“Ayah bilang dia belum pergi.”
Bisikan Lili nyaris tak terdengar, tetapi lima kata itu membuat ruang tamu rumah tua di pinggiran Batu, Jawa Timur, mendadak terasa lebih dingin daripada udara Desember di luar.
Aku berdiri kaku di depan peti mati suamiku.
Tanganku gemetar.
Lengan Daniel masih berada di punggung putri kami yang berusia delapan tahun.
Bukan menggantung di sisi peti. Bukan jatuh karena tubuhnya terguncang.
Tangannya benar-benar tampak seperti sedang memeluk Lili.
“Lili, keluar dari sana,” kataku akhirnya.
Suaraku pecah.

Lili membuka mata.
Ia mengangkat wajah dari dada ayahnya, lalu menatapku dengan tatapan tenang yang justru membuatku semakin takut.
“Ayah mau Ibu lihat sesuatu.”
“Apa?”
Lili menunjuk tangan kanan Daniel.
Aku menoleh.
Jari telunjuknya terlihat sedikit menekuk.
Di antara jari-jari pucat itu, ada sesuatu yang berwarna gelap.
Aku belum sempat melihat jelas ketika Ibu Evelin, ibu Daniel, tiba-tiba maju.
“Sudah cukup,” katanya cepat. “Angkat Lili. Anak kecil tidak seharusnya berada di dalam peti mati.”
Nada suaranya berbeda.
Sejak Daniel meninggal tiga hari lalu, perempuan itu hampir tidak berhenti menangis. Tetapi saat itu wajahnya bukan menunjukkan kesedihan.
Ia ketakutan.
Aku langsung merasakan sesuatu yang salah.
Aku menarik Lili keluar dari peti dan memeluknya.
Ketika tubuh kecilnya menempel di dadaku, ia berbisik di telingaku.
“Tadi malam Ayah bilang jangan percaya obat dari Nenek.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku menatap Lili.
“Apa maksudmu?”
Namun sebelum ia menjawab, Evelin langsung menyela.
“Sarah, anak itu kelelahan. Dia berhalusinasi.”
Lili menggeleng.
“Aku nggak mimpi.”
“Cukup!” bentak Evelin.
Semua orang menoleh kepadanya.
Aku belum pernah mendengar ibu mertuaku membentak Lili.
Daniel adalah anak tunggalnya, dan Lili adalah cucu yang selalu ia manjakan.
Aku memeluk putriku lebih erat.
“Apa yang Daniel pegang?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mendekati peti.
Evelin mencoba menghalangiku.
“Sarah, jangan.”
Aku menepis tangannya.
Lalu perlahan kubuka jari Daniel yang kaku.
Di bawah telapak tangannya terdapat sebuah kartu memori microSD.
Ruangan itu kembali sunyi.
“Apa itu?” tanya adik sepupuku.
Aku mengenal benda tersebut.
Daniel menggunakan kartu memori seperti itu untuk kamera kecil yang terpasang di mobilnya.
Namun dua minggu sebelum kematiannya, ia berkata kamera mobilnya rusak.
Aku mengambil kartu itu.
Evelin tiba-tiba meraih pergelangan tanganku.
“Buang saja.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena malam ini bukan waktunya mengutak-atik barang Daniel.”
“Apa Ibu tahu isinya?”
Wajahnya berubah pucat.
Ia melepaskan tanganku.
“Tidak.”
Saat itulah kecurigaanku benar-benar muncul.
Aku membawa Lili ke kamar tamu di lantai atas dan mengunci pintu.
Laptopku masih berada di dalam tas karena aku belum sempat membereskan apa pun sejak Daniel meninggal.
Tanganku gemetar saat memasukkan kartu memori melalui adaptor.
Ada tujuh belas video.
Sebagian besar hanya rekaman biasa.
Daniel mengemudi ke kantor.
Membeli bensin.
Menjemput Lili.
Berhenti di minimarket.
Lalu aku menemukan sebuah video yang direkam sembilan hari sebelum kematiannya.
Kamera tidak berada di mobil.
Daniel tampaknya meletakkannya di rak dapur.
Dalam video itu, ia duduk sendirian di meja makan pada pukul dua lewat sebelas dini hari.
Wajahnya pucat.
“Kalau kamu menemukan rekaman ini,” katanya menatap kamera, “berarti sesuatu terjadi kepadaku.”
Aku menutup mulut.
Daniel melanjutkan.
“Selama enam bulan terakhir, aku sering mengalami jantung berdebar, pusing, mual, dan sesak. Dokter pertama bilang kemungkinan stres. Tapi hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan sesuatu yang aneh dalam darahku.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Aku belum mau bilang ke Sarah sebelum yakin. Aku tahu dia akan panik.”
Air mataku mengalir.
Bahkan saat takut akan sesuatu yang terjadi pada dirinya, Daniel masih memikirkan aku.
Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Aku curiga seseorang memasukkan obat ke minumanku.”
Pintu kamar tiba-tiba diketuk.
“Sarah?”
Suara Evelin.
Aku segera mengecilkan volume laptop.
“Sarah, buka pintunya.”
Lili meremas tanganku.
“Jangan, Bu.”
Ketukan berubah menjadi pukulan.
“Sarah!”
Aku menatap layar.
Daniel masih berbicara.
“Aku belum tahu siapa. Jadi aku pasang kamera kecil di dapur.”
Aku mempercepat rekaman berikutnya.
Video tanggal 17 Desember.
Pukul 05.43 pagi.
Dapur gelap.
Daniel belum bangun.
Kemudian seseorang masuk.
Evelin.
Ibu mertuaku membuka lemari obat, mengambil botol kecil, lalu menuangkan cairan ke dalam termos kopi Daniel.
Aku merasa mual.
Lili memeluk lenganku.
“Itu obat yang aku maksud.”
Aku menoleh tajam.
“Kamu pernah lihat?”
Lili mengangguk.
“Malam sebelum Ayah jatuh, aku lihat Nenek masuk dapur. Aku mau ambil air. Nenek bilang itu vitamin buat Ayah dan aku nggak boleh cerita karena itu kejutan supaya Ayah sehat.”
Pukulan di pintu berhenti.
Sunyi.
Aku menahan napas.
Lalu terdengar langkah kaki menjauh.
Aku langsung menelepon polisi.
Belum sempat sambungan tersambung, lampu rumah mati.
Seluruh kamar menjadi gelap.
Lili menjerit kecil.
Aku menyalakan senter ponsel.
Dari bawah terdengar keributan.
Seseorang berteriak bahwa listrik padam.
Lalu terdengar suara pintu depan dibanting.
Aku meraih laptop, kartu memori, dan tangan Lili.
Kami berlari turun.
Peti Daniel masih berada di ruang tamu.
Beberapa kerabat menyalakan lampu ponsel.
“Di mana Bu Evelin?” tanyaku.
Tidak ada yang tahu.
Mobilnya juga sudah tidak ada.
Polisi datang dua puluh menit kemudian.
Malam yang seharusnya menjadi malam terakhir kami bersama Daniel berubah menjadi tempat penyelidikan.
Polisi mengambil kartu memori, termos lama yang masih kusimpan di dapur, obat-obatan Evelin, dan beberapa barang pribadi Daniel.
Pemakaman ditunda.
Jenazah Daniel dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Bagiku, itu seperti kehilangan suamiku untuk kedua kalinya.
Dua hari kemudian, polisi menemukan Evelin di sebuah penginapan kecil di Blitar.
Ia tidak melawan.
Namun ketika diinterogasi, ia terus mengatakan hal yang sama.
“Aku tidak membunuh Daniel.”
Hasil pemeriksaan forensik kemudian menunjukkan adanya kadar digoksin yang sangat tinggi di dalam tubuh Daniel.
Obat itu biasa digunakan untuk kondisi jantung tertentu, tetapi dalam dosis berlebihan dapat menyebabkan gangguan irama jantung serius bahkan kematian.
Evelin memiliki resep obat tersebut.
Semua bukti mengarah kepadanya.
Aku membencinya.
Aku benar-benar membencinya.
Sampai polisi memperlihatkan rekaman interogasinya kepadaku.
“Aku memang memasukkan obat ke kopi Daniel,” katanya sambil menangis. “Tapi bukan untuk membunuhnya.”
“Lalu untuk apa?”
“Karena Daniel menyuruhku.”
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Penyidik menunjukkan video lain yang mereka temukan dari penyimpanan cloud milik Daniel.
Aku bahkan tidak tahu akun itu ada.
Dalam video tersebut, Daniel duduk berhadapan dengan ibunya.
“Masukkan dua tetes setiap pagi,” katanya.
Evelin terlihat ragu.
“Kenapa tidak bilang Sarah saja?”
“Belum.”
“Ini obat jantung, Daniel.”
“Aku tahu.”
“Kalau dosisnya salah?”
“Aku sudah hitung.”
Ternyata Daniel memang menderita gangguan irama jantung bawaan yang selama bertahun-tahun tidak terdiagnosis. Ia meminta ibunya membantu memberikan obat karena ia takut aku akan memaksanya berhenti bekerja sebelum proyek besar yang sedang ia tangani selesai.
Namun hasil laboratorium menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Cairan dalam botol Evelin memiliki konsentrasi hampir sepuluh kali lebih tinggi daripada seharusnya.
Seseorang telah mengganti isinya.
Siapa?
Jawabannya datang dari rekaman terakhir.
Tanggal 21 Desember.
Sehari sebelum Daniel meninggal.
Kamera merekam seseorang masuk ke dapur pada sore hari.
Adik tiri Daniel.
Raka.
Pria yang selama ini berdiri di dekat peti sambil menangis paling keras.
Raka membuka botol obat itu, membuang sebagian isinya ke wastafel, kemudian mengisinya dengan cairan dari botol lain.
Saat polisi mendatangi rumahnya, ia sudah mencoba kabur ke Surabaya.
Motifnya bahkan lebih buruk daripada yang kubayangkan.
Ayah Daniel meninggalkan sebidang tanah luas di kawasan yang kini berkembang menjadi area vila dan wisata. Nilainya puluhan miliar rupiah.
Dalam surat warisan keluarga, tanah itu diwariskan kepada Daniel. Jika Daniel meninggal, hak kepemilikan berpindah kepada Lili.
Namun ada satu dokumen lama yang membuat Raka yakin ia bisa menggugat hak tersebut apabila Daniel meninggal sebelum proses balik nama selesai.
Ia tidak pernah memperhitungkan keberadaan rekaman.
Raka akhirnya ditangkap.
Evelin dibebaskan.
Tetapi hubunganku dengannya tidak pernah kembali sama.
Ada terlalu banyak kebohongan.
Terlalu banyak rahasia.
Tiga minggu kemudian, setelah semua pemeriksaan selesai, kami akhirnya memakamkan Daniel.
Hujan turun tipis di pemakaman keluarga.
Lili berdiri di sampingku sambil menggenggam setangkai bunga lili putih.
Sebelum peti diturunkan, ia meletakkan bunga itu di atasnya.
“Ayah sekarang benar-benar pergi?” tanyaku pelan.
Lili menatap peti beberapa saat.
Kemudian ia menggeleng.
“Nggak.”
Dadaku kembali terasa sesak.
Namun kali ini ia tersenyum kecil.
“Ayah bilang orang bisa pergi dari rumah, tapi nggak dari orang yang sayang sama dia.”
Aku berlutut dan memeluknya.
Untuk pertama kalinya sejak Daniel meninggal, Lili menangis.
Bukan tangisan histeris.
Hanya air mata diam yang selama ini seperti tertahan di balik matanya.
Malamnya, aku akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Lili, waktu kamu bilang Ayah bicara kepadamu… kamu benar-benar mendengar suaranya?”
Ia mengusap matanya.
“Nggak pakai telinga.”
Aku terdiam.
“Terus bagaimana?”
Lili menunjuk dadanya.
“Di sini.”
Aku tidak tahu harus percaya apa.
Tetapi satu pertanyaan masih menggangguku.
Bagaimana kartu memori itu bisa berada di tangan Daniel?
Polisi mengatakan petugas rumah duka tidak pernah melihatnya.
Evelin bersumpah tidak pernah menyentuh tangan Daniel setelah jenazah dipulangkan.
Aku sendiri melihat kedua tangannya kosong ketika pertama kali diletakkan di peti.
Beberapa bulan kemudian aku akhirnya mendapatkan jawabannya.
Atau setidaknya sebagian.
Saat membersihkan tas sekolah Lili, aku menemukan sebuah gambar.
Gambar itu dibuat dengan krayon.
Ada Daniel di dalam peti.
Ada Lili di sampingnya.
Dan ada seorang perempuan berdiri di belakang mereka.
Aku tidak mengenal perempuan itu.
Rambutnya panjang, pakaiannya berwarna biru.
Di bawah gambar itu Lili menulis dengan huruf besar yang belum rapi.
“Tante yang kasih kartu Ayah.”
Aku langsung memanggilnya.
“Lili, siapa perempuan ini?”
Ia melihat gambar itu seolah pertanyaanku aneh.
“Temannya Ayah.”
“Namanya siapa?”
“Nggak tahu.”
“Kapan kamu melihatnya?”
“Malam waktu Ayah di rumah Nenek.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Dia kasih kartu itu ke kamu?”
Lili menggeleng.
“Bukan.”
“Terus?”
Lili menjawab dengan santai.
“Dia masukin ke tangan Ayah.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
“Jam berapa?”
“Waktu semua orang di dapur.”
Aku memeriksa foto dan video keluarga dari malam persemayaman itu.
Tidak ada perempuan berbaju biru.
Aku bertanya kepada semua kerabat.
Tidak seorang pun melihatnya.
Sampai Evelin melihat gambar Lili.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
Ia duduk perlahan.
“Sarah…”
“Ada apa?”
Tangannya gemetar ketika mengambil gambar itu.
“Aku kenal perempuan ini.”
Ia masuk ke kamar lalu kembali membawa sebuah album foto lama.
Dari halaman yang sudah menguning, ia menarik sebuah foto.
Perempuan muda berambut panjang.
Gaun biru.
Wajah yang sama persis seperti gambar Lili.
“Namanya Maria,” bisik Evelin.
Aku menatapnya.
“Siapa dia?”
Evelin mulai menangis.
“Kakak Daniel.”
Aku membeku.
“Daniel tidak punya kakak.”
“Dia punya.”
Evelin menatapku dengan mata merah.
“Maria meninggal ketika berusia sembilan tahun. Daniel bahkan belum lahir saat itu.”
Aku merasakan seluruh tubuhku merinding.
Aku membawa foto tersebut pulang tanpa mengatakan apa pun kepada Lili.
Malam itu aku meletakkannya di meja.
Lili baru pulang dari kamar mandi ketika melihatnya.
Ia langsung tersenyum.
“Nah.”
Aku tidak mampu bergerak.
“Itu perempuan yang kamu lihat?”
“Iya.”
Lili mengambil foto itu.
Kemudian ia berkata sesuatu yang sampai sekarang masih membuatku terbangun di tengah malam.
“Tapi Ibu salah satu hal.”
“Apa?”
Lili menunjuk perempuan dalam foto.
“Dia bukan datang buat kasih kartu ke Ayah.”
Aku menelan ludah.
“Lalu?”
Lili menatapku dengan wajah polos.
“Dia datang buat jemput Ayah.”
Aku tidak pernah menemukan penjelasan tentang bagaimana lengan Daniel bergerak malam itu.
Dokter mengatakan perubahan posisi tubuh setelah kematian kadang bisa terjadi karena kekakuan otot dan perubahan tekanan pada sendi.
Mungkin benar.
Aku juga tidak pernah menemukan penjelasan bagaimana kartu memori bisa berada di tangannya.
Mungkin seseorang meletakkannya di sana dan lupa mengaku.
Mungkin Lili mendengar percakapan orang dewasa lalu pikirannya menciptakan sosok perempuan berbaju biru.
Ada penjelasan logis untuk hampir segala sesuatu, jika kita cukup keras mencarinya.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa kujelaskan.
Foto Maria yang diperlihatkan Evelin kepadaku malam itu belum pernah dilihat Daniel.
Album itu ditemukan bertahun-tahun setelah kematian Maria dan selalu disimpan terkunci.
Dan di halaman paling belakang album tersebut, kami menemukan tulisan tangan Maria yang dibuat hanya beberapa hari sebelum ia meninggal.
Tulisan seorang anak berusia sembilan tahun.
“Aku berharap suatu hari punya adik laki-laki. Kalau dia takut ketika waktunya pulang, aku akan datang menjemputnya.”
Sejak saat itu, aku berhenti bertanya apakah Daniel benar-benar memeluk putrinya untuk terakhir kali.
Mungkin lengannya hanya bergerak karena tubuh manusia memiliki cara-cara aneh yang belum kita pahami.
Mungkin semuanya hanyalah kebetulan.
Tapi setiap kali Lili bertanya apakah ayahnya benar-benar sudah pergi, aku tidak lagi mengatakan iya.
Aku hanya memeluknya dan menjawab seperti yang ia ajarkan kepadaku malam itu.
“Orang yang kita cintai memang bisa berhenti berjalan di samping kita. Tapi selama kita masih membawa kebaikan mereka di dalam hati, mereka tidak pernah benar-benar pergi.”
