Maya tidak langsung menghubungi Raka.
Ia berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit cukup lama, memandangi gedung-gedung Jakarta yang mulai tertutup cahaya senja.
Di belakangnya, suara alat monitor berdetak teratur.
Pelan.
Dingin.
Seperti sedang menghitung sisa waktu seseorang.
“Pa,” kata Maya akhirnya, “aku tidak tahu apakah dia mau datang.”
Hendra menatap lurus ke depan.
“Dia akan datang.”
Maya menoleh.
“Papa masih mengira semua orang akan melakukan apa yang Papa inginkan?”
Kalimat itu membuat Hendra diam.
Maya segera menyesal telah mengatakannya, tetapi ia tidak menarik kembali ucapannya.
Selama bertahun-tahun, ia menjadi satu-satunya orang di rumah yang masih berani menyebut nama kakaknya, walaupun hanya dalam hati.
Ia masih ingat malam ketika Raka pergi.
Saat itu Raka baru berusia dua puluh dua tahun.
Ia baru lulus kuliah teknik mesin dan sebenarnya telah dipersiapkan Hendra untuk masuk ke perusahaan keluarga.
Namun Raka menolak.
Ia ingin bergabung dengan sebuah lembaga penanggulangan bencana dan bekerja di daerah-daerah terpencil.
Bagi Hendra, keputusan itu adalah penghinaan.
“Kamu mau meninggalkan perusahaan yang kubangun seumur hidup hanya untuk menjadi relawan?” bentaknya malam itu.
Raka berdiri di ruang keluarga dengan tas ransel di bahu.
“Aku tidak meninggalkan Papa. Aku cuma memilih hidupku sendiri.”
“Kalau kamu keluar dari pintu itu, jangan pernah kembali.”
Ibu mereka menangis.
Maya yang waktu itu baru berusia tujuh belas tahun berdiri di tangga sambil memeluk pagar kayu.
Raka menatap ayahnya beberapa detik.
Lalu ia berkata sesuatu yang sampai sekarang masih teringat jelas oleh Maya.
“Aku berharap suatu hari Papa bisa melihat aku sebagai anak, bukan sebagai penerus perusahaan.”
Pintu tertutup.
Dan sejak malam itu, Hendra tidak pernah memanggilnya pulang.
Maya mencoba mencari Raka berkali-kali.
Beberapa tahun pertama ia masih mendapatkan kabar dari teman-teman lama kakaknya.
Raka pernah bertugas di Aceh.
Lalu di Palu.
Setelah itu ia berpindah-pindah, bekerja dalam berbagai misi kemanusiaan.
Kadang ia mengirim pesan singkat pada Maya.
Aku baik-baik saja.
Jaga Mama.
Jangan bertengkar dengan Papa.
Namun setelah ibu mereka meninggal delapan tahun lalu, komunikasi semakin jarang.
Nomor Raka beberapa kali berubah.
Pesan Maya sering hanya dibaca.
Terkadang bahkan tidak terkirim.
Sore itu Maya akhirnya membuka sebuah kontak yang disimpannya tanpa nama.
Nomornya masih sama seperti dua tahun lalu.
Ia mengetik beberapa kalimat.
Papa sakit keras.
Dokter bilang waktunya tidak banyak.
Dia meminta bertemu denganmu.
Maya menatap layar selama hampir semenit sebelum menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan.
Malam berlalu.
Hendra beberapa kali bertanya.
“Sudah?”
Maya hanya menjawab singkat.
“Sudah kukabari.”
Pagi berikutnya, kondisi Hendra menurun.
Dokter memasang tambahan obat.
Napasnya mulai pendek.
Maya duduk di samping ranjang sambil memegang tangannya.
Menjelang pukul sebelas, telepon Maya bergetar.
Satu pesan masuk.
Aku akan datang.
Hanya empat kata.
Maya langsung berdiri.
“Pa.”
Hendra membuka mata perlahan.
“Dia datang.”
Untuk pertama kalinya sejak dirawat, ekspresi Hendra berubah.
Bibirnya bergetar sedikit.
Namun ia segera memalingkan wajah ke jendela, seolah tidak ingin putrinya melihat kegugupannya.
Raka tiba tiga jam kemudian.
Maya hampir tidak mengenalinya.
Pria yang berdiri di ujung lorong rumah sakit itu jauh berbeda dari pemuda kurus yang pergi dari rumah sembilan belas tahun lalu.
Raka kini berusia empat puluh satu tahun.
Rambut di pelipisnya mulai memutih.
Kulit wajahnya lebih gelap karena terlalu sering berada di luar ruangan.
Ada bekas luka tipis di dekat alis kirinya.
Ia mengenakan kemeja abu-abu sederhana, celana hitam, dan sepatu yang tampak sudah lama dipakai.
Namun ada satu benda yang langsung menarik perhatian Maya.
Sebuah medali tua tergantung di lehernya.
Warnanya sudah kusam.
Pita merah putihnya terlihat pudar.
Maya memandang benda itu.
“Kak.”
Raka berhenti.
Mereka saling menatap cukup lama.
Maya kemudian memeluk kakaknya.
Raka sempat kaku.
Lalu tangannya perlahan membalas pelukan itu.
“Kamu makin kurus,” katanya.
Maya tertawa kecil di tengah air mata.
“Kakak juga makin tua.”
Raka tersenyum.
Hanya sebentar.
Lalu pandangannya mengarah ke pintu kamar.
“Bagaimana kondisinya?”
“Buruk.”
Raka menarik napas panjang.
“Dia sadar?”
“Iya.”
Mereka berjalan menuju kamar.
Tetapi ketika tangan Raka hampir menyentuh gagang pintu, ia berhenti.
Maya menatapnya.
“Kak?”
Raka menunduk.
“Aku sudah membayangkan momen ini selama bertahun-tahun.”
“Apa yang Kakak bayangkan?”
Raka tersenyum hambar.
“Aku pikir aku akan marah.”
Maya tidak menjawab.

Raka membuka pintu.
Hendra langsung menoleh.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Sembilan belas tahun seperti berkumpul di ruangan kecil itu.
Semua kemarahan.
Semua kehilangan.
Semua kata yang tidak pernah diucapkan.
Raka berdiri di dekat pintu.
Hendra memandang putranya dari kepala sampai kaki.
Kemudian pandangannya berhenti pada medali tua di dada Raka.
Wajah Hendra berubah.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Raka menatap medali tersebut.
“Sudah lama.”
“Aku tanya dari mana.”
Nada keras Hendra muncul lagi secara refleks.
Maya langsung tegang.
Namun Raka justru berjalan mendekat.
Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
“Dari seorang pria bernama Suryono.”
Tubuh Hendra mendadak kaku.
Maya mengernyit.
“Siapa Suryono?”
Hendra tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada medali itu.
Raka melepaskannya dari leher.
Di bagian belakang medali terdapat ukiran kecil.
S. Wijaya.
Hendra memejamkan mata.
“Itu milik kakakku.”
Maya terkejut.
“Papa punya kakak?”
Hendra membuka mata kembali.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua.
“Dia meninggal sebelum kamu lahir.”
Raka memegang medali itu di telapak tangannya.
“Aku bertemu Pak Suryono di Palu setelah gempa.”
Hendra menatapnya.
“Bagaimana?”
“Dia waktu itu berusia hampir tujuh puluh tahun. Rumahnya hancur. Kami menemukan dia terjebak di bawah puing selama lebih dari dua belas jam.”
Raka berhenti sebentar.
“Setelah pulih, dia melihat nama belakangku di kartu identitas.”
Hendra menelan ludah.
“Lalu?”
“Dia bertanya apakah aku anak Hendra Wijaya.”
Maya kini ikut duduk.
Raka melanjutkan.
“Pak Suryono bilang dulu dia tentara muda yang bertugas bersama Om Surya.”
Hendra menggenggam seprai.
“Jangan.”
Raka menatap ayahnya.
“Papa tahu apa yang dia ceritakan?”
Hendra tidak menjawab.
“Om Surya meninggal saat menyelamatkan dua orang dari kendaraan yang terbakar. Salah satunya Pak Suryono.”
Maya memandang ayahnya.
Hendra terlihat seperti seseorang yang baru saja dibuka luka lamanya.
Raka melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Pak Suryono menyimpan medali ini puluhan tahun. Katanya seharusnya medali ini dikembalikan kepada keluarga Wijaya.”
Hendra akhirnya berkata, hampir berbisik.
“Ayahku tidak pernah mau membicarakannya.”
“Kenapa?”
“Karena dia menganggap Surya bodoh.”
Raka terdiam.
Hendra tertawa kecil, pahit.
“Persis seperti aku menganggapmu bodoh.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Hendra menatap putranya.
“Kakakku memilih menyelamatkan orang lain daripada pulang hidup-hidup. Ayahku marah. Dia bilang Surya menghancurkan masa depannya sendiri.”
Air mata mengalir dari sudut mata Hendra.
“Aku tumbuh dengan mendengar bahwa pengorbanan adalah kelemahan. Bahwa keluarga hanya bisa bertahan kalau semua orang mengikuti rencana.”
Ia menatap medali itu lagi.
“Lalu ketika kamu memilih jalan yang sama seperti Surya… aku takut.”
Raka mengernyit.
“Takut?”
“Aku takut suatu hari seseorang menelepon dan mengatakan kamu mati di tempat yang bahkan tidak kukenal.”
Suara Hendra pecah.
“Jadi aku memilih marah.”
Raka menatapnya lama.
“Papa mengusirku karena takut kehilangan aku?”
Hendra tersenyum dengan getir.
“Dan akhirnya aku kehilanganmu juga.”
Maya menundukkan kepala.
Raka tidak segera menjawab.
Tangannya menggenggam medali itu erat.
“Selama bertahun-tahun aku pikir Papa membenciku.”
“Aku membenci pilihanmu.”
“Itu sama saja bagi seorang anak.”
Kalimat itu menusuk Hendra lebih dalam daripada bentakan mana pun.
Ia menutup mata.
“Ya.”
Raka menarik napas panjang.
“Aku datang ke sini bukan untuk mendengar alasan.”
“Aku tahu.”
“Aku juga bukan datang karena ingin warisan.”
Hendra membuka mata.
“Perusahaan itu sudah kuserahkan sebagian pada Maya.”
“Aku tidak peduli.”
“Aku tahu.”
Hendra menatap putranya.
“Aku memanggilmu karena aku ingin meminta maaf.”
Raka menatap jendela.
“Ada banyak hal yang tidak bisa diperbaiki dengan kata maaf.”
“Aku tahu.”
“Aku menikah tanpa Papa.”
Hendra terdiam.
Maya menoleh cepat.
“Kakak menikah?”
Raka mengangguk.
“Dua belas tahun lalu.”
Hendra terlihat terpukul.
“Aku punya istri?”
Raka membetulkan kalimatnya.
“Aku yang punya istri.”
Hendra menunduk.
“Dan anak?”
Raka terdiam.
Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan ponsel.
Ia membuka sebuah foto.
Seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun sedang tersenyum sambil memegang helm keselamatan berwarna kuning.
“Namanya Aluna.”
Hendra menatap foto itu dengan mata membesar.
“Cucuku?”
Raka mengangguk.
Hendra menyentuh layar ponsel dengan jari gemetar.
“Dia tahu tentang aku?”
“Dia tahu dia punya kakek.”
“Dan?”
“Dia sering bertanya kenapa tidak pernah bertemu.”
Hendra menutup mata.
Air matanya jatuh semakin banyak.
“Kenapa kamu tidak pernah membawanya?”
Raka menatap ayahnya.
“Karena terakhir kali aku berada di rumah itu, Papa bilang aku bukan lagi keluarga.”
Hendra tidak mampu menjawab.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian terdengar suara ketukan dari pintu.
Maya menoleh.
Seorang perempuan berdiri di sana bersama seorang anak perempuan.
Raka terkejut.
“Nadia?”
Perempuan itu tersenyum kecil.
“Aluna memaksa ikut.”
Anak perempuan di sampingnya memegang sebuah tas kecil.
Ia menatap Raka.
“Ayah bilang Kakek sakit.”
Raka terlihat bingung.
“Aku tidak bilang kalian harus masuk.”
Nadia menyentuh bahunya.
“Aku tahu.”
Aluna kemudian memandang Hendra.
Hendra membeku.
Anak itu mendekati ranjang dengan ragu-ragu.
“Ini Kakek?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Aluna berdiri di samping ranjang.
Hendra menatap wajah cucunya seolah sedang menghafal setiap bagian.
“Kamu… Aluna?”
Anak itu mengangguk.
Hendra mencoba tersenyum.
Namun yang muncul justru tangisan.
“Aku minta maaf.”
Aluna terlihat bingung.
“Kenapa Kakek minta maaf sama aku?”
Pertanyaan polos itu membuat semua orang terdiam.
Hendra menggeleng.
“Karena Kakek terlambat mengenalmu.”
Aluna membuka tas kecilnya.
Ia mengeluarkan sebuah kertas gambar.
Di sana terdapat gambar empat orang berdiri di depan rumah.
Ayah.
Ibu.
Aluna.
Dan seorang laki-laki tua.
Di atas gambar itu tertulis dengan huruf besar.
KELUARGAKU.
Hendra memandang gambar itu tanpa berkedip.
“Ayah pernah bilang Kakek tidak suka difoto,” kata Aluna, “jadi aku gambar saja.”
Raka langsung memalingkan wajah.
Maya menutup mulutnya.
Hendra memeluk kertas itu ke dada.
Tangisnya pecah.
Bukan tangis seorang pengusaha.
Bukan tangis seseorang yang takut mati.
Melainkan tangis seorang ayah yang baru menyadari berapa banyak tahun yang sudah hilang hanya karena ia terlalu keras untuk mengatakan satu kalimat sederhana.
Pulanglah.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun, Hendra memegang tangan Raka.
“Kalau aku punya satu hari lagi,” katanya, “aku ingin menjadi ayahmu.”
Raka menatapnya.
“Papa sudah menjadi ayahku sejak aku lahir.”
Hendra menggeleng.
“Ayah secara darah, mungkin.”
Raka tidak menjawab.
Hendra kemudian memandang medali di tangannya.
“Boleh aku memegangnya?”
Raka menyerahkan medali itu.
Hendra menggenggam benda tua tersebut.
“Kakakku mati sebagai orang yang ayahku anggap gagal.”
Ia menarik napas berat.
“Tapi ternyata sampai puluhan tahun kemudian, kebaikannya masih membuat orang mengingat namanya.”
Ia menatap Raka.
“Aku punya gedung. Aku punya perusahaan. Aku punya uang.”
Suara Hendra semakin lemah.
“Tapi aku hampir mati sebagai seseorang yang bahkan tidak dikenal oleh cucunya sendiri.”
Raka menunduk.
Hendra tersenyum tipis.
“Kamu menang.”
Raka mengernyit.
“Aku tidak pernah berlomba dengan Papa.”
Hendra tertawa pelan.
“Ya. Itu masalahnya. Aku yang selalu menganggap hidup ini perlombaan.”
Dua hari berikutnya, kondisi Hendra naik turun.
Namun Raka tidak pergi.
Ia tidur di sofa kecil di kamar.
Aluna beberapa kali datang setelah sekolah.
Ia menunjukkan tugas matematika.
Menceritakan guru yang galak.
Bahkan memaksa Hendra menonton video dirinya belajar naik sepeda.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hendra mendengarkan cerita anak kecil tanpa melihat jam.
Pada pagi hari ketiga, Hendra meminta Maya membuka laci meja.
Di dalamnya ada sebuah amplop.
“Berikan kepada Raka setelah aku pergi.”
Raka langsung menolak.
“Aku di sini. Bilang saja sekarang.”
Hendra menggeleng.
“Aku tidak sanggup.”
Sore itu, Hendra meninggal.
Tangannya berada di antara tangan Raka dan Aluna.
Tidak ada suara keras.
Tidak ada pidato terakhir.
Hanya satu tarikan napas yang perlahan berhenti.
Beberapa hari setelah pemakaman, Maya menyerahkan amplop tersebut kepada Raka.
Di dalamnya tidak ada cek.
Tidak ada surat warisan.
Hanya sebuah surat pendek yang ditulis dengan tangan gemetar.
Raka membaca perlahan.
Jika kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak punya kesempatan memperbaiki apa pun lagi.
Aku dulu berpikir tugas seorang ayah adalah membuat anaknya menjadi kuat.
Sekarang aku sadar, tugas seorang ayah bukan menentukan jalan anaknya.
Tugas seorang ayah adalah memastikan bahwa apa pun jalan yang dipilih anaknya, selalu ada rumah yang boleh ia datangi kembali.
Aku gagal memberimu rumah itu.
Kalau suatu hari Aluna memilih jalan yang tidak kamu mengerti, jangan ulangi kesalahanku.
Jangan menunggu sampai ranjang rumah sakit untuk mengatakan bahwa pintu rumahmu selalu terbuka.
Raka berhenti membaca.
Di bagian bawah surat itu ada satu kalimat terakhir.
Dan kalau masih memungkinkan, gantungkan medali Surya di ruang keluarga. Bukan karena ia pahlawan, tetapi agar keluarga kita ingat bahwa hidup yang berguna jauh lebih berharga daripada hidup yang hanya terlihat berhasil.
Beberapa bulan kemudian, medali tua itu benar-benar tergantung di ruang keluarga rumah Raka.
Di bawahnya ada dua foto.
Foto Surya yang sudah menguning.
Dan foto terakhir Hendra bersama Aluna di rumah sakit.
Suatu sore, Aluna berdiri menatap keduanya.
“Ayah.”
“Ya?”
“Kakek dulu orang jahat?”
Raka terdiam cukup lama.
Lalu ia menggeleng.
“Tidak.”
“Terus kenapa Ayah lama sekali tidak bertemu Kakek?”
Raka duduk di samping putrinya.
“Karena kadang-kadang orang yang paling sayang justru membuat kesalahan paling besar ketika mereka terlalu takut kehilangan.”
Aluna memandang foto kakeknya.
“Berarti Kakek menyesal?”
Raka tersenyum tipis.
“Iya.”
“Terus Ayah sudah maafin?”
Raka menatap medali tua itu.
Kemudian ia memandang foto Hendra yang sedang tersenyum lemah sambil memegang gambar buatan Aluna.
“Ayah belum tahu apakah semua luka bisa hilang.”
Ia merangkul putrinya.
“Tapi Ayah tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kalau kita terus menyimpan marah, kadang orang yang paling lama kita hukum bukan orang lain.”
Raka mencium kepala Aluna.
“Melainkan diri kita sendiri.”
Di luar rumah, hujan turun pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak sembilan belas tahun lalu, Raka merasa bahwa ia akhirnya benar-benar pulang.
