Selama ini aku yang selalu menolong Keluarga suamiku setiap ada masalah keuangan.

“Nala! Jaga mulutmu ya! Kurang ajar sekali kamu bicara begitu sama Mama! Di mana sopan santun kamu sebagai menantu, hah?!” bentaknya berapi-api, suaranya menggelegar memutus napas ruang tengah yang seketika senyap.

Aku menatap Reno tanpa sedikit pun gentar. Dulu, setiap kali ia meninggikan suara, aku selalu memilih diam karena berpikir rumah tangga harus dijaga dengan kesabaran. Namun malam itu, ada sesuatu yang telah benar-benar mati dalam diriku. Bukan cinta, melainkan keinginan untuk terus mengalah.

“Kamu yakin mau bicara soal sopan santun di depan semua orang?” tanyaku pelan.

“Aku gak peduli! Minta maaf sekarang sama Mama!”

Aku tersenyum tipis.

“Baik. Tapi sebelum itu, aku mau tanya satu hal.”

Semua mata tertuju kepadaku.

“Mas, siapa yang bayar uang muka gedung resepsi?”

Reno terdiam.

“Siapa yang transfer uang buat katering?”

Tidak ada jawaban.

“Siapa yang bayar cincin, seserahan, dekorasi, fotografer, sampai mobil pengantin?”

Wajah Reno mulai memucat.

Tante Laura mengernyitkan dahi.

“Maksudnya apa, Nala?”

Aku menoleh ke arahnya.

“Maksud saya sederhana, Tante. Semua biaya yang Tante lihat di rumah ini berasal dari rekening saya.”

Suasana langsung berubah gaduh.

Mama mertua tertawa sinis.

“Jangan mengarang! Reno itu manajer. Gajinya besar.”

Aku mengangguk pelan.

“Benar. Gajinya memang besar. Tapi sudah hampir dua tahun tidak cukup menutup semua kebutuhan keluarganya.”

“Apa maksudmu?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Saya biasanya tidak suka membuka urusan rumah tangga ke orang lain. Tapi karena saya sudah dihina di depan semua keluarga, malam ini saya rasa semua orang berhak tahu kenyataannya.”

Aku membuka aplikasi perbankan.

“Lihat tanggal transfer ini.”

Aku memperlihatkan layar kepada Tante Laura yang berdiri paling dekat.

“Lima belas juta untuk biaya kuliah Angga.”

Tante Laura membelalak.

Aku menggulir layar.

“Dua puluh juta untuk renovasi rumah Mama.”

Aku menggulir lagi.

“Tiga puluh lima juta untuk melunasi utang kartu kredit Mas Reno.”

Ruangan semakin sunyi.

“Empat puluh juta untuk membeli motor baru Angga.”

Tanganku terus menggulir.

“Lima belas juta untuk biaya operasi Om Darto.”

“Lima juta setiap bulan untuk kebutuhan rumah Mama.”

“Dan tujuh puluh juta yang seharusnya dipakai melunasi seluruh vendor pernikahan besok.”

Satu per satu wajah para kerabat berubah.

Tidak ada lagi senyum meremehkan.

Yang tersisa hanya keterkejutan.

Mama mertua mendadak merampas ponsel dari tanganku.

“Itu… itu pasti editan!”

Aku tidak berusaha merebutnya kembali.

“Tidak masalah. Semua transfer itu menggunakan mobile banking. Kalau Mama mau, besok kita bisa cetak rekening koran di bank.”

Mama mertua mendadak kehilangan kata-kata.

Reno mulai berkeringat.

“Nala… cukup…”

Aku menatapnya dingin.

“Kenapa harus cukup? Bukannya tadi kamu ingin membahas sopan santun?”

Tante Laura perlahan menoleh kepada Reno.

“Jadi… selama ini semua yang Reno bilang… bohong?”

Reno menelan ludah.

“Aku… aku cuma…”

“Kamu bilang semua biaya nikahan Angga hasil tabunganmu.”

Tidak ada jawaban.

“Kamu bilang rumah Mama direnovasi karena bonus kantor.”

Reno tetap diam.

“Kamu juga bilang istrimu cuma ibu rumah tangga yang menikmati uangmu.”

Kalimat terakhir itu membuat seluruh ruangan seperti membeku.

Aku tersenyum pahit.

“Itulah yang saya dengar siang tadi. Saat saya berdiri di luar rumah.”

Reno langsung menatapku.

“Kamu dengar?”

“Semuanya.”

Aku masih ingat jelas.

Suara Mama mertuaku yang tertawa bangga.

“Kalau bukan karena Reno, perempuan itu masih ngontrak di kampung.”

Lalu suara Reno yang membuat dadaku sesak.

“Iya, Ma. Dia memang banyak uang, tapi semua tetap atas nama saya. Lagian perempuan itu terlalu cinta sama saya. Disuruh apa juga nurut.”

Saat itulah aku memutuskan memblokir seluruh kartuku.

Bukan karena uang.

Melainkan karena harga diriku.

Aku memandang semua orang satu per satu.

“Selama ini saya diam bukan karena bodoh.”

Aku menarik napas.

“Saya diam karena menganggap keluarga ini juga keluarga saya.”

“Tapi ternyata saya hanya dianggap mesin ATM.”

Tidak ada seorang pun yang mampu membantah.

Malam semakin larut.

Telepon Reno tiba-tiba berdering.

Ia mengangkat dengan tangan gemetar.

“Iya, Pak?”

Suara di seberang terdengar cukup keras hingga semua orang bisa mendengar.

“Pak Reno, kami dari vendor dekorasi. Karena pembayaran belum masuk, besok pagi kami tidak bisa melakukan pemasangan.”

Belum sempat Reno menjawab, telepon lain masuk.

Vendor katering.

Lalu fotografer.

Lalu penyedia sound system.

Semua mengatakan hal yang sama.

Pembayaran belum diterima.

Semua pekerjaan dihentikan.

Mama mertua mulai panik.

“Gimana ini? Besok akad!”

Angga yang sejak tadi diam akhirnya maju.

“Mbak…”

Matanya memerah.

“Aku benar-benar gak tahu kalau semua ini Mbak yang biayai.”

Aku menatapnya.

Wajahnya tampak jauh berbeda dari Reno.

Selama ini Angga memang tidak pernah bersikap kasar.

Ia hanya terlalu percaya kepada kakaknya.

“Aku minta maaf.”

Suara Angga bergetar.

“Kalau aku tahu, aku gak akan pernah mau nikahan pakai uang Mbak.”

Aku hanya mengangguk.

“Aku percaya.”

Mama mertua langsung memotong.

“Angga! Jangan dengarkan dia! Nikahanmu tetap harus jalan!”

“Pakainya uang dari mana, Ma?” tanya Angga lirih.

Mama mertua terdiam.

Semua tabungan keluarga memang sudah habis.

Karena selama bertahun-tahun mereka selalu bergantung pada transfer dariku.

Reno kembali mendekat.

“Nala… kita bicara berdua.”

“Apa lagi?”

“Aku salah.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu baru sadar?”

“Aku khilaf.”

“Yang kamu lakukan bukan khilaf.”

Aku menatap tepat ke matanya.

“Itu pilihan.”

Kalimat itu membuat Reno menunduk.

Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Aku sedikit terkejut.

Ayah dan Ibuku turun dari mobil.

Aku sama sekali tidak menghubungi mereka.

Mama langsung memelukku.

“Nala.”

Aku membalas pelukannya.

“Ibu tahu?”

Mama mengangguk.

“Reno yang menelepon.”

Aku menoleh kepada Reno.

Ia tampak semakin pucat.

Ayah melangkah masuk dengan wajah tenang.

Beliau memandang seluruh ruangan.

“Saya hanya ingin memastikan anak saya baik-baik saja.”

Mama mertua buru-buru tersenyum.

“Besan, ini cuma salah paham.”

Ayah menggeleng.

“Saya sudah mendengar semuanya.”

Beliau kemudian mengeluarkan sebuah map.

“Sebelum menikah, saya pernah menawarkan modal usaha kepada Reno.”

Reno langsung membeku.

“Tapi syaratnya sederhana.”

Ayah membuka map itu.

“Selama lima tahun pertama, dia harus membuktikan bisa menjaga dan menghormati anak saya.”

Ayah tersenyum tipis.

“Sayangnya malam ini saya mendapat jawabannya.”

Mama mertua tampak kebingungan.

“Modal usaha apa?”

Ayah menjawab tenang.

“Dua belas miliar rupiah.”

Ruangan seketika sunyi.

Reno sampai kehilangan keseimbangan.

“Dua belas…”

Ayah mengangguk.

“Perusahaan baru yang rencananya akan saya serahkan kepada Reno.”

Beliau menatap menantunya itu lama.

“Tapi sekarang tidak jadi.”

Mama mertua terduduk lemas.

Baru malam itu mereka menyadari bahwa selama ini mereka tidak pernah benar-benar mengenal siapa menantu yang terus mereka rendahkan.

Aku bukan perempuan miskin yang beruntung menikah dengan Reno.

Justru Reno yang mendapat kesempatan luar biasa memasuki keluargaku.

Kesempatan itu kini hilang.

Ayah memandangku.

“Kamu sudah yakin?”

Aku mengangguk mantap.

“Sangat yakin.”

Beliau tidak bertanya lagi.

“Kita pulang.”

Aku kembali ke kamar mengambil koper yang sebenarnya sudah kusiapkan sejak sore.

Saat melewati ruang tengah, Angga menghentikanku.

“Mbak.”

Aku menoleh.

“Aku akan batalkan pesta besok.”

Aku terkejut.

“Kenapa?”

“Aku gak mau memulai rumah tangga dengan uang yang diperoleh dari menyakiti orang lain.”

Aku tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

“Kalau calon istrimu memang mencintaimu, dia akan mengerti.”

Angga mengangguk pelan.

Sebelum aku keluar dari rumah, Reno berlutut di depanku.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Aku mohon.”

Ia memegang ujung koperku.

“Kasih aku satu kesempatan terakhir.”

Aku menatap laki-laki yang pernah kucintai sepenuh hati.

Andai permintaan maaf bisa menghapus penghinaan.

Andai penyesalan datang sebelum semuanya terlambat.

Aku mungkin masih mau bertahan.

Namun ada luka yang tidak sembuh hanya karena kata maaf.

Aku melepaskan genggamannya perlahan.

“Kesempatan terakhir itu sebenarnya sudah sering kuberikan.”

Aku melangkah meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.

Tiga bulan kemudian, gugatan cerai kami dikabulkan.

Aku mendengar pesta pernikahan Angga akhirnya tetap berlangsung secara sederhana setelah ia dan calon istrinya sepakat memulai hidup tanpa utang dan tanpa bantuan siapa pun.

Reno kehilangan pekerjaannya beberapa minggu setelah perceraian karena kasus penyalahgunaan dana operasional perusahaan yang selama ini diam-diam kututupi dengan uang pribadiku agar namanya tidak tercoreng. Ketika audit internal selesai, tidak ada lagi yang bisa menyelamatkannya.

Mama mertuaku beberapa kali datang meminta maaf.

Aku menerimanya dengan sopan, tetapi tidak pernah membuka pintu untuk kembali menjadi bagian dari keluarga itu.

Aku belajar bahwa memaafkan bukan berarti harus kembali memberi kesempatan kepada orang yang sama untuk melukai kita.

Kadang-kadang, bentuk cinta terbesar kepada diri sendiri adalah berani berhenti menjadi penolong bagi orang-orang yang hanya mengingat kita saat membutuhkan uang, tetapi melupakan harga diri kita ketika merasa sudah berada di atas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang