Santi masih berdiri membeku di depan cermin ketika Hendra akhirnya bangkit dari tempat tidur. Pria itu menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan tangan, lalu mengenakan kemeja putih yang sudah tergantung rapi di balik pintu kamar. Di wajahnya tidak terlihat sedikit pun kecemasan. Justru senyum tipis yang muncul membuat Santi semakin gelisah.
“Mas, kamu ini kenapa bisa setenang itu?” tanya Santi lirih.
Hendra mengancingkan lengan bajunya tanpa tergesa-gesa.
“Karena aku tahu orang-orang kampung cuma bisa ngomong. Mereka berani bergosip, tapi belum tentu berani bertindak.”
“Kali ini rasanya beda.”

“Kamu terlalu banyak mikir.”
Santi ingin membalas, tetapi ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk ke grup ibu-ibu kampung. Ia membukanya dengan tangan gemetar.
“Siang nanti ada pertemuan warga di balai desa. Semua diminta hadir. Akan ada tamu penting yang ingin menyampaikan sesuatu tentang pembangunan jalan.”
Jantung Santi serasa berhenti berdetak.
“Mas…” suaranya bergetar. “Ada rapat warga.”
Hendra melirik sekilas.
“Datang saja.”
“Kalau mereka mulai menyerang kita?”
“Kita hadapi.”
“Kalau mereka bawa bukti?”
Hendra tersenyum kecil.
“Bukti apa?”
Ucapan itu memang terdengar meyakinkan, tetapi justru membuat Santi semakin tidak tenang. Selama ini semua pengeluaran dana pembangunan memang diurus Hendra. Sebagai ketua RW, ia dihormati sekaligus disegani. Warga percaya kepadanya selama bertahun-tahun.
Namun hanya Santi yang tahu bagaimana sebagian dana perbaikan jalan perlahan berubah menjadi mobil baru, renovasi rumah, hingga perhiasan yang kini memenuhi lemari mereka.
Menjelang siang, balai desa mulai dipenuhi warga.
Suasana berbeda dari biasanya.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada obrolan ringan.
Semua tampak saling berbisik sambil sesekali melirik ke arah Hendra dan Santi yang baru datang.
Bu Lasmi menghampiri Bu Sumi.
“Katanya tamunya orang penting dari Jakarta.”
“Iya. Aku dengar rumah besar yang kosong itu sekarang sudah ada pemiliknya.”
“Jangan-jangan ada hubungannya.”
Santi mendengar percakapan itu.
Dadanya semakin sesak.
Tak lama kemudian sebuah SUV hitam berhenti di depan balai desa.
Semua kepala menoleh.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria sekitar lima puluh tahun turun lebih dulu mengenakan kemeja sederhana. Di belakangnya muncul seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh, lalu seorang pria muda membawa map hitam tebal.
Tidak seorang pun mengenali mereka.
Kepala desa segera menyambut rombongan itu dengan hormat.
“Warga sekalian,” katanya melalui mikrofon. “Hari ini kita kedatangan pemilik baru rumah di ujung jalan.”
Suasana langsung ramai.
“Perkenalkan, beliau Pak Surya.”
Pak Surya berdiri dan mengangguk sopan.
“Saya membeli rumah itu beberapa bulan lalu. Awalnya saya hanya ingin tinggal dengan tenang setelah pensiun.”
Semua mendengarkan.
“Tetapi setelah beberapa hari tinggal di sini, saya melihat sesuatu yang membuat saya prihatin.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Jalan utama kampung ini rusak parah. Padahal menurut data pemerintah kabupaten, dana perbaikannya sudah dicairkan dua kali.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
Santi menelan ludah.
Pak Surya melanjutkan.
“Karena penasaran, saya meminta tim saya melakukan pengecekan.”
Pria muda di sampingnya membuka map hitam.
Ia mulai membagikan beberapa lembar fotokopi kepada kepala desa.
“Ini salinan laporan anggaran. Ini foto kondisi jalan sebelum dan sesudah dana cair. Dan ini hasil audit independen.”
Wajah Hendra masih berusaha tenang.
Namun tangannya mulai berkeringat.
Pak Surya belum selesai.
“Saya tidak datang untuk menuduh siapa pun.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi saya percaya masyarakat berhak mengetahui ke mana uang mereka digunakan.”
Ruangan langsung riuh.
“Betul!”
“Selama ini kita dibohongi!”
“Makanya jalannya tidak pernah selesai!”
Kepala desa memandang Hendra.
“Pak Hendra… mungkin ada penjelasan?”
Semua mata tertuju kepadanya.
Hendra berdiri perlahan.
Ia tersenyum.
“Dokumen seperti itu mudah dipalsukan.”
Beberapa warga mengangguk.
Namun pria muda tadi kembali berdiri.
“Semua dokumen ini berasal dari sistem resmi pemerintah daerah.”
Ia kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Dan ini rekaman CCTV toko material.”
Layar proyektor dinyalakan.
Video mulai diputar.
Tampak truk pengangkut batu datang hanya sekali.
Padahal laporan menyebutkan pengiriman terjadi delapan belas kali.
Ruangan kembali gaduh.
Hendra mulai kehilangan senyumnya.
“Itu belum tentu benar!”
Pria muda itu mengangguk.
“Karena itu kami juga membawa saksi.”
Seorang sopir tua masuk ke balai desa.
Semua mengenalnya.
“Itu Pak Darto.”
Pak Darto menghela napas panjang.
“Saya disuruh tanda tangan delapan belas surat jalan. Padahal saya cuma antar sekali.”
Suasana benar-benar meledak.
Santi merasa lututnya lemas.
Namun kejutan belum berhenti.
Pak Surya menatap Hendra.
“Pak Hendra.”
“Apa?”
“Apakah Bapak masih ingat saya?”
Hendra mengernyit.
“Tidak.”
“Dua puluh tahun lalu saya pernah tinggal di kampung ini.”
Hendra tampak berpikir.
“Waktu itu saya masih menjadi staf inspektorat daerah.”
Mata Hendra membesar.
Ia mulai mengingat sesuatu.
Pak Surya tersenyum tipis.
“Saya memang sudah pensiun. Tapi saya masih diminta membantu beberapa kasus pengawasan pembangunan desa.”
Ruangan kembali sunyi.
Santi menoleh ke arah suaminya.
Wajah Hendra kini benar-benar pucat.
“Mas…”
Pak Surya melanjutkan.
“Sebenarnya saya sudah mengetahui dugaan penyimpangan ini sejak beberapa bulan lalu.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Saya ingin memastikan semuanya berdasarkan bukti, bukan gosip.”
Kalimat itu seperti tamparan bagi seluruh warga.
Selama ini mereka hanya saling membicarakan.
Tidak ada yang benar-benar mencari fakta.
Kini fakta itu berdiri di depan mata.
Hendra mencoba tersenyum lagi.
“Kalaupun ada kekurangan administrasi, itu bisa diperbaiki.”
Pak Surya menggeleng.
“Masalahnya bukan administrasi.”
Pria muda itu mengeluarkan beberapa foto.
Foto-foto rumah Hendra sebelum dan sesudah proyek.
Foto mobil baru.
Foto transaksi pembelian perhiasan.
Semua dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan pencairan dana jalan.
Santi menutup mulutnya.
Ia tidak tahu bahwa semua itu sudah didokumentasikan.
Seorang warga berdiri.
“Pak Hendra… selama ini kami percaya sama Bapak.”
Yang lain ikut berdiri.
“Kami gotong royong.”
“Kami menyumbang tenaga.”
“Kami bahkan menambah uang pribadi.”
“Kenapa tega?”
Suasana berubah menjadi penuh kemarahan.
Hendra mulai mundur beberapa langkah.
“Aku bisa jelaskan…”
Namun suaranya tenggelam oleh teriakan warga.
Saat keadaan hampir tidak terkendali, terdengar suara sirene dari luar.
Dua mobil polisi memasuki halaman balai desa.
Beberapa petugas turun dengan tenang.
Seorang perwira menghampiri kepala desa.
“Kami menerima laporan lengkap beserta hasil audit.”
Santi langsung menangis.
Ia memegang tangan suaminya erat-erat.
“Mas… kita bagaimana?”
Hendra tidak mampu menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia benar-benar kehilangan semua kata.
Petugas mempersilakan Hendra ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Tidak ada borgol.
Tidak ada bentakan.
Tetapi langkah Hendra terasa jauh lebih berat daripada rantai apa pun.
Saat melewati warga, tidak seorang pun menatapnya dengan hormat lagi.
Yang tersisa hanyalah rasa kecewa.
Santi terduduk di kursi balai desa.
Air matanya tidak berhenti mengalir.
Bu Lasmi yang selama ini sering menjadi sasaran kesombongannya justru mendekat.
“Bu Santi.”
Santi menunduk.
“Aku tahu Ibu marah sama saya.”
Bu Lasmi menghela napas.
“Bukan marah.”
“Lalu?”
“Sedih.”
Santi menangis semakin keras.
“Kalau saja dulu kalian hidup sederhana, kalian sebenarnya sudah cukup dihormati.”
Kalimat itu menembus hati Santi lebih dalam daripada semua teriakan warga.
Beberapa bulan kemudian, jalan kampung akhirnya benar-benar diperbaiki.
Bukan karena janji.
Bukan karena pencitraan.
Melainkan karena seluruh proses dilakukan secara terbuka.
Setiap pengeluaran ditempel di papan informasi.
Setiap warga boleh memeriksa.
Rumah megah Hendra akhirnya dijual untuk mengembalikan sebagian kerugian.
Mobil mewahnya disita.
Perhiasan yang selama ini dibanggakan Santi ikut dilelang.
Sementara itu, Pak Surya tetap tinggal di rumah besar di ujung jalan.
Namun berbeda dengan dugaan banyak orang, ia tidak pernah mencampuri urusan kampung secara berlebihan.
Ia hanya sesekali membantu memberi saran jika diminta.
Suatu sore, ketika jalan baru itu akhirnya selesai diaspal, anak-anak berlarian dengan gembira sambil bersepeda.
Tawa mereka memenuhi udara.
Bu Lasmi melihat Santi yang kini bekerja di warung kecil dekat rumah kontrakannya.
Tidak ada lagi pakaian mahal.
Tidak ada lagi kacamata hitam bermerek.
Tidak ada lagi kesombongan.
Santi menunduk ketika mata mereka bertemu.
Namun Bu Lasmi justru tersenyum.
Santi membalas senyum itu dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Ia akhirnya mengerti bahwa kekayaan bukanlah alasan seseorang dihormati.
Orang mungkin bisa membeli rumah yang paling megah, mobil yang paling mahal, atau perhiasan yang paling berkilau.
Tetapi kepercayaan tidak pernah bisa dibeli.
Dan sekali kepercayaan itu hilang, tidak ada harta sebanyak apa pun yang mampu mengembalikannya seperti semula.
