PULANG DIAM-DIAM DARI ARAB SETELAH 5 TAHUN, PRIA INI TERKEJUT MELIHAT IBU DAN ADIKNYA MENGGELAR PESTA MEWAH, SEMENTARA ISTRI DAN ANAKNYA KELAPARAN DI GUDANG BELAKANG!

Bu Endang menelan ludah. Tatapannya bergerak cepat dari wajah Bagus ke Ratih, lalu ke Maya yang berdiri pucat sambil memegang nampan.

“Gus, dengarkan Ibu dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Bagus tertawa pendek. Tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam suara itu.

“Tidak seperti yang kupikirkan?”

Ia menunjuk nasi dingin yang berserakan di lantai.

“Anakku makan nasi hampir basi di gudang. Istriku kurus sampai aku nyaris tidak mengenalinya. Sementara Ibu pakai kalung mahal dan mengadakan pesta di rumah yang kubangun. Bagian mana yang salah kupahami?”

Ratih segera berdiri dan memegang lengan suaminya.

“Mas, jangan di sini.”

Bagus menoleh. Baru saat itulah ia melihat lebih dekat wajah Ratih. Ada bekas lebam samar di dekat pelipisnya.

Darah Bagus seperti mendidih.

“Siapa yang melakukan itu?”

Ratih spontan menutup bekas tersebut dengan rambut.

“Mas…”

“Siapa?”

Ratih tidak menjawab.

Namun matanya tanpa sengaja melirik Maya.

Bagus langsung mengerti.

Maya mundur.

“Kak, dia bohong. Jangan langsung percaya. Selama Kakak pergi, Mbak Ratih itu banyak masalah. Dia boros, suka melawan Ibu, bahkan…”

“Cukup.”

Suara Bagus tidak keras, tetapi membuat Maya diam.

Arka yang sejak tadi bersembunyi di belakang ibunya tiba-tiba menarik ujung kemeja Bagus.

“Ayah?”

Satu kata itu menghancurkan kemarahan Bagus menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Ia berlutut.

“Iya.”

Arka menatapnya dengan ragu.

“Ayah benar-benar pulang?”

Bagus mengangguk. Air matanya akhirnya jatuh.

“Maaf Ayah lama sekali.”

Arka langsung memeluknya.

Tubuh anak itu begitu ringan sampai Bagus merasa sedang memeluk anak berusia empat tahun, bukan enam tahun.

“Ayah jangan pergi lagi.”

Bagus memejamkan mata erat.

“Tidak. Ayah tidak akan meninggalkan kamu seperti ini lagi.”

Ratih memalingkan wajah sambil menangis.

Dari rumah utama terdengar musik masih menggelegar. Para tamu bahkan tidak mengetahui drama yang sedang terjadi beberapa meter dari tempat mereka menikmati daging panggang dan hidangan mahal.

Bagus berdiri.

“Ratih, bawa Arka masuk ke rumah.”

Ratih justru tampak ketakutan.

“Mas…”

“Rumah itu milik kita.”

Bu Endang segera menyela.

“Gus, jangan bikin keributan di depan tamu. Kita bicara setelah pesta selesai.”

Bagus menatap ibunya.

“Pesta selesai sekarang.”

Ia berjalan menuju ruang utama.

Bu Endang dan Maya buru-buru mengejarnya.

“Bagus!”

Namun terlambat.

Bagus masuk ke ruang pesta dengan pakaian perjalanan yang kusut dan wajah penuh debu setelah perjalanan panjang. Kehadirannya membuat beberapa tamu menoleh.

Maya berbisik panik kepada ibunya.

Bu Endang mencoba tersenyum.

“Anak saya baru pulang dari Arab. Kejutan sekali.”

Beberapa tamu mulai bertepuk tangan.

Bagus mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara.

Musik berhenti.

“Maaf mengganggu.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Saya Bagus Pratama. Rumah ini dibangun dari uang yang saya kirim selama bekerja di Arab Saudi.”

Wajah Bu Endang berubah.

“Gus, sudah.”

Bagus mengabaikannya.

“Saya baru pulang malam ini tanpa memberi tahu siapa pun.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan saya baru mengetahui bahwa selama saya bekerja dua belas jam sehari demi keluarga, istri dan anak saya ternyata tinggal di gudang belakang.”

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

Seorang perempuan paruh baya menutup mulut karena terkejut.

Maya maju.

“Kak, jangan mempermalukan keluarga!”

Bagus menatapnya.

“Yang mempermalukan keluarga bukan orang yang mengatakan kebenaran.”

Ia menunjuk ke meja penuh makanan.

“Yang memalukan adalah mengadakan pesta puluhan juta rupiah sementara seorang anak enam tahun di belakang rumah bertanya kepada ibunya apakah dia boleh makan ayam sisa tamu.”

Beberapa tamu mulai meletakkan piring mereka.

Bu Endang merebut mikrofon.

“Sudah! Semua ini masalah keluarga. Bagus baru pulang dan belum tahu apa yang terjadi sebenarnya.”

Lalu ia menatap para tamu.

“Maaf, acara kita lanjutkan saja.”

Namun Bagus mengambil kembali mikrofon.

“Tidak ada acara lagi. Silakan semuanya pulang.”

Satu demi satu tamu akhirnya meninggalkan rumah.

Tidak sampai dua puluh menit, ruang pesta yang sebelumnya penuh tawa berubah menjadi sunyi.

Bagus kemudian membawa Ratih dan Arka ke kamar utama.

Namun Ratih berhenti di depan pintu.

“Mas, aku tidak boleh masuk.”

Bagus menatapnya tidak percaya.

“Sejak kapan?”

“Hampir empat tahun.”

Jawaban itu membuat Bagus membeku.

Ratih mulai menceritakan semuanya.

Pada tahun pertama, keadaan masih normal. Bu Endang memberikan uang belanja kepada Ratih meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada uang yang dikirim Bagus.

Namun setelah rumah selesai direnovasi, semuanya berubah.

Bu Endang mengambil alih seluruh rumah. Maya berhenti bekerja dan mulai hidup mewah. Mobil baru dibeli. Perhiasan bertambah. Mereka mulai sering mengadakan arisan dan pesta.

Ratih pernah mempertanyakan uang kiriman Bagus.

Bu Endang marah.

“Ibu bilang aku cuma menantu. Katanya semua uang yang Mas kirim masuk rekening Ibu, jadi secara hukum itu uang Ibu.”

Bagus menggeleng.

“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”

“Aku mencoba.”

Ratih masuk ke gudang dan kembali membawa sebuah ponsel lama dengan layar retak.

“Aku pernah mengirim pesan panjang. Tapi setelah itu Ibu mengambil ponselku.”

Bu Endang langsung membantah.

“Karena kamu mau memfitnah Ibu!”

Ratih menatapnya.

“Setelah itu setiap panggilan video harus dilakukan di ruang depan. Maya selalu berdiri di belakang kamera. Baju bagus yang kupakai adalah baju Maya. Setelah telepon selesai, aku harus mengembalikannya.”

Bagus teringat semua panggilan video selama bertahun-tahun.

Senyum kaku Ratih.

Tatapan matanya.

Maya yang selalu muncul di belakang.

Semua potongan itu akhirnya menyatu.

“Arka sekolah?”

Ratih terdiam.

Pertanyaan sederhana itu justru membuat suasana semakin berat.

“Sudah delapan bulan dia berhenti.”

Bagus memejamkan mata.

“Kenapa?”

“Uang sekolah tidak dibayar.”

Bagus menatap ibunya dengan tidak percaya.

“Setiap bulan aku kirim tiga puluh lima juta.”

Bu Endang akhirnya membentak.

“Jangan hanya menyalahkan Ibu! Kamu tahu berapa biaya rumah ini? Listrik, pajak, kebutuhan keluarga? Maya juga butuh modal!”

“Modal apa?”

Maya menunduk.

Tidak ada jawaban.

Bagus mengambil ponselnya dan membuka aplikasi perbankan.

Selama lima tahun, total uang yang ia kirim mencapai lebih dari dua miliar rupiah.

Belum termasuk bonus kerja dan uang tambahan yang beberapa kali ia transfer untuk renovasi rumah.

“Besok pagi kita ke bank.”

Bu Endang langsung gelisah.

“Untuk apa?”

“Aku mau lihat semuanya.”

Malam itu Bagus tidak tidur.

Ia duduk di gudang bersama Ratih dan mendengarkan cerita yang selama ini disembunyikan darinya.

Ternyata penderitaan mereka bahkan lebih buruk.

Ketika Arka demam tinggi dua tahun sebelumnya, Ratih meminta uang untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Bu Endang hanya memberinya seratus ribu rupiah dan menyuruhnya pergi ke puskesmas.

Ketika Ratih mencoba menjual cincin kawinnya, Maya mengetahuinya dan mengambil cincin tersebut dengan alasan perhiasan keluarga tidak boleh dijual.

Puncaknya terjadi delapan bulan sebelumnya.

Ratih menolak menyerahkan surat-surat pribadinya.

Maya menamparnya.

Setelah itu Ratih dan Arka dipindahkan ke gudang.

“Kenapa kamu tidak kabur?”

Bagus bertanya sambil menahan tangis.

Ratih tersenyum getir.

“Ke mana?”

Orang tuanya telah meninggal. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Identitas dan dokumen pentingnya disimpan Bu Endang.

Lalu Ratih mengatakan sesuatu yang membuat Bagus terdiam.

“Aku juga takut kalau aku pergi, mereka akan bilang kepada Mas bahwa aku kabur bersama laki-laki lain.”

Bagus langsung teringat perkataan ibunya beberapa bulan sebelumnya.

Ratih sekarang aneh.

Ratih sering keluar rumah.

Ratih susah diatur.

Ternyata sebuah cerita sedang disiapkan sedikit demi sedikit.

Pagi berikutnya, Bagus pergi ke bank bersama Ratih dan seorang teman lamanya yang bekerja sebagai pengacara, Dimas.

Bu Endang menolak ikut.

Itulah kesalahan pertamanya.

Bagus meminta riwayat seluruh transfer yang pernah dikirimnya. Setelah itu Dimas membantu memeriksa dokumen rumah dan aset yang berkaitan dengan uang tersebut.

Tiga hari kemudian, fakta pertama terbongkar.

Sebagian besar uang Bagus memang telah habis.

Dari lebih dari dua miliar rupiah, hanya tersisa kurang dari seratus juta.

Ratusan juta digunakan untuk membeli mobil atas nama Maya.

Ratusan juta lainnya dipakai untuk membuka butik yang ternyata sudah bangkrut.

Ada transfer rutin ke rekening seseorang bernama Rudi Hartono.

Bagus tidak mengenal nama itu.

Ketika ia bertanya, Maya langsung pucat.

Rudi ternyata kekasih Maya.

Selama hampir dua tahun, laki-laki itu menerima uang untuk investasi restoran, bisnis impor pakaian, bahkan cicilan sebuah apartemen.

Namun kejutan terbesar bukan itu.

Dimas datang pada sore hari membawa sebuah map.

“Gus, kamu harus lihat ini.”

Ia mengeluarkan salinan dokumen.

Bagus membacanya.

Wajahnya berubah.

Rumah yang selama ini ia kira miliknya ternyata telah dibaliknama.

Menjadi milik Bu Endang.

Tanda tangan Bagus tercantum pada dokumen persetujuan.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

Dimas mengangguk.

“Kelihatannya tanda tanganmu dipalsukan.”

Bagus merasa udara di ruangan menghilang.

Namun Dimas mengeluarkan dokumen berikutnya.

Rumah itu bahkan sudah dijadikan jaminan pinjaman senilai sembilan ratus juta rupiah.

Pinjaman tersebut menunggak.

Jika tidak segera diselesaikan, rumah bisa disita.

Bagus menatap ibunya.

“Jadi ini rencananya?”

Bu Endang mulai menangis.

“Ibu cuma ingin membantu Maya.”

“Membantu?”

Bagus membanting dokumen ke meja.

“Ibu memalsukan tanda tanganku!”

“Ibu yang membesarkan kamu!”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Bu Endang menangis semakin keras.

“Sejak ayahmu meninggal, siapa yang bekerja? Siapa yang membiayai sekolahmu? Ibu! Apa salahnya setelah kamu berhasil, Ibu menikmati sedikit hasilnya?”

Bagus menatap perempuan di depannya cukup lama.

Untuk pertama kalinya ia memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah berani ia pikirkan.

Ibunya tidak merasa mencuri.

Ibunya merasa berhak.

“Itulah masalahnya, Bu.”

Suara Bagus menjadi tenang.

“Kalau Ibu meminta, aku akan memberi. Rumah pun bisa kubelikan.”

Matanya memerah.

“Tapi Ibu tidak meminta. Ibu mengambil semuanya dan membuat anakku kelaparan.”

Bu Endang terdiam.

Maya tiba-tiba menangis.

“Kak, aku bisa mengembalikan uangnya.”

“Dengan apa?”

Maya tidak mampu menjawab.

Bagus akhirnya membuat keputusan yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.

Ia melaporkan pemalsuan dokumen tersebut.

Bu Endang histeris.

“Kamu mau memenjarakan ibu kandungmu?”

Bagus tidak menjawab dengan kemarahan.

“Aku memberi kesempatan Ibu memperbaiki semuanya. Kembalikan dokumen Ratih. Jual mobil Maya. Jual semua barang yang dibeli dari uangku. Batalkan sebisa mungkin transaksi yang masih bisa dibatalkan. Kita selesaikan utang rumah.”

“Kalau tidak?”

“Proses hukum jalan.”

Selama dua minggu berikutnya, rumah itu berubah total.

Mobil Maya dijual.

Perhiasan Bu Endang dijual.

Barang-barang mewah, tas bermerek, jam tangan, furnitur tertentu, bahkan perlengkapan pesta dilepas.

Rudi menghilang begitu mengetahui sumber uang Maya bermasalah.

Apartemen yang selama ini ia janjikan sebagai investasi bersama ternyata sudah dijual diam-diam.

Maya akhirnya sadar bahwa laki-laki yang dibelanya dengan uang kakaknya sendiri juga telah menipunya.

Namun Bagus tidak merasa puas melihat mereka menderita.

Yang paling ia sesali justru lima tahun yang hilang.

Ia membawa Arka ke dokter.

Anak itu mengalami kekurangan gizi ringan, tetapi masih bisa dipulihkan.

Bagus kembali mendaftarkannya ke sekolah.

Setiap pagi selama beberapa minggu pertama, ia sendiri yang mengantar.

Ratih perlahan mendapatkan kembali berat badannya.

Namun luka batinnya jauh lebih sulit sembuh.

Suatu malam, Bagus menyerahkan kotak kecil yang selama ini tersimpan di koper.

Kalung emas yang ia beli di Arab Saudi.

Ratih memandangnya lama.

“Aku tidak butuh ini, Mas.”

Bagus menunduk.

“Aku tahu.”

“Lima tahun aku cuma butuh satu hal.”

“Apa?”

“Kamu percaya kalau aku bilang aku tidak baik-baik saja.”

Bagus tidak mampu menjawab.

Ia memeluk Ratih.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Bagus menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.

Tiga bulan kemudian, utang rumah berhasil diselesaikan setelah sebagian aset dijual. Atas saran Dimas, seluruh kepemilikan diperbaiki melalui proses hukum yang sah.

Namun Bagus melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang.

Ia menjual rumah besar itu.

Bu Endang terpukul.

“Kenapa dijual? Ini rumah keluarga.”

Bagus memandang kolam renang, ruang pesta, dan tangga marmer yang dulu membuatnya bangga.

“Bukan, Bu.”

Ia menoleh ke arah gudang belakang.

“Rumah seharusnya menjadi tempat orang merasa aman. Tempat ini tidak pernah menjadi rumah untuk anak dan istriku.”

Bagus membeli sebuah rumah jauh lebih kecil di daerah lain.

Tidak ada kolam renang.

Tidak ada ruang pesta.

Tidak ada pagar tinggi.

Namun di sana Arka memiliki kamar sendiri.

Ratih memiliki dapur yang selalu ia impikan.

Dan setiap malam mereka makan di meja yang sama.

Bu Endang tinggal di rumah kontrakan sederhana bersama Maya.

Bagus tetap memberikan biaya hidup kepada ibunya dalam jumlah wajar.

Ratih sempat bertanya mengapa.

Bagus menjawab singkat.

“Karena aku tidak mau berubah menjadi mereka.”

Hubungan mereka tidak pernah kembali seperti dahulu.

Namun Bagus tidak lagi membenci.

Ia hanya berhenti percaya tanpa batas.

Enam bulan setelah semuanya selesai, sebuah paket tiba di rumah baru Bagus.

Pengirimnya Maya.

Di dalamnya terdapat ponsel lama milik Ratih yang dulu disita.

Ratih menyalakannya setelah mengisi daya.

Sebagian besar data sudah terhapus.

Namun sebuah rekaman suara lama masih tersimpan.

Tanggalnya empat tahun sebelumnya.

Ratih menekan tombol putar.

Terdengar suara Bu Endang.

“Kalau Bagus pulang nanti, rumah ini harus sudah atas nama Ibu.”

Kemudian suara Maya.

“Kalau Kak Bagus marah?”

Bu Endang tertawa pelan.

“Dia tidak akan marah lama. Bagus itu anak Ibu. Kalau Ratih protes, kita bilang saja Ratih selama ini selingkuh dan menghabiskan uang.”

Ratih menatap suaminya.

Namun rekaman belum selesai.

Beberapa detik kemudian terdengar suara lain.

Suara Arka yang saat itu masih sangat kecil.

“Nenek, Ibu nangis.”

Lalu suara Bu Endang terdengar lagi.

“Biar saja.”

Bagus mematikan rekaman.

Tangannya gemetar.

Ternyata semua memang telah direncanakan jauh sebelum Ratih dipindahkan ke gudang.

Malam itu Bagus duduk di teras rumah barunya sampai larut.

Arka keluar membawa dua gelas susu.

“Ayah belum tidur?”

Bagus tersenyum.

“Belum.”

Arka duduk di sampingnya.

“Ayah masih sedih?”

Bagus menatap putranya.

Anak yang selama lima tahun ia pikir sedang hidup nyaman ternyata tumbuh dengan menunggu sisa makanan dari meja orang lain.

Ia merangkul bahu Arka.

“Sedikit.”

Arka menyerahkan segelas susu kepadanya.

“Kalau begitu minum. Kata Ibu kalau perut kenyang, sedihnya berkurang.”

Bagus tertawa kecil.

Kalimat sederhana itu membuat matanya kembali basah.

Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa menjadi suami dan ayah yang baik berarti bekerja sekeras mungkin dan mengirim uang sebanyak mungkin.

Ia salah.

Keluarga tidak hanya membutuhkan uang yang dikirim dari ribuan kilometer jauhnya.

Mereka membutuhkan kehadiran.

Membutuhkan keberanian untuk bertanya.

Membutuhkan telinga yang benar-benar mendengar ketika sebuah senyum terasa dipaksakan.

Dan terutama, kepercayaan tidak seharusnya diberikan hanya karena seseorang memiliki hubungan darah.

Sebab pengkhianatan paling menyakitkan terkadang bukan datang dari orang asing.

Melainkan dari orang yang membuat kita merasa tidak perlu berjaga-jaga.

Bagus menatap jendela rumah.

Di dalam, Ratih sedang menyiapkan makan malam.

Aromanya sederhana.

Nasi hangat, telur dadar, dan tumis kangkung.

Tidak ada katering mahal.

Tidak ada daging panggang.

Tidak ada puluhan tamu.

Arka berlari masuk sambil memanggil ayahnya.

Bagus berdiri dan mengikuti putranya.

Sebelum menutup pintu, ia menatap langit sebentar.

Lima tahun di Arab Saudi telah memberinya uang untuk membangun rumah besar.

Namun satu malam di gudang belakang mengajarinya sesuatu yang jauh lebih mahal.

Bahwa rumah bukanlah bangunan yang paling megah.

Rumah adalah tempat di mana tidak seorang pun harus menunggu makanan sisa untuk merasa bahwa dirinya masih bagian dari keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang