SUAMI MEREMEHKAN ISTRINYA KARENA HANYA LULUS SMP, LALU MEMAKSANYA BERCERAI.

Sinta tidak langsung menjawab pertanyaan Reza.

Ia hanya menatap mantan suaminya beberapa detik, lalu berbalik menuju pintu masuk gedung yang terhubung dengan pusat perbelanjaan itu. Pria berjas yang tadi menjemputnya berjalan setengah langkah di belakang.

Reza masih berdiri di samping Porsche hitam itu seperti orang kehilangan arah.

“Bu Sinta,” panggil pria tersebut lagi. “Pak Hendra dan para pemegang saham sudah menunggu.”

Sinta mengangguk.

Sebelum pintu kaca tertutup, Reza buru-buru mengejarnya.

“Tunggu!”

Sinta berhenti.

“Aku cuma ingin tahu satu hal,” kata Reza, suaranya terdengar lebih rendah. “Sebenarnya kamu bekerja di mana?”

Sinta menatapnya tanpa emosi.

“Di tempat yang mungkin pernah kamu dengar.”

“Perusahaan apa?”

Pria berjas di samping Sinta terlihat ragu, tetapi Sinta menjawab dengan tenang.

“Arunika Retail Group.”

Wajah Reza seketika berubah.

Nama itu tentu saja ia kenal.

Arunika Retail Group adalah perusahaan distribusi dan ritel yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang sangat cepat. Mereka memiliki jaringan supermarket premium, perusahaan logistik, gudang impor, hingga kepemilikan saham di beberapa pusat perbelanjaan.

Yang membuat jantung Reza berdetak semakin cepat adalah satu fakta lain.

Perusahaan tempat Reza bekerja merupakan salah satu pemasok kecil untuk anak perusahaan Arunika.

“Arunika?” ulang Reza.

Sinta mengangguk.

“Kamu kerja di sana?”

Sinta tersenyum tipis.

“Aku bukan karyawannya.”

Lalu ia berjalan pergi.

Kalimat itu menghantam kepala Reza sepanjang perjalanan pulang.

Malam itu ia tidak langsung kembali ke apartemen Vina. Ia memarkir mobil di sebuah kedai kopi, membuka laptop, lalu mencari informasi mengenai Arunika Retail Group.

Ia menemukan puluhan artikel.

Pendiri perusahaan itu adalah seorang pengusaha bernama Darmawan Wijaya, sosok yang jarang muncul di media. Setelah kesehatannya menurun beberapa tahun terakhir, pengelolaan perusahaan perlahan diserahkan kepada keluarga dan dewan profesional.

Reza membaca satu demi satu nama komisaris serta direksi.

Tidak ada Sinta.

Ia mengembuskan napas lega.

“Mungkin dia cuma kenal orang dalam,” gumamnya.

Namun rasa penasaran membuatnya terus mencari.

Sampai akhirnya ia menemukan artikel lama berusia hampir delapan tahun.

Foto di dalam artikel itu buram.

Judulnya membahas pembangunan gudang pertama Arunika di Bogor.

Di belakang Darmawan berdiri beberapa orang.

Salah satunya seorang gadis muda berambut panjang yang wajahnya terasa sangat familiar.

Reza memperbesar foto itu.

Tangannya langsung kaku.

Itu Sinta.

Di bawah foto terdapat keterangan singkat.

Darmawan Wijaya bersama putrinya, Sintawati Darmawan, saat peresmian pusat distribusi pertama Arunika.

Reza menatap layar hampir satu menit tanpa berkedip.

“Sintawati Darmawan?”

Ia kembali membaca.

Nama lengkap Sinta selama menikah memang Sintawati.

Tetapi selama lima tahun, Reza mengenalnya sebagai Sintawati Rahman, mengikuti nama keluarga ibunya.

Reza langsung menelepon Sinta.

Sekali.

Tidak diangkat.

Dua kali.

Tidak diangkat.

Pada panggilan kelima, barulah suara Sinta terdengar.

“Ada apa?”

“Kamu anak Darmawan Wijaya?”

Hening beberapa detik.

Kemudian Sinta menjawab sederhana.

“Iya.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena kamu tidak pernah bertanya siapa keluargaku.”

“Jangan bercanda, Sinta. Kita menikah lima tahun.”

“Aku pernah mengajakmu beberapa kali bertemu Ayah.”

Reza terdiam.

Ia teringat sesuatu.

Pada tahun pertama pernikahan, Sinta memang pernah mengajaknya mengunjungi seorang lelaki tua yang tinggal di rumah sederhana di Bogor.

Namun Reza hanya datang sekali.

Saat itu lelaki tersebut mengenakan kaus biasa dan sandal. Ia bahkan membantu menyiram tanaman sendiri.

Reza mengira ia hanya kerabat jauh Sinta.

Setelah pertemuan itu Reza pernah berkata, “Kalau cuma silaturahmi dengan saudara kampung, nanti saja. Aku sibuk.”

Ternyata lelaki tua itu Darmawan Wijaya.

Salah satu pengusaha dengan kekayaan puluhan triliun rupiah.

“Kamu sengaja menyembunyikannya dariku?” tanya Reza.

“Tidak.”

“Lalu apa namanya kalau bukan menyembunyikan?”

Sinta menghela napas.

“Ayah tidak pernah suka keluarganya dikenal karena uang. Sejak kecil aku memakai nama Ibu. Setelah Ibu meninggal, aku memilih tinggal bersama nenek di Bogor. Aku memang berhenti sekolah setelah SMP.”

“Nah, itu!”

Reza seperti menemukan celah untuk membela diri.

“Kamu memang cuma tamat SMP.”

“Iya.”

Jawaban itu justru membuat Reza bingung.

Sinta melanjutkan.

“Aku berhenti bukan karena tidak mampu sekolah. Saat itu Ibu sakit kanker. Aku memilih menemani beliau selama hampir tiga tahun sampai meninggal.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi untuk pertama kalinya Reza mendengar luka lama di balik setiap kata.

“Setelah itu aku tidak kembali ke sekolah formal.”

“Tapi bagaimana mungkin kamu bisa masuk jajaran perusahaan sebesar Arunika?”

“Aku belajar sendiri.”

Reza tertawa kecil.

“Belajar sendiri?”

“Akuntansi, pengelolaan toko, pemasaran digital, negosiasi pemasok, rantai pasok. Ayah memberiku kesempatan paling bawah. Aku pernah menjadi kasir, staf gudang, sampai mengurus pembelian barang.”

Reza tidak mampu menyela.

“Warung yang kamu lihat waktu pertama kali bertemu denganku juga bukan warung orang tuaku.”

“Lalu?”

“Itu tempat aku belajar menjalankan bisnis kecil tanpa membawa nama keluarga.”

Dada Reza terasa sesak.

Ia masih berusaha mencari alasan.

“Kalau memang kamu sekaya itu, kenapa selama menikah tinggal di apartemen biasa denganku? Kenapa kamu tidak pernah memakai mobil mewah? Bahkan uang belanja selalu kamu terima dariku.”

Sinta tertawa pelan.

Bukan mengejek.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya memahami betapa jauh kesalahpahaman itu berlangsung.

“Karena aku ingin hidup normal dengan suamiku.”

Reza terdiam.

“Ayah sudah pernah mengingatkan bahwa aku terlalu terburu-buru menikah. Tapi aku percaya kamu mencintaiku karena diriku, bukan nama keluargaku.”

Suara Sinta melembut.

“Jadi aku memutuskan tidak membawa kekayaan keluarga ke dalam pernikahan. Aku bahkan meminta semua pembagian keuntungan perusahaan masuk ke rekening investasi yang tidak pernah kugunakan.”

Reza menelan ludah.

“Berapa?”

“Apa?”

“Penghasilanmu.”

Sinta hening sebentar.

“Itu sudah tidak penting.”

Namun bagi Reza, justru itu sangat penting.

“Lebih besar dari gajiku?”

Sinta tidak menjawab.

Dan keheningan tersebut sudah menjadi jawaban.

Panggilan berakhir beberapa menit kemudian.

Reza duduk sendirian di kedai kopi hingga hampir tengah malam.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, semua kalimat yang pernah ia ucapkan kepada Sinta kembali menghantam dirinya sendiri.

Kamu cuma tahu dapur.

Kamu hanya lulusan SMP.

Kamu bergantung padaku.

Aku malu punya istri sepertimu.

Semua terdengar menggelikan sekarang.

Namun rasa malu itu belum menjadi pukulan terbesar.

Pukulan sebenarnya datang tiga minggu kemudian.

Hari Senin pagi, seluruh manajer perusahaan Reza dipanggil menghadiri rapat mendadak.

Direktur utama mereka, Surya Halim, berdiri di depan ruangan dengan wajah serius.

“Kita punya masalah.”

Sebuah presentasi ditampilkan.

Grafik penjualan turun tajam.

Dua kontrak distribusi terbesar mereka tidak diperpanjang.

Salah satu alasannya adalah kegagalan proyek yang dipimpin oleh divisi pemasaran Reza.

Surya menatap seluruh ruangan.

“Dalam enam bulan terakhir, Arunika Retail Group melakukan evaluasi terhadap semua vendor. Perusahaan kita termasuk yang nilainya paling buruk dalam akurasi pengiriman dan transparansi biaya.”

Jantung Reza langsung berdebar.

Seorang manajer bertanya, “Apakah kontraknya dihentikan?”

Surya mengangguk.

“Kecuali kita berhasil meyakinkan mereka dalam presentasi ulang minggu depan.”

Lalu muncul slide terakhir.

Nama pemimpin tim evaluasi tercantum di sana.

Sintawati Darmawan.

Reza merasakan darahnya seolah berhenti mengalir.

Setelah rapat selesai, Surya memanggilnya.

“Reza.”

“Iya, Pak.”

“Kamu akan ikut presentasi.”

Reza tercekat.

“Kenapa saya?”

“Karena sebagian kegagalan sebelumnya berasal dari strategi timmu.”

Surya menatapnya tajam.

“Dan satu hal lagi. Saya dengar kamu pernah mengenal Bu Sintawati secara pribadi.”

Reza menegang.

“Sedikit.”

“Kalau begitu jangan melakukan kebodohan. Dia terkenal profesional. Jangan coba membawa urusan pribadi.”

Seminggu kemudian, Reza memasuki kantor pusat Arunika.

Gedung itu berada di kawasan bisnis Jakarta, dengan lobi tinggi dan dinding kaca.

Di lantai dua puluh satu, ia bersama atasannya duduk di sebuah ruang rapat panjang.

Beberapa menit kemudian pintu terbuka.

Sinta masuk.

Tidak ada blus rumahan.

Tidak ada celemek.

Ia mengenakan setelan kerja sederhana berwarna gelap, membawa tablet, dan didampingi beberapa direktur.

Semua orang berdiri.

“Selamat pagi, Bu Sinta.”

“Pagi. Silakan duduk.”

Sinta melewati Reza tanpa ekspresi.

Presentasi berlangsung hampir dua jam.

Ia menanyakan angka dengan detail yang bahkan membuat direktur keuangan perusahaan Reza berkeringat.

“Biaya distribusi wilayah Jabodetabek naik dua belas persen, tetapi tingkat ketepatan pengiriman justru turun. Bisa jelaskan?”

Direktur operasional mencoba menjawab.

Sinta kembali bertanya.

“Kalau alasannya kenaikan biaya bahan bakar, kenapa vendor pembanding hanya naik empat persen?”

Ruangan hening.

Reza baru menyadari sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama menikah.

Sinta sangat tajam.

Ia memahami angka.

Memahami strategi.

Memahami negosiasi.

Lebih dari sebagian besar orang di ruangan itu.

Dan ironisnya, selama bertahun-tahun Reza merasa malu karena menganggap istrinya tidak cukup pintar untuk berbicara dengan rekan kerjanya.

Setelah rapat selesai, tim Arunika keluar untuk berdiskusi.

Dua puluh menit kemudian mereka kembali.

Sinta membuka keputusan.

“Kami tetap memberi perusahaan Anda kesempatan selama tiga bulan, dengan beberapa syarat perbaikan.”

Wajah Surya langsung lega.

“Terima kasih, Bu.”

Sinta mengangguk.

“Keputusan ini murni berdasarkan potensi perbaikan operasional, bukan hubungan pribadi dengan siapa pun.”

Tatapannya sempat bertemu Reza.

Hanya sebentar.

Tetapi Reza memahami maksudnya.

Sinta tidak menghancurkan kariernya.

Padahal ia bisa saja melakukannya dengan mudah.

Setelah semua orang meninggalkan ruangan, Reza sengaja menunggu.

“Sinta.”

Sinta berhenti.

“Aku mau bicara.”

“Aku punya rapat lagi.”

“Lima menit saja.”

Sinta akhirnya duduk kembali.

Reza berdiri di depannya, tetapi kali ini sikapnya berbeda.

Tidak ada kesombongan.

“Aku minta maaf.”

Sinta diam.

“Aku tahu mungkin sekarang terdengar terlambat.”

“Memang terlambat.”

Reza mengangguk.

“Aku memperlakukanmu buruk.”

Sinta menatap jendela.

“Kamu bukan meninggalkanku karena aku miskin, Reza.”

“Aku tahu.”

“Bukan juga karena aku tidak berpendidikan.”

Reza perlahan mengangkat wajah.

Sinta menatapnya.

“Kamu meninggalkanku karena kamu menganggap manusia bisa dinilai dari gelar, jabatan, dan siapa yang terlihat lebih tinggi.”

Kalimat itu membuat Reza tidak mampu membantah.

“Aku bodoh.”

“Bukan.”

Sinta menggeleng.

“Kamu hanya terlalu sibuk merasa lebih baik daripada orang lain.”

Reza menarik napas.

“Kalau aku minta kita mulai lagi?”

Sinta menatapnya cukup lama.

Kemudian ia tersenyum.

“Aku sudah memulai lagi.”

Reza langsung memahami jawabannya.

Beberapa bulan setelah perceraian, Sinta memang kembali aktif mengelola perusahaan keluarga setelah ayahnya menjalani operasi jantung.

Porsche yang dilihat Reza bukan hadiah dari ayahnya.

Mobil itu dibeli Sinta dari keuntungan investasinya sendiri setelah berhasil menyelesaikan restrukturisasi salah satu anak perusahaan Arunika.

Namun masih ada satu rahasia terakhir yang belum diketahui Reza.

Rahasia itu baru terungkap saat acara ulang tahun Arunika ke tiga puluh lima.

Sinta berdiri di atas panggung di hadapan ratusan karyawan.

Di sampingnya, Darmawan Wijaya mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua kelompok usaha.

“Mulai tahun depan,” katanya, “kepemimpinan Arunika akan diteruskan oleh orang yang selama sepuluh tahun belajar bisnis dari bawah tanpa pernah meminta perlakuan istimewa.”

Layar besar menampilkan foto Sinta saat masih muda.

Memakai seragam gudang.

Menata kardus.

Menjadi kasir.

Mengunjungi pasar.

Belajar bersama karyawan.

“Putri saya tidak memiliki ijazah universitas,” lanjut Darmawan. “Tapi dia mengajari saya bahwa pendidikan tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan sekolah.”

Sinta menahan air mata.

Di barisan tamu undangan, Reza berdiri diam.

Perusahaannya termasuk salah satu mitra bisnis yang hadir.

Untuk pertama kalinya, ia mendengar seluruh kisah yang bahkan dulu tidak pernah sempat ia tanyakan.

Setelah ibunya sakit, Sinta berhenti sekolah untuk merawatnya.

Setelah ibunya meninggal, ia menolak langsung menikmati fasilitas keluarga.

Ia meminta kesempatan belajar dari posisi terbawah.

Diam-diam ia mengikuti berbagai kursus bisnis, membaca laporan keuangan setiap malam, belajar bahasa Inggris, mengikuti program pendidikan daring, dan selama bertahun-tahun membantu menyelamatkan beberapa usaha keluarga yang hampir bangkrut.

Tidak ada gelar yang terpajang di dinding.

Namun pengalaman hidupnya jauh melampaui selembar ijazah.

Setelah acara selesai, Reza melihat Sinta berdiri bersama ayahnya.

Ia tidak menghampiri.

Ia hanya menatap dari jauh.

Saat itulah Vina, yang beberapa bulan sebelumnya telah meninggalkannya setelah mengetahui karier Reza terancam, mengirim sebuah pesan.

Kamu pulang jam berapa? Aku mau mengambil beberapa barangku yang tertinggal.

Reza membaca pesan itu lalu mematikan layar.

Untuk pertama kali ia benar-benar memahami ironi hidupnya.

Ia meninggalkan perempuan yang setia karena mengejar seseorang yang membuatnya merasa lebih bergengsi.

Pada akhirnya, perempuan yang ia rendahkan terus naik tanpa perlu membuktikan apa pun kepadanya.

Sementara orang yang ia pilih ternyata hanya tertarik pada citra yang selama ini ia banggakan.

Beberapa tahun kemudian Sinta memimpin Arunika melalui ekspansi besar ke berbagai kota di Indonesia.

Namun ia tetap mengunjungi warung kecil di Bogor tempat ia dahulu belajar berdagang.

Warung itu kemudian diubah menjadi pusat pelatihan gratis bagi perempuan yang putus sekolah.

Di dinding utama bangunan tersebut tidak ada foto Sinta.

Hanya ada satu kalimat sederhana.

Nilai seseorang tidak ditentukan oleh sekolah terakhir yang berhasil ia selesaikan, tetapi oleh seberapa jauh ia terus belajar setelah kehidupan memaksanya berhenti.

Suatu sore, Sinta berdiri di depan bangunan itu ketika ayahnya bertanya,

“Kamu masih marah kepada Reza?”

Sinta tersenyum.

“Tidak.”

“Sudah memaafkan?”

“Sudah lama.”

“Kalau begitu kenapa tidak pernah kembali?”

Sinta memandang beberapa perempuan muda yang sedang mengikuti pelatihan di dalam ruangan.

“Karena memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya kesempatan untuk kembali ke tempat yang sama.”

Darmawan tersenyum kecil.

Sinta kemudian berjalan menuju mobilnya.

Bukan Porsche hitam yang dulu membuat Reza terpana.

Hari itu ia memilih mengendarai mobil sederhana milik pusat pelatihan.

Sebelum masuk, ia menatap papan nama warung lama itu sekali lagi.

Dahulu Reza menganggap kesederhanaannya sebagai bukti bahwa ia tidak memiliki apa-apa.

Padahal kesederhanaan itu justru pilihannya.

Dan akhirnya, Sinta memahami satu hal yang jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan keluarganya.

Orang yang benar-benar menghargai kita tidak akan menunggu sampai mengetahui siapa keluarga kita, berapa jumlah uang kita, atau seberapa tinggi posisi kita untuk memperlakukan kita dengan hormat.

Karena cinta yang membutuhkan bukti kekayaan bukanlah cinta.

Dan penghormatan yang baru muncul setelah melihat keberhasilan hanyalah penyesalan yang datang terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang