SETELAH KEHILANGAN PEKERJAAN, AKU MENJADI KURIR MAKANAN ONLINE.

Wanita itu terus menatapku dengan mata terbelalak, napasnya tersengal seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Pria yang berdiri di hadapanku, sang food reviewer arogan itu, perlahan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah wanita tersebut, lalu kembali menatapku dengan alis yang bertaut. Suasana di lorong apartemen mendadak sunyi, hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan dari dalam unit.

“Kamu kenal dia, Sarah?” suara pria itu terdengar rendah, memecah keheningan yang mencekam.

Wanita yang dipanggil Sarah itu menggeleng pelan, mundur setengah langkah dengan tangan yang masih gemetar hebat di sisi tubuhnya. Ponselnya yang jatuh tergeletak di lantai keramik menampilkan layar yang masih menyala, memantulkan foto masa lalu yang sudah lama kubur dalam-dalam. Itu adalah foto wisudaku bersama mantan pacarku, pria yang melamar sahabatku di restoran mewah seminggu lalu. Tapi yang lebih mengejutkan, di sudut foto itu berdiri wajah Sarah, wanita asing yang kini berdiri gemetar di hadapanku.

“Bukan sekadar kenal, Aris,” bisik Sarah dengan suara tercekat, air mata tiba-tiba menetes di pipinya. “Dia… dia adalah satu-satunya alasan mengapa perusahaan keluarga kita hampir hancur tiga tahun lalu.”

Kepalaku mendadak pusing. Perusahaan keluarga? Hancur? Aku hanya seorang pemuda biasa yang baru saja dipecat dari pekerjaan kantoran rendahan dan kini menggantungkan hidup pada jaket hijau kurir makanan. Mana mungkin aku punya sangkut paut dengan kehancuran sebuah perusahaan besar?

Aris, sang food reviewer terkenal yang ternyata pemilik apartemen mewah ini, menghela napas panjang. Ia memungut ponsel Sarah dengan tenang, lalu menatapku lekat-lekat. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik lengan Sarah masuk ke dalam, lalu melambaikan tangan menyuruhku ikut masuk ke dalam unit apartemen yang luas dan minimalis itu.

“Masuklah,” ucap Aris dengan nada yang tidak bisa ditolak. “Sepertinya kita punya banyak hal yang harus dibicarakan, dan kurir viral kesayangan warganet ini berhak tahu kebenarannya.”

Aku berdiri di dekat pintu masuk, masih memegang tas thermal berisi pesanan bubur ayam yang hampir dingin. Rasa curiga bercampur penasaran bergolak di dalam dada. Seminggu yang lalu aku dikhianati mantan kekasih, kehilangan pekerjaan, dan mendadak viral karena kesialan bertubi-tubi. Hari ini, di tempat yang sama sekali tak terduga, aku justru terjebak dalam rahasia besar masa lalu yang bahkan tidak kuingat pernah kuukir.

Sarah duduk di sofa panjang dengan bahu yang masih bergetar. Aris menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya, lalu berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota di malam hari. Ia menatapku tajam sebelum akhirnya membuka suara.

“Tiga tahun lalu, ada sebuah proyek investasi besar senilai miliaran rupiah yang digagas oleh ayah Sarah,” Aris mulai bercerita, matanya tidak lepas dariku. “Proyek itu melibatkan teknologi logistik baru yang revolusioner. Namun, sehari sebelum penandatanganan kontrak kerja sama utama, seluruh data penting di server utama raib tanpa jejak. Perusahaan jatuh bangkrut dalam semalam, ayah Sarah jatuh sakit dan meninggal dunia akibat serangan jantung, sementara keluarga kami terseret dalam masalah hukum yang panjang.”

Aku tertegun. “Lalu apa hubungannya denganku?”

Aris menunjuk layar ponselnya yang kini menampilkan sebuah dokumen lama. “Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan oleh pelaku adalah alamat IP dan sebuah rekaman CCTV buram dari area parkir basement kantor pusat. Orang yang terekam masuk ke ruang server malam itu mengenakan jaket hoodie dengan lambang universitas tempatmu dulu berkuliah. Wajahnya tertutup tudung, tapi postur tubuh, tinggi badan, dan bekas luka kecil di pergelangan tangan kiri yang terekam kamera… sama persis denganmu.”

Aku spontan melihat pergelangan tangan kiriku. Memang ada bekas luka bakar kecil di sana, kenang-kenangan dari kecelakaan masa kecil. Tapi aku bersumpah demi apapun, aku tidak pernah menginjakkan kaki di kantor perusahaan itu, apalagi meretas data rahasia mereka.

“Aku tidak pernah melakukan itu,” kataku tegas, suara meninggi karena emosi yang mulai memuncak. “Selama tiga tahun lalu aku sibuk bekerja paruh waktu di toko buku sambil menyelesaikan skripsi. Aku bahkan tidak tahu apa itu peretasan server!”

Sarah mengangkat wajahnya yang pucat, menatapku dengan pandangan penuh keraguan. “Tapi… tapi semua bukti mengarah padamu. Mantan pacarmu… pria yang melamar sahabatmu minggu lalu… dia adalah karyawan magang di perusahaan ayahku saat itu. Dia adalah orang yang memegang kunci akses cadangan ke ruang server.”

Deg. Jantungku seperti berhenti berdetak.

Mantan pacarku. Pria yang tiba-tiba memutuskan hubungan sebulan lalu dengan alasan terlalu sibuk bekerja. Pria yang ternyata berselingkuh dengan sahabatku sendiri dan melamarnya di tempat mewah. Kepingan puzzle yang selama ini berserakan mendadak menyatu dengan cara yang sangat mengerikan.

“Dia…” bisikku, lidahku mendadak kelu. “Dia yang menjebakku?”

Aris mengangguk pelan. “Tepat sekali. Selama ini kami mencari sosok bertudung di rekaman CCTV itu. Kami menyewa detektif swasta, menghabiskan banyak waktu, hingga akhirnya aku tidak sengaja melihat videomu yang viral saat mengantar makanan di restoran mewah tempat mantan pacarmu melamar wanita lain. Saat aku melihat caramu berjalan, bentuk bahumu, dan gestur tanganmu… aku menyadari sesuatu. Postur tubuhmu sangat identik dengan sosok di rekaman lama itu. Itulah sebabnya aku sengaja memesan makanan darimu hari ini, dan meminta Sarah datang untuk memastikan.”

Suasana di ruangan itu mendadak hening. Sarah menatapku dengan penuh rasa bersalah. Ternyata, keterpurukanku selama seminggu terakhir—kehilangan pekerjaan, diselingkuhi, dipermalukan di depan umum, hingga menjadi bahan tertawaan warganet—bukanlah sekadar serangkaian kesialan acak. Semua itu adalah bagian dari lingkaran takdir yang sengaja ditarik kembali oleh masa lalu untuk menyelesaikan lembaran yang belum tuntas.

“Lalu, apa rencana kalian?” tanyaku dingin, menatap Aris dan Sarah bergantian. “Kalian mau menyerahkanku ke polisi atas kejahatan yang tidak pernah kulakukan?”

Aris tersenyum tipis, senyum yang berbeda dari kesan dingin yang kutemui sebelumnya. Ia berjalan mendekat dan menepuk bahuku pelan.

“Tentu saja tidak. Justru sebaliknya,” ucap Aris mantap. “Pria itu—mantan pacarmu—sekarang hidup mewah dengan uang hasil penggelapan dana tiga tahun lalu. Ia baru saja mendirikan perusahaan startup teknologi berkat suntikan dana dari keluarga tunangannya yang baru. Dan aku tahu persis, dia sedang mencari cara untuk melenyapkan sisa-sisa bukti terakhir yang masih disimpan oleh seseorang di lingkaran terdekatnya.”

Aris menatapku tajam. “Tawaran yang kuberikan tadi tidak main-main. Aku ingin kamu membantuku menjatuhkannya secara sah di hadapan hukum. Dan sebagai imbalannya, aku akan membersihkan namamu sepenuhnya, memberimu kompensasi finansial yang cukup untuk membeli rumah sendiri, serta mengembalikan semua yang telah dirampas darimu.”

Aku terdiam cukup lama. Menatap tas thermal kurir makanan yang masih kupegang erat. Jaket hijau ini awalnya adalah simbol keterpurukanku, titik terendah dalam hidupku setelah dipecat dan dikhianati. Namun kini, di sinilah aku, berdiri di ambang pintu babak baru yang jauh lebih besar.

Aku menatap Aris dan Sarah dengan pandangan lurus. Tidak ada lagi rasa takut atau ragu di dalam dadaku.

“Baiklah,” kataku mantap sambil meletakkan tas kurir di atas meja sudut. “Mari kita mulai pengantaran yang paling berbahaya ini.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang