Rasa sakit itu datang seperti gelombang besar yang menghantam kepalaku tanpa peringatan. Lututku melemas, dan seandainya salah satu pedagang di samping gerobakku tidak segera menahan bahuku, aku mungkin sudah jatuh ke aspal.
Pria berkemeja putih itu langsung bergerak maju.
“Laras!”
Tangannya hampir menyentuhku, tetapi aku refleks menepisnya.
“Jangan sentuh saya.”

Ia berhenti seketika. Wajahnya tampak seperti seseorang yang baru saja menerima hukuman paling berat dalam hidupnya.
Wanita bergaun putih di belakangnya masih tersenyum, tetapi jemarinya mencengkeram bahu anak kecil itu terlalu kuat. Anak itu mengernyit kesakitan.
“Mama, sakit.”
Senyum wanita itu lenyap sesaat, lalu kembali lagi.
“Maaf, Sayang.”
Aku menatapnya tanpa berkedip. Potongan ingatan di kepalaku belum utuh, tetapi tubuhku mengenal rasa takut itu. Aroma parfumnya, nada suaranya, bahkan cara ia memiringkan kepala, semuanya terasa seperti pintu menuju ruangan gelap yang selama ini terkunci.
“Siapa namamu?” tanyaku.
Ia tampak terkejut, lalu terkekeh kecil.
“Kau benar-benar lupa rupanya.”
“Jawab pertanyaanku.”
Namaku Laras, tetapi saat itu suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Dingin, tegas, dan jauh lebih berani daripada perempuan yang kulihat dalam kilasan ingatan.
Wanita itu menghela napas.
“Aku Nadine. Sahabatmu.”
Kepalaku kembali berdenyut.
Sahabat.
Kata itu melahirkan bayangan lain.
Seorang perempuan duduk di kamar tidur besar sambil memelukku saat aku menangis. Ia berkata suamiku terlalu sibuk, terlalu dingin, terlalu kejam. Ia menyeka air mataku, memberiku obat penenang, lalu berbisik bahwa hanya dia yang benar-benar memahami penderitaanku.
Setelah itu, muncul bayangan Nadine keluar dari kamar kerja suamiku saat tengah malam.
Rambutnya berantakan.
Bibirnya gemetar.
Tangannya menggenggam kancing manset milik seorang pria.
Aku menutup mata sejenak.
“Bawa mereka pergi,” kataku kepada para pengawal.
Pria berkemeja putih menatapku tajam.
“Aku tidak akan pergi tanpamu.”
“Aku bahkan tidak tahu siapa namamu.”
Ia menelan ludah sebelum menjawab.
“Raka Adinata. Aku suamimu.”
Kerumunan warga mulai berbisik. Nama Adinata bukan nama asing. Perusahaan keluarganya memiliki hotel, rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan proyek properti di berbagai kota besar. Namun selama setahun tinggal di kota itu, aku tidak pernah merasa perlu mencari tahu siapa diriku sebelum kecelakaan. Dokter mengatakan memaksakan ingatan bisa membahayakan pemulihanku.
Kini masa lalu itu datang sendiri dengan membawa lebih dari sepuluh mobil mewah.
Aku menatap cincin di jari Raka. Lalu mataku turun ke tangan Nadine. Ia juga mengenakan cincin dengan batu permata besar.
“Kalau kau suamiku, kenapa dia datang membawa anak yang memanggilmu Papa?”
Raka membuka mulut, tetapi Nadine lebih cepat menjawab.
“Karena Dimas memang putra Raka.”
Udara di sekitar kami terasa membeku.
Raka menoleh tajam.
“Nadine, diam.”
“Kenapa harus diam?” Nadine tersenyum sinis. “Cepat atau lambat dia akan tahu.”
Anak kecil itu memandang orang-orang dewasa di sekelilingnya dengan kebingungan.
Aku menatap Raka.
“Berapa umur anak itu?”
“Lima tahun,” jawab Nadine.
Aku dan Raka menikah enam tahun lalu. Perhitungannya tidak sulit.
Anehnya, aku tidak merasa patah hati. Mungkin karena aku belum mengingat cintaku kepada pria itu. Namun ada rasa sesak lain yang muncul, seperti gema luka milik diriku di masa lalu.
“Aku tidak ikut kalian,” kataku.
Raka mendekat setengah langkah.
“Laras, dengarkan aku. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui.”
“Justru karena saya tidak tahu apa-apa, saya tidak akan pergi bersama orang asing.”
Nadine tertawa pelan.
“Kau selalu keras kepala.”
Kalimat itu menjadi pemicu.
Aku melihat lantai marmer berwarna krem. Gelas pecah. Darah mengalir tipis di antara pecahan kaca. Nadine berdiri di depanku sambil memegang gunting.
“Kalau kau pergi malam ini, semuanya akan hancur,” katanya dalam ingatan itu.
“Aku akan bilang kepada Raka.”
“Dia tidak akan percaya.”
“Kau mengandung anaknya.”
Nadine tertawa.
“Bukan hanya itu yang akan menghancurkanmu.”
Aku tersentak kembali ke kenyataan dengan napas memburu.
“Dia pernah menyerangku,” kataku sambil menunjuk Nadine.
Raka langsung menoleh kepadanya.
“Apa?”
Wajah Nadine berubah.
“Dia sedang kebingungan. Ingatannya rusak.”
“Aku melihat gunting di tanganmu.”
Untuk pertama kali, ketenangan di wajah Nadine retak. Ia mundur sedikit dan memeluk Dimas lebih erat.
Raka memerintahkan anak buahnya agar mengamankan Nadine, tetapi perempuan itu tiba-tiba berteriak.
“Jangan sentuh aku! Aku ibu dari anak pewaris keluarga Adinata!”
Dimas mulai menangis.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi tangisnya membuatku melangkah mendekat.
“Lepaskan anak itu,” kataku.
“Dia anakku.”
“Kalau begitu jangan jadikan dia perisai.”
Tatapan Nadine bergetar. Sejenak ia tampak tidak siap menghadapi keberanianku. Mungkin Laras yang dulu mudah ditakuti. Mungkin ia terbiasa melihatku menangis dan memohon.
Namun perempuan yang berdiri di depannya sekarang adalah penjual pisang goreng yang selama setahun membangun hidup dari nol, menghadapi hujan, panas, utang sewa, kompor rusak, dan hari-hari ketika dagangan tak laku.
Aku mungkin kehilangan ingatan, tetapi aku tidak kehilangan diriku.
Raka membawa kami ke klinik terdekat setelah sakit kepalaku semakin parah. Aku hanya bersedia pergi jika Bu Sari, pemilik kamar kontrakanku, ikut mendampingi. Nadine dan Dimas dibawa dengan mobil berbeda.
Di ruang pemeriksaan, dokter mengatakan kondisiku stabil, tetapi kemunculan ingatan secara mendadak bisa membuat tubuhku syok. Raka berdiri di luar pintu sepanjang pemeriksaan. Ia tidak mencoba masuk.
Saat aku keluar, ia menyodorkan sebuah map.
“Aku tahu kau tidak percaya kepadaku. Jadi jangan percaya kata-kataku. Percayalah pada dokumen.”
Di dalam map itu terdapat laporan medis, surat kepolisian, dan salinan rekaman dari rumah sakit tempat aku dirawat setahun lalu.
Raka menjelaskan bahwa setelah kecelakaan, aku sempat sadar selama dua hari. Pada malam ketiga, aku menghilang dari kamar rawat. Kamera pengawas di lantai itu mati selama empat puluh menit. Ketika kembali menyala, seorang perempuan berkerudung terlihat mendorong kursi roda menuju pintu belakang.
Keesokan harinya, aku ditemukan oleh seorang nelayan di terminal antarkota dalam keadaan linglung. Aku membawa identitas baru atas nama Laras Pramesti, bukan Laras Adinata.
“Siapa yang membuat identitas itu?” tanyaku.
“Kami belum tahu.”
“Kau mencariku selama setahun?”
“Setiap hari.”
“Kenapa baru menemukanku sekarang?”
Raka menunduk.
“Karena seseorang terus mengirimkan bukti palsu bahwa kau berada di luar negeri.”
Aku memandangnya lama.
“Dan selama itu, kau tinggal bersama Nadine?”
“Tidak.”
“Tapi anak itu memanggilmu Papa.”
Raka mengusap wajahnya.
“Aku baru mengenal Dimas enam bulan lalu. Nadine datang membawa hasil tes DNA yang menunjukkan bahwa aku ayahnya.”
“Dan kau percaya?”
“Aku melakukan tes ulang di rumah sakit keluarga. Hasilnya sama.”
“Berarti dia memang anakmu.”
Raka terdiam. Di matanya ada sesuatu yang tidak sederhana, bukan hanya rasa bersalah, melainkan kebingungan.
“Aku tidak pernah tidur dengan Nadine.”
Aku tertawa hambar.
“Cerita yang menarik.”
“Aku tahu kedengarannya seperti kebohongan.”
“Karena memang itu kebohongan.”
Raka tidak membela diri. Ia hanya menyerahkan ponselnya.
Di layar terdapat pesan lama dariku.
Aku mengenali namaku, tetapi tidak mengenali cara bicaraku sendiri.
Raka, aku melihatmu keluar dari hotel bersama Nadine. Jangan cari aku malam ini. Aku perlu waktu.
Pesan berikutnya dikirim oleh Raka.
Aku sedang di Surabaya. Aku tidak pernah pergi ke hotel itu. Tolong angkat telepon.
Setelah itu ada puluhan panggilan tak terjawab.
Aku membaca semuanya hingga dadaku terasa berat.
“Apa maksudnya?”
“Pada malam sebelum kecelakaanmu, seseorang menyamar sebagai aku.”
Aku menatapnya.
“Mustahil.”
“Orang itu memakai pakaian yang biasa kupakai, mobil dengan nomor polisi palsu, bahkan jam tangan yang mirip milikku. Kamera hotel hanya merekam dari jauh.”
Sebuah ingatan kembali muncul.
Aku melihat seorang pria memeluk Nadine di lorong hotel. Wajahnya tidak terlihat jelas. Hanya posturnya yang menyerupai Raka.
Aku pulang dengan tubuh gemetar. Nadine sudah menungguku di rumah.
Ia mengaku hamil.
Lalu ia menunjukkan foto-foto Raka bersama seorang perempuan lain. Foto itu membuatku hancur. Nadine menyuruhku menandatangani surat perceraian dan menyerahkan sebagian saham yang diwariskan mendiang ayahku.
Aku menolak.
Pertengkaran terjadi.
Gunting itu muncul.
Namun bukan gunting yang melukaiku. Aku mundur, menginjak pecahan gelas, lalu berlari keluar rumah. Dalam kondisi panik, aku mengemudikan mobil saat hujan deras hingga akhirnya menabrak pembatas jalan.
Aku tersadar di klinik dengan tubuh basah oleh keringat.
“Nadine ingin sahamku,” kataku.
Raka mengangguk.
“Empat puluh persen saham Adinata Medika atas namamu. Tanpa tanda tanganmu, dia tidak bisa menguasainya.”
“Kenapa dia menginginkan saham keluarga suamiku?”
“Itu bukan saham keluargaku.”
Aku memandangnya.
Raka menarik napas panjang.
“Adinata Medika dibangun oleh ayahmu. Setelah beliau meninggal, ibuku mengelolanya sementara sampai kau berusia tiga puluh tahun.”
Semua yang kuketahui tentang hidupku tiba-tiba berubah. Aku bukan hanya istri seorang pria kaya. Aku adalah pemilik bagian terbesar dari jaringan rumah sakit yang sangat besar.
“Kecelakaanmu bukan akhir dari rencananya,” lanjut Raka. “Setelah operasi, Nadine datang ke rumah sakit dengan surat kuasa palsu. Ia mencoba memindahkanmu ke fasilitas rehabilitasi milik perusahaan swasta. Dokter menolak. Malam itu, kau menghilang.”
“Jadi dia yang membawaku pergi?”
“Kami belum punya bukti.”
“Tapi dia bilang mengira aku tidak akan ingat lagi.”
Raka mengangguk.
“Itu bisa menjadi pengakuan.”
Sebelum kami sempat berbicara lebih lanjut, Bu Sari masuk dengan wajah tegang.
“Anak kecil itu mencari Mbak Laras.”
Dimas berdiri di belakangnya. Wajahnya basah oleh air mata.
“Mama pergi.”
Kami semua terdiam.
Nadine melarikan diri dari mobil ketika salah satu pengawal lengah. Ia meninggalkan Dimas begitu saja.
Aku berjongkok di depan anak itu.
“Kamu tahu ke mana mamamu pergi?”
Dimas menggeleng.
“Papa akan marah sama Mama?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Lalu Dimas mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah perekam suara kecil.
“Mama bilang kalau ada orang mengambil Dimas, Dimas harus kasih ini ke polisi.”
Raka segera memutar rekamannya.
Suara Nadine memenuhi ruangan.
Jika sesuatu terjadi padaku, berarti Raka sudah tahu bahwa Dimas bukan anaknya. Aku tidak ingin melibatkan anak itu, tetapi semuanya sudah terlalu jauh. Tes DNA dibuat menggunakan sampel darah milik saudara kembar Raka.
Raka menjatuhkan alat perekam itu.
“Saudara kembar?”
Wajahnya pucat.
Raka tidak pernah memiliki saudara kembar. Setidaknya itulah yang ia yakini.
Namun ibu Raka akhirnya mengakui rahasia yang disimpan selama tiga puluh tahun. Saat melahirkan, ia memiliki dua bayi laki-laki. Salah satunya dinyatakan meninggal. Karena kondisi mentalnya memburuk, keluarga menyembunyikan semua dokumen kelahiran.
Ternyata bayi itu tidak meninggal. Ia dijual secara ilegal oleh seorang dokter kepada keluarga lain.
Pria itulah yang digunakan Nadine untuk menyamar sebagai Raka.
Namanya Armand.
Ia adalah ayah kandung Dimas.
Armand juga bekerja sama dengan Nadine untuk merebut sahamku. Sebagai saudara kembar identik, DNA-nya hampir tak bisa dibedakan dari Raka dalam pemeriksaan standar.
Polisi menemukan Nadine dan Armand dua hari kemudian di sebuah vila kosong dekat pelabuhan. Dari tempat itu ditemukan dokumen palsu, obat penenang, surat kuasa, serta video-video yang digunakan untuk memanipulasi ingatanku setelah operasi.
Kebenaran yang paling menyakitkan baru terungkap saat Nadine diperiksa.
Ia tidak pernah berniat membunuhku.
Ia ingin membuatku kehilangan sebagian ingatan, lalu mengirimku jauh hingga perusahaan menyatakan aku tidak cakap mengelola aset. Namun dosis obat yang ia berikan terlalu kuat. Aku mengalami kebingungan berat dan melarikan diri sebelum rencananya selesai.
Kecelakaan itu memang kecelakaan.
Tetapi semua yang membawaku ke jalan itu telah dirancang.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Nadine dan Armand atas pemalsuan dokumen, penculikan, manipulasi medis, dan penipuan korporasi.
Dimas tidak ikut menanggung dosa orang tuanya. Atas keputusan pengadilan, ia diasuh oleh keluarga angkat yang baik, pasangan guru yang selama ini merawat anak-anak terlantar. Aku sering mengunjunginya.
Raka tidak pernah memaksaku kembali.
Ia membeli pisang goreng di gerobakku setiap sore, duduk di bangku plastik, dan membayar seperti pelanggan lain.
Suatu hari ia bertanya, “Apa kau membenciku?”
Aku mengaduk karamel di atas wajan.
“Aku belum mengingat semua yang pernah terjadi di antara kita.”
“Aku bisa menunggu.”
“Jangan menunggu perempuan yang dulu.”
Raka terdiam.
Aku menatap laut di seberang jalan.
“Dia mungkin tidak akan pernah kembali.”
Raka mengangguk pelan.
“Kalau begitu, bolehkah aku mengenal perempuan yang sekarang?”
Aku tidak langsung menjawab.
Setahun lalu, aku mengira kehilangan ingatan adalah kutukan. Belakangan aku menyadari bahwa mungkin itu satu-satunya alasan aku masih hidup sebagai diriku sendiri.
Aku tidak kembali ke rumah mewah.
Aku juga tidak menjual gerobakku.
Aku mengambil kembali kendali atas saham perusahaan, memperbaiki sistem keamanan pasien, dan membangun pusat perlindungan bagi korban manipulasi medis. Setiap akhir pekan, aku tetap pulang ke kota kecil di tepi pantai itu untuk berjualan.
Raka kadang datang membantu, meski ia selalu membuat bentuk pisang gorengnya terlalu tebal.
Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.
Kami memulainya dari awal.
Tanpa janji.
Tanpa paksaan.
Tanpa bayang-bayang tentang siapa yang seharusnya kami cintai.
Suatu senja, saat matahari perlahan tenggelam, Dimas berlari ke arah gerobakku sambil membawa gambar keluarga buatannya sendiri.
Di gambar itu ada dirinya, orang tua angkatnya, aku, dan Raka.
Raka tertawa.
“Kenapa aku digambar paling kurus?”
Dimas menjawab polos, “Karena Om Raka kurang makan.”
Kami semua tertawa.
Aku menatap gambar itu, lalu memandang orang-orang di sekelilingku.
Dulu aku pikir keluarga adalah sesuatu yang diberikan oleh darah, pernikahan, dan nama besar.
Sekarang aku tahu keluarga adalah tempat seseorang tidak perlu kehilangan dirinya sendiri agar bisa dicintai.
Ingatan masa laluku tidak pernah kembali sepenuhnya.
Namun aku tidak lagi mencarinya.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkanku bukan kemampuan untuk mengingat siapa diriku dahulu.
Melainkan keberanian untuk memilih siapa diriku setelah semuanya hilang.
