PENGUSAHA INI PURA-PURA PERGI DEMI MENJEBAK PEMBANTUNYA… TAPI REKAMAN TABLET ANAKNYA JUSTRU MEMBONGKAR NIAT KEJAM CALON ISTRINYA!

Hendra menatap tablet di tangan Kirana tanpa berkedip.

Suasana dapur yang beberapa menit sebelumnya hangat mendadak berubah seperti membeku.

“Kirana,” katanya pelan. “Tunjukkan rekamannya.”

Anak itu menelan ludah lalu membuka galeri.

Jari kecilnya berhenti pada sebuah video berdurasi dua menit empat belas detik.

Rekaman tampak bergoyang, seolah tablet diletakkan terburu-buru di balik tumpukan buku.

Namun gambar yang terlihat cukup jelas.

Siska masuk ke ruang makan sambil membawa gelang berlian milik Vina.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Kemudian membuka celemek Bi Marni yang tergantung di dekat dapur.

Dengan cepat, gelang itu dimasukkan ke kantong depan.

Hendra merasakan seluruh tubuhnya panas.

Ia memutar ulang video itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tidak ada keraguan.

Siska yang melakukannya.

Bi Marni berdiri beberapa langkah dari Hendra.

Matanya sudah penuh air.

Namun perempuan itu tidak mengatakan, “Saya sudah bilang.”

Tidak pula meminta pembelaan.

Ia hanya melihat ke lantai.

Hendra menatapnya.

“Bi.”

Bi Marni mengangkat wajah.

“Saya minta maaf.”

Bi Marni terdiam.

Hendra melanjutkan dengan suara berat.

“Saya meragukan Bibi.”

Bi Marni mengusap sudut matanya.

“Bapak cuma sedang mencoba melindungi keluarga.”

“Tidak.”

Hendra menggeleng.

“Saya hampir menghancurkan orang yang justru menjaga keluarga saya.”

Laras turun dari kursi lalu memeluk Bi Marni.

Kirana ikut bergabung.

Bi Marni akhirnya tidak mampu menahan tangis.

Namun Hendra tahu masalah belum selesai.

Masih ada rekaman kedua.

“Kirana.”

Anaknya menatapnya.

“Yang tentang telepon Tante Siska.”

Kirana membuka file lain.

Video kedua jauh lebih panjang.

Gambarnya hampir seluruhnya gelap karena tablet tampaknya diletakkan di bawah meja ruang keluarga.

Namun suara Siska terdengar jelas.

“Aku sudah hampir berhasil membuat Hendra memecat pembantunya.”

Suara laki-laki terdengar samar dari speaker telepon.

Siska menjawab.

“Kalau Marni pergi, anak-anak tidak punya orang yang bisa memengaruhi Hendra.”

Hendra mengepalkan tangan.

Kemudian terdengar kalimat berikutnya.

“Setelah menikah, aku akan minta Hendra memasukkan Laras dan Kirana ke sekolah asrama di Singapura.”

Hendra tertegun.

Sekolah asrama?

Siska melanjutkan.

“Kalau mereka jauh dari rumah, lebih gampang. Hendra sibuk kerja. Aku yang pegang rumah, rekening, dan semua urusan keluarga.”

Suara laki-laki di telepon bertanya sesuatu.

Siska tertawa kecil.

“Tenang saja. Hendra itu gampang dikendalikan kalau sudah merasa bersalah soal anak-anak.”

Kirana menghentikan rekaman.

“Aku takut lanjut dengarnya.”

Hendra berlutut di depan putrinya.

“Kenapa kamu tidak langsung bilang Papa?”

Kirana menunduk.

“Tante Siska pernah bilang kalau anak kecil suka mengarang cerita.”

Ia menarik napas.

“Dia bilang kalau aku menuduh orang dewasa tanpa bukti, Papa bisa marah.”

Hendra merasa seperti ditampar.

Ia memeluk Kirana erat.

“Papa minta maaf.”

Laras ikut mendekat.

“Papa benar-benar tidak akan memecat Bi Marni?”

Hendra menggeleng.

“Tidak.”

Ia menatap Bi Marni.

“Kalau Bibi masih mau tinggal.”

Bi Marni tidak langsung menjawab.

“Pak Hendra.”

“Iya?”

“Saya bukan bertahan di sini karena pekerjaan.”

Ia melihat Laras dan Kirana.

“Saya bertahan karena saya berjanji kepada Bu Vina.”

Hendra membeku.

“Janji apa?”

Bi Marni terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Waktu Bu Vina sakit, beliau pernah bilang kepada saya, kalau suatu hari Bapak menikah lagi, saya tidak boleh menghalangi.”

Bi Marni tersenyum pahit.

“Tapi beliau meminta saya memastikan kedua anak ini tidak pernah merasa kehilangan rumah kedua kali.”

Dada Hendra terasa semakin sesak.

Ia memalingkan wajah.

Sudah bertahun-tahun sejak Vina meninggal.

Namun kalimat sederhana itu membuat kenangan tentang istrinya kembali begitu nyata.

Hendra kemudian meminta Bi Marni membawa Laras dan Kirana ke kamar.

“Ada sesuatu yang harus saya selesaikan.”

“Pak, jangan bertindak gegabah.”

Hendra mengangguk.

“Saya tidak akan.”

Setelah anak-anak pergi, Hendra menyimpan seluruh rekaman ke laptop, ponsel, dan penyimpanan daring.

Ia tidak ingin mengambil risiko satu-satunya bukti menghilang.

Kemudian ia menghubungi Arief, kepala keamanan rumah.

“Pak Arief.”

“Ya, Pak.”

“Saya perlu seluruh rekaman CCTV rumah tiga minggu terakhir. Jangan beri tahu siapa pun.”

“Baik.”

“Dan satu lagi.”

Hendra berhenti.

“Kalau Bu Siska pulang, jangan cegah. Biarkan dia masuk seperti biasa.”

Pukul empat sore, Siska kembali dari salon.

Ia masuk sambil membawa beberapa kantong belanja.

“Hendra?”

Ekspresi terkejut muncul ketika melihat koper Hendra kembali berada di dekat pintu.

“Mas? Bukannya kamu di Surabaya?”

Hendra duduk di ruang keluarga.

Ia sengaja menjaga wajahnya tetap tenang.

“Penerbangan dibatalkan.”

Siska tersenyum.

“Oh.”

Ia meletakkan tas.

“Sayang sekali. Padahal aku mau membereskan banyak hal di rumah.”

“Termasuk urusan Bi Marni?”

Siska berhenti sesaat.

Kemudian tersenyum lagi.

“Tentu. Kita memang harus bicara soal dia.”

Hendra menunjuk sofa.

“Duduk.”

Nada suaranya membuat Siska mulai tidak nyaman.

“Ada apa?”

“Uang Rp25 juta yang hilang dari ruang kerjaku.”

Siska langsung menjawab.

“Pasti Marni.”

“Kenapa kamu yakin?”

“Karena siapa lagi?”

Hendra bersandar.

“Lalu gelang Vina?”

“Aku sendiri yang menemukannya di celemek Marni.”

“Kamu menemukannya?”

“Iya.”

Hendra menatapnya lama.

Siska mulai gelisah.

“Kenapa kamu melihatku seperti itu?”

Hendra mengambil tablet Kirana dari atas meja.

Wajah Siska berubah sedikit.

“Kamu kenal ini?”

“Tablet anak-anak.”

Hendra membuka video pertama.

Ia meletakkannya di meja.

Rekaman diputar.

Siska melihat dirinya sendiri memasukkan gelang ke celemek Bi Marni.

Wajahnya seketika pucat.

Ruangan menjadi sunyi.

Hendra tidak berkata apa pun selama beberapa detik.

Siska mencoba tertawa.

“Itu tidak seperti yang terlihat.”

Hendra mengangkat alis.

“Kalau begitu jelaskan.”

“Aku hanya…”

Siska kehilangan kata-kata.

“Aku cuma ingin menguji Marni.”

“Menguji?”

“Iya.”

“Dengan menjebaknya?”

Siska berdiri.

“Mas, dengarkan.”

Hendra juga berdiri.

“Duduk.”

Siska membeku.

Hendra tidak pernah berbicara kepadanya seperti itu sebelumnya.

Akhirnya ia duduk kembali.

Hendra memutar rekaman kedua.

Kali ini, wajah Siska benar-benar kehilangan warna.

Ketika suara mengenai rencana mengirim Laras dan Kirana ke sekolah asrama terdengar, Siska langsung meraih tablet.

Namun Hendra lebih cepat mengambilnya.

“Jangan.”

“Hendra, itu cuma percakapan pribadi.”

“Percakapan pribadi tentang menyingkirkan anak-anakku?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Lalu maksudmu apa?”

Siska mulai menangis.

“Aku cuma ingin kita punya kehidupan sendiri.”

“Kita?”

“Iya. Kamu dan aku.”

Hendra menatapnya.

“Tanpa Laras dan Kirana?”

Siska diam.

Hendra akhirnya mengerti.

Bukan Bi Marni yang menjadi masalah sebenarnya.

Bi Marni hanya penghalang pertama.

Karena selama perempuan itu ada, anak-anak memiliki seseorang yang mereka percaya.

Dan selama Laras serta Kirana tetap dekat dengan ayahnya, Siska tidak akan pernah menjadi satu-satunya pusat hidup Hendra.

“Siapa laki-laki yang kamu telepon?”

Siska langsung menegang.

“Itu teman.”

“Siapa?”

“Tidak penting.”

Hendra membuka laptop.

Ia menunjukkan rekaman CCTV gerbang.

Dalam beberapa minggu terakhir, sebuah mobil hitam beberapa kali berhenti di depan rumah ketika Hendra sedang bepergian.

Seorang laki-laki turun dan menemui Siska di luar pagar.

Wajah Siska makin pucat.

“Namanya Doni, kan?”

Siska tidak menjawab.

Hendra sudah meminta Arief mencatat nomor pelat kendaraan.

Dari sana, ia mengetahui mobil tersebut terdaftar atas nama Doni Wijaya.

Seorang konsultan properti.

Dan ternyata nama Doni juga muncul dalam beberapa percakapan lama Siska yang tersinkron ke tablet keluarga.

Siska pernah menggunakan tablet itu untuk membuka aplikasi pesan dan lupa keluar dari akun.

Hendra membaca beberapa percakapan.

Salah satunya membuatnya benar-benar diam.

Setelah menikah, rumah Pondok Indah bisa dijual kalau Hendra setuju. Dia terlalu sentimental karena rumah ini milik almarhum istrinya. Aku harus pelan-pelan bikin dia merasa rumah ini penuh kenangan buruk.

Pesan lain berbunyi.

Kalau anak-anak sudah di luar negeri, kita bisa lebih bebas.

Hendra menutup laptop.

“Jadi rumah ini juga bagian dari rencanamu.”

Siska menangis lebih keras.

“Aku melakukan semua karena cinta kamu.”

Hendra tertawa pendek.

“Jangan gunakan kata cinta untuk membungkus keserakahan.”

Siska berdiri.

“Aku meninggalkan banyak hal untuk kamu.”

“Apa?”

“Karierku. Teman-temanku. Hidupku.”

“Tidak.”

Hendra menatapnya.

“Kamu datang ke kehidupan saya karena ingin mengambil semuanya tanpa menerima orang-orang yang sudah ada lebih dulu.”

Siska menggigit bibir.

“Aku tidak pernah suka bagaimana anak-anak memperlakukanku.”

“Mereka tujuh tahun.”

“Mereka selalu membandingkan aku dengan ibunya.”

“Karena kamu mencoba menggantikan ibunya.”

Siska terdiam.

Hendra berjalan ke meja dan mengambil sebuah amplop.

“Pernikahan kita batal.”

Siska membeku.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Hendra, dua bulan lagi!”

“Tidak akan ada pernikahan.”

Siska mulai panik.

“Kamu tidak bisa mengambil keputusan hanya karena rekaman anak kecil!”

Hendra menatapnya.

“Justru seorang anak kecil memiliki keberanian mengumpulkan bukti ketika orang dewasa di rumah ini memilih memanipulasi keadaan.”

Siska membalas dengan marah.

“Dan kamu pikir Marni suci?”

Hendra tidak menjawab.

Siska tiba-tiba tersenyum dingin.

“Kalau begitu tanyakan ke pembantu kesayanganmu soal uang Rp25 juta.”

Hendra terdiam.

“Apa maksudmu?”

“Aku memang menjebaknya dengan gelang.”

Siska menghapus air mata.

“Tapi aku tidak mengambil uang itu.”

Hendra menatapnya tajam.

“Siapa yang mengambil?”

Siska mengangkat bahu.

“Tanya Marni.”

Untuk pertama kalinya, keraguan kembali muncul di wajah Hendra.

Namun tepat saat itu, Bi Marni muncul dari lorong.

“Saya tahu uang itu di mana.”

Semua orang menoleh.

Bi Marni membawa sebuah amplop cokelat.

Ia meletakkannya di meja.

Hendra membukanya.

Di dalamnya terdapat uang tunai.

Jumlahnya lengkap.

Rp25 juta.

Hendra terpaku.

“Bi?”

Bi Marni menarik napas.

“Saya memang mengambilnya dari laci Bapak.”

Wajah Hendra berubah.

Siska langsung tersenyum penuh kemenangan.

“Nah!”

Namun Bi Marni belum selesai.

“Saya mengambilnya karena dua hari sebelumnya saya melihat Bu Siska mencoba membuka laci itu.”

Siska langsung membentak.

“Bohong!”

Bi Marni tetap tenang.

“Saya takut uangnya benar-benar hilang. Jadi saya pindahkan.”

“Kenapa tidak bilang ke saya?” tanya Hendra.

“Karena saya tidak punya bukti.”

Bi Marni menunduk.

“Dan waktu itu Bapak sudah mulai percaya kepada Bu Siska.”

Hendra terdiam.

“Tapi saya menulis catatan.”

Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya.

Di sana tercatat tanggal, waktu, jumlah uang, dan alasan memindahkannya.

Ada pula tanda tangan Arief, kepala keamanan.

“Saya minta Pak Arief menyaksikan saat saya menghitung uangnya.”

Hendra menatap catatan itu.

Seluruh potongan akhirnya tersusun.

Siska bukan hanya menanamkan kecurigaan.

Ia memanfaatkan tindakan Bi Marni yang diam-diam berusaha melindungi uang tersebut untuk memperkuat tuduhan.

Hendra menoleh kepada Siska.

“Keluar.”

Siska membeku.

“Mas…”

“Keluar dari rumah saya.”

“Kamu akan menyesal.”

“Mungkin.”

Hendra membuka pintu.

“Tapi bukan karena membatalkan pernikahan denganmu.”

Siska akhirnya mengambil tasnya.

Sebelum pergi, ia menatap Bi Marni dengan kebencian.

“Semua ini gara-gara kamu.”

Bi Marni menggeleng.

“Bukan.”

Suara kecil terdengar dari tangga.

“Itu gara-gara Tante sendiri.”

Kirana berdiri di sana bersama Laras.

Siska menatap kedua anak itu.

Untuk sesaat, tidak ada seorang pun berbicara.

Kemudian Siska pergi.

Pintu tertutup.

Beberapa minggu kemudian, Hendra mengetahui bahwa Doni ternyata bukan sekadar teman.

Keduanya sudah saling mengenal bahkan sebelum Siska bertemu Hendra.

Percakapan yang ditemukan menunjukkan mereka berencana menggunakan pernikahan Siska untuk mendapatkan akses ke aset Hendra dan kemudian mengatur penjualan beberapa properti.

Hendra menyerahkan seluruh bukti kepada pengacaranya.

Ia memilih tidak menceritakan detail persoalan hukum kepada Laras dan Kirana.

Bagi kedua anak itu, yang terpenting hanyalah satu hal.

Tante Siska tidak akan kembali.

Ulang tahun Laras akhirnya digelar satu minggu kemudian.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada dekorasi berlebihan.

Hanya keluarga dekat, beberapa teman sekolah, dan makanan buatan Bi Marni.

Di tengah meja terdapat kue cokelat berdasarkan resep lama milik Vina.

Ketika semua orang bersiap duduk, Bi Marni seperti biasa berdiri hendak kembali ke dapur.

Laras langsung menarik tangannya.

“Bibi lupa?”

“Lupa apa?”

“Kursi Bibi.”

Kirana menunjuk kursi kosong di antara mereka.

“Di tengah.”

Bi Marni tersenyum.

Kemudian menatap Hendra.

Hendra mengangguk.

“Duduklah, Bi.”

Bi Marni akhirnya duduk.

Saat lilin dinyalakan, Laras menutup mata untuk membuat permohonan.

Hendra bertanya setelah lilin ditiup.

“Laras minta apa?”

Laras tersenyum.

“Tidak boleh bilang. Nanti tidak terkabul.”

Kirana menyela.

“Aku tahu.”

“Jangan!”

Keduanya tertawa.

Hendra memandang mereka dari seberang meja.

Kemudian matanya jatuh pada tablet Kirana yang diletakkan di dekat kue.

Benda kecil itu tampak biasa.

Namun tanpa keberanian seorang anak tujuh tahun, Hendra mungkin telah menikahi perempuan yang berusaha memisahkannya dari orang-orang yang paling mencintainya.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Hendra berdiri di depan foto Vina yang masih tersimpan di ruang keluarga.

“Aku hampir salah besar,” bisiknya.

Bi Marni yang kebetulan melewati ruangan berhenti.

Hendra menoleh kepadanya.

“Bi.”

“Iya, Pak?”

“Terima kasih karena tetap tinggal meskipun saya sempat meragukan Bibi.”

Bi Marni tersenyum.

“Saya bukan tinggal untuk Bapak.”

Hendra tertawa kecil.

“Saya tahu.”

Ia melihat ke arah kamar anak-anak.

“Untuk mereka.”

Bi Marni mengangguk.

Hendra kemudian menyadari bahwa kesalahan terbesarnya bukan karena hampir mempercayai orang yang salah.

Kesalahan terbesarnya adalah ia terlalu sibuk mencari bukti besar sampai hampir melupakan kebenaran yang selama ini terlihat dari hal-hal kecil.

Dari orang yang tahu gelas harus dipindahkan sebelum siku Kirana menyenggolnya.

Dari orang yang menghangatkan stroberi karena tahu anak kecil tidak suka bau kulkas.

Dari orang yang tidak pernah menyebut dirinya keluarga, tetapi selalu bertindak seperti keluarga.

Dan dari seorang anak tujuh tahun yang ketakutan, namun tetap menekan tombol rekam karena tahu ada sesuatu yang tidak benar.

Sejak hari itu, Hendra berhenti mengukur kepercayaan hanya dari kata-kata orang dewasa.

Karena terkadang kebenaran justru datang dari suara paling kecil di dalam rumah.

Suara yang selama ini tidak dianggap penting.

Padahal suara itulah yang menyelamatkan seluruh keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang