GADIS KECIL KELAPARAN ITU MENUNJUK FOTO DI DOMPET SANG KONGLOMERAT, LALU BERBISIK, “KENAPA OM PUNYA FOTO IBU SAYA?” RAHASIA KELAM YANG TERSIMPAN SELAMA 5 TAHUN PUN TERBONGKAR!

Hujan masih mengguyur Jakarta ketika Baskoro Pratama berdiri di depan kontrakan sempit putrinya dengan surat dari Rendy Mahendra tergenggam di tangan.

Kertas itu sudah kusut karena diremas terlalu kuat.

“Beri tahu ayah konglomeratmu, masalah hak asuh ini bisa selesai kalau nominalnya cocok.”

Baskoro membaca kalimat itu untuk ketiga kalinya. Setiap kali membacanya, amarahnya semakin naik.

“Berapa yang dia minta?” tanyanya.

Nadia berdiri di ambang pintu. Wajahnya lelah setelah bekerja seharian, tetapi tatapannya tetap keras.

“Belum ada angka.”

“Dia menghubungimu lagi?”

“Besok malam.”

“Jangan temui dia.”

Nadia tertawa hambar.

“Ayah datang setelah lima tahun lalu sekarang langsung mengatur hidupku lagi?”

Baskoro terdiam.

Kalimat itu membuat semua perintah yang hampir keluar dari mulutnya lenyap.

“Ayah tidak bermaksud begitu.”

“Lalu apa?”

“Ayah hanya ingin melindungimu.”

Nadia menatapnya lama.

“Lima tahun terlambat.”

Pintu kontrakan tertutup perlahan di depan wajah Baskoro.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang biasa membuat ratusan orang menunggu di depan ruang rapat itu berdiri tanpa kuasa di depan sebuah pintu kayu murah.

Ia bisa membeli gedung.

Ia bisa membeli tanah.

Ia bisa membayar pengacara terbaik di Jakarta.

Tetapi malam itu Baskoro sadar, ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Kesempatan untuk mengulang lima tahun yang telah hilang.

Keesokan paginya, Baskoro memanggil Dimas, kepala keamanan perusahaan yang telah bekerja bersamanya hampir dua puluh tahun.

“Cari semua informasi tentang Rendy Mahendra.”

Dimas mengangguk.

“Seberapa jauh, Pak?”

“Semuanya.”

Baskoro meletakkan surat ancaman di atas meja.

“Tempat tinggalnya, pekerjaannya, utangnya, siapa yang membantunya, dan terutama bagaimana dia tahu Alya adalah cucu saya.”

Dimas membaca surat itu sebentar.

“Ada satu hal lagi, Pak.”

“Apa?”

“Kalau dia tahu hubungan Alya dengan keluarga Pratama, kemungkinan ada orang yang memberinya informasi.”

Baskoro mengangguk pelan.

Itulah yang juga mengganggunya sejak malam sebelumnya.

Nadia hidup jauh dari lingkungan keluarga Pratama. Nama Alya tidak pernah muncul di media. Bahkan Baskoro sendiri baru mengetahui keberadaan cucunya dua hari lalu.

Lalu dari mana Rendy tahu?

Jawabannya datang lebih cepat daripada dugaan mereka.

Sore itu Dimas kembali membawa rekaman kamera keamanan sebuah hotel di kawasan Cikini.

Dalam rekaman tersebut, Rendy terlihat bertemu seorang perempuan.

Baskoro mencondongkan tubuh.

Perempuan itu mengenakan kacamata hitam dan masker, tetapi ketika ia berdiri dan berjalan menuju lift, wajahnya terlihat beberapa detik.

Baskoro langsung mengenalinya.

Maya Pratama.

Adik kandung Baskoro.

Tangannya perlahan mencengkeram meja.

“Tidak mungkin.”

Maya adalah orang yang selama lima tahun terakhir paling sering berada di sisinya.

Ketika Nadia pergi, Maya yang menghiburnya.

Ketika Baskoro ingin mencari Nadia enam bulan setelah pertengkaran mereka, Maya mengatakan Nadia sudah hidup bahagia bersama Rendy dan tidak ingin diganggu.

Bahkan dua tahun kemudian, Maya pernah membawa sebuah pesan yang katanya berasal dari Nadia.

“Aku tidak membutuhkan Ayah lagi.”

Baskoro masih mengingat kalimat itu.

Kalimat yang membuat harga dirinya menang.

Kalimat yang membuatnya berhenti mencari.

“Cari tahu kenapa mereka bertemu,” katanya.

Malam itu Baskoro tidak pulang ke rumah.

Ia duduk sendirian di kantornya hingga hampir tengah malam.

Di atas meja terdapat foto lama Nadia yang selalu disimpannya di dompet.

Ia teringat Alya.

Cara gadis kecil itu memotong kue cokelat menjadi bagian-bagian kecil.

Cara ia menyimpan makanan untuk ibunya.

Lima tahun lalu Nadia pergi dari rumah mewah seluas hampir dua ribu meter persegi.

Sekarang putrinya tinggal di kontrakan sempit dan bekerja sampai malam hanya untuk bertahan hidup.

Sementara dirinya terus percaya bahwa Nadia hidup bahagia dan sengaja menolak kembali.

Pagi berikutnya Baskoro pulang ke rumah keluarga di Menteng.

Ia langsung mencari Maya.

Namun adiknya sedang tidak berada di rumah.

Ketika melewati ruang kerja mendiang ayah mereka, Baskoro melihat Bi Sari, pengurus rumah tangga yang telah bekerja sejak Nadia masih kecil, sedang membersihkan lemari.

“Bi.”

Perempuan tua itu menoleh.

“Iya, Pak?”

“Lima tahun lalu, setelah Nadia pergi, pernah ada surat untuk saya?”

Gerakan Bi Sari berhenti.

Wajahnya berubah.

Baskoro langsung menyadarinya.

“Ada?”

Bi Sari menunduk.

“Saya tidak tahu apakah saya boleh membicarakannya.”

“Siapa yang melarang?”

Perempuan itu mulai gemetar.

“Bu Maya.”

Dada Baskoro seperti dihantam sesuatu.

“Ceritakan semuanya.”

Bi Sari duduk perlahan.

“Sekitar seminggu setelah Mbak Nadia pergi, ada seorang kurir datang membawa amplop. Katanya harus diberikan langsung kepada Bapak.”

“Lalu?”

“Saya yang menerima. Tapi Bu Maya melihatnya.”

Bi Sari menelan ludah.

“Beliau bilang Bapak sedang sakit dan tidak boleh diganggu. Surat itu diambil.”

“Kenapa baru sekarang kamu mengatakan ini?”

Air mata muncul di mata perempuan tua itu.

“Beberapa hari kemudian saya tanya suratnya sudah diberikan atau belum. Bu Maya marah. Katanya surat itu cuma berisi makian Mbak Nadia kepada Bapak.”

Baskoro berdiri.

“Di mana surat itu?”

Bi Sari terdiam cukup lama sebelum menunjuk lemari kayu tua di sudut ruangan.

“Beberapa bulan setelah itu, waktu saya membersihkan kamar Bu Maya, saya menemukan amplop tersebut belum dibuka. Saya takut membuangnya. Jadi saya simpan di kotak peninggalan almarhumah Ibu.”

Kotak kayu tua dikeluarkan dari bagian paling bawah lemari.

Baskoro membukanya dengan tangan gemetar.

Di antara beberapa foto keluarga dan perhiasan lama, terdapat sebuah amplop kekuningan.

Di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

Untuk Ayah.

Baskoro membuka amplop itu.

Ayah,

Aku tahu Ayah masih marah. Aku juga masih marah.

Tapi ada sesuatu yang belum sempat kukatakan malam itu.

Aku hamil.

Aku takut sekali, Yah.

Rendy bilang dia akan bertanggung jawab, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya. Aku ingin pulang, tetapi aku malu dan takut Ayah akan menolakku.

Kalau Ayah masih menganggapku anak, tolong datang menemuiku.

Aku tidak meminta uang.

Aku cuma ingin Ayah memelukku dan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Nadia.

Baskoro berhenti membaca.

Pandangan matanya kabur.

Di bagian bawah surat terdapat alamat sebuah kamar kos di Depok.

Tanggal surat itu lima tahun lalu.

Hanya delapan hari setelah Nadia diusir.

Baskoro duduk perlahan.

Selama lima tahun ia percaya Nadia tidak pernah mencoba kembali.

Padahal putrinya telah meminta pertolongan.

Dan dirinya tidak pernah datang.

Bukan karena tidak mau.

Melainkan karena surat itu tidak pernah sampai.

Suara langkah terdengar dari belakang.

Maya berdiri di pintu.

Begitu melihat surat di tangan Baskoro, wajahnya langsung pucat.

“Kak…”

Baskoro bangkit.

“Kenapa?”

Maya tidak menjawab.

“Kenapa kamu menyembunyikan surat Nadia?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Suara Baskoro tidak keras.

Justru ketenangannya membuat Maya semakin takut.

Maya akhirnya duduk.

“Ayah meninggalkan hampir seluruh kendali perusahaan kepada Kakak. Setelah itu, semua perhatian keluarga juga diberikan kepada Nadia.”

Baskoro menatapnya tak percaya.

“Kamu melakukan semua ini karena warisan?”

“Bukan cuma warisan!”

Maya tiba-tiba meninggikan suara.

“Seumur hidup aku selalu jadi orang kedua. Kakak anak kebanggaan keluarga. Nadia cucu kesayangan. Bahkan ketika perusahaan hampir bangkrut lima belas tahun lalu, aku yang bekerja menyelesaikan masalah, tetapi semua orang tetap memuji Kakak.”

“Lalu apa hubungannya dengan Nadia?”

“Aku tahu kalau Nadia kembali membawa anak, posisi keluarganya akan semakin kuat. Suatu hari saham dan aset keluarga akan jatuh ke dia.”

Baskoro menatap adiknya seolah sedang melihat orang asing.

“Jadi kamu membiarkan keponakanmu hidup sendirian dalam keadaan hamil?”

Maya menangis.

“Aku pikir dia akan baik-baik saja bersama Rendy.”

“Rendy meninggalkannya tiga minggu kemudian.”

Maya terdiam.

“Dan sekarang kamu bekerja sama dengan laki-laki itu?”

“Aku tidak bekerja sama dengannya.”

“Jangan bohong.”

Baskoro melempar beberapa foto hasil investigasi Dimas ke meja.

Maya melihatnya.

Pertahanannya runtuh.

“Aku cuma memberinya informasi.”

“Untuk apa?”

“Menakut-nakuti Nadia supaya menjauh lagi.”

Baskoro memejamkan mata.

Selama bertahun-tahun, ia mengira musuh terbesar keluarganya adalah Rendy.

Ternyata pengkhianatan terbesar datang dari meja makan yang sama.

Namun masalah belum selesai.

Malam itu Rendy tetap datang menemui Nadia di sebuah restoran kecil.

Nadia sengaja memilih tempat ramai.

Baskoro tidak ikut masuk. Ia menunggu di mobil bersama Dimas.

Rendy duduk di hadapan Nadia dengan senyum santai.

“Lima miliar.”

Nadia hampir tertawa.

“Untuk apa?”

“Aku tidak mengajukan hak asuh. Aku pergi. Selesai.”

“Kamu pikir anak bisa diperjualbelikan?”

“Jangan sok suci, Nad. Ayahmu punya triliunan.”

Nadia menatap pria yang pernah dicintainya itu dengan jijik.

“Kamu meninggalkanku saat aku hamil.”

“Aku belum siap jadi ayah.”

“Sekarang?”

Rendy tersenyum.

“Sekarang aku siap menerima kompensasi.”

Nadia mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di meja.

Lampu perekam suara menyala.

Senyum Rendy langsung hilang.

“Apa ini?”

“Bukti.”

Rendy berdiri.

Pada saat yang sama, Dimas dan dua petugas keamanan masuk.

Baskoro berjalan di belakang mereka.

Wajah Rendy berubah pucat.

Namun Baskoro tidak mengancamnya.

Ia hanya berkata tenang, “Mulai malam ini, bicara melalui pengacara.”

Rendy tertawa gugup.

“Pak Baskoro, kita bisa menyelesaikan ini baik-baik.”

“Kamu benar.”

Baskoro menatapnya.

“Karena itu saya tidak akan membayar satu rupiah pun.”

Beberapa hari kemudian, ancaman Rendy runtuh setelah pengacara Baskoro mengumpulkan bukti pemerasan, penelantaran, dan pesan-pesan yang dikirimkannya kepada Nadia.

Namun bagi Nadia, masalah terbesar bukan lagi Rendy.

Melainkan surat lima tahun lalu.

Ketika Baskoro menyerahkan surat itu kepadanya, Nadia membacanya tanpa suara.

Wajahnya berubah pucat.

“Surat ini… masih ada?”

Baskoro mengangguk.

“Maya menyembunyikannya.”

Nadia menutup mulut.

Air matanya jatuh.

“Aku menunggu Ayah.”

Baskoro menunduk.

“Tiga hari aku menunggu.”

Suara Nadia pecah.

“Setiap ada motor berhenti di depan kos, aku pikir Ayah datang.”

Baskoro tidak mampu menatap putrinya.

“Maafkan Ayah.”

Nadia menangis.

“Tapi setelah tiga hari, aku pikir Ayah benar-benar sudah membuangku.”

“Ayah salah.”

“Bukan cuma Tante Maya yang salah.”

Nadia menatapnya.

“Kalau waktu itu Ayah tidak terlalu gengsi, Ayah sendiri pasti mencariku.”

Baskoro mengangguk.

Tidak ada pembelaan.

Nadia benar.

Surat itu memang disembunyikan.

Tetapi kesombonganlah yang membuat Baskoro menerima lima tahun kesunyian tanpa pernah benar-benar memastikan keadaan anaknya.

“Ayah tidak meminta kamu melupakan semuanya,” katanya. “Ayah cuma meminta kesempatan memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.”

Nadia tidak menjawab.

Beberapa minggu kemudian, kehidupan mereka perlahan berubah.

Baskoro menawarkan rumah kepada Nadia.

Nadia menolak.

Ia menawarkan uang.

Nadia kembali menolak.

Akhirnya Nadia menerima satu hal.

Kesempatan bekerja kembali di bidang yang pernah dicintainya.

Sebelum hidupnya berantakan, Nadia adalah lulusan arsitektur dengan nilai sangat baik. Baskoro membantu menghubungkannya dengan sebuah firma arsitektur, tetapi ia meminta agar Nadia mengikuti proses seleksi seperti kandidat lainnya.

Nadia diterima karena kemampuannya sendiri.

Sementara itu, Baskoro mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada menandatangani cek.

Ia hadir.

Kadang ia datang membawa sarapan.

Kadang menjemput Nadia setelah bekerja.

Kadang hanya duduk menemani Alya menggambar.

Hubungan mereka tidak langsung pulih.

Ada hari ketika Nadia masih dingin.

Ada malam ketika percakapan mereka hanya berlangsung dua menit.

Namun Baskoro tidak pergi.

Suatu sore, beberapa bulan kemudian, mereka kembali ke kafe tempat Baskoro pertama kali bertemu Alya.

Hujan turun tipis di luar.

Alya memesan kue cokelat yang sama.

Baskoro tersenyum melihatnya.

“Kali ini tidak perlu utang.”

Alya menggeleng serius.

“Aku sekarang punya uang sendiri.”

Ia mengeluarkan sebuah dompet kecil berbentuk kelinci.

Dari dalamnya, Alya mengambil beberapa lembar uang yang telah kusut.

Nadia tertawa.

“Itu uang tabungannya.”

Alya menghitungnya dengan serius lalu menyerahkan kepada kasir.

Ketika kembali ke meja, ia melihat Baskoro membuka dompet.

Foto Nadia masih berada di sana.

Namun kini ada foto lain di sampingnya.

Foto Nadia dan Alya.

Alya tersenyum lebar.

“Kakek masih simpan foto Ibu?”

“Selalu.”

“Kalau fotoku?”

Baskoro menunjukkan foto kedua.

Alya terlihat puas.

Namun kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah foto kecil.

Foto Baskoro sedang tertidur di sofa kontrakan Nadia beberapa minggu sebelumnya, dengan boneka kelinci Alya tergeletak di dadanya.

“Aku juga punya foto Kakek.”

Baskoro tertawa.

“Buat apa?”

Alya memasukkan foto itu ke dompet kecilnya.

“Supaya kalau Kakek hilang lagi, aku ingat wajahnya.”

Senyum Baskoro perlahan menghilang.

Nadia menatap putrinya, lalu menatap ayahnya.

Tidak ada yang berbicara beberapa detik.

Kemudian Baskoro mengulurkan tangan melewati meja.

Bukan kepada Alya.

Kepada Nadia.

Ia tidak tahu apakah putrinya akan menerimanya.

Namun perlahan, Nadia meletakkan tangannya di atas tangan sang ayah.

“Jangan hilang lagi, Yah.”

Hanya empat kata.

Tetapi Baskoro menundukkan kepala karena matanya langsung dipenuhi air.

Sudah lima tahun ia menunggu mendengar panggilan itu kembali.

Ayah.

Pada akhirnya, rahasia paling gelap keluarga Pratama memang terbongkar. Maya harus meninggalkan seluruh jabatan di perusahaan dan mempertanggungjawabkan tindakannya. Rendy pergi setelah upayanya mendapatkan uang gagal total.

Namun Baskoro akhirnya memahami bahwa menghukum mereka tidak akan mengembalikan waktu.

Kesalahan Maya telah memisahkan sebuah surat dari penerimanya.

Kesalahan Rendy telah meninggalkan seorang perempuan ketika paling membutuhkan pertolongan.

Tetapi kesalahan Baskoro sendiri jauh lebih sederhana dan karena itu jauh lebih menyakitkan.

Ia membiarkan harga dirinya lebih besar daripada cintanya kepada anaknya.

Lima tahun sebelumnya, Nadia sebenarnya tidak membutuhkan rumah besar, rekening bank, atau nama keluarga Pratama.

Ia hanya membutuhkan ayahnya datang mengetuk pintu.

Kini Baskoro tidak bisa kembali ke hari itu.

Yang bisa dilakukannya hanyalah memastikan bahwa mulai sekarang, ketika Nadia atau Alya membuka pintu dan membutuhkan seseorang di baliknya, ia akan berada di sana.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang