Tiga Hari Setelah Pernikahan Kakakku, Istri Barunya Tersenyum Sambil Menunjuk Kamarku.

Pagi berikutnya, rumah itu terasa jauh lebih tenang daripada biasanya. Bukan karena semua orang sedang bahagia, melainkan karena mereka yakin semuanya sudah berjalan sesuai keinginan mereka. Dari balik pintu kamar, Mika mendengar suara Bianca yang sedang mengatur letak furnitur sambil sesekali tertawa kecil.

“Kalau Mika sudah pindah minggu ini, kamar itu langsung kita cat warna putih. Aku sudah lihat inspirasi nursery di internet.”

“Kita pelan-pelan saja,” jawab Daryl. “Yang penting dia sudah setuju.”

Mika memejamkan mata. Tidak ada lagi rasa marah yang meledak-ledak. Yang tersisa hanya kecewa yang begitu dalam hingga berubah menjadi ketenangan.

Ia memasukkan pakaian seperlunya ke dalam koper. Laptop, dokumen rumah, sertifikat pembayaran, seluruh bukti transfer, dan kontrak pembelian dimasukkan ke dalam tas kerja yang selalu menemaninya. Sebelum keluar kamar, ia menatap ruangan itu untuk terakhir kalinya.

Selama tiga tahun, kamar itu menjadi tempat ia menangis diam-diam setiap kali lembur berhari-hari demi mengejar bonus agar cicilan rumah tetap lancar. Kini, orang-orang yang menikmati hasil pengorbanannya justru ingin menghapus jejak keberadaannya secepat mungkin.

Saat koper ditarik melewati ruang tamu, Ibu Lorna hanya melirik sekilas.

“Hati-hati di jalan.”

Hanya itu.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada ucapan terima kasih.

Tidak ada permintaan maaf.

Bianca malah tersenyum manis.

“Nanti kalau sudah dapat tempat tinggal yang nyaman, kabari ya.”

Mika ikut tersenyum.

“Tentu.”

Ia keluar tanpa menoleh lagi.

Selama beberapa hari berikutnya, Mika tinggal di apartemen servis dekat kantornya di SCBD. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menikmati malam tanpa harus memikirkan tagihan listrik rumah, belanja bulanan, atau apakah kulkas di rumah masih penuh.

Tanggal sepuluh akhirnya tiba.

Pukul sembilan pagi, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.

Pembayaran otomatis tidak berhasil diproses karena telah dibatalkan.

Beberapa menit kemudian teleponnya berdering.

Nama Daryl muncul di layar.

Mika membiarkannya berbunyi sampai berhenti.

Lalu panggilan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Setelah itu pesan-pesan mulai berdatangan.

“Mika, kenapa cicilan rumah gagal?”

“Ada masalah di rekeningmu?”

“Developer menghubungi kami.”

Mika membaca semuanya tanpa membalas.

Sore harinya, telepon dari Ibu menyusul.

Begitu diangkat, suara wanita itu langsung terdengar panik.

“Nak, kenapa pembayaran rumah gagal? Mungkin bank sedang error?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Aku yang membatalkannya.”

Hening.

Beberapa detik kemudian suara Ibu meninggi.

“Kamu bercanda?”

“Aku tidak pernah bercanda soal uang.”

“Tapi rumah itu bagaimana?”

“Itu pertanyaan yang seharusnya Ibu tanyakan sebelum menyuruhku pergi.”

Malam itu juga Daryl datang ke apartemen Mika.

Begitu pintu dibuka, wajahnya sudah merah menahan emosi.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Mika mempersilahkannya masuk, tetapi Daryl menolak.

“Aku cuma mau jawaban.”

“Jawabannya sederhana. Aku berhenti membayar rumah yang katanya bukan milikku.”

“Itu rumah keluarga!”

“Benarkah?”

Mika mengambil map cokelat dari meja.

Ia mengeluarkan kontrak pembelian, bukti uang muka, seluruh cicilan selama tiga tahun, hingga surat persetujuan kredit.

“Sebutkan satu dokumen yang memakai namamu.”

Daryl membolak-balik kertas itu.

Semakin lama wajahnya semakin pucat.

“Ini… ini pasti salah.”

“Bukan. Kamu hanya tidak pernah mau tahu.”

“Kenapa dulu kamu tidak bilang?”

“Karena dulu aku percaya keluarga tidak akan menghitung pengorbanan.”

Daryl terduduk lemas di kursi lorong apartemen.

“Kalau cicilan berhenti terus, rumah itu bisa disita.”

“Ya.”

“Bianca sedang menyiapkan kamar bayi.”

“Padahal bayinya pun belum ada.”

Kalimat itu terdengar begitu dingin hingga Daryl kehilangan kata-kata.

Beberapa hari kemudian, developer mengirim surat resmi berisi pemberitahuan bahwa apabila tunggakan tidak segera dilunasi, akan dikenakan denda dan proses pembatalan kepemilikan bisa dilakukan sesuai perjanjian.

Barulah seluruh keluarga benar-benar panik.

Ibu mulai menelepon hampir setiap hari.

Awalnya dengan nada memohon.

Kemudian berubah menjadi marah.

“Kamu tega melihat keluarga sendiri kehilangan rumah?”

Mika menjawab tenang.

“Aku juga tidak pernah tega melihat keluarga sendiri mengusir anaknya.”

Bianca akhirnya ikut menghubungi Mika.

Suaranya masih lembut seperti biasa.

“Mika, mungkin kita bisa bicara baik-baik.”

“Kita sedang bicara baik-baik.”

“Aku minta maaf kalau waktu itu ada kata-kata yang menyinggung.”

“Yang melukai bukan kata-katamu.”

“Lalu apa?”

“Fakta bahwa kamu merasa berhak mengatur rumah yang bahkan tidak pernah kamu bantu bayar.”

Untuk pertama kalinya Bianca tidak mampu menjawab.

Seminggu kemudian, Mika menerima undangan bertemu dari pihak developer.

Ia datang sendiri.

Di ruang pertemuan, manajer proyek menjelaskan bahwa karena seluruh pembayaran selama ini berasal dari rekening Mika, seluruh hak hukum memang berada di tangannya.

“Kami hanya ingin memastikan apakah Ibu ingin melanjutkan kepemilikan atau mengakhiri kontrak.”

Mika berpikir cukup lama.

Rumah itu menyimpan terlalu banyak luka.

Namun rumah itu juga dibangun dari kerja kerasnya sendiri.

Akhirnya ia mengambil keputusan.

“Aku ingin melanjutkan.”

“Tetapi alamat penghuni sekarang?”

“Tolong beri mereka waktu satu bulan untuk pindah.”

Pihak developer mengangguk.

Surat resmi pun dikirim.

Ketika surat itu sampai di rumah, suasana langsung berubah kacau.

Daryl menelepon Mika sambil berteriak.

“Kamu mengusir kami?”

“Tidak.”

“Kami diberi waktu tiga puluh hari!”

“Itu lebih lama daripada waktu yang kalian berikan kepadaku.”

Ibu menangis.

“Kami ini keluargamu.”

Mika terdiam cukup lama.

“Keluarga tidak menjadikan satu orang sebagai mesin ATM.”

Hubungan mereka benar-benar membeku.

Dalam waktu yang sama, kehidupan Mika justru mulai berubah.

Perusahaan tempatnya bekerja mengumumkan restrukturisasi. Atas keberhasilannya memimpin proyek besar selama dua tahun terakhir, ia dipromosikan menjadi Regional Operations Director dengan gaji yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Ia membeli apartemen baru.

Bukan karena membutuhkan tempat tinggal.

Melainkan karena akhirnya ia mampu memberikan dirinya kehidupan yang selama ini selalu ia tunda demi orang lain.

Sementara itu, kabar dari rumah lama terus berdatangan melalui tetangga.

Daryl dan Bianca sering bertengkar.

Masalahnya selalu sama.

Uang.

Selama ini mereka terbiasa hidup nyaman karena semua kebutuhan besar ditanggung Mika.

Begitu sumber itu hilang, mereka baru sadar penghasilan mereka bahkan tidak cukup untuk mempertahankan gaya hidup yang selama ini mereka banggakan.

Suatu sore, Daryl datang lagi.

Namun kali ini wajahnya berbeda.

Tidak ada amarah.

Tidak ada kesombongan.

Ia tampak jauh lebih tua daripada usianya.

“Aku minta maaf.”

Mika mempersilahkannya duduk.

“Aku benar-benar tidak sadar selama ini.”

“Karena kamu tidak pernah perlu sadar.”

“Aku kira semua itu memang kewajibanmu.”

“Itulah masalahnya.”

Daryl menunduk.

“Aku kehilangan banyak hal.”

“Bukan rumah yang paling kamu kehilangan.”

Daryl mengangkat kepala.

“Kamu kehilangan adik yang selalu membelamu.”

Air mata pria itu akhirnya jatuh.

“Aku tahu.”

Beberapa minggu kemudian mereka resmi meninggalkan townhouse itu.

Mika datang setelah rumah benar-benar kosong.

Ia berjalan perlahan memasuki setiap ruangan.

Di bekas kamarnya, cat putih yang sempat dibeli Bianca masih tersandar di sudut dinding, belum pernah dibuka.

Nursery impian itu tidak pernah terwujud.

Mika berdiri cukup lama di sana.

Bukan untuk menikmati kemenangan.

Melainkan mengucapkan selamat tinggal pada versi dirinya yang selalu percaya bahwa cinta harus dibayar dengan pengorbanan tanpa batas.

Rumah itu kemudian direnovasi.

Beberapa bulan setelah selesai, Mika tidak menempatinya.

Ia bekerja sama dengan sebuah yayasan perempuan dan mengubah rumah tersebut menjadi rumah singgah sementara bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga atau kehilangan tempat tinggal.

Hari peresmian berlangsung sederhana.

Seorang wartawan bertanya mengapa ia memilih menyumbangkan rumah yang begitu berharga.

Mika tersenyum.

“Dulu rumah ini mengajarkanku bahwa sebuah bangunan tidak otomatis menjadi keluarga. Sekarang aku ingin tempat ini menjadi rumah bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan rasa aman.”

Beberapa meter dari kerumunan tamu, Ibu Lorna berdiri bersama Daryl.

Mereka datang tanpa diundang.

Mereka tidak berani mendekat.

Ibu menangis pelan melihat papan nama rumah singgah itu.

Daryl hanya memandang adiknya dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya mereka menyadari sesuatu yang datang terlambat.

Mereka tidak pernah kehilangan rumah karena uang.

Mereka kehilangan rumah karena keserakahan.

Sedangkan Mika akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya, bukan di tempat yang ia tinggali, melainkan di dalam hatinya sendiri, ketika ia berhenti mengorbankan harga dirinya demi orang-orang yang tidak pernah menghargai kasih sayangnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang