Baju bayi kecil berwarna putih itu jatuh tepat di samping ranjang.
Siti tidak berusaha mengambilnya.
Matanya hanya terpaku pada dokter senior di hadapannya, seakan seluruh dunia berhenti bergerak pada detik itu.
“Bu Siti,” kata dokter tersebut dengan suara rendah, “yang kami lihat di dalam rahim Ibu bukan janin.”
Siti berkedip perlahan.
Ia seperti tidak memahami kalimat yang baru saja didengarnya.
“Bukan… janin?”
Dokter mengangguk pelan.
Rina yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang langsung menutup mulutnya dengan tangan.
“Lalu apa, Dok?” tanyanya.
Dokter senior menatap layar USG sebelum kembali memandang Siti.
“Kami menemukan massa yang cukup besar di dalam rongga perut dan panggul Ibu. Bentuk dan posisinya membuat pemeriksaan awal bisa terlihat seperti kehamilan, terutama ketika hanya diperiksa secara terbatas. Tetapi dari pemeriksaan hari ini, kami tidak menemukan struktur janin, denyut jantung janin, ataupun plasenta.”
Wajah Siti mendadak kehilangan seluruh warnanya.
Ia menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Suaranya hampir seperti bisikan.
“Perut saya membesar. Saya merasa ada yang bergerak.”
Dokter tidak langsung menyanggah.
“Kami percaya Ibu memang merasakan perubahan-perubahan itu. Tetapi gerakan di dalam perut tidak selalu berasal dari bayi. Tekanan massa terhadap usus, kontraksi otot, dan perubahan organ di sekitarnya bisa menimbulkan sensasi yang sangat nyata.”
Siti terus menggeleng.
Air matanya mulai jatuh.
“Dokter yang dulu bilang saya hamil.”
“Kami perlu melihat semua hasil pemeriksaan sebelumnya,” jawab dokter. “Untuk saat ini, kami harus melakukan CT scan dan beberapa tes lain secepat mungkin. Rasa sakit yang Ibu alami hari ini bisa menandakan komplikasi.”
Siti tidak lagi mendengar kalimat berikutnya dengan jelas.
Kepalanya terasa berdengung.
Selama berbulan-bulan ia sudah berbicara kepada seseorang di dalam perutnya.
Ia sudah memikirkan nama.
Ia sudah membayangkan wajah.
Ia bahkan beberapa kali terbangun tengah malam hanya untuk memastikan baju bayi yang disimpannya masih berada di dalam lemari.
Dan sekarang seseorang mengatakan semua itu tidak pernah ada.
“Kalau bukan bayi…” Siti menatap dokter dengan tatapan kosong. “Kenapa saya bisa percaya sampai sejauh ini?”
Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang mampu segera menjawab.
Beberapa jam kemudian, hasil CT scan memperlihatkan gambaran yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Di dalam rongga perut Siti terdapat tumor berukuran sangat besar yang berasal dari area ovarium. Massa tersebut memenuhi sebagian panggul, mendorong rahim, menekan kandung kemih, dan mendesak usus ke arah atas.
Ada pula penumpukan cairan di rongga perut yang membuat ukuran perutnya semakin menyerupai kehamilan.
Dokter spesialis onkologi ginekologi bernama dr. Arif Pranoto datang menemui keluarga pada sore hari.
“Kami belum bisa memastikan apakah tumor ini jinak atau ganas sebelum dilakukan tindakan dan pemeriksaan jaringan,” jelasnya. “Tetapi ukurannya sudah sangat besar. Yang paling penting sekarang adalah kondisi Bu Siti. Ada tanda-tanda tekanan pada organ lain dan kemungkinan perdarahan di dalam massa.”
Rina langsung bertanya, “Harus operasi?”
“Ya.”
“Kapan?”
“Secepat mungkin.”
Siti yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
“Saya ingin pulang.”
Rina menoleh kaget.
“Bude?”
“Saya ingin pulang.”
“Bude, dokter bilang harus operasi.”
Siti menarik selimut sampai ke dadanya.
“Tidak ada bayi. Untuk apa saya di sini?”
Kalimat itu membuat Rina tercekat.
Ia duduk di samping bibinya.
“Bude masih ada.”
Siti memalingkan wajah.
“Bude capek, Rin.”
“Justru karena Bude capek, biarkan kami bantu.”
Siti tersenyum getir.
“Selama puluhan tahun Bude menunggu seorang anak. Ketika akhirnya Bude percaya dia datang, ternyata yang tumbuh di dalam tubuh Bude justru penyakit.”
Air mata Rina ikut jatuh.
“Bude tidak boleh menyerah hanya karena kenyataannya berbeda dari yang kita harapkan.”
Siti diam.
Rina kemudian membungkuk mengambil baju bayi yang sejak tadi diletakkan di atas kursi.
Ia merapikannya perlahan.
“Baju ini Bude jahit sendiri, kan?”
Siti menatapnya.
“Dari kain yang dulu disimpan bersama Pakde?”
Siti mengangguk kecil.
Rina meletakkan baju itu di atas telapak tangan bibinya.
“Kalau Bude menyerah sekarang, semua cinta yang pernah Bude dan Pakde punya seolah berhenti di ruangan ini.”
Siti menutup mata.
Nama Budi kembali memenuhi pikirannya.
Ia teringat suatu malam puluhan tahun lalu, ketika mereka pulang dari klinik setelah dokter mengatakan kemungkinan memiliki anak sangat kecil.
Saat itu Siti menangis sepanjang perjalanan.
Budi tidak banyak bicara.
Sesampainya di rumah, lelaki itu hanya membuat dua gelas teh, lalu duduk di lantai bersama Siti.
“Kalau suatu hari kita tidak punya anak,” kata Budi ketika itu, “jangan merasa hidup kita gagal.”
Siti menatapnya dengan mata bengkak.
“Lalu untuk siapa semua yang kita bangun?”
Budi tersenyum.
“Untuk siapa pun yang nanti membutuhkan kita.”
Saat itu Siti tidak memahami maksud suaminya.
Sekarang, untuk pertama kalinya, kalimat itu kembali terdengar begitu jelas.
Malam itu Siti akhirnya menandatangani persetujuan operasi.
Operasi dijadwalkan keesokan paginya.
Namun menjelang tengah malam, kondisinya tiba-tiba memburuk.
Tekanan darahnya turun.
Rasa sakit di perut menjadi sangat hebat hingga ia tidak mampu lagi berbicara.

Monitor di samping ranjang berbunyi keras.
Beberapa perawat bergegas masuk.
“Bu Siti, dengar saya?”
Siti hanya mampu mengangguk lemah.
Rina berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat.
Dr. Arif datang beberapa menit kemudian setelah melihat hasil pemeriksaan darah terbaru.
“Kita tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Ada kemungkinan tumor mengalami perdarahan atau terpuntir. Kita harus masuk ruang operasi sekarang.”
Siti segera dipindahkan.
Lampu-lampu lorong rumah sakit melintas cepat di atas kepalanya.
Saat tempat tidurnya hampir memasuki ruang operasi, tangannya tiba-tiba terulur mencari Rina.
Rina langsung menggenggamnya.
“Rin.”
“Iya, Bude.”
“Kalau Bude tidak keluar dari sana…”
“Jangan ngomong begitu.”
“Dengar dulu.”
Rina terdiam.
Siti menelan ludah.
“Di lemari kamar Bude ada kotak kayu. Di dalamnya ada surat dari Pakde Budi dan beberapa dokumen. Tolong dibaca.”
“Bude sendiri yang baca nanti.”
Siti tersenyum tipis.
“Kalau Bude masih diberi waktu.”
Pintu ruang operasi kemudian tertutup.
Rina berdiri sendirian di lorong.
Satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Kemudian tiga.
Tidak ada kabar.
Menjelang pukul tiga pagi, dr. Arif akhirnya keluar dengan masker masih tergantung di leher.
Rina langsung berdiri.
“Bagaimana, Dok?”
“Operasinya selesai.”
Rina menahan napas.
“Bude saya?”
“Stabil. Untuk sementara.”
Kedua kaki Rina hampir kehilangan tenaga.
Ia duduk kembali.
Dokter melanjutkan, “Kami berhasil mengangkat massa utama. Ukurannya sangat besar, hampir memenuhi rongga panggul dan sebagian abdomen. Ada perdarahan di beberapa bagian, tetapi sudah kami kendalikan.”
“Tumornya ganas?”
“Kami harus menunggu hasil patologi.”
Rina mengangguk.
Namun dokter belum pergi.
Wajahnya justru tampak seolah masih menyimpan sesuatu.
“Ada satu hal lagi.”
Rina menatapnya.
“Apa, Dok?”
“Di dalam tumor tersebut kami menemukan struktur yang tidak biasa.”
Jantung Rina kembali berdegup cepat.
“Struktur apa?”
Dokter memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Jaringan keras menyerupai tulang, rambut, dan material seperti gigi.”
Rina menatap dokter itu tanpa mengerti.
Dr. Arif menjelaskan bahwa temuan tersebut mengarah pada jenis tumor sel germinal tertentu, kemungkinan teratoma, tumor yang dalam beberapa kasus memang dapat mengandung jaringan seperti rambut, tulang, kulit, atau gigi.
Rina merinding.
“Jadi selama ini…”
“Itu bukan bayi,” kata dokter lembut. “Tetapi kami bisa memahami mengapa keluarga merasa kebingungan.”
Kabar itu justru membuat situasi terasa semakin aneh.
Namun kejutan sebenarnya baru datang tiga hari kemudian.
Hasil patologi menunjukkan tumor tersebut bukan kanker ganas.
Tumor itu adalah teratoma matang berukuran sangat besar yang kemungkinan telah berkembang perlahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menimbulkan gejala berat.
Ketika dokter menyampaikan hasil tersebut, Siti hanya menatap langit-langit kamar.
“Jadi saya tidak akan mati?”
“Kami semua akan mati suatu hari nanti, Bu,” jawab dr. Arif sambil tersenyum tipis. “Tetapi bukan karena tumor ini, kalau pemulihan Ibu berjalan baik.”
Siti tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit.
Namun tawanya berakhir dengan air mata.
“Mungkin saya lebih bodoh daripada yang dokter kira.”
“Kenapa?”
“Saya sungguh-sungguh percaya sedang menjadi ibu.”
Dokter duduk di kursi.
“Harapan bisa membuat manusia menafsirkan banyak hal dengan cara yang ingin ia percaya. Itu tidak membuat Ibu bodoh.”
Setelah sembilan hari dirawat, Siti diperbolehkan pulang.
Tubuhnya masih lemah.
Perutnya jauh lebih kecil.
Namun ada kekosongan baru yang justru terasa lebih besar.
Sesampainya di rumah Surabaya, ia langsung masuk ke kamar.
Di sana masih ada beberapa pakaian bayi di atas lemari.
Siti berdiri lama menatapnya.
Lalu perlahan ia duduk di lantai dan mulai menangis.
Bukan tangisan karena sakit.
Bukan juga karena kecewa kepada dokter.
Ia menangisi seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada, tetapi telah ia cintai begitu dalam selama berbulan-bulan.
Rina tidak mencoba menghentikannya.
Ia hanya duduk di samping bibinya sampai malam.
Keesokan harinya, mereka membuka kotak kayu yang pernah disebut Siti sebelum operasi.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama, foto pernikahan Siti dan Budi, buku tabungan, serta sebuah amplop menguning.
Tulisan tangan di bagian depan membuat tangan Siti langsung gemetar.
Untuk Siti, kalau suatu hari aku pergi duluan.
Itu tulisan Budi.
Siti membuka surat tersebut perlahan.
Budi menulisnya saat menjalani perawatan jantung beberapa bulan sebelum meninggal.
Ia meminta Siti tidak menghabiskan sisa hidup hanya untuk meratapi segala sesuatu yang tidak pernah mereka miliki.
Di bagian akhir surat, ada satu kalimat yang membuat Siti menangis keras.
Kalau kita tidak pernah diberi anak, gunakan rumah kita untuk menjadi tempat pulang bagi seseorang yang tidak punya rumah.
Rina yang membaca dari samping ikut terdiam.
Beberapa hari kemudian, Siti melakukan sesuatu yang tidak pernah diperkirakan siapa pun.
Ia menjual salah satu tanah kecil peninggalan keluarganya.
Bukan untuk membayar utang rumah sakit.
Bukan untuk membeli sesuatu bagi dirinya sendiri.
Ia menggunakan sebagian besar uangnya untuk membantu sebuah rumah singgah di Surabaya yang menampung perempuan dan anak-anak yang sedang menjalani pengobatan jangka panjang jauh dari rumah.
Awalnya ia hanya berniat menyumbangkan uang.
Namun setelah beberapa kali berkunjung, Siti justru mulai datang hampir setiap minggu.
Ia memasak.
Membawakan makanan.
Mengajari beberapa ibu menjahit.
Kadang ia hanya duduk mendengarkan cerita mereka.
Suatu sore, seorang perempuan muda bernama Maya datang membawa anak perempuannya yang sedang menjalani pengobatan.
Maya tampak sangat kelelahan.
Suaminya meninggalkan mereka setelah mengetahui biaya pengobatan anaknya terus membesar.
Saat melihat Maya menangis sendirian di dapur rumah singgah, Siti duduk di sampingnya.
“Saya tidak tahu harus ke mana lagi, Bu,” kata Maya.
Siti tidak memberi nasihat.
Ia hanya memegang tangannya.
“Kalau begitu, untuk sementara jangan ke mana-mana. Tinggal di sini dulu.”
Beberapa bulan berlalu.
Hubungan mereka menjadi semakin dekat.
Anak Maya, Nisa, sering duduk di samping Siti ketika perempuan tua itu menjahit.
Suatu hari Nisa melihat sebuah baju putih kecil di dalam tas kain milik Siti.
“Ini baju siapa, Nek?”
Siti terdiam.
Itu baju yang dahulu ia jahit untuk bayi yang ia kira sedang dikandungnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sakit ketika melihatnya.
“Dulu Nenek membuatnya untuk seseorang.”
“Sekarang orangnya di mana?”
Siti tersenyum.
“Tidak pernah datang.”
Nisa berpikir sebentar.
“Kalau begitu boleh buatkan saya boneka dari kain yang sama?”
Siti tertawa.
“Boleh.”
Malam itu ia membongkar sebagian jahitan baju bayi tersebut.
Bukan karena ingin membuang kenangannya.
Ia justru mengubahnya menjadi boneka kecil berbentuk kelinci untuk Nisa.
Beberapa tahun kemudian, rumah singgah itu berkembang menjadi yayasan kecil.
Namanya bukan nama Siti.
Bukan pula nama Budi.
Di papan depan tertulis sederhana, Rumah Pulang.
Ketika seorang wartawan lokal pernah bertanya mengapa ia memilih nama tersebut, Siti menjawab singkat.
“Karena suami saya pernah bilang, kalau kami tidak punya anak, kami masih bisa menjadi rumah untuk seseorang.”
Pada usia 68 tahun, Siti berdiri di halaman Rumah Pulang ketika puluhan orang berkumpul merayakan ulang tahun kelima tempat itu.
Di antara mereka ada pasien, mantan pasien, relawan, ibu-ibu, dan anak-anak yang kini sudah tumbuh lebih sehat.
Nisa berlari menghampirinya sambil membawa boneka kelinci putih yang sudah terlihat kusam.
“Nenek!”
Siti menoleh.
Nisa memeluk pinggangnya erat.
Beberapa tahun sebelumnya, Siti pernah berpikir hidup akhirnya memberinya seorang anak, lalu merenggutnya sebelum sempat lahir.
Kini ia menyadari kenyataannya justru jauh berbeda.
Tidak pernah ada seorang bayi di dalam rahimnya.
Tidak ada kehamilan ajaib.
Tidak ada mukjizat seperti yang selama ini dibayangkan orang-orang.
Tetapi kesalahan yang hampir merenggut nyawanya itu telah membawanya kepada sesuatu yang tidak pernah ia temukan selama 63 tahun hidup.
Siti menatap halaman yang penuh suara tawa.
Lalu ia mengangkat wajah ke langit.
“Bud,” bisiknya, “ternyata rumah kita memang akhirnya penuh.”
Dan untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal, Siti tidak merasa sedang berbicara kepada seseorang yang telah pergi.
Ia merasa sedang menyampaikan kabar bahwa janji mereka akhirnya benar-benar ditepati.
