Tujuh tahun setelah Nisa menghilang, Bu Sari masih menyimpan gaun bermotif bunga biru milik putrinya di dalam lemari.
Gaun itu sudah terlalu kecil untuk seorang gadis berusia enam belas tahun. Warnanya pun mulai pudar. Namun setiap kali kerinduan terasa terlalu berat, Bu Sari akan membuka lemari, menyentuh kainnya, lalu membayangkan Nisa pulang sambil memanggilnya seperti dulu.
“Ibu, Nisa lapar.”
Kalimat sederhana itu adalah suara yang paling ingin didengarnya lagi.

Sore itu, warung kecil Bu Sari di pinggir jalan kawasan Ciamis sedang sepi. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah. Bu Sari sedang menyusun botol minuman ketika sebuah sepeda motor berhenti di depan warung.
Seorang pria turun.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya sedikit beruban. Ia mengenakan kaus hitam berlengan pendek.
“Bu, kopi hitam satu.”
Bu Sari mengangguk.
Saat menuangkan air panas, ia sama sekali tidak memperhatikan pria itu. Sampai pria tersebut mengangkat tangan kanannya untuk mengambil rokok dari saku.
Cangkir di tangan Bu Sari terlepas.
Pecahannya berserakan di lantai.
Pria itu terkejut.
“Ibu tidak apa-apa?”
Bu Sari tidak menjawab.
Matanya terpaku pada lengan kiri pria tersebut.
Di sana terdapat sebuah tato wajah seorang anak perempuan.
Rambut panjang dikuncir.
Pipi bulat.
Mata besar.
Dan sebuah tahi lalat kecil tepat di bawah mata kiri.
Dunia Bu Sari seperti berhenti berputar.
Ia mengenali wajah itu.
Bahkan jika seluruh rambutnya telah memutih dan ingatannya mulai kabur, ia tidak mungkin melupakan wajah anak yang dilahirkannya sendiri.
Itu Nisa.
Pria tersebut menyadari tatapan Bu Sari. Ia buru-buru menarik lengan bajunya.
“Kenapa, Bu?”
Bu Sari menahan gemetar.
“Itu tato siapa?”
Wajah pria itu berubah.
“Hanya gambar.”
“Gambar siapa?”
“Tidak ada siapa-siapa.”
Bu Sari mendekat.
“Tahi lalatnya di bawah mata kiri.”
Pria itu terdiam.
Bu Sari merasa darahnya berdesir.
“Nisa.”
Begitu nama itu keluar dari mulutnya, pria tersebut langsung berdiri.
Ia meletakkan uang di meja lalu berjalan cepat menuju sepeda motornya.
“Tunggu!”
Bu Sari mengejar.
Pria itu menyalakan mesin dan pergi tanpa menoleh.
Bu Sari berdiri di pinggir jalan dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, tetapi untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia merasa dirinya baru saja menyentuh jejak nyata putrinya.
Malam itu ia tidak tidur.
Ia menghubungi Arif, keponakannya yang bekerja sebagai pengemudi mobil sewaan.
“Kamu yakin, Bi?” tanya Arif.
“Bibi membesarkannya sembilan tahun. Tidak mungkin Bibi salah mengenali wajah Nisa.”
“Nomor motornya ingat?”
Bu Sari menggeleng.
Namun ada sesuatu yang ia ingat.
Di bagian belakang jaket yang tergantung di motor pria itu terdapat tulisan sebuah bengkel di Banjar.
Keesokan paginya, Arif mengantar Bu Sari ke sana.
Setelah bertanya ke beberapa bengkel, mereka menemukan seorang mekanik yang mengenali ciri pria tersebut.
“Namanya Damar,” katanya. “Kadang datang ke sini. Katanya tinggal dekat perkebunan arah Langensari.”
“Dia punya keluarga?”
Mekanik itu berpikir sejenak.
“Setahu saya dia tinggal sama anak perempuan.”
Jantung Bu Sari hampir berhenti.
“Umurnya?”
“Mungkin enam belas atau tujuh belas.”
Bu Sari menutup mulutnya.
Arif segera memegang bahunya.
Mereka melaporkan informasi itu kepada polisi. Karena kasus hilangnya Nisa masih tercatat, polisi mulai menelusuri Damar.
Dua hari kemudian, alamatnya ditemukan.
Sebuah rumah sederhana berdiri di ujung jalan kecil yang dikelilingi kebun pisang.
Bu Sari tidak diperbolehkan masuk lebih dulu. Dua petugas mengetuk pintu.
Damar membukanya.
Begitu melihat polisi, wajahnya pucat.
“Pak Damar, kami ingin menanyakan beberapa hal.”
“Saya tidak melakukan apa-apa.”
“Kalau begitu, seharusnya tidak ada masalah.”
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari dalam.
“Ayah, siapa?”
Seluruh tubuh Bu Sari membeku.
Seorang gadis muncul di balik pintu.
Usianya sekitar enam belas tahun.
Rambutnya panjang.
Tubuhnya tinggi dan kurus.
Wajahnya telah berubah karena waktu, tetapi mata itu masih sama.
Mata yang tujuh tahun lamanya muncul dalam mimpi Bu Sari.
Bu Sari menutup mulut.
“Nisa.”
Gadis itu mengerutkan kening.
Damar langsung berdiri di depannya.
“Masuk, Laila.”
Laila.
Nama itu menghantam Bu Sari lebih keras daripada apa pun.
“Nisa, ini Ibu.”
Gadis itu mundur.
“Siapa Ibu?”
Bu Sari menangis.
Ia ingin memeluknya, tetapi polisi menahannya agar tidak membuat gadis itu ketakutan.
Damar akhirnya dibawa untuk dimintai keterangan. Gadis tersebut juga diperiksa dengan pendampingan petugas perempuan.
Namun cerita yang terungkap jauh berbeda dari dugaan Bu Sari.
Damar bersikeras bahwa ia tidak menculik Nisa.
Tujuh tahun lalu, ia bekerja sebagai nelayan di sekitar Pangandaran. Pada sore ketika Nisa menghilang, Damar menemukan seorang anak perempuan menangis sendirian hampir dua kilometer dari kawasan utama pantai.
Anak itu kebingungan.
Damar mengaku berusaha mencari keluarganya.
Namun malam harinya, anak tersebut demam tinggi.
Ia membawanya ke sebuah klinik kecil.
“Lalu kenapa tidak menyerahkannya ke polisi?” tanya penyidik.
Damar menunduk.
“Saya takut.”
“Takut apa?”
Damar terdiam lama.
Kemudian ia mengucapkan sesuatu yang membuat ruangan itu sunyi.
“Karena saya pernah dipenjara.”
Damar pernah menjalani hukuman karena kasus perkelahian. Ketika menemukan Nisa, ia baru beberapa bulan bebas. Ia mengaku takut polisi akan menuduhnya sebagai penculik.
“Tapi Anda tahu ada anak hilang di Pangandaran.”
“Saya tahu beberapa hari kemudian.”
“Kenapa tetap diam?”
Mata Damar memerah.
“Karena saat itu saya sudah melakukan kesalahan terbesar.”
Ia menatap meja.
“Saya mulai menyayanginya seperti anak sendiri.”
Istri dan putri kandung Damar meninggal dalam kecelakaan tiga tahun sebelum kejadian tersebut. Anak perempuannya bernama Laila.
Ketika Nisa mengalami demam tinggi, Damar mengatakan gadis kecil itu terus menangis dan sulit mengingat alamat rumahnya. Setelah sembuh, Nisa hanya mengingat beberapa potongan kejadian.
Damar kemudian membawanya pindah ke Banjar dan memberinya nama Laila.
“Tato itu?” tanya polisi.
Damar menyentuh lengannya.
“Wajah anak kandung saya.”
Bu Sari yang mendengar penjelasan dari ruangan lain merasa dadanya sesak.
Jadi tato itu bukan Nisa?
Namun ketika polisi menunjukkan foto Laila, Bu Sari langsung memahami alasan dirinya salah mengira.
Putri kandung Damar memang memiliki bentuk wajah yang sangat mirip dengan Nisa ketika kecil.
Kemiripan itulah yang membuat Damar semakin sulit melepaskan Nisa.
Namun kemiripan bukan alasan untuk merampas tujuh tahun kehidupan seorang anak.
Tes DNA dilakukan.
Tiga hari menunggu hasil terasa lebih panjang daripada tujuh tahun pencarian.
Bu Sari tidak berani berharap terlalu tinggi.
Sampai seorang petugas datang membawa dokumen.
“Hasilnya sudah keluar.”
Bu Sari menggenggam ujung bajunya.
“Kecocokan biologis menunjukkan bahwa gadis tersebut adalah anak kandung Ibu.”
Bu Sari menangis begitu keras hingga tubuhnya lemas.
Nisa hidup.
Putrinya benar-benar hidup.
Tetapi kebahagiaan itu segera menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit.
Nisa tidak langsung menerima Bu Sari sebagai ibunya.
Baginya, Damar adalah ayah yang membesarkannya selama tujuh tahun. Pria itu mengantarnya sekolah, merawatnya ketika sakit, memasak untuknya, bahkan bekerja malam agar bisa membayar biaya pendidikan.
Sementara Bu Sari adalah perempuan asing yang tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa seluruh kehidupan yang dikenalnya dibangun di atas kebohongan.
“Aku tidak ingat Ibu,” kata Nisa ketika akhirnya mereka bertemu di ruang pendampingan.
Bu Sari menahan air mata.
“Tidak apa-apa.”
“Namaku Laila.”
Bu Sari mengangguk pelan.
“Kalau kamu ingin dipanggil Laila, Ibu akan memanggilmu Laila.”
Gadis itu menatapnya dengan bingung.
“Kenapa Ibu tidak marah?”
“Karena Ibu sudah kehilangan tujuh tahun bersamamu. Ibu tidak mau kehilanganmu lagi hanya karena sebuah nama.”
Nisa menunduk.
Bu Sari mengeluarkan sesuatu dari tas.
Sebuah gelang kecil dengan liontin berbentuk bulan.
Nisa menatapnya lama.
Tangannya perlahan menyentuh pergelangan tangan kirinya.
“Aku pernah punya ini.”
Bu Sari terisak.
“Kamu selalu memakainya.”
Nisa memejamkan mata.
Tiba-tiba muncul potongan ingatan.
Seorang perempuan menyisir rambutnya.
Seorang laki-laki tertawa sambil mengangkatnya ke bahu.
Kue ulang tahun berbentuk kelinci.
Dan sebuah suara yang selalu berkata sebelum ia tidur.
“Selamat malam, anak Ibu.”
Air mata mengalir di pipi Nisa.
“Ayahku dulu siapa?”
Bu Sari mengeluarkan foto Pak Budi.
Nisa memandang foto itu.
Lama sekali.
Kemudian bibirnya bergetar.
“Aku pernah melihat wajah ini dalam mimpi.”
Bu Sari tidak sanggup menahan tangis.
“Dia menunggumu selama tiga tahun, Nak.”
“Sekarang dia di mana?”
Bu Sari tidak menjawab.
Namun Nisa memahami dari tatapan matanya.
Gadis itu menangis untuk seorang ayah yang baru saja kembali dalam ingatannya, tetapi tidak akan pernah bisa ditemuinya lagi.
Damar akhirnya diproses secara hukum karena menyembunyikan identitas seorang anak dan tidak melaporkannya kepada pihak berwenang.
Sebelum dibawa pergi, ia meminta satu kesempatan berbicara dengan Nisa.
“Ayah minta maaf.”
Nisa berdiri beberapa langkah darinya.
“Kenapa Ayah tidak mengembalikan aku?”
Damar menangis.
“Karena Ayah egois.”
“Apakah Ayah pernah menculikku?”
Damar menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa aku bisa jauh dari Ibu?”
Damar terdiam.
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat polisi kembali membuka penyelidikan lama.
“Seseorang membawanya ke tempat saya menemukannya.”
Bu Sari menegang.
Damar menjelaskan bahwa sore itu ia sempat melihat sebuah mobil berhenti di jalan sepi dekat pantai. Seorang perempuan turun bersama Nisa. Beberapa menit kemudian perempuan tersebut kembali ke mobil seorang diri.
Damar mengira mereka adalah keluarga yang sedang bertengkar.
Ketika mobil pergi, barulah ia menemukan Nisa menangis.
“Perempuan itu siapa?” tanya penyidik.
Damar menggeleng.
“Saya tidak tahu namanya. Tapi saya masih ingat wajahnya.”
Polisi menunjukkan beberapa foto lama dari rombongan wisata keluarga Bu Sari.
Jari Damar berhenti pada satu wajah.
“Itu dia.”
Bu Sari merasa lututnya kehilangan tenaga.
Perempuan dalam foto itu adalah Rina.
Adik kandung Pak Budi.
Orang yang selama tujuh tahun selalu menemani Bu Sari mencari Nisa.
Penyelidikan menemukan fakta bahwa Rina menyimpan dendam kepada kakaknya karena persoalan warisan keluarga. Ia bermaksud membuat Nisa tersesat untuk menakut-nakuti Pak Budi dan Bu Sari, lalu berencana memberi tahu lokasi anak itu beberapa jam kemudian.
Namun ketika ia kembali, Nisa sudah tidak ada.
Rina panik.
Ia memilih diam.
Selama tujuh tahun, rasa bersalah membuatnya ikut dalam setiap pencarian, seolah dengan cara itu ia bisa menebus kesalahan tanpa harus mengakui kebenaran.
Ketika polisi mendatanginya, Rina hanya mampu menangis.
“Aku tidak pernah berniat membuat Nisa hilang selama tujuh tahun.”
Bu Sari menatap perempuan yang selama ini dianggapnya saudara.
“Tapi kamu memilih melindungi dirimu sendiri setiap hari selama tujuh tahun.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tamparan.
Hanya kalimat itu.
Dan justru ketenangan Bu Sari membuat Rina menundukkan kepala lebih dalam.
Beberapa bulan kemudian, Nisa akhirnya tinggal bersama Bu Sari.
Ia masih menggunakan nama Laila di sekolah, tetapi perlahan mulai menerima nama lamanya.
Hubungan mereka tidak langsung sempurna.
Ada malam ketika Nisa menangis merindukan Damar. Ada pagi ketika Bu Sari merasa sedih karena putrinya tidak mengingat makanan kesukaannya dahulu.
Namun mereka tidak memaksa waktu.
Mereka belajar mengenal satu sama lain dari awal.
Suatu sore, Bu Sari mengajak Nisa mengunjungi makam Pak Budi.
Nisa duduk di depan batu nisan itu cukup lama.
“Ayah, maaf aku terlambat pulang.”
Angin bergerak pelan di antara pepohonan.
Bu Sari berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil menangis.
Kemudian Nisa menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, ia mengulurkan tangan.
“Ibu.”
Hanya satu kata.
Namun Bu Sari merasa tujuh tahun penantiannya terbayar saat itu juga.
Ia menggenggam tangan putrinya erat.
Dalam perjalanan pulang, Nisa menyandarkan kepala di bahunya.
Bu Sari akhirnya memahami sesuatu.
Kadang seseorang yang hilang tidak kembali dalam keadaan yang sama seperti ketika ia pergi.
Waktu mengubah wajah, nama, kenangan, bahkan cara seseorang mencintai.
Damar memang telah melakukan kesalahan besar karena menyembunyikan Nisa, tetapi kasih sayangnya selama tujuh tahun juga tidak bisa begitu saja dihapus. Rina harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pak Budi tidak pernah mendapat kesempatan melihat putrinya pulang.
Tidak semua luka mendapatkan akhir yang sempurna.
Namun bagi Bu Sari, selama tujuh tahun ia hanya meminta satu hal kepada Tuhan.
Bukan agar masa lalu dikembalikan.
Bukan agar semua orang yang bersalah dihukum.
Ia hanya ingin mengetahui bahwa anaknya masih bernapas di suatu tempat.
Dan sore itu, ketika Nisa tertidur di bahunya selama perjalanan pulang, Bu Sari menatap wajah putrinya lama sekali.
Wajah yang pertama kali ditemukannya kembali melalui sebuah tato di lengan orang asing.
Ia tersenyum sambil membelai rambut Nisa.
Tujuh tahun lalu, ia pulang dari Pangandaran tanpa anaknya.
Kini anak itu akhirnya pulang kepadanya.
Bukan sebagai gadis kecil bergaun bunga biru yang selama ini ia tunggu.
Melainkan sebagai seorang remaja dengan kehidupan, luka, nama, dan kenangannya sendiri.
Dan Bu Sari akhirnya mengerti bahwa menemukan seseorang bukan berarti mengambil kembali masa lalu.
Terkadang, menemukan berarti menerima siapa mereka setelah melewati jalan panjang tanpa kita.
