Aku baru sadar setelah tiga bulan bahwa setiap pagi bukan anakku yang menikmati susu kambing segar yang kubayar dengan susah payah, melainkan seseorang yang tinggal tepat di depan pintu apartemen kami. Selama tiga bulan pula aku membohongi Niko yang baru berusia tujuh tahun. Aku selalu mengatakan pengirimannya terlambat, padahal setiap botol susu itu sudah lebih dulu berpindah tangan sebelum sempat kusentuh. Saat akhirnya kamera kecil yang kupasang diam-diam memperlihatkan Aling Cora mengambil dua botol susu dengan gerakan yang begitu santai, aku tidak langsung memarahinya. Aku memilih mengubah sistem pengiriman menjadi pembayaran di tempat dan tanda tangan langsung. Reaksi paniknya sudah cukup memberitahuku bahwa aku berada di jalur yang benar. Namun aku sama sekali tidak menyangka bahwa wanita itu justru akan menyerang lebih dulu.
Di halaman terakhir berkas pengaduan yang dibawa Pak Reyes, ada selembar surat perjanjian.
Namaku tertulis sebagai pihak pertama.
Nama Cora Dela Cruz sebagai pihak kedua.

Isinya menyatakan bahwa aku dengan sukarela mengizinkannya mengambil susu setiap hari sebagai balasan karena ia bersedia mengawasi Niko saat aku bekerja malam.
Di bagian bawah terdapat tanda tangan yang sekilas memang mirip milikku.
Aku menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
“Pak Reyes, apakah Ibu Cora mengatakan saya yang menandatangani ini?”
“Iya, Bu. Katanya kesepakatan ini sudah berjalan lama.”
“Apa Bapak percaya?”
Pak Reyes tidak langsung menjawab.
“Ada yang terasa janggal. Karena itu saya datang dulu ke Ibu sebelum mengambil keputusan.”
Aku membuka laci meja, mengambil map transparan berisi bukti pembayaran langganan susu selama enam bulan.
“Lihat tanggalnya, Pak. Saya bahkan baru mulai berlangganan enam bulan lalu. Sedangkan surat ini memakai materai yang terbit tahun lalu.”
Pak Reyes memperhatikan lebih teliti. Keningnya langsung berkerut.
Benar saja.
Nomor seri pada materai itu tidak mungkin cocok dengan tanggal yang tertulis di surat.
“Itu belum semuanya.”
Aku membuka laptop dan memutar rekaman kamera.
Wajah Aling Cora terlihat jelas mengambil susu setiap pagi.
Hari pertama.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Semuanya terekam.
Pak Reyes mengembuskan napas panjang.
“Kalau begitu ini sudah masuk pemalsuan dokumen.”
“Aku tidak ingin ribut. Aku hanya ingin anakku mendapatkan haknya.”
Pak Reyes mengangguk pelan.
“Saya akan memanggil semua pihak besok pagi.”
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.
Aku merasa semuanya akan selesai.
Ternyata, justru baru dimulai.
Keesokan paginya ruang serbaguna apartemen dipenuhi beberapa penghuni yang penasaran.
Isu tentang tetangga yang saling menuduh mencuri sudah lebih dulu menyebar melalui grup WhatsApp penghuni.
Aling Cora datang dengan pakaian paling rapi yang pernah kulihat.
Di sampingnya berdiri seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun yang wajahnya pucat dan tubuhnya kurus.
Aku langsung mengenali suara itu.
Suara yang pernah kudengar dari balik pintunya.
“Cora, mana susu?”
Pria itu berjalan pelan menggunakan tongkat.
Tatapannya tampak bingung.
Pak Reyes memulai pertemuan dengan tenang.
“Ibu Cora, apakah benar surat ini dibuat atas persetujuan Bu Mariel?”
“Tentu saja benar,” jawabnya mantap.
“Dia yang menawarkan sendiri.”
“Apakah ada saksi?”
“Waktu itu hanya kami berdua.”
Pak Reyes mengangguk.
“Lalu bagaimana dengan rekaman ini?”
Video mulai diputar.
Ruangan mendadak sunyi.
Terlihat jelas Aling Cora keluar setelah kurir pergi, melihat ke kanan dan kiri, lalu mengambil dua botol susu.
Beberapa penghuni saling berpandangan.
Namun yang membuat suasana berubah bukanlah video itu.
Melainkan reaksi pria tua di sampingnya.
Dia menatap layar dengan mata membelalak.
“Cora…”
Wanita itu menggenggam lengannya.
“Diam saja.”
Pria tua itu justru menarik tangannya perlahan.
“Jadi… selama ini susu itu bukan kiriman untuk kita?”
Wajah Aling Cora mulai kehilangan warna.
“Bukan begitu…”
“Lalu kenapa setiap pagi kau bilang anak tetangga sudah tidak membutuhkan susu itu?”
Ruangan semakin hening.
Semua orang kini menatap pria tua tersebut.
Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara.
“Maafkan saya. Saya pikir susu itu memang diberikan kepada kami.”
Aling Cora langsung memotong.
“Pak, jangan bicara sembarangan.”
Namun pria tua itu seperti sudah lelah menyimpan semuanya.
Namanya ternyata Pak Antonio.
Suami Aling Cora.
Dengan suara bergetar ia mulai menceritakan semuanya.
Sejak beberapa bulan lalu dokter mendiagnosis tulangnya rapuh karena kekurangan nutrisi.
Ia ingin membeli susu kambing, tetapi harganya terlalu mahal untuk pensiunan.
Suatu pagi, Cora pulang membawa dua botol susu dan berkata seorang ibu muda di depan rumah mereka memberikannya setiap hari sebagai tanda terima kasih karena sering menjaga anaknya.
Pak Antonio percaya begitu saja.
Setiap pagi ia meminum susu itu tanpa pernah curiga.
Bahkan beberapa kali ia bertanya apakah tidak merepotkan.
Jawaban istrinya selalu sama.
“Itu rezeki.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Aku tidak pernah tahu ternyata susu itu dicuri.”
Aling Cora mulai panik.
“Itu semua bohong. Dia sudah pikun.”
Namun kali ini Pak Antonio menggeleng keras.
“Aku memang tua, tapi aku masih tahu mana yang benar.”
Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang selalu dibawanya.
Beberapa lembar kuitansi.
“Bulan lalu aku sempat memberi Cora uang untuk membeli susu sendiri. Katanya harga susu naik. Tapi sekarang aku sadar uang itu juga tidak pernah dipakai.”
Aling Cora mencoba merebut kuitansi tersebut.
Pak Reyes lebih dulu mengambilnya.
Semua bukti mulai tersusun seperti potongan puzzle.
Video.
Resi pembayaran langganan.
Dokumen palsu.
Dan sekarang kesaksian suaminya sendiri.
Tetapi kejutan terbesar belum datang.
Seorang penghuni bernama Bu Siska mengangkat tangan.
“Kalau boleh jujur, saya juga pernah kehilangan beberapa paket.”
Yang lain ikut bersuara.
“Saya juga.”
“Obat ayah saya pernah hilang.”
“Paket vitamin saya juga.”
Dalam hitungan menit, ternyata bukan hanya susu milikku yang pernah menghilang.
Pak Reyes langsung meminta petugas keamanan membuka rekaman CCTV lorong selama beberapa bulan terakhir.
Sore itu seluruh penghuni kembali berkumpul.
Rekaman demi rekaman diputar.
Terlihat Aling Cora beberapa kali mengambil paket kecil di depan unit lain.
Kadang makanan.
Kadang obat.
Kadang kosmetik.
Tidak setiap hari.
Hanya sesekali.
Cukup jarang agar tidak terlalu mencurigakan.
Namun jika dikumpulkan selama berbulan-bulan, jumlahnya sangat banyak.
