Pagi berikutnya, pukul enam lewat dua puluh, aku sudah duduk di kursi dekat jendela kamar rumah sakit sambil menatap layar laptop. Nisa masih tidur. Wajahnya terlihat lebih tenang, tetapi setiap kali melihat bekas merah di pergelangan tangannya, amarah kembali naik ke dadaku.
Semalaman aku hampir tidak tidur.
Aku mengunduh seluruh rekaman kamera rumah, menyalin data transaksi perusahaan, mencatat waktu akses akun Nisa, dan menyimpan pesan Mama dalam beberapa salinan.
Semakin banyak yang kubuka, semakin jelas bahwa apa yang terjadi kemarin bukan tindakan spontan.
Semuanya sudah direncanakan.
Aku membuka rekaman kamera ruang keluarga pukul 14.36.
Mama terlihat duduk di sofa bersama Fajar. Nisa berdiri beberapa langkah dari mereka.
Suara rekaman terdengar jelas.
“Kalau kamu tanda tangan, masalahnya selesai,” kata Fajar.
“Aku tidak mengambil uang perusahaan,” jawab Nisa.
“Kami tidak bilang kamu benar-benar mengambilnya,” Mama menyela. “Ini cuma dokumen untuk melindungi keluarga.”
Nisa mundur.
“Aku mau telepon Arif.”
Fajar langsung merebut ponselnya.
Aku menghentikan video.
Tanganku mengepal begitu keras sampai kuku menekan telapak tangan.
Aku melanjutkannya.
Fajar membuka laptop di meja makan. Beberapa menit kemudian dia meminta Nisa membuka kunci ponselnya. Ketika Nisa menolak, Mama mencengkeram pergelangan tangannya.
Kemudian muncul seseorang yang tidak kukenal.
Seorang pria berkemeja abu-abu masuk membawa map.
Aku memperbesar gambar.
Wajahnya terasa familiar.
Aku mencari data perusahaan dan akhirnya menemukannya.
Namanya Bima Hartono.
Konsultan hukum eksternal yang beberapa kali digunakan Fajar untuk menangani kontrak pengadaan.
Dalam rekaman, Bima mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Kalau Bu Nisa tanda tangan di sini, nanti secara hukum lebih mudah,” katanya.
“Lebih mudah untuk apa?” tanya Nisa.
Bima tidak menjawab.
Fajar yang menjawab.
“Untuk menjelaskan kalau nanti ada audit.”
Aku langsung menghubungi Dimas, kepala audit internal perusahaan yang sudah bekerja bersama Papa bahkan sebelum aku lulus kuliah.
Telepon baru berdering sekali ketika dia mengangkat.
“Pak Arif?”
“Mas Dimas, jangan datang ke kantor dulu.”
Dia terdiam.
“Kenapa?”
“Apakah kamu bisa mengakses server cadangan sistem keuangan dari luar kantor?”
“Bisa.”
“Bekukan transaksi Rp4,8 miliar ke Arunika Solusi Bersama.”
“Transaksi apa?”
“Jangan tanya lewat telepon. Bekukan saja. Setelah itu simpan seluruh log aktivitas enam bulan terakhir. Jangan beri tahu siapa pun, termasuk komisaris.”
Dimas kembali terdiam.
“Pak, komisaris itu ibu Anda.”
“Aku tahu.”
Nada suaraku membuatnya berhenti bertanya.
“Baik.”
Aku kemudian menelepon pengacara keluarga yang dulu dipercaya Papa, Pak Surya.
Tiga puluh menit kemudian dia tiba di rumah sakit.
Aku memperlihatkan semuanya.
Rekaman.
Dokumen.
Transaksi.
Pesan.
Pak Surya membaca tanpa banyak bicara.
Ketika selesai, dia melepas kacamatanya.
“Arif, ini jauh lebih serius daripada konflik keluarga.”
“Aku tahu.”
“Kalau bukti ini autentik, ada indikasi pemalsuan akses elektronik, penggelapan, pencucian uang, dan upaya menjebak seseorang dengan dokumen palsu.”
Aku menatap Nisa.
Dia sudah bangun dan mendengarkan dari ranjang.
“Yang paling penting,” kataku, “aku ingin Nisa aman.”
Pak Surya mengangguk.
“Kalau begitu jangan pulang ke rumah itu.”
“Aku memang tidak akan pulang.”
Pukul tujuh lewat dua belas, ponselku berdering.
Fajar.
Aku sengaja membiarkannya tiga kali sebelum mengangkat.
“Mas, kamu di mana?”
“Kenapa?”
“Ada masalah di kantor. Transaksi vendor tidak bisa diproses.”
Aku melihat jam.
Tiga menit sebelum jadwal transaksi.
“Vendor mana?”
Fajar terdiam sesaat.
“Arunika.”
Aku hampir tersenyum.
“Memangnya kenapa harus buru-buru?”
“Itu pembayaran penting.”
“Untuk biaya kehamilan istriku?”
Hening.
Aku mendengar napasnya berubah.
“Mas, dengar dulu. Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
“Bagus. Jelaskan nanti di kantor.”
Aku menutup telepon.
Nisa langsung menatapku.
“Kamu mau ke sana?”
“Ya.”
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Aku ikut, Rif.”
Aku hendak membantah, tetapi tatapannya membuatku berhenti.
Selama berminggu-minggu perempuan ini dipaksa diam karena aku tidak ada di sisinya. Aku tidak berhak lagi memutuskan bahwa dia harus bersembunyi.
Dokter akhirnya mengizinkan Nisa keluar dengan syarat tidak melakukan aktivitas berat.
Pukul sembilan lewat sedikit kami tiba di kantor pusat PT Sagara Konstruksi di kawasan Kuningan.
Ketika lift terbuka di lantai direksi, Mama sudah menunggu.
Fajar berdiri di sampingnya.
Dan Bima ada di ruang rapat.

“Bagus kamu datang,” kata Mama. “Kita selesaikan semuanya sebagai keluarga.”
Aku menarik kursi untuk Nisa.
“Setuju.”
Mama tampak lega.
Dia belum tahu bahwa di ruangan sebelah ada Pak Surya, Dimas, dua auditor independen, dan seorang notaris.
Fajar meletakkan map di meja.
“Kita sebenarnya bisa menyelesaikan ini tanpa mempermalukan siapa pun.”
Aku membuka map tersebut.
Di dalamnya ada surat pengakuan atas nama Nisa.
Isinya menyatakan bahwa Nisa menggunakan akses perusahaan untuk mengalihkan dana secara ilegal.
Di halaman terakhir terdapat tanda tangan.
Aku menatap Nisa.
“Ini tanda tanganmu?”
Nisa menggeleng.
“Bukan.”
Bima langsung menyela.
“Pak Arif, mungkin Bu Nisa lupa karena kemarin kondisinya emosional.”
Aku menatapnya.
“Menarik.”
Aku mengeluarkan laptop.
“Kebetulan aku punya rekamannya.”
Wajah Fajar seketika berubah.
Aku memutar video.
Ruangan itu menjadi sunyi.
Terlihat jelas Nisa menolak menandatangani dokumen.
Terlihat Mama menahan tangannya.
Terlihat Fajar merebut ponselnya.
Terlihat pula Bima berkata bahwa tanda tangan bisa “diurus nanti”.
Bima berdiri.
“Rekaman ini tidak bisa dipakai sembarangan.”
Pintu ruang rapat terbuka.
Pak Surya masuk.
“Justru karena itu kami sudah menyiapkan salinan forensik.”
Wajah Bima pucat.
Dimas masuk setelahnya membawa laptop.
Dia menampilkan catatan akses sistem.
Akun Nisa diaktifkan kembali tiga bulan sebelumnya oleh administrator bernama Fajar Sagara.
Transaksi Rp4,8 miliar dibuat menggunakan laptop yang terhubung dengan jaringan rumah Mama.
Namun itu belum semuanya.
Dimas membuka tabel berikutnya.
PT Arunika Solusi Bersama ternyata menerima pembayaran bukan hanya sekali.
Dalam delapan bulan terakhir, perusahaan itu menerima hampir Rp11 miliar melalui berbagai proyek fiktif.
Kemudian auditor menemukan hubungan antara Arunika dan tiga vendor mencurigakan lainnya.
Pemilik mereka berbeda.
Alamat mereka berbeda.
Tetapi seluruh rekening akhirnya mengalir ke dua rekening yang sama.
Salah satunya dikendalikan oleh Fajar.
Yang lain milik sebuah perusahaan investasi bernama Mahardika Capital.
Aku belum pernah mendengar nama itu.
Mama tiba-tiba berdiri.
“Cukup!”
Semua orang menoleh.
Untuk pertama kalinya aku melihat kepanikan nyata di wajahnya.
“Ini perusahaan keluarga kita. Tidak perlu orang luar ikut campur.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu jelaskan Mahardika Capital.”
Mama diam.
Pak Surya mendorong satu dokumen ke arahku.
“Ada hal lain yang harus kamu lihat.”
Dokumen itu berasal dari arsip notaris lama Papa.
Mahardika Capital ternyata didirikan sebelas tahun lalu.
Pemegang saham pertamanya adalah Mama.
Aku merasa sesuatu runtuh di dalam diriku.
“Mama?”
Dia tidak menjawab.
Fajar justru tertawa getir.
“Sekarang kamu tahu.”
“Diam!” bentak Mama.
Tetapi Fajar seperti sudah kehilangan kendali.
“Kenapa harus diam? Mas Arif selalu dianggap anak sempurna. Papa menyerahkan perusahaan kepadanya, sementara aku dapat apa?”
“Kamu mendapat saham,” kataku.
“Lima belas persen!”
“Karena selama bertahun-tahun kamu bahkan tidak mau masuk kantor.”
Wajahnya memerah.
“Kamu tidak tahu apa-apa.”
Mama tiba-tiba berkata pelan, “Papa kalian yang memulai semuanya.”
Aku menoleh.
“Apa maksud Mama?”
Dia duduk kembali.
Tangannya gemetar.
“Perusahaan hampir bangkrut dua belas tahun lalu. Papamu menyembunyikannya. Ada utang besar akibat proyek pemerintah yang gagal. Mahardika dibuat untuk memindahkan beberapa aset supaya tidak disita kreditur.”
Aku terdiam.
“Papa tahu?”
“Tentu.”
“Lalu kenapa masih digunakan setelah Papa meninggal?”
Mama tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Mungkin Mahardika awalnya dibuat untuk menyelamatkan perusahaan.
Tetapi setelah Papa meninggal, Mama dan Fajar mengubahnya menjadi jalur untuk mengambil uang.
“Kenapa Nisa?” tanyaku.
Mama memandang istriku.
Tatapannya dingin.
“Karena sejak dia hamil, semuanya berubah.”
Aku tidak memahami maksudnya.
Mama menatapku.
“Papamu membuat perubahan pada wasiatnya sebelum meninggal.”
Pak Surya perlahan mengeluarkan dokumen lain.
Aku mengenali tanda tangan Papa.
Dalam wasiat itu tertulis bahwa sebagian saham Papa memang diwariskan kepadaku.
Namun terdapat klausul yang selama ini tidak pernah aktif.
Jika aku memiliki keturunan sah, sebagian saham keluarga yang disimpan dalam trust otomatis dialihkan kepada anakku ketika lahir.
Jumlahnya dua puluh persen.
Artinya setelah bayi kami lahir, garis kepemilikan perusahaan akan berubah drastis.
Aku dan anakku akan menguasai mayoritas saham.
Fajar kehilangan kesempatan mengambil kendali.
Dan Mama tidak lagi bisa menentukan keputusan perusahaan melalui blok saham keluarga.
Nisa menutup mulutnya.
“Jadi semua ini karena bayi kami?”
Mama menatapnya tanpa menjawab.
Air mata Nisa jatuh.
Bukan karena takut.
Karena kecewa.
“Aku merawat Mama waktu operasi,” katanya lirih. “Aku menemani Mama setiap kontrol ketika Arif di luar kota. Aku menganggap Mama seperti ibu sendiri.”
Wajah Mama sedikit berubah.
Namun Nisa melanjutkan.
“Dan Mama ingin mengambil anak saya?”
“Aku hanya ingin melindungi keluarga.”
Nisa menggeleng.
“Bukan. Mama ingin menguasainya.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi.
Fajar tiba-tiba berdiri dan berusaha mengambil laptop Dimas.
Dimas mundur.
“Jangan sentuh.”
Fajar memaki.
“Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan hidupku!”
Aku berdiri di depannya.
“Yang menghancurkan hidupmu bukan kami.”
Aku menunjuk dokumen-dokumen di meja.
“Kamu sendiri.”
Pintu kembali terbuka.
Dua petugas kepolisian masuk bersama tim hukum perusahaan.
Pak Surya rupanya sudah membuat laporan berdasarkan bukti awal sebelum kami datang.
Fajar langsung pucat.
Mama menatapku seperti tidak percaya.
“Kamu melaporkan adikmu sendiri?”
“Aku melaporkan orang yang mencoba menjebak istriku dan mencuri uang perusahaan.”
“Aku ibumu!”
“Dan Nisa istriku. Anak dalam kandungannya anakku.”
Suaraku bergetar.
“Hubungan darah bukan izin untuk menghancurkan orang lain.”
Fajar dibawa untuk dimintai keterangan. Bima ikut diperiksa karena keterlibatannya dalam pembuatan dokumen.
Mama tidak langsung ditahan hari itu, tetapi seluruh aksesnya sebagai komisaris dibekukan sementara berdasarkan keputusan darurat dewan.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Tiga hari kemudian, ketika kami tinggal sementara di apartemen milik Pak Surya, Nisa tiba-tiba mengalami kontraksi.
Usia kandungannya baru memasuki minggu ketiga puluh lima.
Kami bergegas ke rumah sakit.
Beberapa jam berikutnya menjadi waktu terpanjang dalam hidupku.
Aku duduk di samping Nisa sambil menggenggam tangannya.
“Aku takut,” katanya.
“Aku di sini.”
“Jangan pergi lagi.”
Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahananku.
“Aku minta maaf.”
Dia menatapku.
“Untuk apa?”
“Karena waktu kamu mencoba cerita, aku tidak mendengarkan.”
Air mataku jatuh.
“Aku seharusnya melindungimu.”
Nisa menggenggam tanganku lebih kuat.
“Aku tidak butuh suami yang selalu melindungiku.”
Aku menatapnya.
“Aku butuh suami yang percaya padaku.”
Beberapa jam kemudian, suara tangisan kecil memenuhi ruang bersalin.
Putri kami lahir dengan selamat.
Kami menamainya Alya.
Ketika perawat meletakkan tubuh kecilnya di dada Nisa, aku merasa semua yang terjadi beberapa hari terakhir menjadi tidak berarti dibandingkan napas kecil yang terdengar di ruangan itu.
Namun kejutan terakhir datang dua minggu kemudian.
Pak Surya menemui kami membawa amplop tua.
“Aku menemukan ini di arsip pribadi ayahmu.”
Di bagian depan tertulis namaku.
Arif.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan Papa.
Papa menulis bahwa dia mengetahui adanya penyalahgunaan Mahardika sebelum meninggal. Dia juga mengetahui Fajar mulai menggunakan perusahaan-perusahaan cangkang untuk mengambil dana.
Namun kondisi kesehatannya memburuk sebelum sempat membereskan semuanya.
Kalimat terakhir membuatku lama terdiam.
“Kalau suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan perusahaan atau mempertahankan keluargamu, jangan ulangi kesalahan Papa. Perusahaan bisa dibangun kembali. Kepercayaan orang yang mencintaimu tidak selalu bisa.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Kemudian aku menatap Nisa yang sedang menggendong Alya di dekat jendela.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku berpikir warisan terbesar Papa adalah PT Sagara Konstruksi.
Aku salah.
Warisan terbesar yang dia tinggalkan adalah peringatan tentang kesalahan yang tidak boleh kuulang.
Enam bulan kemudian, kasus penggelapan perusahaan masuk ke pengadilan. Fajar dan beberapa pihak lain diproses berdasarkan bukti audit. Mama mengundurkan diri dari seluruh jabatan perusahaan dan memilih tinggal sendirian di rumah lama kami.
Aku menjual rumah itu setahun kemudian.
Bukan karena membutuhkan uang.
Aku hanya tidak ingin Alya tumbuh di tempat yang pernah digunakan untuk merendahkan ibunya.
Suatu sore, ketika kami pindah ke rumah baru yang jauh lebih sederhana, aku menemukan Nisa berdiri di teras sambil menggendong Alya.
“Kamu menyesal?” tanyanya.
“Soal apa?”
“Kehilangan rumah besar itu.”
Aku tersenyum.
Aku memandang rumah kecil kami, mainan bayi di ruang tamu, dua kardus yang belum dibongkar, dan martabak manis yang baru kubeli di meja makan.
Lalu aku teringat sore ketika aku pulang dua hari lebih awal.
Hari yang awalnya kupikir sebagai hari terburuk dalam hidupku.
Ternyata hari itu menyelamatkan kami.
Aku memeluk Nisa dan Alya.
“Rumah bukan bangunannya.”
Nisa tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada ketakutan di matanya.
Hanya ketenangan.
Aku akhirnya mengerti bahwa keluarga bukan tentang siapa yang memiliki darah yang sama, saham paling banyak, atau nama paling berkuasa.
Keluarga adalah orang-orang yang tidak memaksamu berlutut agar mereka bisa merasa lebih tinggi.
Keluarga adalah mereka yang mengulurkan tangan ketika kamu jatuh.
Dan kali ini, aku berjanji tidak akan terlambat lagi untuk melihat perbedaannya.
