Laras, tanggal perkiraan lahir itu cuma perkiraan. Tiket sudah dibeli, hotel sudah dibayar. Masa semuanya harus hangus?”

Dari luar terdengar klakson mobil.

Bu Ratna dan Pak Hendra, orang tua Arga, sudah menunggu di depan rumah.

Tak seorang pun turun untuk menanyakan keadaanku.

Arga mengambil kopernya.

“Jangan bikin aku kepikiran selama di Bali. Kamu santai saja di rumah.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Dia tersenyum tipis sebelum menutup pintu.

Arga mengira aku akhirnya mengalah.

Dia tidak tahu bahwa lima minggu sebelumnya aku sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada tas persalinanku.

Dokumen.

Namaku Laras Prameswari. Aku berusia tiga puluh satu tahun dan tinggal di Bekasi. Arga adalah suamiku selama hampir empat tahun.

Dulu aku mencintainya dengan cara yang mungkin terlalu sederhana.

Aku percaya ketika dia mengatakan lembur.

Aku percaya ketika dia mengatakan perjalanan dinas.

Aku percaya ketika dia pulang hampir tengah malam dengan aroma parfum yang tidak kukenal menempel di kemejanya.

Bahkan ketika sedang hamil, aku masih berusaha mencari alasan untuknya.

Mungkin dia memang sibuk.

Mungkin aku terlalu sensitif.

Mungkin hormon kehamilan membuat pikiranku berlebihan.

Setidaknya itulah yang selalu dikatakan Arga.

Sampai suatu malam aku melihat sebuah pesan muncul di jam pintarnya yang tertinggal di meja makan.

Nama pengirimnya Nadine.

Pesannya hanya muncul beberapa detik.

“Aku kangen tidur sama kamu.”

Tanganku langsung dingin.

Ketika Arga keluar dari kamar mandi, pesan itu sudah hilang.

Aku bertanya kepadanya malam itu.

“Nadine siapa?”

Wajahnya berubah sepersekian detik sebelum kembali tenang.

“Teman kantor.”

“Dia bilang kangen tidur sama kamu.”

Arga tertawa.

Bukan tertawa karena lucu.

Tapi tertawa seperti seseorang yang sedang menghadapi orang bodoh.

“Kamu baca pesan orang sembarangan?”

“Aku cuma melihatnya muncul.”

“Kamu tahu nggak, Laras? Sejak hamil kamu makin aneh.”

Dia mengambil jam pintarnya.

“Kamu terlalu curigaan.”

Aku hampir mempercayainya lagi.

Hampir.

Namun beberapa hari kemudian aku menemukan bukti pembayaran hotel di Jakarta Selatan dari kartu kredit bersama kami.

Dua malam.

Satu kamar.

Tanggalnya bertepatan dengan hari ketika Arga mengatakan sedang mengikuti rapat luar kota di Bandung.

Saat itulah aku mendatangi Bu Maya Kusuma, seorang pengacara yang direkomendasikan temanku.

Aku membawa semua yang kumiliki.

Tangkapan layar transaksi.

Catatan rekening.

Pesan yang sempat kupotret.

Bukti pembayaran rumah.

Dokumen asuransi.

Dan air mata yang selama berbulan-bulan kutahan.

Bu Maya tidak menyuruhku langsung bercerai.

“Kalau kamu belum siap mengambil keputusan, jangan dipaksa,” katanya. “Tapi mulai sekarang, jangan hidup tanpa perlindungan.”

Aku mengikuti sarannya.

Aku membuka rekening pribadi.

Mengganti kata sandi akun penting.

Menyalin seluruh dokumen keuangan.

Mengubah kontak darurat rumah sakit dari Arga menjadi Mbak Rani, kakakku.

Bu Maya juga menyiapkan dokumen gugatan perceraian dan langkah hukum untuk memastikan aset bersama tidak bisa dialihkan secara sepihak.

Aku belum mengajukannya.

Masih ada satu bagian bodoh dalam diriku yang berharap Arga akan berubah ketika anak kami akan lahir.

Aku membuat satu ujian terakhir tanpa pernah memberitahunya.

Aku ingin melihat pilihannya ketika harus menentukan antara liburan dan istrinya yang sedang hamil 38 minggu.

Pagi itu aku mendapat jawabannya.

Dia memilih Bali.

Begitu mobil mereka menghilang di ujung jalan, aku menelepon Bu Maya.

“Dia sudah pergi.”

“Benar-benar pergi?”

“Iya.”

“Laras, kamu aman?”

Pertanyaan itu membuat tenggorokanku tercekat.

Sudah lama sekali Arga tidak menanyakan hal sesederhana itu kepadaku.

“Aku aman.”

“Kalau begitu istirahat. Hubungi saya kalau ada sesuatu.”

Aku menutup telepon dan menghabiskan hari itu sendirian.

Sekitar pukul sepuluh malam, rasa sakit pertama datang.

Aku mencoba menganggapnya kontraksi palsu.

Tujuh menit kemudian, rasa sakit itu datang lagi.

Lalu tujuh menit berikutnya.

Aku langsung menelepon Mbak Rani.

Dia tiba kurang dari tiga puluh menit kemudian.

Begitu masuk, dia langsung mengambil tas persalinanku.

“Ayo.”

“Aku masih bisa jalan sendiri.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku lama.

“Tapi kamu sudah terlalu banyak melakukan semuanya sendirian.”

Aku tidak mampu menjawab.

Kami menuju rumah sakit di Jakarta Timur.

Pembukaanku sudah tiga sentimeter.

Kontraksi terus meningkat.

Ketika perawat memeriksa data pasien, dia bertanya, “Kontak daruratnya tetap Mbak Rani, Ibu, dan Ayah?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada nama Arga.

Menjelang tengah malam, ketika pembukaanku mencapai enam sentimeter, ponselku bergetar.

Pesan dari Arga.

“Sudah sampai. Bali bagus banget. Kamu santai saja di rumah. Jangan stres.”

Aku membaca pesan itu sambil menahan kontraksi.

Beberapa detik kemudian aku tertawa kecil.

Mbak Rani menatapku bingung.

“Kenapa?”

Aku menunjukkan layar.

Wajahnya langsung berubah.

“Mau Mbak telepon dia?”

“Jangan.”

“Tapi kamu sedang melahirkan anaknya.”

Aku menggeleng.

“Dia sudah memilih tempat dia ingin berada malam ini.”

Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mengejar Arga.

Pukul 03.27, tangisan seorang bayi memenuhi ruang persalinan.

Putraku lahir dengan sehat.

Ketika perawat meletakkannya di dadaku, aku menangis sampai tubuhku gemetar.

“Selamat, Bu. Bayinya laki-laki.”

Aku menatap wajah mungil itu.

Raka Aditya Pratama.

Hidung kecilnya bergerak-gerak. Kedua tangannya mengepal. Sesekali dia membuka mulut seolah sedang protes karena dunia terlalu terang.

Aku mencium dahinya.

“Mulai sekarang ada Mama.”

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Selama ini aku takut kehilangan keluarga.

Padahal yang kusebut keluarga sudah lama tidak memperlakukanku sebagai bagian darinya.

Menjelang pagi, aku menelepon Bu Maya.

“Anakku sudah lahir.”

“Selamat, Laras.”

Aku memandang Raka yang tertidur.

“Ajukan semuanya.”

Bu Maya terdiam beberapa detik.

“Kamu yakin?”

Kali ini aku tidak ragu.

“Yakin.”

Dokumen yang selama lima minggu kusimpan akhirnya diajukan.

Aku mengira setelah mengatakan kalimat itu, aku akan merasa hancur.

Anehnya, aku justru merasa lega.

Keesokan paginya Arga mulai menelepon.

Aku tidak menjawab.

Pesannya datang bertubi-tubi.

“Kamu di mana?”

“Kenapa rumah kosong?”

“Laras, jawab telepon.”

Lalu satu pesan yang membuatku tersenyum pahit.

“Aku suamimu. Aku berhak tahu kamu ada di mana.”

Aku sedang menyusui Raka ketika membaca pesan itu.

Selama bertahun-tahun, kemarahan Arga selalu menjadi keadaan darurat bagiku.

Kalau dia marah, aku harus meminta maaf.

Kalau dia diam, aku harus membujuk.

Kalau dia kecewa, aku harus memperbaiki semuanya.

Namun pagi itu aku mematikan layar.

Kemarahan Arga bukan lagi tanggung jawabku.

Malamnya, Mbak Rani masuk ke kamar dengan wajah pucat.

“Laras.”

“Ada apa?”

Dia menyerahkan ponselnya.

Sebuah unggahan Facebook milik Bu Ratna terpampang di layar.

Foto keluarga di Bali.

Pak Hendra berdiri di kiri. Bu Ratna tersenyum lebar. Arga berdiri di tengah.

Dan di sampingnya ada seorang perempuan.

Nadine.

Tubuh perempuan itu bersandar akrab di bahu suamiku.

Aku mengenal wajahnya dari foto profil yang pernah kulihat.

Namun yang paling menghancurkanku bukan keberadaan Nadine.

Melainkan tangan Bu Ratna yang melingkar di pinggang perempuan itu dengan akrab.

Seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Di bawah foto tersebut tertulis sebuah kalimat.

“Akhirnya, keluarga kami sudah lengkap.”

Aku menatapnya sampai pandanganku kabur.

Jadi bukan hanya Arga.

Orang tuanya juga tahu.

Mereka membawanya ke Bali bersama-sama sementara aku ditinggalkan dalam kondisi hamil tua.

Mbak Rani mengambil kembali ponselnya.

“Jangan lihat lagi.”

Aku menangis malam itu.

Bukan karena masih menginginkan Arga.

Aku menangisi diriku sendiri yang selama bertahun-tahun berusaha diterima oleh keluarga yang ternyata sudah lama mengkhianatiku.

Dua hari kemudian aku pulang dari rumah sakit ke rumah orang tuaku.

Arga kembali dari Bali pada hari yang sama.

Dia datang menjelang sore.

Wajahnya kusut.

Begitu masuk ke ruang tamu, dia langsung menunjukku.

“Kamu keterlaluan.”

Ayah berdiri dari kursinya.

“Turunkan tanganmu kalau bicara dengan anak saya.”

Arga terdiam.

Aku belum pernah melihatnya sekaget itu.

“Aku cuma mau bicara sama istriku.”

“Bicara,” jawabku.

Dia memandang Raka yang sedang kugendong.

Untuk sesaat wajahnya berubah.

“Ini anakku?”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Dia lahir pukul 03.27, saat kamu mengirim pesan bahwa Bali bagus sekali.”

Arga menelan ludah.

“Kenapa kamu nggak kasih tahu?”

“Kenapa aku harus memberi tahu seseorang yang sudah kuberi kesempatan berada di sisiku, tapi memilih pergi?”

“Aku nggak tahu kamu bakal melahirkan malam itu.”

“Dokter bilang aku bisa melahirkan kapan saja.”

“Tapi aku sudah beli tiket.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Dan ternyata harga tiket lebih penting daripada kelahiran anakmu.”

Arga terdiam.

Kemudian ekspresinya berubah ketika aku meletakkan sebuah amplop di meja.

“Apa ini?”

“Baca.”

Dia membukanya.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Gugatan cerai?”

“Iya.”

“Kamu gila?”

“Tidak. Justru untuk pertama kalinya aku berpikir dengan sangat jernih.”

Arga merobek pandangannya dari dokumen itu.

“Cuma gara-gara aku pergi liburan?”

Aku mengambil ponsel Mbak Rani dan menunjukkan foto di Bali.

“Kalau begitu jelaskan ini.”

Arga membeku.

“Aku bisa jelasin.”

“Aku yakin.”

“Nadine kebetulan ada di Bali.”

Aku tertawa kecil.

“Kebetulan menginap di hotel yang sama?”

Dia diam.

“Kebetulan difoto ibumu?”

Tidak ada jawaban.

“Kebetulan ibumu menulis keluarga kalian akhirnya lengkap?”

Arga mulai berkeringat.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

“Nadine hamil.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Dia hamil tiga bulan.”

Mbak Rani langsung berdiri, tetapi aku mengangkat tangan agar dia tidak ikut campur.

Aku menatap Arga.

“Jadi kalian ke Bali untuk merayakan kehamilannya?”

Dia menunduk.

“Ibu senang akhirnya…”

Kalimatnya terputus.

“Akhirnya apa?”

Arga tidak menjawab.

Aku mendesaknya.

“Akhirnya apa, Arga?”

“Akhirnya keluarga punya cucu yang benar-benar mereka inginkan.”

Aku merasa seperti baru saja ditampar.

Aku memandang bayi dalam pelukanku.

“Lalu Raka apa?”

Arga buru-buru menjawab.

“Bukan begitu maksudku.”

“Keluar.”

“Laras…”

“Keluar.”

Dia mencoba mendekat.

Ayah langsung berdiri di antara kami.

“Dia sudah bilang keluar.”

Arga akhirnya pergi.

Kupikir pengakuan tentang kehamilan Nadine adalah kejutan terakhir.

Ternyata belum.

Tiga minggu kemudian, Bu Maya meneleponku.

“Laras, ada perkembangan yang perlu kamu tahu.”

“Apa?”

“Nadine menghubungi kantor saya.”

Aku sampai berdiri dari kursi.

“Untuk apa?”

“Dia ingin bicara denganmu.”

Aku menolak pada awalnya.

Namun Nadine kemudian mengirimkan beberapa dokumen melalui Bu Maya.

Setelah melihatnya, aku bersedia bertemu.

Kami bertemu di sebuah kafe di Jakarta Selatan.

Nadine datang sendirian.

Wajahnya jauh berbeda dari foto di Bali.

Pucat dan lelah.

Begitu duduk, dia langsung berkata, “Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Dia meletakkan ponselnya di meja.

“Aku memang punya hubungan dengan Arga. Aku nggak akan bohong soal itu.”

“Lalu?”

“Aku juga dibohongi.”

Aku mengernyit.

Nadine membuka percakapan WhatsApp lama.

Pesan-pesan Arga memenuhi layar.

Dia mengatakan kepadanya bahwa pernikahan kami sudah lama berakhir.

Bahwa kami tinggal serumah hanya karena kehamilanku bermasalah.

Bahkan Arga mengatakan bayi yang kukandung mungkin bukan anaknya.

Tanganku gemetar.

“Itu bohong.”

“Aku tahu sekarang.”

Nadine menunduk.

“Aku baru tahu setelah melihat gugatanmu.”

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Aku juga nggak hamil.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Aku pernah bilang terlambat haid. Arga langsung memberi tahu ibunya bahwa aku hamil. Bu Ratna terlalu senang. Aku belum sempat menjelaskan sebelum perjalanan Bali itu.”

“Lalu kenapa kamu ikut?”

“Karena Arga bilang perjalanan itu untuk memperkenalkanku secara resmi setelah kalian berpisah.”

Aku terdiam.

Nadine menggeser beberapa tangkapan layar ke arahku.

Salah satunya adalah percakapan antara Arga dan ibunya.

Aku membacanya perlahan.

Bu Ratna menulis bahwa setelah perceraian selesai, Arga harus memastikan rumah kami tetap berada di tangannya.

Arga menjawab bahwa aku tidak akan berani mempermasalahkan aset karena aku tidak punya cukup bukti.

Aku membaca pesan berikutnya.

Dan tiba-tiba semuanya masuk akal.

Liburan itu bukan sekadar liburan.

Arga yakin aku masih menjadi Laras yang lama.

Perempuan yang selalu takut.

Perempuan yang akan diam demi mempertahankan rumah tangga.

Perempuan yang tidak tahu apa pun tentang keuangan keluarga.

Dia salah.

Aku menatap Nadine.

“Kenapa kamu memberikan ini kepadaku?”

Matanya berkaca-kaca.

“Karena dua hari setelah pulang dari Bali, aku bilang kepada Arga bahwa hasil tesku negatif.”

Dia tersenyum pahit.

“Dia langsung meninggalkanku.”

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada perempuan yang menang ketika seorang laki-laki mempermainkan dua kehidupan sekaligus.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraianku selesai.

Bukti percakapan dan catatan keuangan membuat Arga tidak bisa melakukan banyak hal seperti yang sebelumnya dia rencanakan.

Rumah yang dibeli selama pernikahan ditangani sesuai proses hukum, dan kebutuhan Raka tetap menjadi kewajibannya sebagai ayah.

Aku tidak melarang Arga menemui anaknya.

Aku hanya menetapkan batas.

Karena perceraian kami adalah masalah antara aku dan Arga.

Raka tidak pernah meminta dilahirkan di tengah kekacauan itu.

Suatu sore, beberapa bulan setelah semuanya berakhir, aku duduk di teras rumah orang tuaku sambil menggendong Raka.

Dia sudah mulai tertawa setiap kali aku membuat suara aneh.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Arga.

“Aku menyesal.”

Aku membaca kalimat itu lama.

Dulu, dua kata tersebut mungkin cukup membuatku kembali.

Namun sekarang tidak.

Aku mengetik balasan.

“Penyesalan tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi kamu masih punya kesempatan menjadi ayah yang lebih baik daripada kamu menjadi suami.”

Lalu kukirim.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kebencian.

Hanya batas yang akhirnya mampu kubuat.

Raka tertawa dalam pelukanku.

Aku mencium pipinya.

Orang-orang mungkin mengira hari terburuk dalam hidupku adalah ketika suamiku meninggalkanku pada minggu terakhir kehamilan.

Mereka salah.

Hari itu justru menjadi hari ketika aku akhirnya melihat hidupku dengan jelas.

Arga pergi ke Bali mengira aku akan tetap menunggu di rumah.

Dia mengira ketika kembali, semuanya akan berjalan seperti biasa.

Dia tidak tahu bahwa sebelum dia menyeret koper keluar dari pintu, aku sudah menyiapkan dokumen yang akan mengubah hidup kami.

Dan dia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa jam setelah kepergiannya, aku akan melahirkan seorang anak yang justru memberiku keberanian untuk berhenti mempertahankan sesuatu yang sejak lama sudah tidak layak disebut keluarga.

Pada akhirnya, aku memang melahirkan sendirian tanpa suamiku.

Tetapi malam itu aku tidak hanya melahirkan Raka.

Aku juga melahirkan versi baru dari diriku sendiri.

Seorang perempuan yang akhirnya mengerti bahwa mempertahankan keluarga tidak selalu berarti mempertahankan pernikahan.

Kadang-kadang, cara terbaik menyelamatkan sebuah keluarga adalah berani meninggalkan orang yang terus menghancurkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang