Rayhan menatap layar ponselnya sampai tulisan dari Kevin terasa seperti membakar matanya.
Transfer tiga puluh dua miliar rupiah.
Menggunakan tanda tangan digital miliknya.
Dan waktunya tercatat pukul 10.47 pagi.
Kurang dari satu jam sebelum ia menemukan Nayla berlutut di bawah meja makan.
“Ada apa?” tanya Nayla lirih dari ranjang rumah sakit.
Rayhan segera mematikan layar ponselnya.

“Tidak ada. Kamu istirahat dulu.”
Untuk pertama kalinya selama dua belas tahun pernikahan mereka, Nayla tidak membantah. Ia hanya memejamkan mata, tetapi jemarinya mencengkeram selimut begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rayhan mengenal gerakan itu.
Nayla selalu melakukan hal yang sama ketika sedang takut.
Malam itu, setelah dokter memberinya obat penenang ringan, Nayla akhirnya tertidur.
Rayhan keluar dari kamar dan langsung menelepon Kevin.
“Blokir transfernya.”
“Sudah saya tahan lewat bank, Pak. Dana belum keluar karena nilainya melewati batas transaksi normal perusahaan.”
“Tujuan rekening?”
“PT Mahardika Sentosa Abadi.”
Rayhan mengernyit.
Ia tidak pernah mendengar nama perusahaan itu.
Kevin melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Ada hal lain. Vendor ini baru masuk ke sistem tiga minggu lalu. Dokumennya lengkap, termasuk persetujuan Direktur Operasional.”
“Siapa?”
Kevin terdiam sesaat.
“Pak Dimas.”
Dimas adalah sepupu Rayhan.
Sejak perusahaan masih hanya memiliki dua truk, Dimas sudah bekerja bersamanya. Rayhan bahkan membiayai kuliah Dimas setelah ayahnya meninggal.
Lebih buruk lagi, Dimas adalah keponakan kesayangan Rina.
Rayhan menutup telepon dan berdiri lama di koridor rumah sakit.
Potongan-potongan kejadian mulai tersusun di kepalanya, tetapi ia belum ingin mengambil kesimpulan.
Pukul dua dini hari, Nayla terbangun.
Hal pertama yang ia lihat adalah Rayhan duduk di kursi dekat jendela.
“Kamu belum pulang?”
Rayhan menggeleng.
Kemudian ia meletakkan ponselnya di meja.
“Nayla, siapa yang memukul kamu?”
Wajah Nayla langsung berubah.
“Tidak ada.”
“Lebam itu bukan karena jatuh.”
“Aku memang jatuh.”
“Nayla.”
Suara Rayhan tidak keras.
Justru ketenangannya membuat Nayla semakin gelisah.
“Kita sudah bersama dua belas tahun. Kalau kamu bohong, aku tahu.”
Air mata mulai menggenang di mata Nayla.
Namun ia masih menggeleng.
Rayhan menarik napas panjang.
“Ada transfer tiga puluh dua miliar dari perusahaan menggunakan tanda tangan digitalku.”
Nayla seketika membeku.
Reaksi itu cukup.
“Kamu tahu?”
Nayla menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Beberapa detik kemudian bahunya mulai bergetar.
“Aku tidak sengaja mengetahuinya.”
Rayhan mendekat.
“Tiga minggu lalu Mama minta aku membantu membuka laptopmu karena katanya ingin melihat foto keluarga.”
Nayla mulai bercerita.
Hari itu, Rina datang ke ruang kerja Rayhan ketika ia sedang berada di Surabaya. Nayla kebetulan melihat Rina memasukkan sebuah flashdisk ke komputer.
Awalnya Nayla mengira mertuanya hanya mencari foto.
Namun malamnya, saat komputer kembali dinyalakan, muncul riwayat dokumen transaksi yang tidak pernah Nayla lihat sebelumnya.
Ada kontrak pengadaan armada fiktif.
Nilainya tiga puluh dua miliar rupiah.
Nama PT Mahardika Sentosa Abadi tercantum sebagai pemasok.
Nayla curiga.
Ia pernah membantu Rayhan mengurus administrasi perusahaan pada tahun-tahun awal sehingga cukup memahami dokumen bisnis.
Alamat perusahaan itu ternyata sebuah ruko kosong di Bekasi.
Direkturnya bernama Surya Mahardika.
Tetapi ketika Nayla mencari lebih jauh, nomor identitas Surya terhubung dengan seseorang yang tidak pernah ia duga.
“Dimas?” tanya Rayhan.
Nayla mengangguk sambil menangis.
“Surya itu sopir lama keluarga Dimas. Perusahaan tersebut didirikan enam bulan lalu.”
Nayla sebenarnya berniat langsung memberi tahu Rayhan.
Namun sore itu, Rina memergokinya memotret dokumen dengan ponsel.
Sejak hari itu semuanya berubah.
Rina mengambil ponselnya dengan alasan Nayla harus mengurangi paparan radiasi selama hamil.
Kartu akses mobilnya disimpan.
Para asisten rumah tangga mendadak diganti.
Bahkan makanan Nayla mulai dibatasi.
“Mama bilang dokter menyuruh aku diet.”
Rayhan berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Dokter mana yang menyuruh perempuan hamil delapan bulan tidak makan?”
Nayla menangis semakin keras.
“Aku takut kalau aku melawan, mereka akan melakukan sesuatu padamu.”
“Mereka?”
Nayla menggigit bibir.
“Dimas pernah datang malam-malam.”
Ia menunjukkan pesan di ponsel lamanya yang selama ini disembunyikan di balik sampul buku.
Pesannya singkat.
Kalau kamu menghancurkan keluarga kami, Rayhan yang akan kehilangan perusahaan lebih dulu.
Rayhan membaca kalimat itu berulang kali.
Kemudian Nayla mengatakan hal yang membuat tubuhnya terasa dingin.
“Mama bukan orang yang memukulku.”
Rayhan menoleh.
“Lalu siapa?”
“Dimas.”
Tiga hari sebelumnya, Dimas mendatangi rumah ketika Rina sedang berada di sana.
Ia memaksa Nayla memberikan salinan foto dokumen yang sudah disimpan di cloud.
Ketika Nayla menolak, Dimas mendorongnya ke dinding.
Rina melihat semuanya.
Namun alih-alih menghentikan keponakannya, Rina hanya berkata, “Berikan saja. Jangan membuat semuanya sulit.”
Rayhan menutup mata.
Selama hidupnya ia selalu menganggap ibunya keras, dominan, dan terlalu memanjakan keluarga besar.
Tetapi ia tidak pernah membayangkan Rina sanggup membiarkan istrinya yang sedang hamil disakiti demi uang.
Pagi berikutnya, Rayhan tidak langsung menemui mereka.
Ia justru bertindak seolah belum mengetahui apa pun.
Ia meminta Kevin melanjutkan proses transfer.
“Tapi, Pak…”
“Buat seolah-olah dana sudah disetujui. Jangan kirim uangnya. Saya ingin tahu siapa yang datang mengambilnya.”
Kevin memahami maksudnya.
Tim audit internal diam-diam menelusuri seluruh transaksi PT Mahardika Sentosa Abadi.
Hanya dalam enam jam mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Transfer tiga puluh dua miliar itu bukan yang pertama.
Selama delapan belas bulan terakhir, perusahaan telah membayar sebelas invoice kepada beberapa vendor berbeda.
Total nilainya hampir sembilan puluh satu miliar rupiah.
Semua vendor memiliki satu kesamaan.
Mereka terhubung dengan orang-orang dekat Dimas.
Sebagian dana bahkan mengalir ke rekening milik Rina.
Rayhan menatap laporan itu tanpa ekspresi.
Kevin berdiri di seberang meja.
“Rekening Bu Rina menerima total tujuh miliar delapan ratus juta rupiah.”
Rayhan hanya bertanya satu hal.
“Untuk apa?”
“Sebagian dipakai membeli dua apartemen. Satu atas nama beliau, satu atas nama Dimas.”
Malam itu Rayhan pulang ke rumah.
Rina sudah menunggunya di ruang keluarga.
Anehnya, ia tampak sama sekali tidak merasa bersalah.
“Kondisi Nayla bagaimana?”
“Masih hidup.”
Rina menghela napas seolah lega.
“Syukurlah. Mama juga sebenarnya tidak bermaksud mempermalukan dia. Teman-teman Mama cuma bercanda.”
Rayhan duduk di sofa.
“Besok Dimas datang ke kantor?”
“Katanya iya.”
“Bagus.”
Rina menatap putranya.
“Kamu tidak marah lagi?”
Rayhan tersenyum tipis.
“Tidak.”
Itulah jawaban yang membuat Rina benar-benar tenang.
Keesokan harinya pukul 10 pagi, Dimas datang ke kantor pusat.
Ia mengenakan setelan mahal dan bahkan sempat bercanda dengan resepsionis.
Ketika memasuki ruang rapat lantai dua puluh tiga, senyumnya langsung lenyap.
Di dalam sudah ada Rayhan, Kevin, dua auditor eksternal, pengacara perusahaan, dan tiga orang penyidik dari kepolisian.
Rina juga berada di sana.
Ia dipanggil Rayhan dengan alasan membahas pembagian aset keluarga.
“Apa ini?” tanya Dimas.
Rayhan mendorong setumpuk dokumen ke tengah meja.
“Ini sembilan puluh satu miliar milikku yang kalian curi.”
Wajah Dimas memucat.
Rina langsung berdiri.
“Kamu menuduh ibu sendiri mencuri?”
Rayhan membuka halaman lain.
“Tujuh koma delapan miliar masuk ke rekening Mama.”
“Itu pemberian Dimas.”
“Dari uang perusahaan saya.”
Rina kehilangan kata-kata.
Dimas mencoba berjalan menuju pintu.
Salah satu penyidik langsung menghentikannya.
Namun Dimas tiba-tiba tertawa.
“Kamu pikir masalahnya sesederhana itu?”
Ia menatap Rayhan tajam.
“Kalau aku jatuh, perusahaanmu juga ikut jatuh.”
Ia mengatakan bahwa seluruh persetujuan transaksi menggunakan sertifikat elektronik milik Rayhan.
Secara hukum, jejak digital mengarah kepada Rayhan sendiri.
Itulah alasan mereka selama berbulan-bulan berusaha mendapatkan akses penuh ke komputer dan token keamanan miliknya.
Rayhan tersenyum tipis.
“Kamu benar.”
Dimas tampak sedikit lega.
Lalu Rayhan menambahkan.
“Kalau Nayla tidak menyimpan rekaman.”
Ruangan mendadak sunyi.
Nayla ternyata tidak hanya memotret dokumen.
Sejak pertama kali merasa terancam, ia memasang kamera kecil di ruang kerja.
Video memperlihatkan Dimas menggunakan komputer Rayhan.
Rekaman lain memperlihatkan Rina menyerahkan token autentikasi yang dicuri dari brankas pribadi putranya.
Kemudian muncul rekaman terakhir.
Dimas mendorong Nayla hingga tubuh wanita hamil itu membentur lemari.
Wajah Rina benar-benar kehilangan warna.
“Matikan,” bisiknya.
Rayhan tidak bergerak.
Di layar, terdengar suara Rina.
“Jangan pukul perutnya. Kita masih membutuhkan anak itu supaya Rayhan tidak curiga.”
Rayhan merasa seperti seseorang menancapkan pisau ke dadanya.
Bukan karena ia baru mengetahui ibunya ikut terlibat.
Tetapi karena kalimat itu berarti sesuatu yang jauh lebih buruk.
Nayla selama ini dipertahankan tetap berada di rumah bukan karena Rina masih memiliki rasa kasihan.
Kehamilannya justru dijadikan alat agar Rayhan mengira keluarganya baik-baik saja.
Polisi membawa Dimas keluar lebih dulu.
Ketika petugas menghampiri Rina, wanita itu mulai menangis.
“Rayhan, Mama melakukan semua ini untuk keluarga.”
Rayhan memandangnya lama.
“Keluarga yang mana?”
Rina tidak mampu menjawab.
“Waktu perusahaan saya hampir bangkrut, Nayla menjual satu-satunya warisan dari neneknya.”
Suara Rayhan bergetar untuk pertama kalinya.
“Dia tidak pernah meminta saham. Tidak pernah meminta rumah. Bahkan tidak pernah bilang kepada siapa pun bahwa modal pertama yang menyelamatkan perusahaan berasal darinya.”
Rayhan menunjuk pintu tempat Dimas baru saja dibawa keluar.
“Sedangkan orang yang selalu Mama sebut keluarga mencuri puluhan miliar dari saya.”
Rina menangis semakin keras.
Namun Rayhan tidak lagi melihat seorang ibu yang perlu ia lindungi.
Ia hanya melihat seseorang yang telah memilih keserakahan ketika diberi kesempatan memilih kasih sayang.
Dua minggu kemudian, kondisi Nayla mulai membaik.
Berat badannya naik sedikit dan detak jantung bayinya kembali stabil.
Rayhan hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit.
Suatu sore, Nayla memandang suaminya yang tertidur di kursi sambil memegang tangannya.
“Aku harus mengatakan sesuatu.”
Rayhan terbangun.
“Apa?”
“Aku sebenarnya punya kesempatan pergi dari rumah sejak seminggu lalu.”
Rayhan terdiam.
Nayla membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah email terjadwal.
Seluruh bukti penyelewengan sudah dikirim ke firma hukum dua hari sebelum kejadian di ruang makan.
“Kenapa kamu tetap tinggal?”
Nayla menatap perutnya.
“Karena aku tahu kalau aku pergi tanpa bukti terakhir, mereka akan menghapus semuanya dan kamu mungkin justru yang dituduh.”
“Jadi kamu sengaja bertahan?”
Air mata Rayhan jatuh tanpa bisa ditahan.
Nayla tersenyum lemah.
“Aku tidak menyangka keadaan akan separah itu.”
Rayhan menggenggam tangannya.
“Jangan pernah lindungi aku seperti itu lagi.”
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Nayla tertawa kecil.
“Baik.”
Tiga minggu kemudian, Nayla melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat.
Mereka memberinya nama Arunika.
Cahaya pertama setelah malam yang panjang.
Namun kejutan terakhir baru datang beberapa bulan kemudian.
Saat proses hukum berlangsung, pengacara menemukan dokumen lama dari masa awal perusahaan.
Dokumen itu membuktikan bahwa uang hasil penjualan perhiasan Nayla dua belas tahun lalu sebenarnya dicatat sebagai investasi, bukan pinjaman.
Secara hukum, Nayla berhak atas dua puluh persen saham perusahaan.
Rayhan terkejut.
Ia bahkan tidak pernah mengetahui dokumen itu ada.
Nayla hanya tersenyum ketika melihatnya.
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
Nayla mengangguk.
“Pengacara kita membuat dokumen itu waktu perusahaan masih kecil.”
“Kenapa kamu tidak pernah mengambil sahamnya?”
Nayla menatap bayi mereka yang sedang tertidur.
“Karena waktu itu aku tidak sedang berinvestasi pada perusahaan.”
Rayhan menatapnya bingung.
Nayla menggenggam tangannya.
“Aku sedang berinvestasi pada orang yang aku percaya.”
Rayhan tidak mampu berkata apa-apa.
Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya adalah orang yang membangun kerajaan bisnis itu dari nol.
Baru sekarang ia memahami bahwa fondasi terkuat perusahaannya bukan truk pertama yang ia sewa, bukan kontrak besar pertamanya, dan bukan uang puluhan miliar yang kemudian ia hasilkan.
Fondasi itu adalah seorang perempuan yang pernah memberikan semua yang dimilikinya ketika ia belum memiliki apa-apa.
Dan hampir kehilangan nyawanya ketika orang-orang yang mengaku sebagai keluarga mencoba mengambil semuanya.
Rayhan kemudian memindahkan dua puluh persen saham itu secara resmi atas nama Nayla.
Bukan sebagai hadiah.
Bukan pula sebagai rasa bersalah.
Melainkan sebagai pengakuan atas sesuatu yang seharusnya sudah ia pahami sejak lama.
Rumah dapat dibeli.
Perusahaan dapat dibangun kembali.
Uang yang dicuri dapat dicari lagi.
Tetapi orang yang tetap berdiri di samping kita ketika seluruh dunia belum melihat nilai kita adalah kekayaan yang tidak pernah bisa digantikan.
