PENGALAMAN KETIKA ANAK BOS SAYA MENGAKU MENYUKAI SAYA — TEPAT SAAT SAYA HENDAK MENGUNDURKAN DIRI

Aku benar-benar membeku. Jantungku berdegup begitu keras hingga suara detaknya seolah memenuhi seluruh ruangan pantry yang sempit itu. Selama beberapa detik, aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ethan juga hanya berdiri diam, menggenggam kedua tangannya erat, seakan menunggu hukuman atas keberanian yang baru saja ia kumpulkan.

“Aku… aku minta maaf kalau membuatmu tidak nyaman,” katanya lirih. “Aku cuma tidak ingin kamu pergi tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya kurasakan.”

Aku menarik napas panjang, mencoba mengendalikan pikiranku yang berantakan.

“Ethan… kamu orang yang baik. Tapi ini semua terlalu mendadak.”

Ia mengangguk pelan.

“Aku tahu. Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku hanya ingin jujur.”

Sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi, terdengar suara pintu pantry terbuka.

Kami langsung menoleh.

Di sana berdiri Bos Ed.

Wajahnya datar. Terlalu datar. Tidak marah, tetapi juga tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Aku merasa darahku seperti berhenti mengalir.

“Pak… saya bisa jelaskan…” kataku terbata-bata.

Namun Bos Ed hanya mengangkat tangan.

“Kembali bekerja dulu. Ethan, ikut Ayah.”

Tanpa sepatah kata lagi mereka keluar dari pantry.


Hari itu menjadi hari paling panjang selama lima tahun aku bekerja di perusahaan tersebut.

Setiap kali melewati meja rekan kerja, rasanya semua orang sedang memandangiku. Padahal mungkin itu hanya perasaanku sendiri.

Ethan tidak kembali ke kantor.

Bos Ed juga mengurung diri di ruangannya hingga sore.

Menjelang pukul lima, sekretaris mengetuk mejaku.

“Mbak Maya, Pak Ed ingin bertemu sekarang.”

Jantungku kembali berdegup cepat.

Aku berjalan menuju ruang direktur dengan langkah yang terasa semakin berat.

Begitu pintu tertutup, Bos Ed mempersilahkanku duduk.

“Aku mendengar semuanya.”

Kalimat itu langsung membuat tubuhku menegang.

“Saya benar-benar tidak tahu Ethan akan mengatakan hal seperti itu, Pak.”

“Aku tahu.”

Jawabannya justru membuatku bingung.

“Aku mengenal anakku.”

Beliau menghela napas panjang.

“Dia sudah menyukaimu hampir dua tahun.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Dua… tahun?”

“Iya.”

“Tapi… bagaimana mungkin?”

Bos Ed tersenyum tipis.

“Karena selama dua tahun itu dia selalu bertanya tentangmu.”

Aku terdiam.

“Dia bertanya apakah kamu pernah terlambat makan siang. Dia bertanya apakah kamu sedang sakit ketika melihatmu batuk. Dia bahkan pernah memintaku menaikkan bonus seluruh tim hanya karena menurutnya kalian semua bekerja terlalu keras.”

Aku benar-benar tidak pernah mengetahui semua itu.

“Ayah sengaja melarangnya mendekatimu.”

Aku mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin memastikan dia menyukaimu sebagai manusia, bukan karena tertarik sesaat.”

Ruangan kembali sunyi.

Lalu Bos Ed mengeluarkan sebuah amplop dari laci meja.

“Ini surat pengunduran dirimu, kan?”

Aku langsung terkejut.

“Saya belum menyerahkannya…”

“Kamu menyimpannya di map biru. Saat rapat pagi tadi map itu tidak sengaja terbuka.”

Aku menunduk malu.

“Maaf, Pak.”

“Tidak perlu minta maaf.”

Beliau mendorong amplop itu ke arahku.

“Kalau memang ingin pergi, pergilah. Aku tidak akan menahanmu.”

Aku mengangkat kepala.

“Tapi sebelum itu, aku ingin tahu satu hal.”

Beliau menatapku lurus.

“Apakah alasanmu pergi karena perusahaan ini… atau karena kamu sedang lari dari sesuatu?”

Pertanyaan itu menghantamku tepat di hati.

Karena sebenarnya… aku memang sedang melarikan diri.


Dua tahun terakhir aku menyimpan satu rahasia.

Ibuku sakit keras.

Sebagian besar gajiku habis untuk biaya pengobatan.

Aku bekerja lembur hampir setiap hari bukan karena ingin mencari pujian, melainkan karena membutuhkan tambahan uang.

Aku lelah.

Sangat lelah.

Aku ingin pindah ke kota lain agar bisa membuka usaha kecil di dekat rumah dan merawat ibu setiap hari.

Semua itu akhirnya kuceritakan kepada Bos Ed.

Beliau mendengarkan tanpa menyela sedikit pun.

Ketika aku selesai, beliau hanya berkata pelan,

“Kenapa selama ini kamu tidak pernah bilang?”

Aku tersenyum pahit.

“Karena itu masalah pribadi saya.”

Beliau mengangguk pelan.

“Aku menghargai itu.”

Lalu beliau berdiri dan membuka lemari arsip.

Beliau mengeluarkan sebuah map berwarna hitam.

“Aku sebenarnya sudah menyiapkan ini tiga bulan lalu.”

Aku membuka map itu perlahan.

Isinya surat pengangkatan jabatan baru.

Manager Operasional Cabang Surabaya.

Gajinya hampir tiga kali lipat dari yang kuterima sekarang.

Aku benar-benar tidak percaya.

“Saya?”

“Kamu.”

“Tapi kenapa?”

“Karena selama lima tahun, tidak ada satu pun laporan buruk tentangmu.”

Air mataku mulai menggenang.

“Tapi kalau kamu tetap ingin mengundurkan diri, aku akan menghormatinya.”

Aku tidak mampu menjawab.


Malam itu Ethan menghubungiku.

“Ayah memarahiku?”

Aku tertawa kecil.

“Sedikit.”

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

Ia terdiam cukup lama.

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Apakah setelah semua ini… kita masih bisa berteman?”

Aku tersenyum.

“Tentu.”

Ia terdengar lega.

Namun sebelum telepon ditutup, ia berkata,

“Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… aku akan tetap menunggu.”


Aku akhirnya memutuskan menerima promosi tersebut.

Bukan karena Ethan.

Melainkan karena kesempatan itu bisa membiayai pengobatan ibuku.

Enam bulan kemudian, kehidupanku berubah drastis.

Cabang Surabaya berkembang pesat.

Penjualannya bahkan melampaui kantor pusat.

Aku mulai percaya bahwa keputusanku benar.

Sampai suatu sore, seorang wanita datang ke ruanganku.

Namanya Clara.

Ia mengaku sebagai auditor independen.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Ia bertanya terlalu banyak mengenai Bos Ed.

Tentang transaksi.

Tentang rekening perusahaan.

Tentang proyek lama.

Naluri kecilku mengatakan ada yang tidak beres.

Diam-diam aku mulai memeriksa ulang semua laporan keuangan selama lima tahun terakhir.

Dan di sanalah aku menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Ada dana miliaran rupiah yang menghilang secara bertahap.

Semuanya dilakukan dengan sangat rapi.

Mustahil dilakukan oleh orang biasa.

Lebih mengejutkan lagi…

Semua dokumen mengarah kepada satu orang.

Direktur Keuangan.

Pria yang selama ini paling dipercaya Bos Ed.

Aku segera menghubungi kantor pusat.

Namun malam itu juga seseorang mencoba membobol apartemenku.

Untung aku belum tidur.

Aku berhasil melarikan diri melalui pintu belakang sambil membawa laptop perusahaan.

Saat membuka rekaman CCTV gedung apartemen, wajah pelakunya terlihat jelas.

Aku mengenalnya.

Ia adalah sopir pribadi Direktur Keuangan.

Saat itu aku sadar.

Ini bukan lagi sekadar penggelapan uang.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.


Keesokan paginya aku kembali ke Jakarta secara diam-diam.

Aku menemui Bos Ed.

Beliau membaca semua bukti tanpa berkata apa pun.

Wajahnya perlahan berubah pucat.

“Aku mempercayainya selama dua puluh tahun…”

Kami bekerja sama dengan pihak berwenang.

Selama dua minggu, seluruh transaksi dipantau.

Sampai akhirnya jebakan dipasang.

Direktur Keuangan datang untuk memindahkan dana terakhir.

Begitu transaksi dilakukan, petugas langsung menangkapnya.

Namun saat diperiksa, ia hanya tertawa.

“Kalian terlambat.”

Semua orang saling berpandangan.

“Apa maksudmu?”

Ia tersenyum lebar.

“Orang yang selama ini kalian cari… bukan aku.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Lalu siapa?”

Pria itu menoleh perlahan ke arah Bos Ed.

“Yang membuat seluruh rencana ini… adalah orang yang paling kalian percaya.”

Semua mata otomatis tertuju kepada Bos Ed.

Aku bahkan mundur satu langkah.

Namun Bos Ed hanya menggeleng pelan.

“Itu bukan aku.”

Direktur Keuangan kembali tertawa.

“Bukan kamu.”

“Lalu siapa?”

Ia mengangkat kepalanya dan mengucapkan satu nama.

“Ethan.”

Aku merasa dunia berhenti berputar.

“Itu tidak mungkin!”

teriakku.

Direktur Keuangan mengeluarkan senyum kemenangan.

“Ethan memang sengaja mendekatimu.”

“Dia tahu suatu hari kamu akan dipromosikan.”

“Dia tahu hanya kamu yang cukup teliti untuk menemukan semua transaksi.”

“Dan dia ingin kamu menjadi kambing hitam ketika semuanya terbongkar.”

Aku tidak sanggup mempercayainya.

Semua kenangan bersama Ethan berputar di kepalaku.

Tatapan tulusnya.

Pengakuannya di pantry.

Telepon-telepon larut malam.

Semuanya terasa nyata.

Atau… mungkin hanya sandiwara.

Namun tepat ketika aku mulai meragukan segalanya, pintu ruang interogasi terbuka.

Ethan masuk dengan wajah tenang.

Tanpa berkata apa pun, ia meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.

“Semua rekaman asli ada di sini.”

Direktur Keuangan langsung pucat.

Ethan menatapnya dingin.

“Aku memang sengaja membuatmu percaya bahwa aku berada di pihakmu.”

“Selama setahun terakhir.”

“Aku bekerja sama dengan ayah untuk mengumpulkan bukti.”

Direktur Keuangan berteriak marah.

“Kau membohongiku!”

Ethan mengangguk.

“Iya.”

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu pada Maya?”

Ethan menoleh kepadaku.

Tatapannya sama seperti hari pertama di pantry.

Tidak berubah sedikit pun.

“Itu satu-satunya hal yang tidak pernah menjadi bagian dari penyamaran.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku tidak tahu harus menangis, tertawa, atau marah.

Karena pada hari aku berniat mengundurkan diri, aku mengira hidupku hanya akan berubah karena sebuah pengakuan cinta.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa keputusan untuk tetap bertahan justru membawaku mengungkap pengkhianatan terbesar di perusahaan, menyelamatkan ribuan karyawan, dan menemukan bahwa di balik semua kebohongan, masih ada satu kejujuran yang tetap bertahan—perasaan Ethan, yang sejak awal ternyata tidak pernah berpura-pura.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang