SAYA KEMBALI KARENA KACAMATA YANG TERTINGGAL DAN MELIHAT MERTUA MENAMPAR PUTRIKU. MEREKA SELALU MEREMEHKAN BENGKEL KECILKU, TANPA TAHU PERUSAHAAN MEREKA BERGANTUNG PADA SAYA!

Kartika tidak menunggu satu detik pun.

Ia meraih kunci mobil, memasukkan kotak besi milik Santi ke dalam tas, lalu menelepon Guntur sambil berjalan cepat menuju garasi.

“Hubungi orang keamanan kita. Saya butuh dua orang ke rumah Rendra sekarang. Jangan masuk sebelum saya tiba. Dan satu lagi, cari semua data tentang CV Mandiri Jaya, termasuk pinjaman, rekening, notaris, dan siapa yang menerima uangnya.”

“Baik, Bu.”

“Kalau ada satu dokumen pun yang menggunakan nama Santi tanpa sepengetahuannya, saya ingin tahu malam ini juga.”

Perjalanan dari rumah Kartika menuju Pondok Indah terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu merah seolah sengaja menahannya. Setiap detik membuat bayangan pipi Santi yang memerah kembali memenuhi kepalanya.

Saat mobil berhenti di depan rumah keluarga Rendra, gerbang dalam keadaan tertutup.

Kartika menekan bel berkali-kali.

Tidak ada jawaban.

Ia menelepon Rendra.

Panggilan pertama ditolak.

Panggilan kedua juga.

Baru pada panggilan ketiga, Rendra mengangkat.

“Ibu? Ada apa malam-malam begini?”

“Buka gerbang.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Suara Rendra berubah tegang.

“Santi sudah tidur, Bu. Kami baru saja menyelesaikan salah paham kecil. Besok saja.”

Kartika menatap jendela lantai dua. Tirainya tertutup, tetapi lampu kamar utama masih menyala.

“Aku tidak datang untuk mengobrol denganmu.”

“Bu, ini rumah saya.”

Kartika tersenyum tipis.

“Kalau begitu, lima menit lagi polisi yang akan mengetuk pintumu.”

Telepon langsung terputus.

Tidak sampai satu menit, gerbang terbuka.

Rendra berdiri di teras mengenakan kaus hitam dan celana rumah. Wajahnya terlihat kesal, tetapi ia berusaha tersenyum.

“Ibu terlalu membesar-besarkan masalah.”

Kartika berjalan melewatinya.

“Di mana Santi?”

“Di kamar.”

Kartika naik ke lantai dua. Di belakangnya, Rendra mulai panik.

“Bu, saya bilang dia sedang tidur.”

Kartika membuka pintu kamar.

Kosong.

Seprai berantakan. Sebuah lampu meja pecah di lantai.

Ponsel Santi tergeletak di bawah kursi dengan layar retak.

Kartika berbalik.

“Di mana anak saya?”

Rendra pucat.

“Tadi dia ada di sini.”

“Jangan bohong.”

“Santi keluar.”

“Lewat mana?”

Rendra terdiam.

Pada saat itu, Ibu Lastri keluar dari kamar sebelah.

“Apa-apaan ini?” bentaknya. “Datang tengah malam dan membuat keributan di rumah orang.”

Kartika menatapnya.

“Di mana Santi?”

Ibu Lastri mendengus.

“Anakmu pergi karena emosinya sendiri. Jangan menyalahkan keluarga kami.”

Kartika mendekat satu langkah.

“Sore tadi Anda menamparnya.”

Wajah Ibu Lastri langsung berubah.

Rendra menoleh cepat.

“Ibu?”

Kartika mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman.

Suara tamparan terdengar jelas.

Begitu juga ucapan Ibu Lastri.

Rendra menelan ludah.

Namun bukannya meminta maaf, Ibu Lastri justru berkata, “Dia memang perlu diajar.”

Kartika menatap wanita itu begitu lama hingga ruangan terasa membeku.

Kemudian ia berkata pelan, “Terima kasih. Sekarang saya tahu orang seperti apa yang selama ini tinggal bersama anak saya.”

Dua petugas keamanan Kartika tiba di lantai atas.

Salah satunya langsung memeriksa halaman belakang melalui balkon.

“Bu, ada pintu servis terbuka.”

Kartika turun melalui tangga belakang.

Di dekat dapur, ia melihat pecahan gelang di lantai.

Gelang milik Santi.

Ia memungutnya dengan tangan gemetar.

Di luar, jejak tanah mengarah menuju garasi belakang.

Namun tidak ada Santi.

Yang ada hanya mobil Rendra dengan bagasi sedikit terbuka.

Kartika berhenti.

Rendra yang mengikuti dari belakang langsung berkata, “Itu mobil saya. Jangan macam-macam.”

Kartika membuka bagasinya.

Kosong.

Namun di sudut bagasi terdapat syal krem milik Santi dan bercak darah kecil.

Kali ini Kartika benar-benar merasa dunia di sekelilingnya berhenti.

Ia mengeluarkan ponsel.

“Saya menelepon polisi.”

Rendra langsung merebut lengannya.

“Jangan!”

Kartika menepis tangan itu.

“Kenapa?”

Rendra tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Dua puluh menit kemudian, polisi tiba.

Rendra dan Ibu Lastri mulai memberikan versi cerita berbeda. Rendra mengaku Santi pergi dengan taksi daring. Ibu Lastri mengatakan Santi dijemput seorang teman.

Ketika polisi meminta rekaman CCTV, mereka mengaku kamera sedang rusak.

Namun satu kamera di rumah tetangga merekam sesuatu.

Sekitar pukul sembilan malam, sebuah mobil milik PT Baja Perkasa keluar dari garasi belakang.

Di kursi penumpang tampak seorang perempuan menunduk.

Pengemudinya adalah Dimas, adik Rendra sekaligus direktur keuangan perusahaan keluarga mereka.

Kartika langsung menghubungi Guntur.

“Cari Dimas.”

“Sudah, Bu. Nomor ponselnya terdeteksi terakhir kali di daerah Cikarang.”

“Cikarang?”

Kartika terdiam.

PT Baja Perkasa memiliki gudang lama di kawasan industri Cikarang.

Mereka berangkat malam itu juga bersama polisi.

Gudang tersebut tampak gelap dari luar. Hanya satu lampu keamanan menyala.

Ketika pintu dibuka, bau besi dan debu menyambut mereka.

“Santi!” teriak Kartika.

Tidak ada jawaban.

Mereka menyisir ruangan demi ruangan sampai akhirnya seorang petugas mendengar suara dari kantor kecil di bagian belakang.

Pintunya terkunci.

Setelah dibuka paksa, Kartika melihat putrinya duduk di lantai dengan kedua tangan terikat menggunakan kabel plastik.

Mulutnya disumpal kain.

“Santi!”

Kartika berlari dan memeluknya.

Santi menangis begitu tubuhnya bebas.

“Ibu…”

“Sudah. Ibu di sini.”

Di sudut ruangan, polisi menemukan kamera kecil, setumpuk dokumen, serta mesin penghancur kertas.

Dimas ditemukan beberapa menit kemudian bersembunyi di ruang penyimpanan.

Ia tidak melawan saat diborgol.

Di kantor polisi, semuanya mulai terbuka.

CV Mandiri Jaya ternyata perusahaan cangkang yang dibuat dua tahun sebelumnya.

Nama Santi digunakan sebagai pemilik karena Rendra mengetahui istrinya memiliki riwayat keuangan bersih dan aset pribadi yang cukup besar.

Tanda tangan Santi dipalsukan untuk memperoleh pinjaman dari beberapa lembaga pembiayaan.

Dana sebesar Rp18 miliar tidak pernah masuk ke rekening Santi.

Uang tersebut dialihkan ke PT Baja Perkasa untuk menutup utang lama perusahaan.

“Kenapa mereka memilih nama saya?” tanya Santi dengan suara serak.

Guntur menatap Kartika sebelum menjawab.

“Karena mereka tahu Ibu Santi berasal dari keluarga yang punya aset.”

Santi mengerutkan dahi.

“Tapi mereka selalu menganggap keluarga saya miskin.”

“Bukan begitu,” kata Guntur.

Ia membuka dokumen.

“Tiga tahun lalu, Rendra menyewa jasa investigasi untuk mencari informasi tentang keluarga Ibu. Tapi laporan yang mereka dapat hanya menunjukkan beberapa bidang tanah atas nama Ibu Kartika dan bengkel di Bekasi. Mereka tidak berhasil menghubungkan Ibu Kartika dengan PT Samudra Utama karena sebagian besar kepemilikan perusahaan berada melalui holding.”

Kartika menatap putrinya.

Rendra ternyata pernah mencoba menyelidiki mereka.

Santi memejamkan mata.

“Jadi sejak awal…”

“Kami belum bisa menyimpulkan sejak awal,” kata polisi. “Tetapi ada indikasi kuat suami Anda mengetahui Anda memiliki aset jauh lebih banyak daripada yang Anda tunjukkan.”

Pagi harinya, Rendra dan Ibu Lastri diperiksa.

Awalnya mereka membantah.

Namun Dimas akhirnya bicara.

Ia mengaku malam itu Rendra memergoki Santi membaca dokumen pinjaman.

Terjadi pertengkaran.

Santi mengancam akan melapor.

Rendra kemudian memanggil Dimas.

Mereka membawa Santi ke gudang dengan alasan ingin “menenangkannya” sampai dokumen-dokumen yang bermasalah selesai dimusnahkan.

“Rendra bilang setelah semuanya beres, Kak Santi akan dilepas,” kata Dimas.

Kartika menatapnya dingin.

“Kalian menculik seorang perempuan dan menyebutnya menenangkan?”

Dimas menunduk.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Siang itu, Guntur membawa hasil audit sementara PT Baja Perkasa.

“Bu Kartika, kita menemukan sesuatu.”

Ia meletakkan satu folder tebal di meja.

PT Baja Perkasa ternyata sudah berada di ambang kebangkrutan hampir satu tahun.

Mereka bertahan karena satu hal.

Kontrak eksklusif pasokan komponen dari PT Samudra Utama.

Setiap bulan, Samudra Utama membayar mereka miliaran rupiah untuk memproduksi komponen tertentu.

Masalahnya, sebagian besar bahan baku, mesin, teknologi, bahkan pembiayaan operasional mereka juga berasal dari perusahaan-perusahaan di bawah grup Samudra Utama.

Singkatnya, keluarga yang selama ini menyombongkan kerajaan bisnisnya sebenarnya hidup dari jaringan perusahaan Kartika.

Ketika penghentian kontrak diberlakukan, efeknya langsung terasa.

Dalam dua hari, fasilitas kredit perdagangan ditarik.

Dalam tiga hari, pemasok menuntut pembayaran.

Dalam seminggu, PT Baja Perkasa gagal memenuhi kewajiban.

Rendra akhirnya meminta bertemu Kartika.

Pertemuan berlangsung di kantor pusat Samudra Utama.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rendra datang ke gedung itu sebagai seseorang yang memohon.

Ia terlihat jauh berbeda dari pria yang dulu duduk santai ketika istrinya ditampar.

“Bu, saya minta lima menit.”

Kartika duduk di balik meja.

Santi berada di sampingnya bersama pengacara.

Rendra melihat logo besar PT Samudra Utama di belakang mereka.

Kemudian pandangannya jatuh pada foto Kartika bersama jajaran direksi.

Wajahnya kehilangan warna.

“Ibu… pemilik Samudra Utama?”

Kartika tidak menjawab.

Rendra berdiri terpaku.

“Tidak mungkin.”

Santi tersenyum getir.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Ibumu… punya bengkel.”

Kartika mengangguk.

“Benar. Saya punya bengkel.”

Rendra seperti baru menyadari semuanya.

“Jadi selama ini perusahaan kami…”

“Bergantung pada bengkel kecil yang kalian tertawakan,” jawab Kartika.

Sunyi.

Rendra duduk perlahan.

“Bu, saya mengaku saya salah. Tapi kalau kontrak itu dihentikan, ribuan karyawan bisa terkena dampaknya.”

Kartika menatapnya.

“Itulah satu-satunya alasan saya masih mau mendengarkan.”

Rendra melihat secercah harapan.

“Saya bersedia memperbaiki semuanya.”

“Tidak.”

Harapan itu langsung padam.

“Karyawan kalian tidak akan saya korbankan karena kesalahan keluarga kalian.”

Kartika menggeser sebuah dokumen ke depan.

“Samudra Utama akan mengambil alih fasilitas produksi PT Baja Perkasa melalui proses hukum dan restrukturisasi utang. Karyawan yang tidak terlibat akan tetap bekerja.”

Rendra membaca halaman pertama.

Wajahnya semakin pucat.

“Tapi ini berarti keluarga kami kehilangan perusahaan.”

“Kalian sudah kehilangan perusahaan itu jauh sebelum saya menghentikan kontrak.”

Kartika menatapnya lurus.

“Kalian kehilangan perusahaan ketika mulai memalsukan dokumen, menggunakan nama istri sendiri untuk berutang, dan menganggap semua orang bisa diinjak selama kalian terlihat kaya.”

Rendra kemudian menoleh kepada Santi.

“Santi, kita bisa memperbaiki pernikahan kita.”

Santi tidak menjawab.

Rendra berdiri mendekat.

“Aku tahu aku salah. Tapi aku masih suamimu.”

Santi mengeluarkan sebuah map tipis.

Di dalamnya ada gugatan cerai.

“Aku tidak kehilangan suami malam ini, Rendra.”

Suaranya tenang.

“Aku baru sadar ternyata selama ini aku memang tidak pernah punya suami.”

Rendra membeku.

Beberapa bulan kemudian, kasus pemalsuan dokumen, penahanan paksa, dan penyalahgunaan data pribadi masuk ke pengadilan.

Rendra dan Dimas menjalani proses pidana.

Ibu Lastri juga diperiksa terkait beberapa transaksi dan dugaan keterlibatannya dalam pemalsuan dokumen.

Santi tidak kembali ke rumah mewah Pondok Indah.

Ia memilih tinggal sementara bersama Kartika.

Suatu sore, Kartika mengajaknya ke bengkel kecil di Bekasi.

Tempat yang dulu begitu sering diejek keluarga Rendra.

Mesin-mesin bubut masih bekerja.

Bau oli dan besi memenuhi udara.

Di salah satu dinding tergantung foto Kartika muda bersama suaminya.

Santi berdiri lama di depannya.

“Ayah pasti marah kalau tahu semua yang terjadi.”

Kartika tersenyum sedih.

“Ayahmu mungkin akan marah lima menit.”

“Lalu?”

“Setelah itu dia pasti menyuruh kita makan.”

Santi tertawa untuk pertama kali setelah berminggu-minggu.

Namun kemudian ia teringat sesuatu.

“Ibu.”

“Ya?”

“Malam itu aku sempat mengirim pesan tentang kotak biru.”

Kartika mengangguk.

“Aku mencarinya setelah kamu ditemukan. Tidak ada di bawah tempat tidur.”

Santi menatapnya aneh.

“Karena aku tidak bermaksud bilang kotak biru di bawah tempat tidur.”

Kartika terdiam.

“Lalu?”

Santi berjalan menuju lemari besi kecil di ruang kantor bengkel.

“Waktu aku mulai curiga pada Rendra enam bulan lalu, aku menyimpan bukti di tempat yang menurutku paling tidak mungkin dia datangi.”

Ia membuka lemari.

Di bagian bawah terdapat sebuah kotak perkakas tua berwarna biru milik ayahnya.

Santi mengangkatnya.

Di dalam kotak itu terdapat beberapa flashdisk dan sebuah buku catatan.

“Di bawah meja kerja Ayah,” katanya.

Kartika mengambil salah satu flashdisk.

Saat Guntur memeriksanya, mereka menemukan transaksi yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Bukan hanya Rendra yang memalsukan nama Santi.

Selama hampir empat tahun, PT Baja Perkasa diam-diam menyuap seorang manajer pengadaan di Samudra Utama untuk memenangkan kontrak dan menaikkan harga komponen.

Kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.

Skandal itu akhirnya menyeret beberapa orang dari perusahaan Kartika sendiri.

Santi ternyata bukan hanya menyelamatkan dirinya.

Tanpa sengaja, ia juga membongkar pengkhianatan di dalam kerajaan bisnis ibunya.

Malam setelah kasus itu selesai, Kartika dan Santi kembali duduk di depan bengkel.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada meja makan besar.

Hanya dua gelas teh hangat dan suara mesin yang mulai dimatikan satu per satu.

Santi menatap bangunan tua itu.

“Dulu aku malu kalau orang tahu keluarga kita kaya. Aku takut mereka mendekat karena uang.”

Kartika mengusap rambut putrinya.

“Sekarang?”

Santi tersenyum tipis.

“Sekarang aku tahu uang memang bisa menunjukkan wajah asli seseorang.”

Kartika menggeleng.

“Bukan uang.”

Santi menatapnya.

“Kekuasaan.”

Kartika menunjuk bengkel di belakang mereka.

“Ketika orang merasa lebih tinggi dari orang lain, barulah kita tahu seperti apa hatinya.”

Santi terdiam.

Kartika kemudian menggenggam tangan putrinya.

“Jangan pernah lagi mengecilkan dirimu hanya supaya orang lain merasa besar.”

Air mata Santi menggenang.

Kali ini bukan karena ketakutan.

Ia mengangguk.

Di belakang mereka, papan bengkel tua masih tergantung dengan cat yang mulai memudar.

Tempat yang pernah disebut kumuh itu ternyata telah membangun sebuah kerajaan.

Dan perempuan yang pernah dianggap tidak berkelas oleh keluarga Rendra akhirnya memahami satu hal yang selama ini hampir ia lupakan.

Harga diri tidak pernah ditentukan oleh rumah tempat seseorang tinggal, mobil yang dikendarainya, atau perusahaan yang dimilikinya.

Harga diri terlihat dari satu hal yang jauh lebih sederhana.

Siapa yang tetap menghargai orang lain ketika ia merasa memiliki kuasa untuk merendahkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang