SELAMA 48 JAM DIA DIBIARKAN SENDIRIAN DI RUMAH SAKIT SETELAH OPERASI DARURAT.

Rangga berdiri di ujung lorong dengan napas berat.

Kemeja putihnya kusut. Dasi yang biasanya selalu rapi kini tergantung longgar di leher. Sebuah koper kabin hitam masih berada di dekat pintu masuk.

Maya menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.

Seharusnya Rangga masih berada di Tokyo.

Seharusnya pesawatnya baru tiba keesokan pagi.

Namun pria itu kini berdiri hanya beberapa meter darinya, menyaksikan pecahan vas berserakan di lantai dan sebuah wajan besi tergeletak di tengah ruang keluarga.

“Ibu,” katanya perlahan.

Ibu Ratna langsung berubah gugup.

“Rangga? Kamu sudah pulang?”

Rangga tidak menjawab.

Tatapannya justru berhenti pada wajah Maya yang pucat.

Kemudian matanya turun perlahan.

Ke tangan Maya yang mencengkeram sisi perut.

Ke gelang rumah sakit yang masih melingkar di pergelangan tangannya.

Ke langkahnya yang sedikit membungkuk karena menahan nyeri.

Raut wajah Rangga berubah.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Ibu Ratna cepat-cepat maju.

“Kamu jangan salah paham. Maya baru saja kurang ajar sama Ibu. Dia bilang mau pergi dari rumah dan menelantarkan kami begitu saja.”

Siska ikut menyela.

“Benar, Mas. Kak Maya memang dari awal suka membesar-besarkan masalah.”

Rangga menoleh kepada adiknya.

“Kamu tadi bilang apa?”

Siska terdiam.

Rangga melangkah lebih dekat.

“Kamu bilang meskipun saya ada di sini, saya tidak akan percaya pada Maya dibanding keluarga sendiri.”

Wajah Siska semakin pucat.

“Saya dengar itu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Maya akhirnya menyadari bahwa Rangga tidak datang sendirian.

Dari belakangnya muncul seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan setelan abu-abu.

Pak Surya.

Pengacara keluarga sekaligus penasihat hukum perusahaan Rangga.

Di tangannya terdapat ponsel yang sejak tadi merekam.

Ibu Ratna langsung kehilangan warna wajahnya.

“Apa maksudnya ini?”

Rangga menjawab tanpa menoleh.

“Pesawat saya mendarat satu jam lalu.”

Maya mengerutkan kening.

Rangga menatap istrinya.

“Setelah telepon kita terputus, saya langsung membatalkan semua agenda di Tokyo. Saya naik penerbangan pertama yang tersedia.”

Suara Rangga mulai bergetar.

“Saya menelepon rumah sakit dari bandara.”

Maya membeku.

“Mereka bilang kamu menjalani operasi karena kehamilan ektopik yang pecah.”

Kalimat terakhir keluar dengan susah payah.

Rangga menundukkan kepala.

“Kamu hampir meninggal.”

Maya tidak menjawab.

Rangga mengangkat kembali wajahnya.

“Dan anak kita…”

Suaranya berhenti.

Maya memejamkan mata.

Satu tetes air mata jatuh.

Rangga mengepalkan tangannya.

Beberapa detik kemudian, dia menoleh kepada ibunya.

“Ibu tahu Maya dibawa ambulans?”

Ratna terdiam.

“Ibu tahu?”

“Ibu kira cuma sakit biasa.”

“Ambulans datang ke rumah.”

Ratna menarik napas.

“Ya, tapi Maya memang sering mengeluh.”

Rangga tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak bisa dipercaya.

“Kalian melihat istri saya tergeletak di lantai sampai tidak bisa berdiri, lalu menyebutnya mengeluh?”

Pak Hendra akhirnya muncul dari arah ruang kerja.

“Ada apa ribut-ribut?”

Ketika melihat Rangga, langkahnya langsung terhenti.

“Kamu sudah pulang?”

Rangga memandang ayahnya.

“Ayah tahu Maya dirawat?”

Pak Hendra tampak serba salah.

“Ibumu bilang tidak parah.”

Rangga mengangguk perlahan.

Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.

“Saya baru saja bicara dengan dokter Maya.”

Dia membuka sebuah pesan.

“Dokter bilang kalau ambulans datang tiga puluh menit lebih lambat, kemungkinan besar Maya tidak selamat.”

Tidak ada yang bicara.

Rangga menatap mereka satu per satu.

“Istri saya hampir meninggal di rumah ini.”

Suaranya semakin rendah.

“Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang menghubungi saya.”

Ratna langsung membela diri.

“Kamu sedang mengurus bisnis besar. Ibu tidak mau mengganggu.”

“Mengganggu?”

Rangga menatap ibunya.

“Nyawa istri saya disebut gangguan?”

Ratna terdiam.

Maya perlahan berjalan menuju tangga.

“Aku tidak butuh penjelasan mereka.”

Rangga menoleh.

“Maya.”

“Aku hanya mau mengambil koper.”

Rangga segera mendekatinya.

“Jangan naik sendiri. Kamu baru operasi.”

Maya menghindari tangannya.

Gerakan kecil itu justru terasa seperti pukulan bagi Rangga.

“Aku bisa sendiri.”

“Maya…”

“Aku sudah sendiri selama empat tahun, Rangga.”

Rangga membeku.

Ratna langsung memotong.

“Itu fitnah!”

Maya berhenti di anak tangga pertama.

Untuk pertama kalinya sejak datang, dia berbalik dan menatap seluruh keluarga itu.

“Kalau Rangga sedang di rumah, kalian memperlakukanku seperti keluarga.”

Tatapannya berpindah kepada Ratna.

“Begitu dia pergi, Ibu menyuruhku memasak untuk acara arisan, membersihkan rumah, mencuci pakaian Siska, mengantar barang, bahkan menyiapkan makanan tengah malam.”

Kemudian kepada Pak Hendra.

“Ayah selalu memanggilku dari ruang TV hanya untuk mengambilkan air yang jaraknya tiga meter dari kursi.”

Terakhir, kepada Siska.

“Dan kamu pernah membuang satu lemari penuh pakaian ke lantai karena aku menolak menyetrika bajumu jam dua pagi.”

Siska mendengus.

“Karena kamu memang cuma di rumah!”

Maya tersenyum tipis.

“Aku bekerja dari rumah.”

Siska terdiam.

Rangga menoleh tajam.

“Apa?”

Maya menatap suaminya.

“Kamu pikir aku berhenti bekerja setelah menikah?”

Rangga mengernyit.

“Kamu bilang sedang mengurus beberapa proyek desain.”

“Aku masih mengerjakannya.”

Maya menarik napas.

“Sebagian besar malam setelah semua orang tidur.”

Rangga seperti baru memahami sesuatu.

Selama ini dia selalu melihat Maya membuka laptop hingga larut malam.

Dia pikir istrinya hanya menikmati pekerjaan karena tidak memiliki banyak kegiatan.

Dia tidak pernah tahu bahwa Maya baru bisa mengerjakan pekerjaannya setelah selesai melayani seluruh keluarganya.

“Mengapa kamu tidak pernah bilang?”

Maya tersenyum pahit.

“Setiap kali aku mencoba bicara soal ibumu, kamu selalu bilang, ‘Ibu memang keras, tapi hatinya baik.’”

Rangga tidak mampu menjawab.

Kalimat itu memang sering dia ucapkan.

Terlalu sering.

Maya menaiki tangga perlahan.

Kali ini Rangga tidak menghentikannya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Maya turun sambil menarik koper kecil.

Dia hanya mengambil pakaian, laptop, dokumen pribadi, dan beberapa barang penting.

Tidak ada foto pernikahan.

Tidak ada hadiah ulang tahun dari Rangga.

Tidak ada benda kenangan.

Rangga melihat koper itu dan akhirnya menyadari keseriusan keputusan istrinya.

“Maya, kita bicara berdua.”

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

“Aku minta maaf.”

Maya berhenti.

“Aku memang tidak pernah memukulmu. Aku tidak pernah membentakmu.”

Rangga berdiri beberapa langkah di depannya.

“Tapi aku gagal melindungimu.”

Maya menatapnya.

Rangga menelan ludah.

“Aku terlalu percaya bahwa selama aku memberikan rumah yang nyaman, uang cukup, dan semua kebutuhan terpenuhi, berarti aku sudah menjadi suami yang baik.”

Suara Rangga terdengar parau.

“Ternyata aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di rumahku sendiri.”

Ratna langsung menyela.

“Kamu mau minta maaf pada dia di depan ibumu?”

Rangga menoleh.

“Ya.”

Jawaban itu begitu cepat hingga Ratna terdiam.

“Karena Ibu salah.”

Ratna menatap anaknya tidak percaya.

“Kamu memilih istrimu daripada keluarga sendiri?”

Rangga menggeleng.

“Ini bukan soal memilih.”

Dia menunjuk wajan di lantai.

“Ibu baru saja melempar benda seberat hampir tiga kilogram ke kepala seseorang yang baru menjalani operasi.”

Ratna membuka mulut.

“Itu cuma emosi!”

“Kalau kena kepalanya?”

Ratna tidak mampu menjawab.

Rangga menatap Pak Surya.

“Rekamannya jelas?”

“Jelas.”

Ratna panik.

“Rangga, untuk apa direkam?”

Rangga tidak menjawab langsung.

Dia mengambil napas panjang.

“Karena ini bukan pertama kalinya.”

Semua orang menatapnya.

Termasuk Maya.

Rangga kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah kartu memori kecil.

“Sebelum berangkat ke Tokyo dua minggu lalu, saya memasang kamera keamanan baru di dapur dan ruang keluarga.”

Wajah Siska berubah.

Maya sendiri tampak terkejut.

Rangga melanjutkan.

“Bukan untuk memata-matai kalian.”

Dia menatap Maya.

“Beberapa bulan terakhir saya merasa ada yang aneh. Setiap saya pulang dari perjalanan bisnis, Maya terlihat kelelahan. Tapi begitu saya bertanya, semua orang selalu bilang dia sedang banyak pekerjaan.”

Maya menahan napas.

“Saya sempat mengira saya terlalu curiga.”

Rangga memandang ibunya.

“Sampai tadi di pesawat, saya membuka rekaman dari sistem keamanan.”

Ratna membeku.

Rangga membuka ponsel.

Sebuah video diputar.

Dalam rekaman itu, Maya terlihat berdiri di dapur sambil memegangi perut.

Ratna sedang duduk sambil memberikan perintah.

Setelah beberapa menit, tubuh Maya jatuh.

Suara benturan terdengar jelas.

Kemudian Ratna masuk.

Melihat Maya.

Dan melangkahi tubuhnya.

“Jangan mulai drama lagi.”

Suara Ratna terdengar jelas dari video.

Tidak seorang pun berbicara.

Video berlanjut.

Siska masuk sambil membawa ponsel.

“Kalau mau pingsan jangan dekat background videoku.”

Rangga mematikan rekaman.

Tangannya gemetar.

“Saya menonton ini di pesawat.”

Matanya merah.

“Selama tujuh jam saya duduk di sana dan berharap apa yang saya lihat cuma salah paham.”

Ratna mencoba mendekat.

“Rangga, dengarkan Ibu…”

“Jangan.”

Ratna terhenti.

“Mulai hari ini Ibu, Ayah, dan Siska tidak tinggal di rumah ini lagi.”

Pak Hendra langsung berdiri.

“Apa?”

Rangga memandangnya.

“Rumah ini atas nama saya.”

Ratna tertawa tidak percaya.

“Kamu mengusir orang tuamu sendiri?”

“Saya meminta kalian pergi karena kalian menyiksa istri saya selama bertahun-tahun.”

“Kami membesarkanmu!”

“Dan saya akan tetap memenuhi kewajiban saya sebagai anak.”

Rangga menjawab dengan tenang.

“Saya sudah menyiapkan apartemen untuk Ibu dan Ayah. Biaya hidup tetap saya tanggung.”

Kemudian dia memandang Siska.

“Tapi mulai bulan depan, Siska mencari pekerjaan dan tinggal sendiri.”

Siska langsung menjerit.

“Mas!”

“Sudah cukup.”

Siska menunjuk Maya.

“Semua ini gara-gara dia!”

Rangga menatap adiknya lama.

“Tidak.”

Dia menggeleng.

“Semua ini terjadi karena selama bertahun-tahun kalian yakin Maya tidak akan pernah berani bicara.”

Maya menggenggam gagang kopernya.

“Aku tetap akan pergi.”

Rangga menoleh.

“Maya…”

“Aku menghargai apa yang kamu lakukan hari ini.”

Maya menatapnya tenang.

“Tapi luka empat tahun tidak hilang hanya karena satu keputusan yang benar.”

Rangga menunduk.

“Aku tahu.”

“Aku tetap ingin berpisah sementara.”

Rangga mengangguk pelan.

“Kalau itu yang kamu butuhkan, aku tidak akan memaksamu.”

Maya sempat terkejut mendengar jawaban itu.

Rangga mengambil ponselnya.

“Aku sudah menyewa apartemen servis dekat rumah sakit. Bukan untuk kita. Untuk kamu.”

“Aku tidak perlu.”

“Bukan sebagai suami.”

Rangga menatapnya.

“Anggap saja sebagai orang yang seharusnya memastikan kamu pulih dengan aman.”

Maya tetap diam.

“Aku juga sudah menghubungi perawat yang bisa datang setiap hari.”

Rangga menghela napas.

“Kalau kamu tidak mau melihatku, aku tidak akan datang.”

Untuk pertama kalinya sejak Rangga pulang, tatapan Maya sedikit melunak.

Namun dia tetap pergi malam itu.

Tiga minggu kemudian, Maya tinggal sendiri di apartemen kecil di kawasan Kuningan.

Kondisinya perlahan membaik.

Dia kembali bekerja.

Tidurnya mulai teratur.

Tidak ada lagi suara Ratna memanggil dari lantai bawah.

Tidak ada lagi pesan Siska meminta pakaian dicuci.

Tidak ada lagi kewajiban memasak untuk semua orang.

Anehnya, kesunyian yang dulu terasa menakutkan sekarang justru terasa seperti kebebasan.

Rangga menepati janjinya.

Dia tidak datang tanpa izin.

Hanya mengirim satu pesan setiap malam.

Sudah makan?

Itu saja.

Tidak meminta maaf berulang kali.

Tidak memaksa Maya pulang.

Tidak menggunakan rasa bersalah.

Sebulan kemudian, Maya menerima sebuah amplop dari Pak Surya.

Di dalamnya terdapat dokumen perubahan kepemilikan saham perusahaan Rangga.

Maya menelepon pengacara itu.

“Ini apa?”

Pak Surya menjawab tenang.

“Empat tahun lalu, perusahaan Rangga hampir kehilangan kontrak terbesar mereka.”

Maya mengingat masa itu.

Rangga hampir bangkrut.

“Proyek desain identitas dan presentasi bisnis yang Ibu kerjakan saat itu menjadi salah satu alasan investor akhirnya masuk.”

Maya terdiam.

“Itu memang pekerjaanku.”

“Benar. Tapi selama ini Anda dibayar sebagai freelancer biasa.”

Pak Surya melanjutkan.

“Rangga baru menyadari bahwa nilai pekerjaan Anda jauh lebih besar daripada honor yang pernah diberikan.”

Maya membuka lembar berikutnya.

Sepuluh persen saham perusahaan dialihkan atas namanya.

Maya langsung berdiri.

“Saya tidak bisa menerima ini.”

“Rangga tidak memberikannya sebagai hadiah pernikahan.”

Pak Surya menjawab.

“Itu kompensasi profesional.”

Maya terdiam.

“Dia bilang kalau suatu hari kalian benar-benar bercerai, hak itu tetap milik Anda.”

Malamnya, Maya menelepon Rangga.

“Kamu tidak perlu melakukan ini.”

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

Rangga terdiam beberapa detik.

“Karena untuk pertama kalinya aku mencoba melihat semua yang selama ini tidak kulihat.”

Tiga bulan berlalu.

Maya akhirnya kembali ke rumah Pondok Indah.

Bukan untuk tinggal.

Dia datang mengambil sebuah kotak berisi dokumen lama yang tertinggal.

Rumah itu sangat berbeda.

Sepi.

Rapi.

Tidak ada lagi Ratna, Pak Hendra, atau Siska.

Di ruang makan, Rangga sedang duduk sendirian dengan secangkir kopi.

Ketika melihat Maya, dia berdiri.

“Aku bisa ambilkan kotaknya.”

“Tidak usah.”

Maya berjalan menuju lemari.

Setelah mengambil kotak, dia hendak pergi.

Namun langkahnya berhenti.

“Rangga.”

“Ya?”

Maya menatapnya.

“Aku sudah bicara dengan pengacaraku.”

Wajah Rangga berubah tegang.

“Dokumen perceraian?”

Maya mengangguk.

Rangga menarik napas panjang.

“Kalau itu keputusanmu, aku akan tanda tangan.”

Maya mengeluarkan sebuah map.

Rangga menerimanya.

Namun ketika dibuka, tidak ada surat gugatan.

Yang ada adalah dokumen konsultasi pernikahan.

Rangga mengangkat kepala.

Maya berkata pelan.

“Aku belum memaafkan semuanya.”

Rangga tidak bergerak.

“Aku juga belum siap kembali ke rumah.”

Mata Rangga mulai berkaca-kaca.

“Tapi aku ingin tahu apakah sesuatu yang sudah rusak masih bisa diperbaiki.”

Rangga menatapnya lama.

“Kapan?”

“Sabtu.”

Maya mengambil kembali kopernya.

“Jam sepuluh.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Rangga tersenyum kecil.

“Aku datang.”

Maya berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, dia melihat sesuatu di sudut ruang keluarga.

Bekas retakan kecil pada dinding tempat wajan pernah menghantam vas.

Rangga belum memperbaikinya.

Maya menunjuk ke arah retakan itu.

“Kamu lupa memperbaikinya.”

Rangga menggeleng.

“Sengaja.”

Maya menatapnya heran.

Rangga memandang bekas retakan itu.

“Aku butuh sesuatu yang mengingatkanku pada hari ketika aku hampir kehilanganmu karena terlalu lama menutup mata.”

Maya tidak menjawab.

Dia hanya membuka pintu.

Sebelum melangkah keluar, dia berkata tanpa menoleh,

“Kalau begitu jangan cuma ingat retakannya.”

Rangga menatapnya.

“Ingat juga siapa yang membuatnya.”

Maya pergi.

Pintu tertutup perlahan.

Rangga berdiri sendirian di dalam rumah yang dahulu penuh orang tetapi tidak pernah benar-benar menjadi rumah.

Saat itulah dia akhirnya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah dia sadari.

Keluarga bukanlah mereka yang selalu kita bela hanya karena memiliki darah yang sama.

Keluarga adalah mereka yang tetap kita perlakukan sebagai manusia bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang