SUAMIKU BERPURA-PURA TERLILIT UTANG SELAMA TUJUH TAHUN. BARU SETELAH AKU MEWARISI 120 MILIAR RUPIAH, AKU MENGETAHUI BAHWA AKU BUKAN ISTRI SAHNYA

Ponselku bergetar pelan di genggaman, menampilkan foto yang baru saja masuk bersamaan dengan deru angin pantai yang terasa begitu dingin menusuk tulang. Mataku menatap nanar layar kecil itu, membaca ulang nama-nama dan tanggal yang tertera di sana. Kakekku. Almarhum kakek yang selama ini kucintai dan kuhormati sebagai sosok pelindung satu-satunya dalam keluarga, ternyata berdiri berdampingan dengan Angela dalam sebuah potret masa lalu yang diambil jauh sebelum aku mengenal Daniel. Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sama, seolah mencabik-cabik sisa kewarasanku.

“Kakekmu tidak pernah tulus memberikan warisan itu untukmu, Maria. Itu adalah bagian dari rencana panjang kami untuk menghancurkan hidupmu pelan-pelan,” begitu bunyi kalimat yang terpampang di layar.

Dunia seakan berputar hebat. Napasku tercekat, membuat dadaku terasa seperti dihantam batu besar. Selama ini aku mengira kemalangan hidupku adalah ujian, kesialan bertubi-tubi yang harus kuhadapi demi mempertahankan rumah tangga. Namun, kenyataan yang tersingkap malam ini jauh lebih busuk dari bayangan tergelap mana pun. Kakekku, pria tua yang kukenal penuh kasih, ternyata adalah bagian dari persekongkolan ini. Harta seratus dua puluh miliar rupiah itu bukanlah sebuah berkah, melainkan umpan atau mungkin bagian dari sandiwara besar yang dirancang untuk menguji seberapa jauh aku bisa dipermainkan sebelum akhirnya dibuang.

Aku tidak langsung berlari masuk ke dalam rumah mewah itu untuk melabrak mereka. Rasa sakit, amarah, dan pengkhianatan yang berlapis-lapis justru membentuk sebuah ketenangan yang menakutkan di dalam diriku. Air mata yang sempat mendesak di pelupuk mata tiba-tiba surut, tergantikan oleh tatapan dingin yang tajam. Aku membalikkan badan, melangkah menjauh dari pagar putih itu, lalu masuk kembali ke dalam taksi yang masih menunggu di ujung jalan. Selama perjalanan pulang, aku hanya duduk diam memandangi jalanan kota yang basah oleh rintik hujan.

Setibanya di rumah yang selama ini kutinggali bersama Daniel—rumah yang kupikir milik kami bersama, padahal mungkin hanya salah satu aset sewaan atau milik Angela—aku mulai mengemasi barang-baranku. Tidak banyak. Hanya beberapa pakaian pribadi dan dokumen penting. Aku menatap sekeliling ruangan tempat kami menghabiskan ribuan malam. Di sudut ruangan, masih ada bingkai foto pernikahan kami yang terpajang megah. Senyuman Daniel di foto itu tampak begitu manis, tetapi sekarang senyuman itu terlihat seperti seringai iblis yang sedang menertawakan kebodohanku. Aku mengambil bingkai itu, lalu dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Aku bahkan tidak repot-repot memungut pecahan kaca tersebut.

Keesokan paginya, pengacaraku menghubungiku untuk mengonfirmasi ulang proses pencairan dana warisan serta kelanjutan gugatan hukum. Suaranya terdengar hati-hati di ujung telepon, seolah takut menyinggung perasaanku. Namun, aku menjawab dengan suara yang tenang, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.

“Lanjutkan semua prosesnya, Pak. Jangan ada satu pun yang dilewatkan. Pastikan Daniel dan Angela kehilangan segalanya, termasuk perusahaan yang selama ini diagung-agungkan itu,” ucapku dingin.

Pengacaraku terdiam sejenak sebelum menyetujui instruksiku. Ternyata, kebangkrutan yang selama ini diceritakan Daniel hanyalah kebohongan besar. Perusahaan konstruksi itu tidak pernah benar-benar bangkrut. Uang perusahaan secara diam-diam dialirkan ke rekening pribadi Angela dan rekening rahasia atas nama Daniel untuk membiayai kehidupan keluarga kedua mereka di kawasan elite pantai. Utang-utang yang menumpuk dan cerita tentang kesulitan finansial hanyalah alasan agar aku mau menyerahkan seluruh tabunganku, menjual perhiasan warisan ibuku, dan hidup dalam tekanan mental selama tujuh tahun penuh.

Tiga hari kemudian, Daniel pulang ke rumah seperti biasa. Dia membawa sekotak oleh-oleh kue tradisional dari luar kota, tersenyum hangat seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dia meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu merentangkan tangan hendak memelukku.

“Sayang, aku pulang. Kamu tidak merindukanku?” tanya Daniel dengan nada suara yang begitu lembut, akting yang luar biasa sempurna.

Aku tidak bergerak dari posisiku di meja makan. Aku hanya menatapnya lurus-lurus sambil menyeruput teh hangat di cangkirku. Melihat sikapku yang tidak biasa, senyuman di wajah Daniel perlahan memudar.

“Maria? Ada apa? Kamu kelihatan berbeda,” tanyanya, mulai merasa tidak nyaman.

Aku meletakkan cangkir teh itu perlahan-lahan. Suara dentingan porselen terdengar begitu nyaring di ruang tamu yang sunyi. Aku berdiri, lalu melangkah mendekatinya dengan dagu terangkat.

“Daniel, bagaimana perjalananmu bersama Angela dan Jacob?” tanyaku pelan, namun setiap kata terucap dengan penekanan yang membuat warna wajahnya seketika memucat.

Pria itu tertegun. Seluruh darah di wajahnya seakan mengalir turun. Tangannya yang tadinya terentang perlahan jatuh ke sisi tubuhnya. Dia membuka mulutnya beberapa kali, mencoba mencari kata-kata untuk membela diri, tetapi tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya.

“Kamu… kamu sedang membicarakan apa?” cicitnya dengan suara bergetar.

“Jangan berpura-pura bodoh, Daniel. Permainan sudah selesai,” kataku sambil tersenyum tipis, senyuman yang jauh lebih mematikan daripada kemarahan apa pun.

Tepat pada saat itu, pintu depan rumah terbuka lebar. Tiga orang petugas kepolisian bersama pengacaraku melangkah masuk ke dalam rumah. Salah satu petugas menunjukkan surat perintah resmi kepada Daniel yang kini berdiri gemetar ketakutan, tidak mampu lagi berkata-kata. Tuduhan penggelapan dana, penipuan pernikahan, dan pemalsuan dokumen resmi langsung dibacakan di tempat.

Daniel mencoba melangkah mundur, matanya menatapku penuh memohon, seolah meminta belas kasihan dari seorang wanita yang selama tujuh tahun telah dia hancurkan hidupnya. Namun, di dalam dadaku tidak ada lagi ruang untuk rasa kasihan. Yang tersisa hanya rasa jijik yang luar biasa terhadap makhluk manipulatif di hadapanku ini.

Saat digiring keluar oleh pihak kepolisian, Daniel sempat berteriak memanggil namaku, memohon agar aku mencabut laporan tersebut. Aku hanya berdiri di dekat jendela, menyaksikan pria yang pernah sangat kucintai itu dimasukkan ke dalam mobil polisi dengan tangan diborgol. Di saat yang sama, ponselku kembali berdenting. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, berisi satu kalimat terakhir yang menutup lembaran kelam hidupku.

“Warisan itu kini sepenuhnya milikmu, dan balas dendam yang sebenarnya baru saja dimulai.”

Aku menatap layar ponsel itu sejenak, lalu mematikannya. Dengan harta seratus dua puluh miliar rupiah di tangan dan kebebasan yang telah kudapatkan kembali, aku melangkah keluar rumah menyambut matahari pagi yang bersinar terang, siap memulai hidup baru di atas reruntuhan kebohongan mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang