PRAMUGARI MENGHILANG SELAMA 12 TAHUN. TIBA-TIBA, KOPER MILIKNYA MUNCUL DI BAN BERJALAN BANDARA! SAAT PETUGAS KEAMANAN MEMBUKANYA, WAJAHNYA LANGSUNG PUCAT DAN IA BERTERIAK, “HUBUNGI POLISI SEKARANG!”
Malam itu, Bandara Internasional Soekarno-Hatta jauh lebih sibuk dari biasanya. Para penumpang berjalan tergesa-gesa sambil menyeret koper, suara pengumuman penerbangan terdengar silih berganti dari pengeras suara, sementara ratusan bagasi terus bergerak di atas ban berjalan tanpa henti.
Namaku Ardi. Aku bekerja sebagai petugas keamanan bandara.
Awalnya, sif malam itu berjalan seperti biasa. Tidak ada keributan, tidak ada laporan serius, dan tidak ada sesuatu yang benar-benar mencurigakan.
Sampai sebuah koper berwarna biru tua muncul di ban berjalan nomor tujuh.
Beberapa menit sebelumnya, ruang keamanan menerima laporan mengenai sebuah koper tanpa pemilik yang ditemukan di dekat area pemeriksaan bagasi. Sebenarnya, kejadian seperti itu bukan sesuatu yang aneh. Ada saja penumpang yang lupa mengambil barang, salah mengenali koper, atau meninggalkannya karena terburu-buru.
Namun, sejak pertama kali melihat koper itu, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Di bagian gagangnya masih tergantung sebuah label bagasi lama milik Nusantara Air. Kertasnya sedikit menguning, tetapi tulisan merah yang tercetak di sana masih dapat dibaca dengan jelas.
“Larasati Pradana – Awak Kabin.”
Aku terdiam.
Pak Bima, petugas senior yang berdiri di sebelahku, mendekat dan membaca nama itu sekali lagi.
Ekspresinya langsung berubah.
Dalam hitungan detik, suasana di sekitar kami menjadi hening.
Hampir semua petugas keamanan yang sudah lama bekerja di bandara mengenal nama Larasati Pradana.
Ia adalah seorang pramugari yang menghilang secara misterius dua belas tahun lalu.
Sebelum dinyatakan hilang pada tahun 2014, Larasati cukup dikenal masyarakat. Wajahnya pernah muncul dalam beberapa iklan maskapai dan program perjalanan di televisi. Ia dikenal memiliki senyum yang hangat, tutur kata lembut, dan sikap yang tenang. Bahkan banyak penumpang lama masih mengingatnya sebagai pramugari yang selalu bersedia membantu tanpa pernah terlihat kehilangan kesabaran.
Namun, semuanya berubah setelah penerbangan terakhirnya dari Denpasar menuju Jakarta.
Malam itu, Larasati seharusnya pulang setelah menyelesaikan tugasnya.
Tetapi ia tidak pernah sampai di rumah.
Polisi melakukan pencarian besar-besaran. Rekaman kamera pengawas diperiksa berulang kali. Daftar penumpang ditelusuri. Kru pesawat, petugas bandara, sopir taksi, hingga orang-orang terakhir yang diketahui berbicara dengannya ikut dimintai keterangan.
Sempat muncul dugaan bahwa hilangnya Larasati berhubungan dengan jaringan kriminal lintas negara.
Namun, tidak pernah ada bukti yang cukup kuat.
Satu per satu petunjuk berakhir buntu.
Tidak ada pesan terakhir.
Tidak ada saksi yang benar-benar melihat ke mana ia pergi.
Bahkan tidak satu pun barang pribadi miliknya pernah ditemukan.
Seolah-olah Larasati lenyap begitu saja setelah menginjakkan kaki di Jakarta.
Keluarganya menunggu selama bertahun-tahun.
Cerita tentang ibunya bahkan pernah dimuat di media. Setiap tahun, tepat pada tanggal Larasati menghilang, perempuan tua itu datang ke bandara dan duduk selama berjam-jam di dekat pintu kedatangan.
Ia selalu membawa foto putrinya.
Katanya, ia hanya ingin berada di sana seandainya suatu hari Larasati tiba-tiba turun dari pesawat, membawa koper, lalu tersenyum kepadanya seperti dulu.
Dua belas tahun telah berlalu.
Dan malam ini, sebuah koper dengan nama Larasati Pradana tiba-tiba muncul kembali di bandara.
Aku dan Pak Bima saling berpandangan sebelum mendekati ban berjalan.
“Jangan disentuh dulu,” kata Pak Bima pelan.
Kami mengenakan sarung tangan.
Setelah area di sekitar koper diamankan, aku mengangkatnya dari ban berjalan.
Begitu koper itu berada di tanganku, perasaan tidak nyaman yang sejak tadi kurasakan semakin kuat.
Berat.
Terlalu berat.
Ukuran koper itu tidak terlalu besar, tetapi bobotnya seperti berisi benda padat.
Ada hal lain yang bahkan lebih aneh.
Permukaan koper terasa dingin dan hampir tidak memiliki goresan. Warnanya masih pekat. Rodanya bersih. Bahkan bagian logam pada resletingnya masih mengilap.
Aku menatap Pak Bima.
“Kalau koper ini benar-benar milik Larasati dua belas tahun lalu, kenapa kondisinya seperti baru?”
Pak Bima tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada label bagasi.
Kertas label itu memang tampak tua dan menguning.
Tetapi koper tempat label itu menempel terlihat hampir baru.
Seolah-olah seseorang sengaja memasang barang lama pada koper baru.
“Bawa ke ruang pemeriksaan,” katanya akhirnya.
Kami membawa koper tersebut ke ruangan khusus.
Kamera dokumentasi dinyalakan. Dua petugas lain berjaga di dekat pintu.
Aku memeriksa bagian luarnya sekali lagi sebelum mulai membuka.
Ada lapisan plastik tipis yang melilit bagian resleting seperti segel tambahan.
“Pelan-pelan, Di,” ujar Pak Bima. “Jangan sampai merusak apa pun.”
Aku mengangguk.
Dengan hati-hati, aku memotong plastik tersebut.
Klik.
Kuncinya terbuka.
Aku menarik resleting perlahan.
Suara gesekan resleting terdengar begitu jelas di tengah ruangan yang sunyi.
Begitu tutup koper terbuka, kami semua terdiam.
Tidak ada pakaian.
Tidak ada sepatu.
Tidak ada perlengkapan seorang pramugari seperti yang kubayangkan.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah amplop cokelat, dompet kulit yang tampak tua, sebuah paspor kedaluwarsa, kartu identitas pegawai Nusantara Air atas nama Larasati Pradana, dan sebuah ponsel model lama.
Pak Bima mengambil amplop menggunakan pinset.
“Jangan pegang langsung.”
Aku mengarahkan kamera lebih dekat.
Ia membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat selembar kertas yang dilipat menjadi empat bagian.
Tulisan tangan memenuhi bagian tengahnya.
Aku tidak tahu apakah tulisan itu benar-benar milik Larasati, tetapi setiap huruf tampak seperti ditulis oleh seseorang yang sedang ketakutan. Beberapa garis bahkan terlihat bergetar.
Pak Bima membacanya dengan suara pelan.
“Jika kalian menemukan koper ini, jangan panik.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian melanjutkan.
“Segera hubungi polisi. Aku telah dikurung terlalu lama, dan sekarang waktunya aku pulang.”
Bulu kudukku langsung berdiri.
Salah satu petugas di belakang kami berbisik, “Dikurung?”
Aku hendak menjawab ketika tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah koper.
Tok…
Semua orang diam.
Aku menoleh.
“Mungkin ada barang yang bergeser,” kataku, meski aku sendiri tidak yakin.
Lalu suara itu terdengar lagi.
Tok…
Tok…
Kali ini jauh lebih jelas.
Suara tersebut berasal dari bagian bawah koper.
Pak Bima perlahan menatapku.
Wajahnya pucat.
Aku mendekatkan telinga, tetapi ia segera menarik lenganku.
“Jangan.”
Kami berdiri tanpa bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Tok…
Tok…
Tok…
Bukan suara benda yang bergeser.
Irama ketukannya terlalu teratur.
Seperti seseorang sedang mengetuk dari balik sebuah pintu.
Aku spontan mundur beberapa langkah.
“Hubungi polisi sekarang!” teriakku kepada petugas yang berjaga di dekat pintu.
Petugas itu langsung meraih radionya.
Namun sebelum ia sempat berbicara, sesuatu yang lebih aneh terjadi.
Ponsel tua yang sejak tadi tergeletak di dalam koper tiba-tiba menyala.
Kami semua membeku.
Padahal beberapa saat sebelumnya aku sempat melihat indikator baterainya.
Ponsel itu mati.
Layarnya kini memancarkan cahaya pucat.
Kemudian terdengar bunyi notifikasi.
Satu pesan baru masuk.
Tanganku terasa dingin ketika melihat layar.
Nomor pengirimnya tidak tersimpan.
Tetapi isi pesannya membuat napasku tercekat.
Pesan itu menyebut namaku.
“Ardi, jangan biarkan mereka membuka bagian bawah koper itu…”
Aku menatap layar beberapa detik, tidak mampu berkata-kata.
Pak Bima perlahan menoleh kepadaku.
“Di… dari mana orang ini tahu namamu?”
Aku belum sempat menjawab.
Tok.
Suara dari dasar koper terdengar lagi.
Kali ini hanya sekali.
Lebih keras.
Lalu ponsel itu kembali berbunyi.

Pesan kedua masuk.
Aku membacanya.
Dan seketika seluruh tubuhku terasa kaku.
“Karena kalau bagian itu dibuka, mereka akan tahu Larasati sebenarnya tidak pernah meninggalkan bandara ini.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
Pak Bima sudah berdiri beberapa langkah dariku. Wajahnya tidak lagi sekadar pucat. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ketakutan.
Bukan ketakutan karena koper itu.
Melainkan ketakutan karena kalimat dalam pesan tersebut.
“Pak,” kataku pelan. “Apa maksudnya tidak pernah meninggalkan bandara?”
Pak Bima tidak menjawab.
Tangannya justru bergerak menuju radio di pinggang.
“Ruang pemeriksaan satu dikunci. Jangan biarkan siapa pun masuk sebelum polisi tiba.”
Nada suaranya berubah tegas.
Salah satu petugas muda bernama Raka segera menutup pintu dan mengaktifkan pengunci elektronik.
Aku kembali menatap koper.
Lapisan dasarnya tampak sedikit lebih tinggi dibanding koper normal. Baru sekarang aku menyadarinya.
Ada ruang tersembunyi.
Tetapi sebelum kami memutuskan apa pun, ponsel kembali berbunyi.
Pesan ketiga.
“Kalian punya waktu sembilan menit sebelum seseorang datang mengambil koper ini.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku menoleh ke kamera pengawas kecil di sudut ruangan.
“Pak Bima, siapa yang tahu koper ini dibawa ke sini?”
“Petugas baggage handling, keamanan terminal, supervisor… terlalu banyak.”
Raka mendadak berseru.
“Pak, lihat ini.”
Ia menunjuk layar monitor CCTV yang tersambung ke lorong luar ruang pemeriksaan.
Seorang pria mengenakan rompi petugas teknis sedang berjalan menuju kami.
Topi menutupi sebagian wajahnya.
Di tangannya terdapat kotak perkakas.
Pak Bima langsung berdiri.
“Perbesar.”
Raka memperbesar tampilan kamera.
Aku merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.
Pria itu tidak memakai kartu identitas.
Padahal seluruh pekerja bandara wajib mengenakannya di area terbatas.
“Siapa dia?” tanyaku.
Tidak ada yang menjawab.
Pria tersebut berhenti tepat di depan pintu.
Ia mengetuk tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara yang sama seperti dari dalam koper.
Seluruh ruangan terasa membeku.
“Bagian maintenance,” terdengar suara pria itu dari luar. “Ada laporan pengunci pintu bermasalah.”
Pak Bima memberi isyarat agar kami diam.
Pria tersebut mengetuk lagi.
“Pak Bima, buka. Saya disuruh Pak Yanto.”
Aku menatap Pak Bima.
Ia tidak pernah menyebut namanya melalui radio.
Bagaimana pria itu tahu Pak Bima ada di dalam?
Ponsel berbunyi lagi.
“Jangan buka pintu.”
Pesan keempat.
Kemudian muncul pesan lain.
“Namanya Rendra.”
Pak Bima menatapku tajam.
Aku menunjukkan layar.
Begitu membaca nama itu, tubuhnya seketika kaku.
“Pak kenal?” tanyaku.
Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara.
Baru setelah beberapa detik ia berkata, “Dulu dia petugas logistik Nusantara Air.”
“Dulu?”
“Dia bekerja di sini saat Larasati hilang.”
Suasana ruangan berubah total.
Pria di luar kembali mengetuk.
Kali ini lebih keras.
“Pak Bima, tolong buka.”
Pak Bima mengambil radio.
“Pusat keamanan, kirim tim ke ruang pemeriksaan satu. Ada orang tidak dikenal di area terbatas.”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Hanya suara statis.
Raka memeriksa radionya.
“Mati, Pak.”
Lampu ruangan tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu padam.
Hanya layar ponsel tua di dalam koper yang masih menyala.
Raka mengumpat pelan.
Beberapa detik kemudian lampu darurat merah menyala.
Pria di luar berhenti mengetuk.
Suasana terlalu sunyi.
Aku mendekati monitor CCTV.
Lorong kosong.
Pria itu sudah tidak ada.
“Ke mana dia?”
Pak Bima menatap layar dengan rahang mengeras.
Kemudian terdengar bunyi logam dari ventilasi di atas pintu.
Raka langsung mundur.
“Pak…”
Sekrup ventilasi bergerak.
Seseorang mencoba membukanya dari luar.
Pak Bima mengambil tongkat keamanannya.
Aku melakukan hal yang sama.
Sementara itu, ponsel kembali menampilkan pesan.
“Buka bagian bawah koper sekarang.”
Aku membacanya dua kali.
Beberapa menit sebelumnya pesan itu justru melarang kami membukanya.
“Mengapa berubah?” bisikku.
Lalu pesan kedua menyusul.
“Karena Rendra sudah tahu kalian menemukannya.”
Pak Bima mengangguk.
“Buka.”
Aku menarik lapisan kain dasar koper.
Tidak bergerak.
Raka membantu.
Di bawah lapisan itu terdapat papan tipis dengan empat baut.
Kami menggunakan obeng dari lemari pemeriksaan.
Tanganku gemetar ketika baut terakhir dilepas.
Begitu papan terangkat, udara dingin menyeruak keluar.
Di dalam ruang tersembunyi terdapat kotak logam kecil.
Bukan seseorang.
Bukan sesuatu yang bergerak.
Kotak itu memiliki perangkat mekanis yang rupanya menghasilkan suara ketukan saat mendapat sinyal.
Aku baru mengerti.
Semua suara tok tadi sengaja dibuat.
Untuk memastikan kami menemukan kompartemen tersembunyi.
Aku membuka kotak logam.
Di dalamnya ada belasan kartu memori, satu flash disk, beberapa foto cetak, serta sebuah kunci kecil dengan nomor ruangan.
B12.
Pak Bima mengambil salah satu foto.
Wajahnya berubah.
Foto tersebut memperlihatkan sebuah ruangan sempit tanpa jendela.
Ada seorang perempuan duduk di lantai.
Rambutnya panjang dan tubuhnya sangat kurus.
Namun wajah itu mudah dikenali.
Larasati.
Di sudut foto tercetak tanggal.
Aku mematung.
“Ini tahun lalu.”
Artinya Larasati masih hidup setidaknya sebelas tahun setelah ia menghilang.
Di balik foto terdapat tulisan.
“Ruang arsip lama. Basement B12.”
Pak Bima seperti kehilangan keseimbangan.
Ia berpegangan pada meja.
“Ada basement lama di terminal kargo,” katanya.
“Masih dipakai?”
“Secara resmi sudah ditutup hampir lima belas tahun lalu.”
Ponsel tua kembali berbunyi.
“Kuncinya membuka B12.”
Lalu pesan terakhir muncul.
“Tolong jemput aku.”
Pada saat yang sama, ventilasi di atas kami terlepas.
Seseorang menjulurkan tangan.
Raka berteriak.
Aku dan Pak Bima memukul tangan itu dengan tongkat.
Terdengar jeritan dari atas plafon.
Kemudian langkah kaki menjauh.
Sistem listrik kembali menyala beberapa detik kemudian.
Radio kami berfungsi lagi.
Kali ini suara pusat keamanan terdengar.
“Tim menuju lokasi.”
Tidak lama kemudian polisi bandara tiba.
Kami menyerahkan seluruh barang di dalam koper.
Setelah melihat foto dan isi pesan, mereka segera mengirim tim menuju basement lama di area kargo.
Aku ikut bersama Pak Bima.
Entah mengapa aku merasa harus melihatnya sampai akhir.
Lorong menuju basement B12 tersembunyi di balik ruang penyimpanan yang selama ini dikira sudah tidak digunakan.
Kuncinya cocok.
Ketika pintu besi terbuka, bau lembap langsung memenuhi lorong.
Lampu senter menyapu dinding beton.
Ada beberapa ruangan kecil di bawah sana.
Sebagian berisi rak tua, dokumen, dan peralatan maskapai yang sudah tidak digunakan.
Kemudian kami menemukan B12.
Pintunya terkunci dari luar.
Polisi membukanya.
Di dalam ruangan itu terdapat kasur tipis, botol air, obat-obatan, beberapa buku, lampu meja, dan sebuah komputer tua yang terhubung ke jaringan internal.
Tetapi tidak ada siapa pun.
Aku merasakan kekecewaan luar biasa.
Sampai seorang polisi melihat pintu kecil di balik lemari.
Pintu itu mengarah ke koridor servis.
Kami mengikutinya hingga berakhir di ruangan bawah tanah lain.
Dan di sanalah kami menemukan seorang perempuan.
Ia berdiri di dekat dinding sambil memegang batang besi.
Rambutnya sudah dipenuhi uban.
Tubuhnya kurus.
Wajahnya jauh lebih tua daripada foto yang selama ini dikenal masyarakat.
Tetapi matanya tetap sama.
“Jangan mendekat,” katanya dengan suara parau.
Polisi mengangkat kedua tangan.
“Bu Larasati?”
Perempuan itu menatap kami satu per satu.
Lalu matanya berhenti padaku.
“Ardi?”
Aku membeku.
“Bagaimana Ibu tahu nama saya?”
Air mata langsung memenuhi matanya.
“Kamu yang menemukan koper itu?”
Aku mengangguk.
Ia menjatuhkan batang besi.
Kemudian menangis.
Bukan tangisan keras.
Hanya air mata yang jatuh terus-menerus dari wajah seseorang yang mungkin sudah terlalu lama lupa rasanya merasa aman.
Belakangan kami mengetahui semuanya.
Larasati ternyata tanpa sengaja menemukan aktivitas penyelundupan melalui jalur logistik maskapai pada tahun 2014. Beberapa orang internal bandara dan perusahaan penerbangan terlibat memindahkan barang ilegal dengan memanfaatkan bagasi kru.
Larasati memotret dokumen transaksi dan berniat melapor.
Namun sebelum sempat keluar dari area bandara, ia diculik oleh Rendra dan dua orang lainnya.
Mereka tidak membunuhnya karena Larasati menyimpan salinan bukti di tempat yang tak diketahui.
Selama bertahun-tahun ia dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain.
Beberapa tahun terakhir, setelah jaringan mereka mengecil dan para pelakunya mulai saling mencurigai, Larasati disembunyikan di basement lama bandara.
Ironisnya, selama bertahun-tahun orang mencarinya ke berbagai kota, bahkan ke luar negeri.
Padahal pada beberapa periode, ia berada hanya beberapa ratus meter dari terminal tempat ibunya setiap tahun menunggu.
Larasati bisa mengirim pesan kepada kami karena beberapa bulan sebelumnya ia berhasil memperoleh akses ke komputer lama yang terhubung ke sistem internal. Ponsel dalam koper telah dimodifikasi dan dipasangi kartu SIM baru oleh seseorang yang diam-diam membantunya.
Orang itu adalah Pak Bima.
Aku hampir tidak percaya ketika polisi menyebut namanya.
Pak Bima menunduk.
“Aku baru tahu dia masih hidup enam bulan lalu,” katanya.
“Tapi kenapa Bapak tidak langsung lapor?”
Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
“Karena dulu aku juga bekerja di bagian keamanan ketika Larasati hilang.”
Ia menatapku.
“Dan aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Malam Larasati diculik, Pak Bima pernah melihat Rendra membawa seorang perempuan melewati lorong servis. Larasati tampak lemas.
Namun Rendra mengatakan perempuan itu kru yang sakit dan sedang dibawa ke klinik internal.
Pak Bima percaya begitu saja.
Ia bahkan membukakan pintu akses.
Selama dua belas tahun rasa bersalah menghantuinya.
Ketika akhirnya menemukan jejak Larasati beberapa bulan lalu, ia berusaha membantunya diam-diam sambil mengumpulkan bukti, karena khawatir jaringan lama masih memiliki orang di dalam keamanan bandara.
Koper itu adalah rencana terakhir mereka.
Pak Bima sengaja membuatnya masuk ke sistem bagasi melalui jalur lama yang masih dapat diakses.
Namun ia tidak tahu koper itu akan jatuh ke tanganku.
“Kenapa ponselnya tahu nama saya?” tanyaku.
Larasati tersenyum lemah.
“Ketika koper masuk ruang pemeriksaan, aku masih bisa melihat kamera internal dari komputer basement. Pak Bima pernah menunjukkan daftar petugas keamanan yang bertugas malam ini. Aku memilihmu karena kau orang baru di unit itu.”
Aku menoleh kepada Pak Bima.
“Jadi sejak awal Bapak tahu?”
Ia menggeleng.
“Hanya sebagian.”
Ia tidak tahu bahwa Larasati akan memasukkan semua bukti ke dalam koper malam itu. Ia juga tidak tahu Rendra masih memantau sistem bandara.
Rendra akhirnya ditangkap menjelang pagi ketika mencoba keluar melalui jalur kendaraan operasional.
Dari kartu-kartu memori di dalam koper, polisi menemukan bukti transaksi bertahun-tahun, nama para pelaku, rekaman percakapan, serta lokasi penyimpanan barang.
Kasus yang sempat dianggap dingin selama lebih dari satu dekade kembali dibuka.
Beberapa mantan pegawai maskapai dan petugas logistik ditangkap dalam minggu-minggu berikutnya.
Tetapi ada satu peristiwa yang tidak pernah kulupakan.
Pagi setelah Larasati ditemukan, polisi membawa seorang perempuan tua ke ruang perawatan bandara.
Ibunya.
Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun.
Langkahnya pelan dan dibantu tongkat.
Ketika pintu terbuka dan Larasati melihat ibunya, ia tidak langsung bergerak.
Begitu pula ibunya.
Mereka hanya saling memandang.
Dua belas tahun penantian seolah memenuhi ruangan itu.
Lalu sang ibu berkata dengan suara gemetar,
“Kamu pulang juga, Nak.”
Larasati menutup mulutnya.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan tertatih.
Mereka berpelukan.
Tidak ada orang di ruangan itu yang mampu menahan air mata.
Termasuk aku.
Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, aku kembali bekerja di ban berjalan nomor tujuh.
Aktivitas bandara sudah normal lagi.
Orang-orang datang dan pergi, koper terus bergerak, dan pengumuman penerbangan terdengar seperti biasa.
Suatu sore, aku melihat Larasati berjalan bersama ibunya menuju pintu keberangkatan domestik.
Ia tidak lagi mengenakan seragam pramugari.
Hanya kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam.
Ketika melihatku, ia tersenyum.
Senyum yang mungkin pernah dikenal ribuan penumpang bertahun-tahun lalu.
“Kali ini saya benar-benar pergi dari bandara,” katanya sambil bercanda.
Aku tertawa kecil.
“Mau ke mana?”
“Bali.”
Ia menggenggam tangan ibunya.
“Dulu itu penerbangan terakhir saya sebelum hidup saya berhenti. Sekarang saya ingin menjadikannya penerbangan pertama untuk memulai hidup lagi.”
Sebelum pergi, Larasati menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Aku baru membukanya setelah mereka menghilang di balik pemeriksaan keamanan.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Tulisan tangannya jauh lebih rapi daripada surat yang kami temukan di dalam koper.
“Untuk Ardi. Kadang-kadang orang mengira seseorang hilang karena ia pergi terlalu jauh. Padahal, ada orang-orang yang sebenarnya begitu dekat, tetapi tidak pernah benar-benar dilihat. Terima kasih karena malam itu kamu memilih untuk melihat lebih dekat.”
Aku berdiri lama di tengah hiruk-pikuk bandara sambil memegang surat itu.
Sejak saat itu, setiap kali menemukan koper tanpa pemilik, aku tidak pernah lagi menganggapnya sekadar barang tertinggal.
Karena di tempat seperti bandara, jutaan orang datang dan pergi membawa cerita masing-masing.
Dan terkadang, sebuah koper bukan sedang menunggu pemiliknya.
Melainkan sedang menunggu seseorang yang akhirnya bersedia membuka kebenaran yang terlalu lama disembunyikan.