Wajah Aling Cora benar-benar pucat.
Ia tidak lagi bisa menyangkal.
Dengan suara pelan ia akhirnya berkata, “Aku hanya mengambil yang menurutku tidak terlalu penting.”
“Tidak penting?” tanyaku lirih.
“Itu susu untuk anakku.”
Mataku mulai basah.
“Niko pernah menangis karena mengira aku tidak mampu membelikannya susu lagi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku melanjutkan.
“Dia pernah bilang tidak apa-apa kalau harus berhenti minum susu supaya aku bisa menghemat uang.”
Suasana berubah menjadi begitu emosional.
Pak Antonio menutup wajahnya.
“Aku minta maaf.”
Aku menggeleng.
“Bapak tidak perlu meminta maaf.”
Yang paling mengejutkan justru terjadi setelah itu.
Pak Antonio berdiri dengan susah payah lalu menghadap semua penghuni.
“Surat itu bukan hanya dipalsukan. Tanda tanganku sebagai saksi juga dipalsukan.”
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir.
Aling Cora akhirnya terduduk.
Untuk pertama kalinya ia menangis.
Bukan karena merasa bersalah.
Melainkan karena tahu semua kebohongannya telah berakhir.
Belakangan aku baru mengetahui alasan di balik semua itu.
Selama bertahun-tahun Aling Cora memiliki kebiasaan mengambil barang milik orang lain. Awalnya benda-benda kecil. Lama-lama menjadi kebiasaan yang menurutnya wajar selama tidak ketahuan.
Ia selalu merasa dirinya lebih membutuhkan.
Ia selalu berhasil menemukan alasan untuk membenarkan tindakannya.
Namun kali ini, korbannya adalah seorang anak kecil.
Pihak apartemen akhirnya memutuskan memberikan sanksi tegas dan melaporkan pemalsuan dokumen kepada pihak berwenang. Sebagian penghuni yang kehilangan barang memilih menyelesaikannya secara hukum, sementara yang lain hanya meminta ganti rugi.
Beberapa minggu kemudian, Pak Antonio datang mengetuk pintuku sendirian.
Di tangannya ada sebuah amplop.
“Ini uang pengganti seluruh susu yang pernah saya minum.”
Aku tidak mau menerimanya.
“Bapak tidak bersalah.”
“Tapi saya tetap menikmatinya.”
Aku tersenyum pelan.
“Lalu anggap saja Bapak membayarnya dengan satu janji.”
“Apa itu?”
“Kalau bertemu Niko di lorong, Bapak harus terus menyapanya seperti cucu sendiri.”
Mata pria tua itu langsung berkaca-kaca.
Sejak hari itu, setiap sore sepulang sekolah, Niko selalu berhenti sebentar di bangku taman apartemen untuk bermain catur bersama Pak Antonio.
Mereka tertawa seolah tidak pernah ada peristiwa pahit sebelumnya.
Suatu hari Niko bertanya polos kepadaku, “Bu, kenapa dulu susu kita sering hilang?”
Aku menatap wajah kecilnya yang kini jauh lebih sehat.
“Karena kadang ada orang yang memilih jalan yang salah.”
“Terus kenapa Ibu tidak marah?”
Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya.
“Karena kalau kebenaran sudah punya bukti, kita tidak perlu berteriak. Biarkan kejujuran yang berbicara.”
Niko mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Namun saat melihat Pak Antonio melambaikan tangan dari taman, ia berlari menghampirinya sambil membawa papan catur.
Aku memandangi mereka dari balkon.
Hari itu aku menyadari sesuatu.
Kebohongan mungkin bisa bertahan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Dokumen bisa dipalsukan, cerita bisa direkayasa, dan senyum bisa menyembunyikan niat buruk. Tetapi ketika kebenaran didukung oleh bukti, keberanian, dan hati nurani seseorang yang akhirnya memilih berkata jujur, kebohongan sebesar apa pun pada akhirnya akan runtuh dengan sendirinya.
