Maya menatap nama Bagas Pratama yang berulang kali muncul di layar ponselnya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah tujuh tahun lalu, ia merasa benar-benar takut.
Bukan karena uang lebih dari Rp775 juta yang telah menghilang dari rekening bersama mereka.
Bukan pula karena kemungkinan pernikahannya akan berakhir.
Yang membuat tubuhnya dingin adalah sebuah pertanyaan sederhana yang terus berputar di kepalanya.
Sejak kapan semua ini direncanakan?
“Rina,” bisiknya, “aku ingin tahu ke mana uang itu pergi setelah masuk ke rekening Bagas.”
“Dan kita akan mencari tahu,” jawab Rina. “Tapi jangan bergerak sendiri. Jangan hubungi siapa pun dari keluarga Rendy.”
Pagi itu mereka membawa Ibu Sumiati ke rumah sakit. Pemeriksaan dokter mengonfirmasi adanya memar akibat benturan pada pipi kirinya. Setelah mendapatkan dokumen medis, mereka membuat laporan resmi.
Namun Maya tidak langsung mengajukan gugatan cerai.
Ia ingin bukti.
Dan semakin dalam mereka memeriksa, semakin buruk kenyataan yang ditemukan.
Rina meminta Maya mengumpulkan semua dokumen keuangan selama tujuh tahun pernikahannya. Rekening pribadi, rekening bersama, bukti transfer, cicilan, pinjaman, hingga percakapan lama.
Selama dua hari, Maya hampir tidak keluar dari kamar hotel.
Ia membaca kembali kehidupannya sendiri seperti seseorang membaca berkas perkara milik orang asing.
Di situlah sebuah pola mulai muncul.
Empat bulan setelah pernikahan, Bagas pernah meminta Rp35 juta untuk melunasi utang usaha.
Setahun kemudian, jumlahnya menjadi Rp90 juta untuk membuka kedai kopi.
Lalu ada biaya rumah sakit Ibu Lestari.
Utang kos Doni.
Cicilan motor Doni.
Renovasi rumah keluarga Rendy di Bekasi.
Modal bisnis katering yang katanya gagal.
Setiap permintaan selalu datang dengan keadaan darurat.
Dan hampir setiap keadaan darurat selalu muncul setelah Maya menerima bonus, kenaikan gaji, atau pembayaran proyek besar.
“Bagaimana mereka bisa selalu tahu kapan kamu punya uang?” tanya Rina.
Pertanyaan itu membuat Maya terdiam.
Selama ini, ia mengira Rendy hanya menceritakan kabar baik kepada keluarganya.
Sekarang semuanya terlihat berbeda.
Pada malam ketiga, sesuatu terjadi.
Bagas menelepon.
Maya tidak mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
“Maya, kita harus bicara. Jangan percaya semua yang dikatakan Rendy.”
Maya menunjukkan pesan itu kepada Rina.
“Jangan balas dulu.”
Lima menit kemudian, Bagas mengirim pesan lain.
“Aku punya sesuatu yang harus kamu lihat.”
Kemudian sebuah foto muncul.
Itu foto layar komputer.
Sebuah spreadsheet.
Di bagian atas tertulis satu kata.
PROYEK M.
Maya memperbesar gambar itu.
Ada kolom tanggal, pendapatan, pengeluaran, target tabungan, dan catatan.
Di salah satu baris tertulis:
Bonus Maya perkiraan Rp70–80 juta. Jangan minta uang bulan ini. Tunggu Februari.
Baris lain:
Dana rumah sudah mendekati Rp500 juta. Bisa mulai dialihkan bertahap.
Napas Maya tercekat.
Rina mengambil ponselnya.
“Telepon dia.”
Bagas mengangkat pada dering pertama.
“Aku bisa jelaskan.”
“Di mana kamu mendapatkan file itu?”
Suara Maya begitu datar sampai Bagas terdiam.
“Laptop Rendy.”
“Kenapa ada di tanganmu?”
“Karena laptop itu tertinggal di tempatku dua minggu lalu.”
“Kenapa baru sekarang kamu memberitahuku?”
Hening.
Lalu Bagas mengatakan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Maya.
“Karena aku juga terlibat.”
Maya memejamkan mata.
Bagas mengaku bahwa pada awalnya ia memang menerima uang dari Rendy.
Namun menurutnya, uang itu tidak semuanya digunakan olehnya.
Rendy meminta rekening Bagas dijadikan rekening penampung.
Setelah uang masuk, sebagian dipindahkan lagi ke rekening lain.
Rekening atas nama Ibu Lestari.
Doni.
Bahkan beberapa rekening bisnis.
“Kenapa?”
“Aku pikir dia cuma ingin menyembunyikan uang darimu.”
“Kamu pikir?”
“Aku tahu itu salah.”
Maya tertawa pendek.
Tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam suara itu.
“Lebih dari tujuh ratus juta rupiah masuk ke rekeningmu dan kamu baru sadar itu salah?”
Bagas tidak mampu menjawab.
“Besok pagi,” kata Maya, “datang ke kantor Rina. Bawa laptop itu.”
Keesokan harinya, Bagas datang dengan wajah pucat.
Ia terlihat jauh berbeda dari pria percaya diri yang selama bertahun-tahun selalu menyambut Maya sebagai adik kesayangannya.
Laptop diletakkan di meja.
Rina memanggil ahli forensik digital untuk membuat salinan data sebelum mereka membuka apa pun lebih jauh.
Dan apa yang ditemukan membuat bahkan Rina terdiam.
Folder PROYEK M dibuat enam tahun sebelas bulan lalu.
Hanya beberapa minggu setelah Maya dan Rendy menikah.
Di dalamnya terdapat catatan keuangan Maya.

Perkiraan gaji.
Bonus.
Investasi.
Bahkan nilai aset milik orang tuanya.
Namun file paling mengejutkan adalah sebuah percakapan lama antara Rendy dan ibunya.
Saat itu pernikahan mereka baru berjalan tiga bulan.
Ibu Lestari menulis:
“Jangan terlalu cepat minta bantuan. Kalau Maya merasa dimanfaatkan, dia akan curiga.”
Rendy menjawab:
“Tenang, Ma. Aku tahu caranya. Maya tipe orang yang kalau sudah menganggap seseorang keluarga, dia tidak akan tega menolak.”
Maya membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Tidak ada air mata.
Justru itu yang membuat Rina khawatir.
“Maya?”
“Aku baik-baik saja.”
Tetapi Maya tahu ia sedang berbohong.
Selama tujuh tahun, ia mengira kemurahan hatinya adalah bagian dari cinta.
Ternyata seseorang telah mempelajari sifat itu dan menjadikannya kelemahan.
File berikutnya bahkan lebih buruk.
Enam bulan sebelum pertengkaran di dapur, Rendy menulis kepada Doni:
“Kalau dana rumah sudah lewat 800, kita jalankan tahap terakhir.”
Doni menjawab:
“Kalau dia sadar?”
“Makanya ibunya harus keluar dulu. Selama perempuan tua itu tinggal di sini, Maya mulai terlalu banyak bertanya.”
Maya merasa seluruh ruangan mendadak sunyi.
Ibunya bukan sekadar korban tuduhan palsu.
Ibu Sumiati dianggap ancaman.
Sejak tinggal bersama mereka, wanita tua itu memang beberapa kali bertanya mengapa Rendy sering menerima telepon larut malam.
Ia juga pernah melihat Bagas datang ketika Maya sedang bekerja.
Bahkan seminggu sebelum pertengkaran, Ibu Sumiati sempat mengatakan sesuatu yang saat itu dianggap Maya sepele.
“Rendy kok sering sekali bicara soal rekening sama kakaknya?”
Maya tidak menanggapinya.
Sekarang ia mengerti.
Tuduhan uang Rp12 juta itu memang dibuat-buat.
Tujuannya bukan hanya mengusir Ibu Sumiati.
Rendy ingin menciptakan konflik besar agar Maya meninggalkan apartemen, kemudian menggunakan situasi tersebut untuk mengendalikan narasi perceraian sambil mengamankan sisa uang.
Namun mereka membuat satu kesalahan.
Rendy terlalu yakin Maya akan memilih pernikahannya.
Ia tidak pernah membayangkan Maya akan meletakkan kunci apartemen dan pergi bersama ibunya malam itu.
Maya akhirnya mengirim satu pesan kepada Rendy.
“Kita bertemu besok pukul 10.00 di kantor Rina. Aku ingin menyelesaikan semuanya.”
Balasan datang kurang dari satu menit.
“Akhirnya kamu berpikir masuk akal.”
Maya hampir tersenyum.
Keesokan paginya Rendy datang mengenakan kemeja putih dan jam tangan yang dibelikan Maya pada ulang tahunnya dua tahun lalu.
Ia bahkan membawa bunga.
“Aku tahu kita sama-sama emosi.”
Maya duduk di seberangnya.
Rina berada di sampingnya.
Bunga itu tetap tergeletak di meja.
“Aku sudah memikirkan semuanya,” lanjut Rendy. “Aku bersedia memaafkan ibumu.”
Maya menatapnya.
“Memaafkan?”
“Kalau uang Rp12 juta itu dikembalikan, kita anggap selesai.”
Maya mengeluarkan selembar kertas.
“Uang itu nomor serinya berapa?”
Rendy mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kamu bilang uang tunai Rp12 juta hilang. Kamu mengambilnya dari mana?”
“Bank.”
“Cabang mana?”
Rendy mulai gelisah.
“Kenapa pertanyaannya jadi begini?”
“Karena tidak ada penarikan Rp12 juta dari rekeningmu selama tiga bulan terakhir.”
Wajah Rendy berubah.
Maya menggeser dokumen lain ke arahnya.
“Dan kamera lorong apartemen menunjukkan kamu pulang membawa tas minimarket pukul 18.17. Kamu bilang pergi empat puluh menit. Padahal kamu meninggalkan apartemen hanya sebelas menit.”
Rendy menatap Rina.
“Kalian menyelidikiku?”
“Belum selesai,” kata Maya.
Ia meletakkan cetakan mutasi rekening bersama di atas meja.
Rendy langsung pucat.
Maya menunjuk satu demi satu transaksi.
Rp25 juta.
Rp40 juta.
Rp50 juta.
Rp32 juta.
Semua menuju Bagas.
“Total sementara Rp775 juta lebih.”
Rendy tidak berkata apa-apa.
Kemudian Maya mengeluarkan lembar terakhir.
Judulnya sederhana.
PROYEK M.
Untuk pertama kalinya, ekspresi Rendy benar-benar runtuh.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?”
Maya tidak menjawab.
Pintu ruang rapat terbuka.
Bagas masuk.
Rendy langsung berdiri.
“Kamu?”
Bagas tidak berani menatap adiknya.
“Aku sudah memberikan salinan datanya.”
“Kamu pengkhianat!”
Rendy hendak maju, tetapi Rina segera berdiri.
“Duduk, Pak Rendy.”
Suasana membeku.
Maya memandang pria yang selama tujuh tahun tidur di sampingnya.
“Aku cuma ingin satu jawaban.”
Rendy mengepalkan tangan.
“Apakah kamu pernah mencintaiku?”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Rendy tertawa kecil.
“Maya, jangan naif. Semua rumah tangga butuh uang.”
“Itu bukan jawabannya.”
“Keluargaku sedang kesulitan.”
“Selama tujuh tahun?”
“Kamu punya lebih banyak daripada kami!”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Bukan penyesalan.
Bukan permintaan maaf.
Melainkan kemarahan karena Maya memiliki sesuatu yang menurut Rendy pantas dibagi kepada keluarganya.
“Kamu tidak pernah kekurangan!” bentaknya. “Apa salahnya membantu keluargaku?”
Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak ada yang salah dengan membantu.”
Suaranya bergetar untuk pertama kalinya.
“Yang salah adalah membuat seseorang percaya bahwa dia dicintai supaya kalian bisa mengambil keuntungan darinya.”
Rendy terdiam.
Maya berdiri.
“Mulai hari ini, pengacaraku yang akan berbicara denganmu.”
Tiga bulan berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidup Maya.
Proses hukum berjalan.
Rekening-rekening terkait diperiksa.
Sebagian dana berhasil dilacak ke deposito, investasi, dan sebuah ruko kecil yang dibeli atas nama Ibu Lestari.
Keluarga Rendy mulai saling menyalahkan.
Doni mengaku hanya mengikuti perintah kakaknya.
Bagas menyerahkan bukti untuk meringankan keterlibatannya.
Ibu Lestari bersikeras bahwa semua uang itu adalah “bantuan keluarga”.
Sementara Rendy terus mencoba menghubungi Maya.
Kadang marah.
Kadang memohon.
Kadang mengingatkan kenangan lama mereka.
Maya tidak pernah menjawab.
Sampai suatu sore, sebuah surat tiba di tempat tinggal sementara Maya dan ibunya.
Bukan dari Rendy.
Surat itu dikirim seorang notaris di Purwakarta.
Ibu Sumiati membacanya terlebih dahulu.
Tangannya langsung gemetar.
“Maya…”
“Ada apa, Bu?”
Ibunya menyerahkan dokumen itu.
Ternyata sebelum meninggal, ayah Maya telah membuat perubahan terhadap surat wasiat.
Rumah kecil yang dijual Ibu Sumiati beberapa bulan sebelumnya bukan satu-satunya aset yang ia tinggalkan.
Ada sebidang tanah hampir dua hektare di pinggiran Purwakarta yang selama bertahun-tahun tidak pernah dibicarakannya.
Tanah itu diwariskan kepada Maya.
Nilainya kini diperkirakan lebih dari Rp4 miliar karena kawasan tersebut masuk rencana pengembangan industri.
Namun bukan nilai tanah yang membuat Maya terpaku.
Melainkan surat tulisan tangan ayahnya yang disimpan bersama dokumen tersebut.
Ayahnya menulis bahwa ia sengaja tidak pernah memberitahukan tanah itu kepada Rendy.
Alasannya hanya satu.
Ia tidak percaya kepada menantunya.
Maya membaca kalimat terakhir dengan mata basah.
“Ayah tidak tahu apakah kecurigaan Ayah benar. Tapi kalau suatu hari kamu membaca surat ini dalam keadaan terluka, ingat satu hal. Kehilangan orang yang memanfaatkanmu bukanlah kehilangan. Yang penting, jangan sampai pengalaman itu membuatmu berhenti menjadi orang baik.”
Maya akhirnya menangis.
Bukan karena Rp775 juta.
Bukan karena pernikahannya.
Ia menangis karena selama berbulan-bulan merasa dirinya bodoh karena terlalu mudah percaya.
Padahal ayahnya telah memberikan jawaban terakhir yang ia butuhkan.
Enam bulan kemudian, perceraian Maya resmi selesai.
Sebagian besar dana yang dialihkan berhasil dipulihkan melalui penyelesaian hukum dan penjualan aset yang terkait.
Rendy pindah dari apartemen.
Bagas menjual kedai kopinya.
Hubungan keluarga mereka berantakan.
Maya tidak merasa senang melihatnya.
Ia juga tidak merasa perlu membalas dendam.
Ia hanya merasa bebas.
Suatu pagi, Maya mengajak ibunya ke Purwakarta.
Mereka berdiri di atas tanah peninggalan ayahnya.
Di kejauhan, beberapa alat berat terlihat bekerja di kawasan baru.
“Tanah ini mau kamu jual?” tanya Ibu Sumiati.
Maya menggeleng.
“Aku mau bangun sesuatu.”
“Apa?”
Maya tersenyum.
“Rumah kecil untuk Ibu.”
Ibu Sumiati langsung menggeleng.
“Ibu tidak butuh rumah besar.”
“Bukan cuma untuk Ibu.”
Maya menjelaskan rencananya.
Sebagian tanah akan digunakan untuk membangun beberapa rumah tinggal sederhana bagi perempuan lanjut usia yang tidak memiliki keluarga atau tempat tinggal aman.
Bukan proyek besar.
Bukan yayasan mewah.
Hanya tempat yang layak untuk pulang.
Ibu Sumiati menatap putrinya lama sekali.
“Setelah semua yang terjadi, kamu masih mau membantu orang?”
Maya memandang hamparan tanah di depannya.
Angin pagi menggerakkan rambutnya.
“Justru sekarang aku tahu bedanya, Bu.”
“Bedanya apa?”
“Membantu karena kita memilih… dan dimanfaatkan karena kita dibuat merasa wajib.”
Ibu Sumiati tersenyum.
Maya menggenggam tangan ibunya.
Tujuh tahun hidupnya memang dibangun di atas kebohongan seseorang.
Namun tujuh tahun itu tidak sepenuhnya hilang.
Rendy telah mengajarinya sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan uang.
Bahwa cinta tanpa batas bukan berarti hidup tanpa batasan.
Bahwa keluarga bukanlah orang yang paling sering meminta pengorbanan.
Dan bahwa kebaikan tidak pernah menjadi kelemahan sampai seseorang menyerahkan hak kepada orang lain untuk menggunakannya sebagai senjata.
Ponsel Maya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
“Aku Rendy. Aku cuma ingin bicara sekali lagi. Aku kehilangan semuanya.”
Maya membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Kemudian ia memblokir nomor tersebut.
Ibu Sumiati menoleh.
“Siapa?”
Maya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Bukan siapa-siapa, Bu.”
Mereka berjalan kembali menuju mobil.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya menyadari sesuatu.
Rendy memang kehilangan banyak hal.
Uang.
Rumah.
Keluarga yang mulai saling menghancurkan.
Dan seorang istri yang selama tujuh tahun selalu berdiri di sisinya.
Tetapi Maya tidak kehilangan tujuh tahun hidupnya.
Ia hanya membutuhkan tujuh tahun untuk mengetahui siapa yang layak berada di tahun-tahun berikutnya.
