“Lia, tolong beliin aku soto ayam dari warung depan kampus. Jangan terlalu banyak kuah, terus tambahin es teh.”
Suara Marielle terdengar lembut dari ranjang tingkat atas. Nada suaranya manis, tetapi ada sesuatu yang membuat permintaan itu terdengar seperti perintah yang sudah terlalu sering diucapkan.
Aku tidak langsung menjawab. Di depan laptop, kedua tanganku masih sibuk mengetik baris demi baris kode untuk proyek kecerdasan buatan yang sudah kukembangkan diam-diam selama hampir dua tahun. Di layar, simulasi terakhir sedang berjalan.

“Transfer atau e-wallet?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan.
Hening.
Beberapa detik kemudian, suara tawa kecil terdengar dari sudut kamar asrama.
“Serius, Lia?” Marielle menjulurkan kepala dari atas. Rambutnya yang baru dicatok jatuh sempurna di bahunya. “Kita tinggal sekamar sudah dua bulan, masa kamu masih hitung-hitungan soal makanan?”
Aku memutar kursi dan menatapnya.
“Iya.”
Wajahnya berubah.
“Cuma semangkuk soto.”
“Kalau cuma semangkuk, kenapa bukan kamu yang beli sendiri?”
Camille, teman sekamar kami yang lain, langsung menyela sambil tertawa.
“Sudahlah, Marielle. Mungkin Lia memang nggak biasa berteman sama orang-orang seperti kita.”
Aku tidak menjawab lagi. Sejak awal masuk Universitas San Lorenzo Jakarta, aku memang memilih hidup sederhana. Aku tinggal di asrama mahasiswa meskipun keluargaku memiliki beberapa apartemen di pusat kota. Aku mengenakan pakaian biasa dan sengaja menghindari perhatian.
Kesalahan terbesarku adalah terlalu sering mengiyakan permintaan orang.
Aku pernah antre mengambil paket Marielle ketika hujan deras. Aku pernah mencetak tugasnya tengah malam. Aku pernah membelikannya kopi sebelum ujian.
Semua dimulai dengan kalimat yang terdengar tidak berbahaya.
“Lia, cuma sebentar.”
“Lia, tolong dong.”
“Kamu baik banget.”
Lama-kelamaan, mereka berhenti meminta dan mulai menganggapnya kewajiban.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku menolak.
“Aku lagi sibuk,” kataku sambil menutup laptop.
Marielle mendecak.
“Ya ampun, pelit banget.”
Aku berdiri dan mengambil botol minum.
“Teman bukan orang yang memanfaatkan.”
Aku keluar dari kamar tanpa menunggu respons. Namun, saat pintu hampir tertutup, aku masih mendengar bisikan mereka.
“Dia pasti iri.”
“Sok mandiri, padahal mungkin memang nggak punya uang.”
“Kasihan juga.”
Aku tersenyum tipis.
Mereka tidak tahu bahwa perusahaan distribusi yang memasok sebagian besar merek mewah yang mereka banggakan di media sosial dimiliki keluargaku. Mereka tidak tahu bahwa pusat perbelanjaan tempat mereka menghabiskan akhir pekan adalah salah satu proyek investasi ayahku.
Yang lebih lucu lagi, startup teknologi yang sedang ramai dibicarakan di berita ternyata menggunakan algoritma yang sebagian besar dirancang olehku.
Malam itu, ketika aku kembali ke kamar, suasana jauh lebih ramai dari biasanya.
Marielle baru saja membuka sebuah kotak besar. Di dalamnya ada tas bermerek yang sangat mahal.
“Camille, ini buat kamu,” katanya sambil tersenyum.
Camille menjerit kegirangan.
“Serius? Mahal banget!”
Marielle melirik ke arahku.
“Lumayan lah. Daripada ribut cuma gara-gara semangkuk makanan.”
Aku meletakkan tas di atas tempat tidur tanpa menanggapinya. Perlahan, aku mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.
Camille memperhatikanku.
“Kamu mau ke mana?”
“Pindah.”
Marielle tertawa kecil.
“Wah, segitunya? Cuma karena bercanda?”
Aku mengeluarkan ponsel dan berjalan keluar kamar.
Di lorong yang sepi, aku menelepon seseorang.
“Ayah.”
Suara di ujung sana terdengar tenang.
“Masih bangun?”
“Aku ingin pindah dari asrama.”
Beberapa detik berlalu.
“Ada masalah?”
Aku menatap lampu-lampu kota Jakarta dari jendela.
“Bukan masalah besar. Aku cuma merasa sudah waktunya.”
Ayahku tidak pernah memaksaku menjelaskan sesuatu yang tidak ingin kuceritakan.
“Besok pagi orang-orang Ayah akan datang.”
Sebelum telepon ditutup, beliau berkata pelan, “Minggu depan rapat dengan pihak kampus tetap berjalan. Kamu yakin masih ingin merahasiakan identitasmu?”
Aku terdiam.
“Untuk sementara, iya.”
Keesokan paginya, seluruh asrama gempar.
Tiga mobil hitam berhenti di depan gedung. Beberapa pria berpakaian rapi turun dan berdiri di dekat pintu masuk.
Mahasiswa mulai berkumpul di balkon.
“Siapa yang datang?”
“Anak pejabat?”
“Ada acara apa?”
Di dalam kamar, Marielle sedang merias wajah ketika salah satu staf mengetuk pintu.
“Permisi, kami mencari Nona Lia Alexandra Dizon.”
Seketika suasana membeku.
Marielle menoleh kepadaku.
“Lia… Dizon?”
Aku mengangguk pelan.
Pria itu menundukkan kepala.
“Nona, Ketua sudah menunggu.”
Camille tampak pucat.
“Kamu… keluarga Dizon?”
Aku tidak menjawab.
Nama Dizon dikenal hampir semua orang. Grup Dizon memiliki pusat perbelanjaan, perusahaan teknologi, jaringan rumah sakit, dan investasi di berbagai sektor.
Marielle memandangku seolah baru menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar mengenalku.
“Aku nggak tahu…” katanya lirih.
Aku mengangkat koper.
“Memang bukan urusan siapa pun.”
Ketika aku meninggalkan asrama, bisik-bisik langsung menyebar ke seluruh kampus.
Hari itu juga, media mahasiswa memberitakan bahwa Grup Dizon akan mendanai pembangunan pusat riset teknologi baru di universitas. Banyak orang baru menyadari bahwa gadis pendiam yang tinggal di kamar sederhana ternyata adalah putri tunggal Adrian Dizon, salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
Pesan dari Marielle datang malam harinya.
“Lia, maaf kalau selama ini aku keterlaluan.”
Aku membaca pesan itu tanpa membalas.
Namun, hidup ternyata tidak sesederhana meninggalkan asrama.
Seminggu kemudian, aku menghadiri rapat tertutup di gedung rektorat bersama ayah dan beberapa direktur perusahaan. Pusat riset baru itu akan menjadi tempat pengembangan kecerdasan buatan terbesar di kampus.
Ketika presentasi berlangsung, seorang profesor bertanya tentang teknologi inti yang akan digunakan.
Ayahku menoleh kepadaku.
“Coba jelaskan.”
Ruangan mendadak hening.
Aku berdiri dan membuka presentasi yang telah kusiapkan.
Selama tiga puluh menit berikutnya, aku menjelaskan model kecerdasan buatan yang telah kukembangkan sejak SMA. Sistem itu mampu membantu diagnosis medis dan analisis data dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi.
Ketika presentasi selesai, seluruh ruangan terdiam.
Salah satu dosen senior bertanya dengan ragu, “Kamu yang membuat semua ini?”
“Saya hanya memimpin pengembangannya,” jawabku.
Di luar ruangan, tanpa sengaja aku melihat Marielle berdiri bersama beberapa mahasiswa lain. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa yang selama ini ia remehkan bukan hanya seorang gadis kaya.
Aku adalah seseorang yang benar-benar bekerja keras.
Hari-hari berikutnya, sikap orang-orang berubah drastis. Mahasiswa yang sebelumnya bahkan tidak mengenalku tiba-tiba mengirim pesan. Banyak yang mengajakku makan siang. Beberapa dosen memperlakukanku secara berbeda.
Yang paling sulit ternyata bukan menghadapi penghinaan.
Melainkan menghadapi penghormatan yang datang terlambat dan tidak tulus.
Suatu sore, saat aku keluar dari perpustakaan, Marielle menghampiriku.
“Aku boleh bicara?”
Aku mengangguk.
Kami duduk di taman kampus yang mulai sepi.
“Aku tahu permintaan maafku mungkin nggak berarti,” katanya pelan. “Tapi aku benar-benar minta maaf.”
Aku memandangnya.
“Kenapa?”
Ia tampak bingung.
“Maksudmu?”
“Kenapa minta maaf sekarang? Karena merasa bersalah, atau karena akhirnya tahu siapa aku?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam lama.
“Aku… nggak tahu.”
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, Marielle tampak rapuh.
Ia bercerita bahwa keluarganya sebenarnya tidak sekaya yang ia tunjukkan. Tas bermerek yang sering dipamerkan sebagian besar dibeli dengan kartu kredit ayahnya. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya bahwa nilai seseorang ditentukan oleh penampilan dan status sosial.
“Aku selalu takut dianggap biasa saja,” katanya sambil menunduk.
Aku memahami perasaannya, tetapi itu tidak menghapus semua yang telah terjadi.
Beberapa minggu kemudian, pusat riset resmi dibuka. Media nasional datang meliput. Ayahku berdiri di atas panggung bersama rektor universitas.
Semua orang mengira beliau akan mengumumkan bahwa aku akan memimpin proyek tersebut.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Ayah mengambil mikrofon dan berkata, “Pemimpin laboratorium ini bukan putri saya.”
Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.
Beliau tersenyum ke arahku.
“Lia menolak jabatan itu.”
Semua orang menoleh.
Aku maju ke depan dan berbicara singkat.
“Selama beberapa bulan terakhir, saya belajar satu hal. Orang terlalu cepat menilai berdasarkan apa yang terlihat. Karena itu, saya ingin pusat riset ini dipimpin oleh tim yang dipilih berdasarkan kemampuan, bukan nama keluarga.”
Beberapa orang terkejut.
Sebagian lagi bertepuk tangan.
Setelah acara selesai, aku berjalan keluar gedung sendirian.
Di halaman kampus, Marielle menungguku.
“Aku dengar kamu menolak posisi itu.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku tersenyum.
“Karena aku datang ke sini untuk belajar menjadi diriku sendiri, bukan menjadi bayangan keluarga.”
Marielle mengangguk pelan.
Sebelum pergi, ia berkata, “Dulu aku mengira kamu diam karena lemah.”
Aku melihat matahari sore yang mulai tenggelam di balik gedung-gedung kampus.
“Dan aku dulu mengira semua orang yang sombong pasti jahat.”
Kami sama-sama tersenyum.
Karena pada akhirnya, semangkuk soto yang tidak pernah kubelikan ternyata mengubah banyak hal.
Bukan karena semua orang akhirnya tahu bahwa aku kaya.
Melainkan karena hari itu, untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa harga diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh isi dompet, pakaian bermerek, atau nama keluarganya.
Dan ironisnya, orang-orang baru mulai menghormatiku setelah mengetahui siapa ayahku, padahal hal paling berharga yang kumiliki sejak awal bukanlah kekayaan itu.
Melainkan keberanian untuk berkata tidak.
