“Kalau kamu memang sudah membeli apartemen itu, ya pergi saja sendiri!”
Suara Bu Ratna memecah ruang makan hingga sendok di tangan Maya terasa bergetar.
“Anakku tetap di sini bersamaku. Jangan kira hanya karena sekarang kamu punya sedikit uang, kamu bisa membawa Ferdi pergi seenaknya!”
Maya menatap perempuan di seberang meja itu tanpa berkata apa-apa.
Lalu pandangannya beralih kepada Ferdi.
Suaminya masih menunduk.
Persis seperti biasanya.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, diamnya Ferdi tidak lagi menyakiti Maya.
Karena Maya sudah tahu sesuatu yang tidak diketahui Bu Ratna.
Dia memang akan pergi sendiri.
Dan Ferdi tidak akan pernah menginjakkan kaki di apartemen barunya.
Maya berdiri perlahan.
“Baik, Bu.”
Bu Ratna tampak terkejut mendengar jawaban sesingkat itu.
“Apa?”
“Saya akan pergi sendiri.”
Ferdi akhirnya mengangkat kepala.
“Maya, jangan mulai lagi.”
Maya hampir tertawa.
Selama tiga tahun, setiap kali dia mencoba membicarakan rumah tangga mereka, Ferdi selalu mengatakan kalimat yang sama.
Jangan mulai lagi.
Seolah semua masalah mereka muncul hanya karena Maya berani membicarakannya.
“Saya tidak sedang memulai apa pun, Ferdi.”
Maya menarik kursinya masuk.
“Saya justru sedang mengakhirinya.”
Wajah Ferdi berubah.
Bu Ratna langsung mencibir.
“Mengakhiri apa? Jangan sok mengancam. Besok juga kamu pasti masih bangun pagi dan memasak seperti biasa.”
Maya tidak menjawab.
Dia berjalan menuju kamar.
Di belakang lemari, sebuah koper besar sudah menunggu.
Sebagian pakaian telah dikemas sejak seminggu sebelumnya. Dokumen pribadi, buku tabungan, sertifikat kepemilikan apartemen, laptop, serta beberapa barang yang benar-benar penting sudah dimasukkan lebih dahulu.
Tetapi ada satu map yang sengaja Maya tinggalkan di luar koper.
Map berwarna cokelat.
Di dalamnya terdapat hasil laboratorium teh herbal, bukti transaksi pembelian obat, salinan pesan Ferdi kepada pemasok, dan dokumen yang sudah disusun Linda untuk proses hukum berikutnya.
Maya duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya masih terasa dingin setiap kali mengingat kalimat Ferdi.
Selama dia belum hamil, dia tidak punya alasan untuk memaksaku pindah rumah dan memisahkanku dari ibuku.
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada semua hinaan Bu Ratna.
Maya pernah bertanya-tanya mengapa setelah tiga tahun menikah mereka belum memiliki anak.
Dia pernah menyalahkan dirinya sendiri.
Pernah menangis diam-diam setelah melihat hasil pemeriksaan hormonalnya tidak stabil.
Bahkan pernah meminta maaf kepada Ferdi.
“Aku takut ada yang salah denganku.”
Saat itu Ferdi memeluknya.
“Sudahlah. Mungkin memang belum waktunya.”
Sekarang Maya merasa jijik mengingat pelukan tersebut.
Laki-laki itu mengetahui penyebabnya.
Bahkan ikut menciptakannya.
Pintu kamar terbuka.
Ferdi berdiri di sana.
“Apa-apaan ini?”
Matanya tertuju pada koper.
Maya berdiri.
“Aku pindah malam ini.”
“Kamu serius?”
“Sangat.”
Ferdi masuk dan menutup pintu.
Untuk pertama kalinya, dia tampak benar-benar panik.
“Dengar dulu. Aku tahu Ibu keterlaluan tadi. Aku akan bicara dengannya.”
Maya menatapnya lama.
“Tiga tahun aku menunggu kalimat itu.”
“Aku memang salah.”
“Benar.”
“Kasih aku kesempatan.”
Maya menggeleng.
“Sudah habis.”
Ferdi menarik napas kasar.
“Maya, kita suami istri. Kamu tidak bisa tiba-tiba membeli apartemen dan pergi begitu saja tanpa membicarakannya denganku.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku suamimu!”
“Dan selama tiga tahun, kapan kamu bertindak seperti suamiku?”
Ferdi terdiam.
Maya mendekat.
“Ketika ibumu menghina ibuku karena bercerai, kamu diam. Ketika aku dilarang menjenguk keluargaku, kamu diam. Ketika ibumu menyebutku pemalas di depan tetangga, kamu diam. Bahkan ketika aku bilang tubuhku bereaksi aneh setelah minum teh yang dia berikan, kamu membentakku.”
“Maya…”
“Jadi jangan bicara soal suami sekarang.”
Ferdi mengepalkan tangannya.
“Aku melakukan semuanya supaya keluarga ini tetap utuh.”
Kalimat itu membuat Maya membeku.
“Semuanya?”
Ferdi seperti baru menyadari kesalahannya.
“Aku maksudnya…”
Maya membuka pintu kamar.

“Besok kita bicara lagi.”
“Kamu mau ke mana?”
“Ke tempat yang aman.”
Ferdi berusaha memegang lengannya, tetapi Maya mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Nada suaranya begitu tenang hingga Ferdi langsung berhenti.
Maya menarik koper keluar.
Bu Ratna sudah berdiri di ruang tengah dengan tangan bersedekap.
“Bagus. Pergi saja. Nanti kalau uangmu habis, jangan kembali ke sini sambil menangis.”
Maya memasang sepatu.
“Tenang, Bu. Saya tidak akan kembali.”
Bu Ratna tertawa sinis.
“Kita lihat saja.”
Maya menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.
Tiga tahun lalu dia masuk melalui pintu tersebut sebagai pengantin baru dengan sebuah koper kecil dan harapan besar.
Malam itu dia keluar membawa koper yang jauh lebih berat, tetapi hatinya justru terasa jauh lebih ringan.
Apartemen yang dibeli Maya tidak mewah.
Unit dua kamar di kawasan Bandung Timur itu bahkan masih berbau cat baru.
Hanya ada sebuah sofa kecil, kasur, meja lipat, dan beberapa kardus berisi produk usahanya.
Namun ketika Maya menutup pintu untuk pertama kalinya dan menyadari tidak ada seorang pun yang bisa membentaknya karena pulang terlambat atau melarangnya menemui ibunya, air matanya langsung jatuh.
Dia duduk di lantai.
Menangis hampir setengah jam.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena baru menyadari betapa lama dirinya hidup dalam ketakutan.
Pukul sebelas malam, Linda menelepon.
“Kamu sudah keluar?”
“Sudah.”
“Ferdi tahu soal hasil lab?”
“Belum.”
“Bagus. Jangan beri tahu dulu. Besok kita lanjutkan sesuai rencana.”
Keesokan paginya, telepon Maya dipenuhi pesan.
Ferdi mengirim dua puluh tiga pesan.
Bu Ratna sebelas.
Awalnya Ferdi memohon.
Maya, pulang dulu. Kita bicara baik-baik.
Kemudian berubah menjadi marah.
Kamu mempermalukan aku dan Ibu.
Lalu kembali memohon.
Aku janji kita bisa pindah kalau itu yang kamu mau.
Maya hanya membalas satu pesan.
Kita bertemu pukul empat sore. Linda akan hadir.
Ferdi langsung menelepon.
Maya tidak mengangkatnya.
Pertemuan dilakukan di kantor Linda.
Ferdi datang bersama Bu Ratna.
Begitu melihat Linda, wajah Bu Ratna berubah masam.
“Kenapa urusan keluarga dibawa ke pengacara?”
Linda mempersilakan mereka duduk.
“Karena masalahnya sudah melampaui urusan keluarga.”
Ferdi menatap Maya.
“Kamu mau cerai?”
Maya mendorong sebuah amplop ke hadapannya.
“Aku ingin kamu membaca sesuatu dulu.”
Ferdi membuka amplop itu.
Wajahnya kehilangan warna saat melihat halaman pertama.
Bu Ratna merebut kertas tersebut.
“Apa ini?”
“Hasil pemeriksaan laboratorium,” jawab Maya.
Ruangan langsung sunyi.
Maya memperhatikan tangan Bu Ratna mulai gemetar.
“Itu… pasti salah.”
“Laboratorium melakukan pemeriksaan ulang.”
“Saya cuma memberi jamu!”
“Jamu tidak seharusnya mengandung obat penenang berkadar tinggi dan senyawa obat hormonal seperti yang ditemukan pada sampel.”
Bu Ratna menoleh kepada Ferdi.
Tatapan singkat itu cukup.
Maya melihatnya.
Linda juga.
Ferdi segera berkata, “Aku bisa menjelaskan.”
Maya mengeluarkan kertas kedua.
Bukti transaksi.
Nama Ferdi tercetak jelas.
“Aku menunggu penjelasanmu.”
Ferdi pucat.
“Ibu yang meminta aku membelinya.”
Bu Ratna langsung berdiri.
“Ferdi!”
“Memang Ibu yang menyuruh!”
“Ibu tidak pernah menyuruhmu melakukan apa pun!”
Maya terpaku.
Dalam hitungan detik, ibu dan anak yang selama bertahun-tahun tampak tidak terpisahkan mulai saling menyalahkan.
Ferdi menunjuk ibunya.
“Ibu bilang kalau Maya punya anak, dia pasti akan memaksaku keluar dari rumah!”
Bu Ratna membalas dengan suara meninggi.
“Tapi kamu yang bilang dosisnya harus ditambah karena dia mulai curiga!”
Maya menahan napas.
Linda diam-diam menggeser ponselnya di atas meja.
Ferdi baru menyadari apa yang baru saja diucapkan ibunya.
“Ibu…”
Bu Ratna menutup mulut.
Terlambat.
Linda berbicara tenang.
“Saya rasa pertemuan ini sudah cukup.”
Bu Ratna mulai panik.
“Maya, dengarkan Ibu. Ibu tidak berniat mencelakakan kamu.”
“Lalu apa niat Ibu?”
“Kami hanya… ingin menunda kehamilanmu.”
“Tanpa sepengetahuan saya?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Maya menatap Ferdi.
“Dan obat penenangnya?”
Ferdi mengusap wajah.
“Awalnya supaya kamu tidur lebih cepat.”
“Kenapa?”
Ferdi diam.
“Jawab.”
Karena terdesak, akhirnya dia berkata pelan.
“Supaya kamu berhenti mengerjakan bisnis itu malam-malam.”
Maya merasa dadanya seperti dihantam.
Jadi mereka tahu.
“Sejak kapan kamu tahu soal usahaku?”
“Sudah lama.”
“Tapi kamu pura-pura tidak tahu?”
Ferdi menunduk.
Maya tertawa kecil, tetapi matanya dipenuhi air.
“Luar biasa.”
Ferdi mendekat.
“Maya, aku takut kehilangan kamu.”
“Tidak. Kamu takut kehilangan kendali atas aku.”
Kalimat itu membuat Ferdi berhenti.
Maya bangkit.
“Selama ini aku mengira kelemahanmu adalah tidak mampu melawan ibumu. Ternyata aku salah. Kamu bukan korban dari ibumu. Kalian hanya saling membutuhkan untuk mengendalikan orang lain.”
Proses berikutnya berjalan jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan Ferdi.
Maya memilih mengakhiri pernikahan.
Semua bukti diserahkan melalui jalur hukum dengan pendampingan Linda. Maya juga menjalani pemeriksaan medis lanjutan untuk memastikan kondisinya dipantau secara profesional.
Sementara itu, usaha kecil yang selama ini dia jalankan diam-diam justru berkembang pesat.
Toko suvenir yang pernah memesan 120 lilin memperkenalkannya kepada jaringan penyelenggara acara.
Pesanan meningkat.
Maya menyewa dua pekerja.
Kamar produksi kecil di Kiaracondong ditinggalkan dan diganti dengan ruang kerja yang lebih layak.
Enam bulan kemudian, Maya berdiri di dalam sebuah studio produksi baru ketika seorang kurir mengantarkan surat.
Pengirimnya Bu Ratna.
Maya hampir membuangnya.
Namun akhirnya dia membuka amplop tersebut.
Tulisan tangan Bu Ratna tampak tidak serapi biasanya.
Maya membaca perlahan.
Bu Ratna tidak meminta Maya kembali.
Tidak juga meminta Maya mencabut proses yang sedang berjalan.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu mengakui sesuatu.
Sejak suaminya meninggal, Bu Ratna takut ditinggalkan.
Ferdi menjadi satu-satunya orang yang bisa dia kendalikan agar tetap berada di sisinya.
Ketika Maya datang, dia melihat menantunya bukan sebagai keluarga, melainkan ancaman.
Dan setiap kali Ferdi menuruti kemauannya, ketakutan itu berubah menjadi keyakinan bahwa tindakannya benar.
Di bagian akhir tertulis satu kalimat.
“Ibu selalu takut kehilangan anak, sampai tidak sadar bahwa cara Ibu mempertahankannya justru menghancurkan hidup anak Ibu sendiri.”
Maya melipat surat itu.
Dia tidak merasa puas.
Tidak pula merasa perlu memaafkan semuanya.
Ada luka yang tidak selesai hanya karena pelakunya akhirnya mengakui kesalahan.
Namun untuk pertama kalinya, Maya bisa membaca nama Bu Ratna tanpa merasa takut.
Beberapa minggu kemudian, ibunya datang berkunjung ke apartemen.
Perempuan yang dulu dihina Bu Ratna karena status perceraiannya itu berdiri di balkon sambil memandangi matahari sore.
“Jadi ini apartemen yang bikin ribut itu?”
Maya tertawa.
“Iya.”
Ibunya menatap ke dalam.
“Tidak besar.”
“Memang.”
“Cicilannya berat?”
“Lumayan.”
Ibunya mengangguk, lalu tersenyum.
“Tapi kelihatannya tenang.”
Maya terdiam.
Dia memandang ruang tamu sederhana itu.
Ada kardus pesanan di sudut ruangan.
Laptop terbuka di meja.
Beberapa sampel lilin berjejer di rak.
Tidak ada meja makan mahoni.
Tidak ada cangkir keramik bermotif bunga.
Tidak ada suara yang mengatakan dia tidak tahu diri.
“Tenang sekali, Bu.”
Ibunya menggenggam tangannya.
Barulah Maya memahami sesuatu.
Apartemen itu bukan kemenangan terbesarnya.
Bukan pula bisnis yang berkembang.
Bukan rekening bank yang kembali terisi.
Bahkan bukan keberaniannya meninggalkan Ferdi.
Kemenangan terbesar Maya adalah kenyataan bahwa sekarang, setiap malam sebelum tidur, dia bisa membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri.
Dia tahu persis apa yang ada di dalamnya.
Dia tahu siapa yang membuatnya.
Dan jika suatu hari dia ingin meninggalkan cangkir itu tanpa menghabiskannya, tidak ada seorang pun yang berhak memaksanya.
Malam itu Maya berdiri di balkon dengan secangkir teh hangat di tangan.
Di bawah sana, lampu Bandung mulai menyala satu per satu.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Maya membukanya.
Pesan itu berasal dari seorang perempuan bernama Sinta.
“Saya mendapat nomor Mbak Maya dari Bu Linda. Saya akan menikah dengan Ferdi dua bulan lagi. Kemarin Bu Ratna mulai memberi saya teh herbal setiap malam. Katanya supaya saya lebih cepat hamil. Saya takut. Boleh saya bicara dengan Mbak?”
Maya menatap layar cukup lama.
Darahnya terasa dingin.
Ternyata pengakuan dalam surat itu tidak pernah benar-benar menjadi akhir.
Dia meletakkan cangkirnya.
Kemudian mengetik balasan.
“Tentu. Jangan minum apa pun yang mereka berikan. Simpan sampelnya. Besok pagi kita bertemu.”
Maya menekan tombol kirim.
Kali ini, dia tidak gemetar.
Karena tiga tahun lalu tidak ada seorang pun yang memperingatkannya.
Tetapi mungkin seluruh penderitaan yang pernah dia lalui akhirnya memiliki satu arti.
Rantai itu berhenti padanya.
Dan kali ini, perempuan berikutnya tidak perlu menunggu tiga tahun untuk menemukan jalan keluar.
