Malam itu adalah awal dari rutinitas yang tidak terduga. Nenek Teresa, yang selama ini merasa seperti bayang-bayang di rumahnya sendiri, mulai memiliki “keluarga baru”. Seminggu sekali, Sersan Mendez dan timnya mampir. Kadang mereka membawa bunga, kadang sekadar kopi hangat, atau membantu memperbaiki keran yang bocor. Nenek Teresa merasa hidup kembali; ia mulai menanam bunga di pekarangan dan kembali memutar musik klasik yang telah lama membisu.
Namun, kebahagiaan ini menyimpan retakan yang tak kasatmata.
Suatu malam, dua bulan setelah kejadian itu, Nenek Teresa menelepon kembali. Kali ini, suaranya gemetar hebat. “Sersan… ada seseorang. Ada seseorang di bawah jendela kamarku. Dia mengetuk, tapi saat aku buka, tidak ada siapa-siapa.”

Mendez, yang merasa ada yang tidak beres, segera meluncur dengan sirine yang kali ini dinyalakan. Ia tiba dalam sepuluh menit. Namun, rumah itu gelap gulita. Pintu depan sedikit terbuka.
“Teresa? Nenek?” panggil Mendez dengan tangan di sarung pistolnya.
Ia menemukan Nenek Teresa duduk di kursi goyangnya, menatap ke arah pintu yang terbuka. Namun, tatapannya kosong. Di tangannya, ia memegang sebuah foto lama—foto seorang pria yang bukan mendiang suaminya.
“Mereka sudah datang, Mendez,” bisik Teresa dengan suara yang sangat dingin, sangat asing.
“Siapa yang datang, Nek?”
Nenek Teresa menunjuk ke arah cermin besar di lorong. Saat Mendez menoleh, ia melihat pantulan di cermin—bukan hanya pantulan dirinya dan Nenek, tetapi ada sosok bayangan pria tinggi berdiri tepat di belakang Sersan Mendez. Mendez berbalik cepat, namun tidak ada siapa-siapa.
“Dia bukan hantu, Sersan,” lanjut Nenek. “Dia adalah pemilik rumah ini yang asli. Rumah ini… bukan milikku. Aku sudah tinggal di sini selama sepuluh tahun, bersembunyi dari dosa yang kulakukan puluhan tahun lalu.”
Mendez mengerutkan kening, bingung. “Nek, apa maksudmu? Rumah ini terdaftar atas namamu.”
“Tentu saja terdaftar atas namaku, karena aku mencuri identitas wanita yang kubunuh di tahun 1974,” jawab Teresa tenang, hampir seperti membacakan daftar belanja.
Mendez terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri, mengira ini hanyalah kepikunan atau efek samping obat. Namun, Teresa kemudian bangkit, berjalan menuju rak buku tua, dan menekan sebuah buku tebal berjudul The Art of Memory. Sebuah kompartemen rahasia terbuka di dinding.
Di dalamnya, bukan berisi perhiasan atau uang, melainkan tumpukan surat kabar lama yang menguning tentang kasus penculikan seorang bayi yang tidak pernah terpecahkan.
“Sersan,” kata Teresa sambil menatap Mendez tepat di mata, “Aku tidak menelepon polisi karena aku kesepian. Aku menelepon polisi karena aku sudah terlalu lelah menyimpan rahasia ini. Dan kau… kau adalah polisi pertama yang benar-benar peduli padaku. Itu kesalahan terbesarmu.”
Tiba-tiba, suara sirine polisi lain terdengar di kejauhan, semakin mendekat.
“Aku memanggilmu bukan untuk ditemani, tapi untuk menyerahkan diri,” bisik Teresa. “Dan omong-omong, saus pasta yang kalian makan saat itu? Aku mencampurnya dengan sedikit penenang dosis tinggi agar kalian tidak curiga saat aku memindahkan barang-barang bukti ini dari loteng ke tempat tersembunyi ini.”
Mendez tertegun. Ia merasa pusing seketika—mengingat kembali rasa kantuk luar biasa yang ia rasakan setelah makan pasta malam itu.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Mendez, tangannya kini meraih borgol, namun kakinya lemas.
Teresa tersenyum, senyum yang mematikan dan penuh rahasia. “Aku adalah wanita yang tidak akan pernah membiarkan masa lalunya mati dengan tenang. Dan kau, Mendez, sekarang adalah saksi kunci dalam kasus pembunuhan yang sudah kedaluwarsa secara hukum, tapi sangat hidup dalam ingatan warga kota ini.”
Lampu biru dan merah mobil polisi lainnya mulai menyorot masuk melalui jendela. Namun, saat polisi lain mendobrak pintu, mereka tidak menemukan Sersan Mendez. Mereka hanya menemukan Nenek Teresa yang duduk tenang dengan tangan terulur untuk diborgol, dan di atas meja, sebuah surat pengakuan tertulis tangan yang sangat rapi.
Di sudut ruangan, di balik bayangan tirai, Sersan Mendez ditemukan tidak sadarkan diri. Di sakunya, ia menemukan sebuah foto bayi yang hilang 50 tahun lalu—bayi itu adalah Sersan Mendez sendiri.
Nenek Teresa tidak pernah kesepian. Ia adalah penculik yang selama puluhan tahun mengamati korbannya—si bayi yang tumbuh menjadi polisi yang hari itu mengetuk pintunya. Ia tidak sedang mencari teman; ia sedang memastikan bahwa di akhir hidupnya, lingkaran takdirnya tertutup dengan cara yang paling menghancurkan bagi sang penyelamat.
Saat dibawa keluar dengan borgol di tangan, Nenek Teresa tidak menunduk. Ia menatap langit malam dengan kepuasan yang mengerikan. Ia telah berhasil menjadikan orang yang paling membencinya sebagai satu-satunya orang yang akan selalu mengingat namanya hingga akhir hayat.
Ternyata, kesepian hanyalah kedok bagi seorang pemburu yang sedang menanti mangsanya datang menjemput.
